Cara Membaca Buku: 3 Tingkatan agar Lebih Memahami Isi Bacaan

“Membaca yang baik bukan tentang seberapa cepat kita menyelesaikan buku, tetapi seberapa jauh buku itu mengubah cara kita memahami sesuatu.”

Bagikan:

how to read a book
Daftar Isi

Ada orang yang bangga karena dalam sebulan bisa menyelesaikan sepuluh buku. Ada pula yang merasa bersalah karena dalam sebulan hanya berhasil membaca satu atau dua buku. Tetapi sebenarnya, apakah jumlah buku yang selesai dibaca merupakan ukuran yang paling penting?

Saya kira tidak selalu demikian.

Membaca buku bukan sekadar aktivitas untuk memindahkan kata-kata dari halaman ke dalam kepala. Membaca yang baik adalah proses aktif: kita mencoba memahami apa yang sedang dikatakan penulis, mempertanyakan argumennya, menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah kita miliki, lalu melihat apakah gagasan tersebut mengubah cara kita memahami sesuatu.

Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah infografis menarik yang merangkum gagasan Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren dalam buku klasik How to Read a Book. Infografis tersebut dibuat secara visual oleh Sacha Chua dan menjelaskan bahwa membaca sebenarnya memiliki beberapa tingkatan.

Gagasan ini menarik karena selama ini kita sering memperlakukan semua buku dengan cara yang sama. Padahal, membaca novel untuk menikmati cerita tentu berbeda dengan membaca buku tentang filsafat, sejarah, bisnis, atau sebuah laporan penelitian. Tujuan membaca juga berbeda-beda. Ada buku yang cukup kita kenali garis besarnya, ada yang perlu kita pahami secara mendalam, dan ada pula yang perlu kita baca bersama beberapa buku lain untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

Adler dan Van Doren membagi aktivitas membaca ke dalam empat tingkatan. Untuk keperluan praktis, saya akan membahas tiga tingkatan yang menurut saya paling berguna: inspectional reading, analytical reading, dan syntopical reading.

1. Inspectional Reading: Mengenali Buku Sebelum Menyelaminya

Tidak semua buku perlu langsung dibaca dari halaman pertama sampai halaman terakhir.

Sering kali kita membuka sebuah buku, membaca beberapa halaman, lalu merasa harus menyelesaikannya hanya karena sudah terlanjur membelinya. Akibatnya, waktu habis untuk membaca sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu relevan dengan kebutuhan kita. Di sinilah inspectional reading menjadi berguna.

Inspectional reading pada dasarnya adalah membaca untuk mengenali sebuah buku sebelum memutuskan seberapa jauh kita perlu masuk ke dalamnya. Kita belum berusaha memahami seluruh argumen penulis. Kita sedang membangun peta awal tentang apa yang ada di dalam buku tersebut.

Ada dua cara yang bisa dilakukan.

Systematic Skimming

Pertama, kita bisa melakukan systematic skimming, atau menyisir buku secara sistematis.

Lihat judul dan subjudulnya. Periksa daftar isi, kata pengantar, indeks, sampul belakang, serta bagian-bagian yang tampaknya penting. Buka beberapa halaman secara acak. Perhatikan bagaimana penulis membangun struktur bukunya dan pertanyaan apa yang tampaknya ingin ia jawab.

Tujuannya bukan untuk membaca semuanya, melainkan mendapatkan gambaran: buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang apa?

Superficial Reading

Cara kedua adalah superficial reading, yaitu membaca buku dari awal sampai akhir dengan cepat tanpa terlalu sering berhenti.

Ini mungkin terdengar aneh. Bukankah membaca seharusnya dilakukan untuk memahami?

Namun justru di sinilah kita perlu membedakan antara membaca untuk memahami keseluruhan dan berhenti untuk memahami setiap detail.

Ketika menemukan istilah yang belum kita pahami, kita tidak harus langsung membuka kamus. Ketika menemukan satu argumen yang terasa membingungkan, kita tidak harus berhenti selama lima belas menit untuk memecahkannya. Lewati dulu dan lanjutkan membaca.

Adler memberikan prinsip yang sangat menarik: ketika pertama kali membaca sebuah buku, jangan terlalu cepat berhenti hanya karena ada bagian yang belum kita pahami.

Tujuannya sederhana: dapatkan peta besarnya terlebih dahulu.

Setelah selesai, kita akan memiliki konteks yang jauh lebih baik. Kita mulai tahu ke mana arah pembicaraan penulis, bagian mana yang penting, dan bagian mana yang mungkin tidak perlu kita dalami.

