Ada satu jenis kesibukan yang sangat mudah disangka sebagai kemajuan. Jadwal penuh, rapat berjalan, laporan terkirim, dan semua orang tampak bergerak. Dari kejauhan, sebuah tim atau organisasi bisa terlihat hidup dan bersemangat. Namun ketika kita mendekat dan bertanya, “Sebenarnya kita sedang menuju ke mana?”, jawabannya sering kali kabur. Di titik itulah kita perlu jujur: apakah kita benar-benar maju, atau hanya berputar di tempat yang sama dengan musik yang lebih keras?
Pertanyaan ini mengingatkan saya pada sebuah kisah tentang Walt Disney yang diceritakan John C. Maxwell dalam bukunya, The 21 Indispensable Qualities of a Leader. Kisahnya sederhana, tetapi pelajarannya terus relevan bagi siapa pun yang memikul tanggung jawab memimpin, sekecil apa pun lingkupnya.
Komedi Putar yang Mengecoh Mata
Suatu Minggu pagi, Walt Disney berkunjung ke sebuah taman hiburan di Los Angeles. Perhatiannya tertuju pada sebuah komedi putar. Dari kejauhan, wahana itu tampak memesona: cahaya warna-warni berkilauan, kuda-kudaan berputar kencang, dan musik riang mengiringi setiap putarannya. Semuanya terlihat indah dan penuh kehidupan.
Namun ketika Walt mendekat dan komedi putar itu berhenti, ia sadar matanya telah terkecoh. Kuda-kudaan itu ternyata kusam, catnya retak dan mengelupas. Lebih dari itu, hanya kuda di lingkar paling luar yang bergerak naik turun. Sisanya diam, karena dibaut mati ke lantai. Kekecewaan kecil pagi itu justru melahirkan gagasan besar: sebuah taman hiburan yang benar-benar hidup ketika dilihat dari dekat. Gagasan itulah yang kelak menjadi Disneyland dan Walt Disney World.
Yang menarik dari kisah ini bukan sekadar bahwa Walt punya imajinasi besar. Yang menarik adalah cara visi itu lahir: dari kemampuan melihat jarak antara apa yang tampak dan apa yang sebenarnya, lalu menolak untuk menerima jarak itu sebagai hal yang wajar.
Bergerak Tidak Sama dengan Maju
Komedi putar adalah gambaran yang jujur tentang banyak organisasi. Ada gerakan, ada musik, ada cahaya, tetapi setelah sepuluh putaran, setiap kuda kembali ke titik yang sama. Bahkan sebagian besar kudanya sebenarnya tidak bergerak sama sekali; mereka hanya ikut terbawa oleh lantai yang berputar.
Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah lembaga yang setiap tahun menjalankan program yang sama dengan cara yang sama. Kegiatannya banyak dan dokumentasinya rapi, tetapi tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang berbeda dibanding tiga tahun sebelumnya. Orang-orang di dalamnya bekerja keras, namun kerja keras itu tidak diarahkan ke satu tujuan yang sama. Mereka seperti kuda-kudaan yang dibaut ke lantai: ikut berputar, tetapi tidak benar-benar berlari.
Masalah semacam ini jarang terjadi karena orang malas. Lebih sering, ia terjadi karena tidak ada gambaran yang jelas tentang masa depan yang ingin dicapai. Tanpa gambaran itu, aktivitas berubah menjadi rutinitas, dan rutinitas pelan-pelan dianggap sebagai prestasi. Maxwell menggambarkannya dengan tajam: pemimpin tanpa visi paling jauh hanya akan berputar-putar dalam lingkaran.
Visi yang Memimpin Sang Pemimpin
Kita biasa membayangkan bahwa pemimpinlah yang memimpin visi. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: visilah yang memimpin sang pemimpin. Visi menentukan apa yang layak dikejar dan apa yang perlu ditinggalkan. Ia mewarnai target, memberi alasan di balik angka, dan menjadi bahan bakar ketika semangat mulai menipis.
Inilah sebabnya visi tidak bisa dianggap sebagai pelengkap dokumen organisasi. Visi yang hanya terpajang di dinding kantor tidak akan menggerakkan siapa pun. Visi yang hidup adalah visi yang benar-benar memengaruhi keputusan sehari-hari: ke mana anggaran dialokasikan, siapa yang direkrut, program mana yang dihentikan, dan pekerjaan mana yang didahulukan. Saya pernah menuliskan sisi lain dari gagasan ini dalam artikel tentang memimpin, bukan sekadar mengelola, dengan visi.

Al-Qur’an memberi dasar yang kuat untuk cara berpikir seperti ini. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini memang berbicara tentang persiapan menuju akhirat, tetapi ia juga mengajarkan sebuah pola pikir: manusia beriman adalah manusia yang hidup dengan kesadaran tentang “hari esok”. Ia tidak hanya bereaksi terhadap hari ini, tetapi menimbang setiap langkah berdasarkan ke mana langkah itu membawanya. Seorang pemimpin yang memahami ayat ini tidak akan puas dengan sekadar sibuk; ia akan terus bertanya apakah kesibukannya sedang membangun sesuatu untuk esok.
