Kita biasanya membayangkan orang zalim sebagai tokoh jahat di cerita-cerita diktator, perampok, atau penindas yang jelas-jelas kejam. Karena gambaran itu terlalu jauh dari diri kita, kata “zalim” terasa seperti urusan orang lain. Padahal kezaliman sering lahir dari hal yang jauh lebih sepele, seperti keputusan yang diambil tanpa mendengar, hak bawahan yang ditunda, atau kewenangan yang dipakai untuk kenyamanan sendiri. Tulisan ini mencoba melihat kezaliman dari dekat, dan bertanya mengapa Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai “kegelapan-kegelapan” pada hari kiamat.
Peringatan yang Disebut Bersama Kikir
Dalam Riyadhush Shalihin, Imam an-Nawawi menempatkan hadits ini di bab larangan berbuat zalim. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Jauhilah pula sifat kikir, karena kikir telah membinasakan umat sebelum kalian; ia mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka” (HR. Muslim no. 2578).
Yang menarik, kezaliman dan kikir disebut dalam satu napas. Sebagian ulama menjelaskan bahwa sifat yang dimaksud adalah kikir yang bercampur rakus, yaitu keinginan menggenggam apa pun yang menguntungkan diri sendiri tanpa peduli hak orang lain. Dari sini kelihatan bahwa kezaliman jarang berdiri sendiri; ia biasanya tumbuh dari kerakusan, lalu mencari pembenaran supaya terlihat wajar. Itulah sebabnya hadits ini menyebut orang-orang yang pada akhirnya menghalalkan yang haram, karena orang yang rakus perlu meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan tidak salah.
Kata “kegelapan” juga layak dipikirkan. Di dunia, orang zalim sering merasa berada di tempat terang: ia punya alasan, punya argumen, bahkan kadang punya pendukung. Hadits ini mengatakan sebaliknya, bahwa yang terlihat terang hari ini akan menjadi kegelapan yang menyelimuti pelakunya ketika semua pembenaran sudah tidak berguna.
Iman yang Tidak Dicampur Kezaliman
Ayat yang menjadi pembuka pembahasan ini adalah QS. Al-An’am ayat 82, yang artinya kurang lebih: orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imannya dengan kezaliman, merekalah yang mendapat rasa aman dan merekalah yang mendapat petunjuk. Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa berat dan bertanya, siapa di antara mereka yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa maksud kezaliman di sana bukan seperti yang mereka khawatirkan, melainkan syirik, sebagaimana ucapan Luqman, “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud).
Penjelasan ini penting karena menunjukkan bahwa kata “zalim” dalam Al-Qur’an luas jangkauannya. Ia bisa berarti syirik sebagai kezaliman terbesar kepada Allah, bisa berarti menzalimi diri sendiri dengan dosa, dan bisa berarti menzalimi sesama manusia. Hadits Jabir tadi berbicara tentang jenis yang ketiga, kezaliman yang korbannya manusia lain. Dari ayat tersebut kita juga belajar bahwa rasa aman dan petunjuk dijanjikan kepada orang yang imannya bersih dari kezaliman, bukan sekadar yang imannya ada.
Zalim Tidak Selalu Berupa Kejahatan Besar
Ada satu hadits yang bagi saya paling efektif untuk membongkar anggapan bahwa zalim itu urusan orang lain. Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka menjawab bahwa orang bangkrut adalah yang tidak punya uang dan harta. Beliau menjelaskan bahwa orang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada korban-korbannya, dan jika kebaikannya habis sebelum urusannya selesai, dosa para korban diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke neraka (HR. Muslim no. 2581).
Perhatikan bahwa orang dalam hadits ini bukan orang yang meninggalkan ibadah. Ia rajin shalat, berpuasa, dan berzakat, tetapi lidah, tangan, dan kewenangannya meninggalkan jejak luka pada orang lain. Artinya, ibadah yang banyak tidak otomatis menjadi perisai bagi kezaliman yang tidak diselesaikan. Dalam bahasa sehari-hari, kita bisa saja tampak saleh di masjid sambil menunda gaji karyawan, menyebarkan aib seseorang, atau mengambil keputusan yang merugikan orang lain karena merasa punya wewenang.
Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang pimpinan organisasi yang aktif berdakwah dan dikenal santun di depan umum. Di dalam organisasinya, ia terbiasa mengabaikan masukan bawahan, menunda hak mereka karena “nanti saja“, dan menyalahkan orang lain ketika target tidak tercapai. Tidak ada satu pun perbuatannya yang tampak seperti kejahatan besar, tetapi jika ditumpuk selama bertahun-tahun, itulah wujud nyata dari hadits tentang orang yang bangkrut.
Semakin Besar Kuasa, Semakin Berat Timbangannya
Jika kezaliman biasa saja sudah seberat itu, bagaimana dengan kezaliman yang dilakukan orang yang memegang kuasa? Di sinilah kita perlu melihat bahwa kekuasaan melipatgandakan dampak. Satu keputusan seorang pemimpin bisa menyentuh ribuan orang sekaligus, sehingga pihak yang menuntut keadilan kelak pun banyak. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar), dan hadits itu berlaku dari penguasa negara sampai kepala keluarga.
Peringatan yang lebih tegas datang dalam sabda beliau, “Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah memimpin rakyat lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga atasnya” (HR. al-Bukhari no. 7150, dari Ma’qil bin Yasar). Perhatikan bahwa yang disebut bukan hanya menindas secara terang-terangan, tetapi juga menipu, yaitu mengkhianati kepercayaan yang diberikan. Bagi pemimpin, kezaliman sering muncul dalam bentuk yang halus: laporan yang dipercantik, hak orang banyak yang dialihkan untuk kepentingan segelintir orang, atau kebijakan yang menguntungkan lingkaran dekat.
Di sini istilah “timbangan dosa penguasa” menjadi masuk akal. Penguasa tidak hanya ditimbang atas perbuatannya sendiri, tetapi juga atas akibat yang ditimbulkan oleh kewenangannya terhadap orang-orang yang ada di bawahnya. Karena itu, kuasa sebaiknya dipahami sebagai beban pertanggungjawaban yang kelak harus dilaporkan, bukan sebagai kehormatan yang dinikmati.
Ketika Melihat Kezaliman: Diam Bukan Netral
Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang yang melihat kezaliman penguasa? Islam tidak menyuruh kita diam, tetapi juga tidak membiarkan setiap orang bertindak sesukanya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang melihat kemungkaran hendaknya mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman (HR. Muslim no. 49). Tingkatan ini menunjukkan bahwa kewajiban amar makruf nahi mungkar disesuaikan dengan kemampuan, namun sikap menolak kezaliman di dalam hati tidak pernah gugur.
Terhadap penguasa, ada hadits khusus yang sering dikutip: “Jihad yang paling utama adalah kalimat yang adil di hadapan penguasa yang zalim” (HR. Abu Dawud no. 4344 dan at-Tirmidzi no. 2174, dinilai sahih oleh sejumlah ulama). Bobot hadits ini terletak pada kata “adil”, yaitu perkataan yang benar dan proporsional, bukan sekadar perkataan yang keras. Dalam hadits lain, agama disebut sebagai nasihat, termasuk nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin (HR. Muslim no. 55, dari Tamim ad-Dari). Jadi menyampaikan kebenaran kepada pemimpin adalah bagian dari agama, bukan sikap melawan.
Adab menyampaikannya juga punya teladan. Allah memerintahkan Musa dan Harun menemui Fir’aun, yang puncak kezalimannya sudah jelas, dengan pesan, “Berbicaralah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, semoga ia ingat atau takut” (QS. Thaha: 44). Jika kepada Fir’aun saja perintahnya demikian, maka cara kita menasihati pemimpin yang bahkan masih muslim tentu lebih layak dijaga. Para ulama memang berbeda pandangan tentang kapan nasihat sebaiknya disampaikan secara tertutup dan kapan terbuka, tetapi mereka sepakat bahwa tujuannya adalah memperbaiki dan mencegah mudarat yang lebih besar, bukan melampiaskan emosi.
Pertanyaan yang Lebih Dekat dari yang Kita Kira
Pembahasan tentang penguasa zalim mudah membuat kita merasa sebagai pihak yang dizalimi, padahal hampir semua orang memegang kekuasaan dalam ukuran tertentu. Seorang atasan berkuasa atas stafnya, seorang kepala tim atas anggotanya, seorang orang tua atas anaknya, dan seorang pengurus atas dana yang dititipkan kepadanya. Maka pertanyaan yang lebih jujur bukan hanya “siapa penguasa yang zalim?”, melainkan “di wilayah kecil mana saya sedang memegang kuasa, dan bagaimana saya memakainya?”
Ada cara sederhana untuk mengujinya: apakah orang yang berada di bawah kewenangan saya merasa aman menyampaikan kekurangan saya? Jika mereka lebih memilih diam karena takut, itu pertanda awal bahwa ruang kezaliman sedang terbuka, sekecil apa pun. Pemimpin yang baik tidak hanya menghindari berbuat zalim, tetapi juga membangun lingkungan tempat orang lain berani mengingatkan.
Mungkin itulah makna “rasa aman” dalam QS. Al-An’am ayat 82. Rasa aman di akhirat dijanjikan bagi orang yang imannya bersih dari kezaliman, dan di dunia pun rasa aman tumbuh di tempat-tempat yang dipimpin dengan adil. Pertanyaan yang patut kita bawa pulang barangkali begini: ketika kelak semua hak ditimbang, siapa saja yang akan merasa lega karena pernah berurusan dengan kita? [af]
Sumber:
- QS. Al-An’am: 82; QS. Luqman: 13; QS. Thaha: 43–44
- HR. Muslim no. 2578 (hadits Jabir), no. 2581 (orang yang bangkrut), no. 49 (tingkatan mengubah kemungkaran), no. 55 (agama adalah nasihat)
- HR. al-Bukhari no. 7150 (Ma’qil bin Yasar); al-Bukhari dan Muslim (Ibnu Umar, “setiap kalian pemimpin”; Ibnu Mas’ud, tafsir kezaliman sebagai syirik)
- HR. Abu Dawud no. 4344 dan at-Tirmidzi no. 2174 (kalimat yang adil di hadapan penguasa zalim)







Tinggalkan Balasan