Dengan kata lain, inspectional reading membantu kita menjawab pertanyaan sederhana:

“Apakah buku ini layak mendapatkan lebih banyak waktu saya?”

Dan ini pertanyaan penting, terutama ketika semakin banyak buku yang tersedia sementara waktu kita tetap terbatas.

2. Analytical Reading: Ketika Membaca Mulai Menjadi Percakapan

Setelah sebuah buku dianggap penting atau relevan, kita bisa masuk ke tingkat berikutnya: analytical reading.

Di sini cara membaca kita berubah. Kita tidak lagi sekadar ingin tahu apa isi buku, tetapi mulai bertanya apa sebenarnya yang ingin dikatakan penulis dan apakah kita menerima argumennya.

Membaca pada tahap ini hampir seperti berdialog dengan penulis. Kita mengikuti cara berpikirnya, mencoba memahami hubungan antar gagasan, kemudian menguji apakah kesimpulannya memang masuk akal.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah terlebih dahulu memahami struktur buku.

Buku ini sebenarnya termasuk jenis apa? Apa masalah utama yang sedang dibahas? Bagaimana penulis membangun argumennya? Apakah ia sedang menjelaskan sebuah konsep, membandingkan beberapa pandangan, menyampaikan hasil penelitian, atau mencoba meyakinkan pembaca tentang suatu gagasan?

Kemudian cobalah meringkas isi buku dalam satu paragraf dengan bahasa sendiri.

Ini latihan yang sederhana tetapi cukup sulit. Kita sering merasa memahami sebuah buku hanya karena kalimat-kalimatnya terasa familiar ketika dibaca. Tetapi ketika diminta menjelaskan kembali tanpa melihat buku, tiba-tiba kita menyadari bahwa yang kita pahami ternyata tidak sebanyak yang kita kira.

Karena itu, kemampuan menjelaskan kembali sebuah gagasan dengan bahasa sendiri merupakan salah satu tanda bahwa kita mulai benar-benar memahami apa yang kita baca.

Pada tahap ini setidaknya ada beberapa pertanyaan penting yang perlu kita ajukan.

  • Apa sebenarnya yang ingin dikatakan penulis?
  • Bagaimana penulis sampai pada kesimpulan tersebut?
  • Apakah argumennya benar atau masuk akal?
  • Apa bukti yang digunakan?
  • Dan mengapa gagasan tersebut penting?

Pertanyaan terakhir sering kali dilupakan.

Kita bisa membaca sebuah buku dan memahami seluruh isinya, tetapi tetap tidak mengetahui mengapa pengetahuan tersebut penting bagi kehidupan kita. Padahal membaca yang baik bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membantu kita melihat hubungan antara pengetahuan tersebut dengan persoalan yang sedang kita hadapi.

Di sinilah membaca mulai menjadi aktivitas berpikir.

Kita tidak lagi hanya menerima apa yang dikatakan penulis. Kita mulai menguji, membandingkan, menyetujui, menolak, atau bahkan mengembangkan gagasan tersebut.

3. Syntopical Reading: Membaca Banyak Buku untuk Menemukan Gagasan Sendiri

Tingkat ketiga jauh lebih menarik.

Adler dan Van Doren menyebutnya syntopical reading. Ini adalah cara membaca ketika kita tidak lagi menjadikan satu buku sebagai pusat perhatian, melainkan menggunakan beberapa buku untuk memahami satu persoalan.

Misalnya kita ingin memahami tentang kepemimpinan.

Kita tidak cukup hanya membaca satu buku tentang kepemimpinan lalu menganggap itulah kebenaran tentang kepemimpinan. Kita bisa membaca beberapa penulis dengan latar belakang dan sudut pandang yang berbeda. Mungkin ada yang membahas kepemimpinan dari sisi organisasi, psikologi, sejarah, strategi, bahkan agama.

Dari sana kita mulai melihat sesuatu yang tidak mungkin terlihat jika hanya membaca satu buku.

Kita menemukan bahwa dua penulis mungkin membicarakan hal yang sama dengan istilah berbeda. Sebaliknya, mereka mungkin menggunakan istilah yang sama tetapi sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda.

Karena itu, syntopical reading bukan sekadar membaca lebih banyak buku. Justru tantangan utamanya adalah membangun hubungan di antara buku-buku tersebut.

Kita mencari bagian yang relevan dari masing-masing buku. Kita menyelaraskan istilah yang digunakan. Kita menentukan pertanyaan besar yang ingin kita jawab. Kemudian kita membandingkan bagaimana masing-masing penulis menjawab pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya kita tidak hanya mengetahui “apa kata buku A” atau “apa kata buku B”.