Visi juga memiliki dimensi yang sering terlupakan: ia menular. Orang tidak mengikuti pemimpin semata karena jabatannya, tetapi karena mereka bisa melihat sesuatu yang ingin mereka wujudkan bersama. Ketika seorang pemimpin bisa menggambarkan masa depan dengan jelas, orang lain tidak lagi merasa sekadar menjalankan perintah. Mereka merasa sedang ikut membangun.
Ketika Visi Belum Terasa
Lalu bagaimana jika kita belum merasakan visi apa pun? Tidak semua orang bangun pagi dengan gambaran besar tentang masa depan, dan itu tidak perlu membuat kita merasa gagal. Visi jarang muncul tiba-tiba seperti ilham. Ia lebih sering ditemukan melalui perenungan yang jujur.
Maxwell menyarankan beberapa hal yang patut direnungkan. Pertama, periksa bakat alami kita: hal apa yang bisa kita kerjakan dengan baik, bahkan ketika orang lain menganggapnya sulit? Kedua, periksa hasrat kita: persoalan apa yang membuat kita gelisah, sebagaimana Walt Disney gelisah melihat kuda-kudaan yang kusam? Ketiga, periksa panggilan kita: tanggung jawab apa yang terus datang kepada kita, seolah-olah hidup sedang menunjuk ke arah tertentu?
Kegelisahan Walt di depan komedi putar adalah petunjuk penting. Visi sering lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari ketidakpuasan yang sehat. Orang yang tidak pernah merasa terganggu oleh keadaan yang seadanya biasanya juga tidak akan tergerak untuk membayangkan keadaan yang lebih baik. Maka jika kita ingin menemukan visi, mungkin kita perlu lebih jujur terhadap hal-hal yang selama ini diam-diam membuat kita kecewa.
Menjadi Roy Juga Sebuah Kepemimpinan
Bagian kisah ini yang paling sering terlewat justru tentang sosok lain: Roy Disney, kakak Walt. Jika Walt adalah sang pengkhayal yang melahirkan visi, Roy adalah pebisnis dan pemimpin yang membuat visi itu bisa berdiri di atas tanah. Walt membayangkan dunia yang ajaib; Roy memastikan dunia itu memiliki dana, sistem, dan struktur untuk bertahan. Bersama-sama, mereka menjadi tim yang luar biasa.
Di sinilah saran Maxwell menjadi sangat membumi. Jika kita belum menemukan visi sendiri, pertimbangkan untuk mengikuti seorang pemimpin yang visinya menggetarkan hati kita, lalu jadilah mitra kerjanya. Saran ini membebaskan banyak orang dari tekanan yang tidak perlu. Tidak semua orang harus menjadi Walt. Dunia juga membutuhkan banyak Roy, yaitu orang-orang yang mampu menerjemahkan visi menjadi rencana, rencana menjadi sistem, dan sistem menjadi hasil.
Al-Qur’an mengabadikan kemitraan semacam ini dalam doa Nabi Musa ‘alaihissalam ketika menerima amanah besar untuk menghadapi Fir’aun. Ia memohon, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku” (QS. Thaha: 29–32). Seorang nabi pun menyadari bahwa amanah besar tidak dipikul sendirian. Harun bukan sekadar pengikut; ia adalah penguat dan sekutu dalam misi. Peran itu tidak lebih rendah, karena tanpa penguat, visi sebesar apa pun bisa runtuh oleh beratnya sendiri.
Dalam organisasi, dakwah, maupun pekerjaan sehari-hari, pelajaran ini sangat praktis. Orang yang memilih menjadi mitra bagi sebuah visi yang baik tidak sedang mengecilkan dirinya. Ia sedang menempatkan kemampuannya di tempat yang paling berdaya guna. Yang berbahaya bukanlah menjadi orang kedua, melainkan menjadi kuda-kudaan yang dibaut ke lantai: hadir, ikut berputar, tetapi tidak pernah benar-benar memilih ke mana ia ingin berlari.
Turun dari Komedi Putar
Kisah Walt Disney mengajarkan bahwa visi sering dimulai dari keberanian untuk melihat lebih dekat. Dari jauh, banyak hal tampak baik-baik saja. Dari dekat, kita mulai melihat cat yang retak, gerakan yang palsu, dan kuda-kudaan yang sebenarnya tidak pernah ke mana-mana.
Mungkin hari ini adalah saat yang tepat untuk mendekat ke kehidupan dan pekerjaan kita sendiri, lalu bertanya dengan jujur: jika semua musik dihentikan dan semua lampu dimatikan, apa yang benar-benar bergerak? Apakah kita sedang membangun sesuatu, atau hanya menikmati sensasi berputar?
Dan jika jawabannya belum jelas, setidaknya kita tahu langkah pertamanya: temukan visi yang layak diperjuangkan, atau temukan orang yang memilikinya, lalu berdirilah di sampingnya. [af]







Tinggalkan Balasan