Skip to content
Just Thoughts and Notes Just Thoughts and Notes

Cerita, Ide dan Refleksi

  • Home
  • Mengikat Ilmu
  • Catatan Pinggir
  • Cerita Perjalanan
  • Family Time
  • About Me
Just Thoughts and Notes
Just Thoughts and Notes

Cerita, Ide dan Refleksi

MENJEJAK MAKAM SANGIA NIBANDERA DI KOLAKA

Posted on Juni 4, 2025Juni 4, 2025 By admin
makam raja mekongga

Pada hari Kamis, 29 Mei 2025 sekitar pukul 15.00 WITA saya bersama 2 orang kawan tiba di kompleks pemakaman Raja Mekongga Sangia Nibandera di Desa Tikonu, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Propinsi Sulawesi Tenggara.

Tujuan utama kami sebenarnya bukan ke tempat ini, tapi karena berkebetulan lewat mampirlah kami untuk mengobati rasa penasaran dan keingintahuan.

Sebagaimana yang tertera pada papan informasi sejarah di komplek pemakaman tersebut dijelaskan bahwa, Sangia Nibandera adalah gelar yang diberikan kepada La Duma, nama lain dari Lemelala yang berarti Raja atau ‘Bokeo’ yang dinaungi atau dikibarkan bendera pada saat kematiannya.

Dalam sejarah Mekongga (Melamba : 86), La Duma yang bergelar Sangia Nibandera tercatat sebagai Raja ke-6 dan memerintah dari tahun 1699–1748, Ia adalah putra Teporambe yang bergelar Sangia Niluwo, Raja Mekongga ke-5 (1683–1699).

Raja La Duma atau Bokeo Lemelala merupakan Raja pertama yang memeluk agama Islam di kerajaan Mekongga. Hal ini senada dengan pernyataan La Ode Neha (1978/1979: 54-55) bahwa pada zaman Teporambe, datanglah para mubaligh agama Islam dalam rangka dakwah mengajak Mokole dan rakyat untuk memeluk agama Islam.

Teporambe sendiri belum menerima tetapi menetapkan putranya memeluk agama Islam. Putranya itu bernama La Duma yang bergelar Sangia Nibandera. Kemudian (Tamburaka, 2004 : 501) mengemukakan, pada masa pemerintahan Lemelala barulah agama Islam berkembang pesat di seluruh wilayah kekuasaan Mekongga.

La Duma memeluk agama Islam tidak lepas dari jasa Opu Daeng Masaro (utusan Datu Luwu). Dia menetapkan agama Islam sebagai agama resmi kerajaan dan menyebarkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Mekongga termasuk mendatangkan para guru untuk mengajar agama Islam. Para guru tersebut ada diantaranya yang kemudian menikah dengan wanita-wanita asal kerajaan Mekongga.

makam sangia nibandera

Salah satu bukti peninggalan La Duma saat ini yang terkait dengan penyebaran agama Islam adalah adanya peninggalan berupa manuskrip berisi teks khutbah pada zaman tersebut.

Kembali ke kompleks pemakaman, lingkungannya termasuk dalam kategori terawat karena termasuk dalam Cagar Budaya Nasional. Di dalam kompleks pemakaman ini juga terdapat makam dari istri-istri Sangia Nibandera. Makam sang Raja memiliki ukuran lebih besar dari yang lainnya.

Salah satu keunikan dari kompleks pemakaman ini adalah tumbuhnya pohon-pohon besar yang ditaksir berusia 200-400 tahun dan terdapat sebuah Guci milik Sangia Nilulo yang konon berasal dari peninggalan Dinasti Ming. []

Bagikan ini:

  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

Cerita Perjalanan budayamakamsejarah

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Catatan Pinggir
  • Cerita Perjalanan
  • Family Time
  • Mengikat Ilmu
©2026 Just Thoughts and Notes | WordPress Theme by SuperbThemes
%d