Kita mulai bertanya:

  • Di mana mereka sepakat?
  • Di mana mereka berbeda?
  • Mengapa mereka berbeda?
  • Apa kelemahan masing-masing pandangan?
  • Dan setelah melihat semuanya, apa kesimpulan saya sendiri?

Di titik inilah membaca menjadi jauh lebih menarik.

Tujuan akhirnya bukan menghafal pendapat sebanyak mungkin, melainkan membangun pandangan kita sendiri yang lebih tajam karena telah diuji oleh berbagai perspektif.

Tidak Semua Buku Harus Dibaca dengan Cara yang Sama

Salah satu pelajaran paling penting dari tiga tingkatan membaca ini adalah bahwa tidak semua buku membutuhkan kedalaman yang sama.

Ada buku yang cukup kita skim untuk mengetahui gagasan utamanya. Ada buku yang memang perlu kita baca perlahan sambil membuat catatan. Ada pula topik yang baru bisa kita pahami setelah membaca lima, sepuluh, bahkan dua puluh buku dengan sudut pandang berbeda.

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah menggunakan satu metode untuk semua jenis buku.

Kita membaca buku bisnis dengan cara membaca novel. Kita membaca buku filsafat sambil terburu-buru mengejar jumlah halaman. Kita membaca buku sejarah tanpa pernah membandingkannya dengan sumber lain. Akibatnya, aktivitas membaca menjadi melelahkan karena kita tidak menyesuaikan cara membaca dengan tujuan yang ingin dicapai.

Padahal, membaca juga membutuhkan strategi.

Jika tujuan kita hanya ingin mengetahui apakah sebuah buku relevan, lakukan inspectional reading. Jika buku tersebut penting bagi pekerjaan atau pemikiran kita, masuklah ke analytical reading. Jika kita sedang berusaha memahami sebuah persoalan secara mendalam, gunakan syntopical reading dengan membaca beberapa sumber sekaligus.

Dengan cara seperti ini, waktu membaca menjadi lebih terarah.

Membaca Bukan Perlombaan Mengumpulkan Buku

Ada satu hal lain yang menurut saya lebih penting.

Di tengah budaya produktivitas, membaca pun kadang berubah menjadi perlombaan. Kita menghitung berapa buku yang selesai dibaca dalam setahun, membuat daftar reading challenge, lalu merasa produktif karena jumlahnya bertambah.

Tidak ada yang salah dengan membaca banyak buku. Masalahnya muncul ketika jumlah buku yang selesai dibaca menjadi lebih penting daripada apa yang terjadi pada diri kita setelah membacanya.

Sebuah buku yang dibaca dengan serius dan kemudian mengubah cara kita memahami suatu persoalan mungkin jauh lebih berharga daripada sepuluh buku yang selesai dibaca tetapi segera dilupakan.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan “berapa banyak buku yang sudah saya baca?”, melainkan:

“Apa yang sekarang saya pahami lebih baik karena buku-buku yang saya baca?”

Pertanyaan tersebut mengubah cara kita melihat membaca.

Kita mulai membaca bukan untuk menyelesaikan buku, tetapi untuk memahami sesuatu. Bukan untuk mengumpulkan pengetahuan, tetapi untuk mengolahnya. Dan bukan hanya untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, tetapi pada akhirnya untuk belajar berpikir dengan lebih baik.

Penutup: Buku yang Baik Seharusnya Membawa Kita ke Tempat yang Berbeda

Membaca yang baik tidak selalu berarti membaca dengan lambat. Membaca dengan baik berarti mengetahui kapan harus membaca cepat, kapan harus berhenti, dan kapan harus membandingkan satu buku dengan buku lainnya.

Tiga tingkat membaca yang dijelaskan Adler dan Van Doren memberikan kerangka yang sederhana tetapi berguna: inspectional untuk mengenali, analytical untuk memahami, dan syntopical untuk membandingkan serta membangun pemahaman yang lebih luas.

Pada akhirnya, buku hanyalah salah satu tempat di mana sebuah gagasan berada. Tugas pembaca bukan sekadar memindahkan gagasan itu ke dalam ingatan, tetapi mengujinya dalam pikiran dan kehidupan.

Sebab ukuran keberhasilan membaca mungkin bukan ketika kita berhasil menutup halaman terakhir sebuah buku.

Bisa jadi ukuran yang lebih penting adalah ketika kita menutup buku tersebut, lalu melihat dunia dengan cara yang sedikit berbeda dari sebelumnya. [af]

Untuk direnungkan

Buku apa yang pernah mengubah cara Anda melihat sebuah persoalan—bukan karena isinya paling banyak, tetapi karena ia membuat Anda berpikir dengan cara yang sebelumnya tidak pernah Anda lakukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *