Kalau Anda bebas memilih ke mana pun ingin pergi, ke mana Anda akan menuju? Pertanyaan ini biasanya kita pahami dalam konteks perjalanan atau liburan. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: ke mana sebenarnya kita sedang membawa kehidupan kita?
Tanpa disadari, setiap orang sedang melakukan perjalanan. Hari berganti hari, kita bekerja, mengambil keputusan, membangun hubungan, menghabiskan waktu, dan mengejar berbagai hal yang kita anggap penting. Kita mungkin merasa hanya sedang menjalani rutinitas, padahal semua pilihan itu perlahan membawa kita ke suatu tempat.
Persoalannya, apakah kita benar-benar tahu ke mana kita ingin sampai?
John C. Maxwell mengingatkan bahwa kita semua sedang melakukan perjalanan menuju tujuan-tujuan hidup kita. Yang perlu diputuskan adalah apakah kita memilih sendiri tujuan tersebut dan dengan sadar mengarahkan langkah ke sana, atau membiarkan keadaan, lingkungan, dan keputusan orang lain menentukan arah perjalanan kita.
Ini bukan berarti hidup selalu bisa berjalan sesuai rencana. Ada begitu banyak hal yang berada di luar kendali kita. Rencana bisa berubah, kesempatan bisa datang tanpa diduga, bahkan jalan yang kita pilih kadang membawa kita ke tempat yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Tetapi ada perbedaan besar antara mengubah arah karena keadaan dan tidak pernah memiliki arah sejak awal.
Orang yang memiliki tujuan tidak selalu tahu seluruh jalan yang harus ditempuh. Ia hanya tahu ke mana ingin bergerak, lalu menyesuaikan langkah ketika keadaan berubah. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki tujuan mudah sekali mengikuti arus. Hari ini mengejar sesuatu karena orang lain mengejarnya, besok mengubah arah karena melihat keberhasilan orang lain, dan pada akhirnya hidup dipenuhi kesibukan tanpa benar-benar tahu untuk apa semua itu dilakukan.
Dalam pekerjaan dan kehidupan, kita sering melihat hal semacam ini. Seseorang bekerja keras bertahun-tahun, mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, penghasilan yang lebih besar, dan berbagai pencapaian. Tetapi setelah semuanya diperoleh, ia justru bertanya dalam hati, “Sebenarnya saya sedang menuju ke mana?”
Karena itu, memiliki tujuan bukan sekadar membuat daftar pencapaian. Tujuan membantu kita menentukan apa yang layak dikejar dan apa yang tidak perlu dikejar. Ketika arah sudah jelas, kita menjadi lebih mudah mengatakan tidak kepada hal-hal yang menarik tetapi tidak membawa kita ke tempat yang ingin kita tuju.
Tujuan Memberi Arah pada Keputusan
Setiap hari kita membuat banyak keputusan. Sebagian terlihat kecil, tetapi jika dikumpulkan selama bertahun-tahun, keputusan-keputusan kecil itu membentuk kehidupan kita.
Apa yang kita pelajari, dengan siapa kita menghabiskan waktu, pekerjaan seperti apa yang kita pilih, bagaimana kita menggunakan uang, apa yang kita lakukan ketika memiliki waktu luang, bahkan apa yang kita pilih untuk abaikan—semuanya ikut menentukan arah perjalanan.
Karena itu, tujuan hidup seharusnya tidak hanya disimpan sebagai keinginan di kepala. Ia perlu menjadi semacam kompas ketika kita mengambil keputusan. Ketika tahu ke mana ingin pergi, kita dapat bertanya sebelum melangkah: “Apakah pilihan ini membawa saya mendekati tujuan atau justru menjauh darinya?”
Pertanyaan sederhana seperti itu sering kali lebih berguna daripada sekadar bertanya, “Apa yang saya inginkan sekarang?” Sebab sesuatu yang kita inginkan hari ini belum tentu sejalan dengan kehidupan yang ingin kita bangun dalam jangka panjang.
Jangan Biarkan Orang Lain Menentukan Arah Hidup Anda
Salah satu jebakan dalam kehidupan adalah menjalani tujuan orang lain tanpa menyadarinya. Kita mengejar jabatan karena lingkungan menganggap jabatan sebagai ukuran keberhasilan. Kita mengejar materi karena melihat orang lain memilikinya. Kita merasa harus mengikuti standar tertentu hanya karena itulah yang dianggap sukses oleh banyak orang.
Tidak ada yang salah dengan jabatan, materi, atau pencapaian. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah semua itu benar-benar bagian dari tujuan kita, atau sekadar sesuatu yang kita kejar karena takut dianggap tertinggal.
Hidup terlalu panjang untuk dijalani hanya dengan mengikuti arus, tetapi juga terlalu singkat untuk dihabiskan tanpa tahu arahnya.
Maka, sesekali kita perlu berhenti dari kesibukan dan bertanya kepada diri sendiri: Jika hidup saya terus berjalan seperti sekarang, lima atau sepuluh tahun lagi saya akan menjadi siapa? Dan apakah saya memang ingin sampai ke sana?
Pertanyaan itu mungkin tidak langsung memberikan jawaban. Namun, setidaknya ia membuat kita berhenti sejenak dan melihat kembali peta perjalanan yang sedang kita tempuh.
Pada akhirnya, kita tidak harus mengetahui seluruh jalan. Kita hanya perlu cukup jujur untuk menentukan arah, cukup berani untuk memulai, dan cukup dewasa untuk mengoreksi perjalanan ketika ternyata kita mengambil jalan yang keliru.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita bergerak. Yang tidak kalah penting adalah apakah kita sedang bergerak ke arah yang benar. [af]







Tinggalkan Balasan