Asap Karhutla Pontianak: AQI 390 dan Masalah yang Dianggap Biasa

“Semakin sering sebuah masalah datang, semakin mudah kita lupa bahwa ia seharusnya diselesaikan.”

Bagikan:

Daftar Isi

Pada 17 sampai 23 September 2026, saya berada di Pontianak dan untuk pertama kalinya hidup di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selama ini saya hanya mengenalnya lewat berita dan foto di media sosial, dan ternyata mengalaminya langsung adalah hal yang sama sekali berbeda. Setelah pulang, saya membuka grafik kualitas udara kota itu untuk memastikan apakah yang saya rasakan hanya kesan atau memang ada angkanya. Angkanya jauh lebih keras daripada kesan saya, dan itu membuat satu pertanyaan terus mengganggu: mengapa masalah yang begitu jelas dan begitu berulang bisa terasa seperti hal biasa?

Hari-Hari Tanpa Matahari

Hal pertama yang saya sadari adalah matahari tidak pernah terlihat. Langit tidak mendung dan tidak berawan, tetapi tertutup selubung putih keabu-abuan yang membuat siang terasa seperti sore yang tidak kunjung selesai. Saya baru sadar betapa saya menganggap kehadiran matahari sebagai sesuatu yang otomatis, sampai ia hilang berhari-hari.

Yang lebih terasa adalah soal bernapas. Tidak ada yang dramatis, tetapi dada terasa kurang lega dan udara seperti punya “bobot” yang membuat tarikan napas tidak pernah benar-benar penuh. Pengalaman sederhana itu membuat saya paham bahwa hidup yang nyaman bertumpu pada hal-hal yang jarang kita syukuri, dan udara bersih adalah salah satunya.

Asap itu juga tidak berhenti di level ketidaknyamanan pribadi. Selama 17 sampai 23 September, jadwal perjalanan saya sempat beberapa kali tertunda karena pesawat tidak diizinkan lepas landas maupun mendarat. Keputusan itu tentu benar demi keselamatan, tetapi dari situ saya melihat bahwa asap ini bukan sekadar urusan paru-paru warga. Ia menyentuh transportasi, jadwal kerja, dan roda ekonomi sebuah kota, karena ketika jarak pandang menurun, semua aktivitas yang bergantung pada mobilitas ikut melambat.

Ketika Angka Membenarkan Apa yang Dirasakan Paru-Paru

Pada hari terakhir saya di sana, 23 September, indeks kualitas udara (AQI⁺ US) Pontianak tercatat 390 dan masuk kategori “Berbahaya”. Dalam skala ini, 0 sampai 50 berarti udara baik, sedangkan kategori berbahaya dimulai dari angka di atas 300. Jadi yang saya hirup hari itu bukan sekadar “kurang sehat”, tetapi sudah jauh melewati batas yang oleh skala itu sendiri disebut berbahaya bagi semua orang, bukan hanya mereka yang punya riwayat sakit pernapasan.

Selama kurang lebih se-minggu saya di sana, grafik harian bergerak dari sekitar 275 sampai lebih dari 600, dengan puncak sekitar 19 September (angka-angka ini perkiraan saya dari grafik; hanya angka 390 yang tertera jelas). Tidak ada satu hari pun yang masuk kategori sedang atau baik. Hari yang paling “ringan”, sekitar 18 September, tetap berada di kategori sangat tidak sehat.

Yang membuat saya terdiam adalah rentang waktunya. Dalam grafik yang sama, sejak 11 September sampai awal Oktober tidak ada satu batang pun yang turun di bawah kisaran 170, dan di awal Oktober angkanya naik lagi mendekati 390. Artinya yang saya alami bukan lonjakan sesaat, melainkan bagian dari episode yang berlangsung berminggu-minggu, dan saya hanya kebetulan hadir di salah satu potongannya.

Di sini saya menemukan sudut pandang baru. Tubuh dan kebiasaan manusia bisa beradaptasi, sehingga hari ke-10 asap terasa lebih “biasa” daripada hari pertama. Angka tidak ikut beradaptasi. Udara 390 tetap 390 meski warga sudah terbiasa, dan di situlah bahayanya: rasa biasa bisa menutupi tingkat bahaya yang sebenarnya.

Orang Luar Merasa Darurat, Orang Dalam Merasa Biasa

Saat bertanya dan mendengar cerita, saya mendapat kesan bahwa bagi banyak orang di sana asap ini bukan kejadian luar biasa. Karhutla sudah seperti “langganan musibah tahunan”, datang pada waktunya, mereda pada waktunya, lalu dilupakan sampai tahun berikutnya. Ini kesan saya sebagai pengunjung, bukan kajian ilmiah, tetapi kesan itu cukup kuat untuk dipikirkan.

Orang yang baru datang melihat asap sebagai keadaan darurat, sementara orang yang sudah lama tinggal melihatnya sebagai rutinitas. Kedua sudut pandang itu sama-sama masuk akal, tetapi menghasilkan sikap yang sangat berbeda. Pendatang bertanya, “Mengapa ini dibiarkan?” Penduduk lama sudah belajar beradaptasi: memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan menunggu hujan.

Di titik inilah bahaya sebuah masalah yang berulang. Semakin sering ia datang, semakin kita terlatih menerimanya, dan semakin berkurang tekanan untuk menyelesaikannya. Adaptasi memang tanda ketangguhan manusia, tetapi bila berlebihan ia bisa menjadi cara halus untuk berhenti menuntut perbaikan. Pendatang dan penduduk lama bisa berbeda dalam merasakan, tetapi angka kualitas udara berlaku sama bagi keduanya.

Masalah yang Berulang Bukan Lagi Soal Ketidaktahuan

Kalau sebuah persoalan muncul sekali, wajar bila kita menyebutnya kejutan. Kalau ia muncul setiap tahun, sulit menyebutnya begitu, dan pertanyaannya berubah dari “apa yang terjadi?” menjadi “mengapa pola yang sama terus berulang?” Pola yang berulang biasanya menandakan bahwa penanganan masih berfokus pada pemadaman saat api sudah menyala, bukan pada pencegahan yang membuat api tidak perlu menyala. Grafik yang berlangsung hampir sebulan tanpa satu hari pun sehat memperlihatkan bahwa ini bukan kejadian mendadak yang sulit diantisipasi.

Saya tidak ingin menyederhanakan. Karhutla punya banyak lapisan, mulai dari kondisi lahan, cuaca, hingga kepentingan yang saling bersinggungan, dan saya bukan ahlinya. Namun sebagai orang yang sehari-hari bekerja dengan organisasi dan program lapangan, ada satu pelajaran umum yang saya yakini: masalah yang terus berulang hampir selalu berarti ada yang belum diselesaikan di tingkat sistem, entah insentifnya, pengawasannya, koordinasinya, atau kejelasan siapa yang bertanggung jawab. Ketika semua itu kabur, yang tersisa adalah respons musiman yang ramai saat asap pekat dan sepi saat langit kembali biru.

Dampak kesehatan membuat hal ini semakin mendesak. Asap karhutla mengancam kesehatan masyarakat, terutama lewat gangguan pernapasan seperti ISPA. Sebagai pengamat dari luar, saya mendapat kesan pemerintah belum tampak punya jawaban yang meyakinkan, padahal melindungi warga dari ancaman seperti ini jelas bagian dari tanggung jawab mereka. Kesan itu mungkin tidak sepenuhnya adil terhadap upaya yang sudah dilakukan di lapangan, tetapi bagi warga yang tetap menghirup udara itu, yang terasa adalah hasil akhirnya, bukan niat baik atau rapat koordinasinya.

Yang Dikatakan Al-Qur’an dan Hadits tentang Tanggung Jawab

Dalam Islam, persoalan seperti ini tidak dianggap urusan teknis semata. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatannya, supaya mereka kembali. Ayat ini menarik karena tidak berhenti pada kerusakannya, tetapi menyebut tujuannya: agar manusia kembali memperbaiki diri. Asap yang menyesakkan itu bisa dibaca sebagai peringatan yang sangat nyata, bukan sekadar gangguan.

Dalam hal kepemimpinan, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Hadits ini mengingatkan bahwa jabatan bukan hanya soal wewenang, tetapi juga pertanggungjawaban atas keselamatan orang-orang yang berada di bawahnya. Udara yang aman dihirup jelas termasuk di dalamnya.

Ada pula kaidah yang sangat relevan: tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain (HR. Ibnu Majah no. 2340; juga dalam Arbain An-Nawawi no. 32 dan dinilai hasan). Prinsip ini berlaku bagi siapa saja, pemerintah, perusahaan, maupun individu, karena asap tidak mengenal batas. Api yang dinyalakan satu pihak bisa mengenai paru-paru banyak orang yang tidak tahu apa-apa.

Pulang ke Makassar, dan Belajar Menghargai yang Biasa

Ketika saya kembali ke Makassar, perbedaannya langsung terasa. Udara bersih, langit terbuka, dan napas kembali lega, seperti sesuatu yang baru saja dikembalikan. Padahal Makassar tidak berubah, hanya saya yang sebelumnya terbiasa tanpa sadar. Pengalaman di Pontianak membuat saya melihat bahwa nikmat terbesar sering kali adalah nikmat yang paling tidak kita sadari.

Dari situ saya menarik dua pelajaran. Pertama, jangan menganggap normal sesuatu yang sebenarnya tidak seharusnya terjadi, apalagi bila yang menanggungnya adalah orang banyak. Kedua, tanggung jawab publik tidak diukur dari seberapa sibuk kita saat krisis, tetapi dari seberapa serius kita mencegah krisis itu kembali. Keduanya berlaku bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi siapa pun yang memimpin sebuah organisasi, besar maupun kecil.

Mungkin ukuran kepemimpinan yang baik sederhana saja: apakah masalah yang sama masih datang tahun depan? Dan bagi kita yang tidak memegang kebijakan apa pun, pertanyaannya bisa lebih sederhana lagi: masalah apa di sekitar kita yang sudah terlalu lama kita anggap biasa? [af]

Sumber data kualitas udara: www.iqair.com, diakses 10 Oktober 2026. Angka harian selain 23 September dibaca dari grafik dan bersifat perkiraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *