Ketika berbicara tentang politik global, kita sering membayangkan sesuatu yang begitu besar sehingga terasa berada di luar jangkauan kita. Presiden, negara adidaya, perang, diplomasi, ekonomi, aliansi militer, dan berbagai kepentingan internasional seolah-olah hanya dapat dimainkan oleh orang-orang yang berada di pusat kekuasaan.
Lalu muncul pertanyaan: bagaimana mungkin seorang individu dapat memengaruhi politik dunia?
Lebih jauh lagi, bagaimana mungkin sebuah kelompok atau partai politik dapat mengubah orientasi sebuah negara, sementara orientasi tersebut telah terbentuk selama puluhan bahkan ratusan tahun?
Jawabannya bermula dari cara kita memahami politik itu sendiri.
Jika aktivitas politik hanya dipahami sebagai kegiatan untuk memperoleh pengetahuan, mengikuti berita internasional, berdiskusi, atau memuaskan keingintahuan intelektual, maka politik akan berhenti sebagai konsumsi pikiran. Kita mengetahui banyak hal, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari proses perubahan.
Padahal, politik semestinya tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang terjadi?” Politik harus membawa seseorang kepada pertanyaan yang lebih jauh: “apa yang seharusnya terjadi, siapa yang menentukan arah tersebut, dan bagaimana arah itu dapat diwujudkan?”
Di situlah perbedaan antara orang yang sekadar memahami politik dengan seorang politisi.
Politik Bukan Sekadar Kemewahan Berpikir
Ada orang yang sangat rajin membaca politik internasional. Ia mengetahui perkembangan Amerika Serikat, Rusia, Cina, Timur Tengah, Eropa, konflik perdagangan, perubahan aliansi, sampai berbagai perkembangan geopolitik terbaru.
Pengetahuannya luas. Analisisnya juga tajam.
Tetapi pengetahuan itu berhenti sebagai kepuasan intelektual.
Ia membaca karena senang mengetahui. Ia berdiskusi karena menikmati argumentasi. Ia mengikuti perkembangan dunia karena tertarik melihat bagaimana negara-negara besar bermain.
Tidak ada yang salah dengan aktivitas tersebut. Masalahnya muncul ketika politik berhenti di kepala dan tidak pernah bergerak menjadi aktivitas untuk memengaruhi kenyataan.
Seorang politisi, dalam pengertian yang lebih mendasar, tidak mempelajari politik semata-mata untuk mengetahui dunia. Ia mempelajarinya karena ingin mengatur urusan dunia sesuai dengan konsepsi yang diyakininya.
Karena itu, seorang politisi tidak cukup hanya memiliki wawasan. Ia harus memiliki orientasi.
Ia tidak hanya bertanya bagaimana Amerika mempertahankan pengaruhnya, bagaimana Cina memperluas kekuatan ekonominya, atau bagaimana negara-negara besar membangun aliansi. Ia juga bertanya: di mana posisi kita dalam semua itu? Apa kepentingan kita? Apa yang seharusnya kita perjuangkan? Dan bagaimana kita dapat mengubah posisi tersebut?
Inilah politik sebagai aktivitas, bukan sekadar pengetahuan.
Seorang Politisi Berpikir sebagai Bagian dari Umat

Ada satu hal penting yang sering terlewat ketika kita membicarakan pengaruh politik.
Seseorang tidak harus menjadi pejabat negara terlebih dahulu untuk mulai menjadi bagian dari aktivitas politik.
Ia bisa menjadi bagian dari sebuah kelompok, organisasi, gerakan, atau masyarakat yang memiliki kesadaran dan tujuan tertentu. Ia mungkin tidak memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan, tetapi ia dapat memiliki cita-cita untuk memengaruhi orang-orang yang membuat kebijakan.
Dengan demikian, politik tidak selalu dimulai dari kursi kekuasaan.
Politik dapat dimulai dari pembentukan manusia.
Seseorang membaca, berpikir, berdiskusi, membangun kesadaran, kemudian memengaruhi orang lain. Orang-orang yang memiliki pemahaman yang sama bergerak bersama. Mereka membentuk kekuatan sosial. Kekuatan sosial tersebut kemudian berusaha memengaruhi kebijakan, arah masyarakat, dan pada akhirnya arah negara.
Inilah mengapa membentuk individu yang memiliki kesadaran politik bukan pekerjaan kecil.
Sebab perubahan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh siapa yang sedang duduk di pemerintahan. Ia juga ditentukan oleh gagasan yang hidup di tengah masyarakat dan manusia yang membawa gagasan tersebut.
Mafahim Siyasiyah: Gagasan yang Melahirkan Kesadaran Politik
Di sinilah konsep mafahim siyasiyah menjadi penting.
Secara sederhana, mafahim siyasiyah dapat dipahami sebagai konsepsi atau pemahaman politik yang digunakan seseorang untuk melihat berbagai persoalan politik dan menentukan sikap terhadapnya.
Tanpa konsepsi, seseorang mudah menjadi pengikut arus informasi.
Hari ini ia mendukung suatu kebijakan karena membaca satu berita. Besok ia menolaknya karena membaca berita lain. Sikapnya berubah mengikuti informasi terakhir yang masuk.
Sebaliknya, orang yang memiliki konsepsi politik akan melihat berbagai peristiwa berdasarkan kerangka berpikir yang lebih mendasar.
Ia tidak hanya melihat peristiwa, tetapi mencoba memahami hubungan antara peristiwa dengan kepentingan, kekuatan, ideologi, dan arah politik yang lebih besar.
Karena itu, membangun mafahim siyasiyah bukan sekadar memperbanyak bacaan politik. Tujuannya adalah membentuk cara pandang politik.
Dari sinilah seseorang mulai mampu membaca politik internasional bukan sebagai kumpulan peristiwa yang berdiri sendiri, tetapi sebagai sebuah konstelasi kekuatan yang saling berinteraksi.
Pengaruh Internasional Tidak Dimulai dari Kekuasaan
Ada anggapan bahwa untuk memengaruhi politik internasional seseorang harus terlebih dahulu memiliki negara yang kuat.
Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi ada sesuatu yang mendahuluinya.
Sebelum sebuah negara memiliki kebijakan luar negeri yang kuat, harus ada manusia yang memiliki pemahaman tentang dunia. Sebelum ada kebijakan, ada gagasan. Sebelum ada gagasan yang menjadi kebijakan, ada manusia yang meyakini dan memperjuangkannya.
Karena itu, pengaruh internasional dapat dimulai jauh sebelum seseorang memiliki kewenangan formal.
Seseorang yang memahami politik internasional dapat memengaruhi orang lain. Orang-orang tersebut dapat membentuk organisasi. Organisasi dapat membangun opini dan memengaruhi masyarakat. Masyarakat kemudian dapat memengaruhi arah politik negara.
Prosesnya mungkin panjang.
Tetapi sejarah memang jarang berubah melalui proses yang instan.
Banyak perubahan besar dalam politik dunia dimulai dari gagasan yang pada awalnya hanya diyakini oleh sekelompok kecil manusia.
Negara yang Tidak Berinteraksi Akan Kehilangan Pengaruh
Ada prinsip sederhana yang penting untuk dipahami: sebuah negara tidak hidup dalam ruang hampa.
Negara selalu berinteraksi dengan negara lain. Ia berdagang, bernegosiasi, membangun aliansi, menghadapi tekanan, melakukan diplomasi, berkompetisi, dan dalam situasi tertentu berkonflik.
Karena itu, eksistensi sebuah negara di tingkat internasional tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya di dalam negeri. Kedudukannya juga ditentukan oleh bagaimana ia berinteraksi dengan negara-negara lain.
Semakin besar kemampuan sebuah negara memengaruhi interaksi tersebut, semakin besar pula posisi yang dapat dimilikinya dalam konstelasi internasional.
Sebaliknya, negara yang hanya menjadi objek keputusan negara lain akan memiliki ruang pengaruh yang jauh lebih kecil.
Inilah sebabnya politik internasional tidak boleh dipandang sebagai urusan yang jauh dari masyarakat.
Ia menentukan banyak hal yang akhirnya kembali kepada kehidupan masyarakat: keamanan, ekonomi, perdagangan, teknologi, sumber daya, hubungan diplomatik, bahkan arah perkembangan suatu bangsa.
Mengapa Perspektif Islam Tidak Bisa Berhenti pada Politik Lokal?
Jika Islam dipahami hanya sebagai urusan individu dengan Tuhannya, maka pembicaraan mengenai politik internasional tentu akan tampak sebagai sesuatu yang berada di luar agama.
Namun perspektif politik Islam yang digunakan dalam sumber ini berangkat dari pemahaman yang berbeda.
Islam dipandang sebagai ideologi yang memiliki konsepsi mengenai kehidupan manusia secara menyeluruh. Karena itu, aktivitas politik tidak berhenti pada persoalan internal sebuah wilayah, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana Islam berinteraksi dengan dunia.
Dalam kerangka tersebut, umat Islam tidak diposisikan sebagai komunitas yang hanya menjadi penonton terhadap perubahan dunia.
Ada tugas dakwah yang bersifat universal.
Al-Qur’an menyatakan:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini memberikan cakrawala yang luas tentang risalah Islam. Islam tidak dibatasi oleh satu bangsa atau satu wilayah geografis.
Karena itu, dalam perspektif politik Islam tersebut, umat yang membawa risalah universal juga membutuhkan kesadaran terhadap politik dunia. Ia harus memahami bagaimana kekuatan-kekuatan internasional bergerak, bagaimana negara-negara menentukan kebijakannya, bagaimana kepentingan global bekerja, dan bagaimana umat Islam menentukan sikap terhadap semua itu.
Dengan kata lain, kesadaran politik seorang Muslim tidak semestinya berhenti pada batas geografis tempat ia tinggal.
Dari Politik Lokal Menuju Kesadaran Internasional
Ada perbedaan antara memahami politik lokal dan memiliki perspektif politik internasional.
Politik lokal melihat persoalan dari ruang yang lebih sempit: siapa yang berkuasa, kebijakan pemerintah daerah, pemilu, partai, ekonomi lokal, dan berbagai persoalan masyarakat di wilayah tertentu.
Semua itu penting.
Tetapi seorang politisi yang ingin membawa sebuah gagasan ke tingkat negara dan dunia membutuhkan cakrawala yang lebih luas.
Ia harus memahami mengapa sebuah negara mengambil keputusan tertentu. Ia harus mampu melihat hubungan antara kebijakan ekonomi dan kepentingan politik. Ia harus memahami mengapa negara-negara tertentu menjadi sekutu, mengapa negara lain menjadi pesaing, dan bagaimana kekuatan besar berusaha mempertahankan pengaruhnya.
Sebab sebuah negara tidak pernah benar-benar mengambil keputusan dalam ruang kosong.
Ada lingkungan internasional yang memengaruhinya.
Karena itu, politik yang tidak memahami politik internasional pada akhirnya akan kesulitan memahami politik negaranya sendiri secara utuh.
Membentuk Politisi Berarti Membentuk Kesadaran
Jika tujuan akhirnya adalah memengaruhi politik internasional, maka pekerjaan pertama bukanlah mengejar jabatan.
Pekerjaan pertama adalah membentuk manusia yang sadar politik.
Manusia yang tidak mudah terombang-ambing oleh berita. Manusia yang mampu melihat kepentingan di balik kebijakan. Manusia yang memiliki konsepsi dalam menilai persoalan. Manusia yang memahami bahwa apa yang terjadi di satu belahan dunia dapat memiliki konsekuensi terhadap umat dan negaranya sendiri.
Lebih dari itu, ia bukan hanya memahami.
Ia merasa memiliki tanggung jawab terhadap keadaan.
Di sinilah pendidikan politik memperoleh makna yang jauh lebih besar. Tujuannya bukan menciptakan manusia yang pandai berbicara tentang politik, tetapi manusia yang mampu menghubungkan pemikiran dengan aktivitas.
Sebab pengetahuan yang tidak melahirkan aktivitas pada akhirnya hanya menjadi koleksi informasi.
Pengaruh Dunia Dimulai dari Sekelompok Manusia
Pada titik ini kita kembali kepada pertanyaan awal: mungkinkah individu memengaruhi politik global?
Jawabannya: mungkin.
Tetapi bukan karena individu tersebut memiliki kekuatan luar biasa.
Ia dapat berpengaruh karena ia menjadi bagian dari proses yang lebih besar: membentuk pemahaman, membangun kesadaran, mengorganisasi manusia, memengaruhi masyarakat, kemudian memengaruhi negara.
Dari sinilah gagasan politik memperoleh kekuatannya.
Sebuah gagasan yang hanya ada dalam pikiran seseorang mungkin tidak banyak mengubah keadaan. Tetapi ketika gagasan tersebut menjadi pemahaman bersama, kemudian menjadi sikap, kemudian menjadi aktivitas yang terorganisasi, ia mulai memiliki daya politik.
Karena itu, persoalan sebenarnya bukan apakah satu orang mampu mengubah dunia.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Apakah kita mampu membentuk manusia-manusia yang memiliki pemahaman yang sama tentang dunia, memiliki konsepsi yang jelas, dan bersedia bekerja untuk mewujudkannya?
Jika jawabannya ya, maka pengaruh politik bukan lagi sesuatu yang mustahil.
Ia menjadi sebuah proses.
Dan proses itu selalu dimulai dari manusia.
Politik pada Akhirnya Adalah Soal Arah
Mempelajari politik internasional seharusnya membuat kita memahami bahwa dunia tidak bergerak secara otomatis.
Ada manusia yang mengambil keputusan. Ada kelompok yang memperjuangkan kepentingan. Ada negara yang berusaha memperluas pengaruh. Ada ideologi yang berusaha menjadi dasar bagi kehidupan manusia.
Pertarungan politik pada akhirnya bukan hanya pertarungan tentang siapa yang lebih kuat.
Ia juga merupakan pertarungan tentang gagasan mana yang mampu membentuk manusia, memengaruhi masyarakat, kemudian diterjemahkan menjadi kekuatan politik.
Karena itu, jika kita ingin memahami bagaimana sebuah bangsa dapat memiliki pengaruh terhadap dunia, kita mungkin perlu memulainya dari pertanyaan yang lebih mendasar:
Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?
Apakah kita sedang membentuk manusia yang hanya pandai mengomentari dunia?
Ataukah kita sedang membentuk manusia yang memahami dunia, memiliki konsepsi tentang bagaimana dunia seharusnya berjalan, dan bersedia mengambil bagian dalam mengubahnya?
Barangkali di situlah letak awal politik yang sebenarnya.
Bukan di ruang kekuasaan.
Tetapi di dalam kesadaran manusia yang kemudian bergerak menjadi aktivitas. [af]







Tinggalkan Balasan