Mengapa Putus Asa Disejajarkan dengan Kesombongan? Pelajaran dari Nabi Ya’qub

“Sedih membiarkan pintu tetap terbuka. Putus asa menguncinya dari dalam.”

Bagikan:

Daftar Isi

Ada satu hadits yang susunannya mudah terlewat padahal sangat tajam maknanya. Fadhalah bin Ubaid meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menyebut tiga golongan yang “tidak perlu ditanyakan lagi tentang mereka”, sebuah ungkapan untuk menunjukkan betapa beratnya keadaan mereka. Ketiganya adalah orang yang hendak merebut selendang Allah, yaitu kesombongan, karena pakaian-Nya adalah kebesaran; orang yang ragu terhadap perintah Allah; dan orang yang berputus asa dari rahmat Allah (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 542).

Ketika pertama kali membaca hadits ini, kebanyakan orang mungkin bertanya: mengapa putus asa diletakkan sejajar dengan kesombongan? Orang sombong merasa dirinya besar, sedangkan orang yang putus asa justru merasa dirinya kecil, lemah, dan tak berdaya. Sekilas keduanya tampak berlawanan. Namun jika direnungkan lebih dalam, keduanya ternyata berangkat dari akar yang sama, dan di situlah pelajaran pentingnya.

Putus Asa Bukan Sekadar Perasaan

Kita sering menganggap putus asa sebagai perasaan sedih yang sangat dalam. Padahal sedih dan putus asa adalah dua hal yang berbeda. Sedih adalah reaksi wajar atas kehilangan, kegagalan, atau penantian yang panjang. Putus asa adalah sesuatu yang lebih jauh: sebuah kesimpulan bahwa keadaan tidak mungkin lagi berubah.

Perbedaan ini penting. Orang yang sedih masih membiarkan pintu terbuka, meskipun ia belum punya tenaga untuk melangkah ke sana. Orang yang putus asa sudah menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam. Ia tidak hanya berkata “ini berat”, tetapi “ini sudah selesai, tidak ada jalan lagi.”

Di titik inilah putus asa bertemu dengan kesombongan. Ketika seseorang menyimpulkan bahwa tidak ada lagi kemungkinan, ia sedang menjadikan perhitungannya sendiri sebagai keputusan akhir. Ia menganggap batas pengetahuannya adalah batas kemungkinan. Seolah-olah karena ia tidak bisa melihat jalan keluar, maka jalan keluar itu memang tidak ada. Itu adalah bentuk kesombongan yang halus, karena yang mengetahui seluruh kemungkinan hanyalah Allah.

Nabi Ya’qub: Sangat Sedih, tetapi Tidak Pernah Menyimpulkan

Contoh terbaik untuk memahami perbedaan ini ada dalam kisah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Ia kehilangan Yusuf, anak yang paling dicintainya, selama bertahun-tahun. Lalu ia kehilangan lagi Bunyamin, adik Yusuf. Al-Qur’an menggambarkan kesedihannya begitu dalam hingga matanya menjadi putih karena duka.

Namun perhatikan apa yang ia katakan. Ketika anak-anaknya mengira ia akan binasa karena terus mengingat Yusuf, ia menjawab: “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Yusuf [12]: 86). Nabi Ya’qub tidak menyangkal kesedihannya. Ia tidak berpura-pura kuat. Tetapi ia tahu ke mana kesedihan itu harus dibawa.

Lalu datang ayat berikutnya, yang menjadi inti renungan ini: “Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir” (QS. Yusuf [12]: 87).

Yang menarik, larangan berputus asa di ayat ini tidak datang sendirian. Ia didahului oleh perintah: pergilah, carilah. Nabi Ya’qub tidak hanya meminta anak-anaknya untuk tetap berharap di dalam hati. Ia menyuruh mereka bergerak. Harapan dalam Al-Qur’an ternyata bukan suasana hati, melainkan instruksi untuk tetap melangkah.

Harapan yang Diam Sering Kali Hanya Penundaan Putus Asa

Dari ayat ini kita bisa melihat sesuatu yang jarang dibicarakan. Ada orang yang secara lisan berkata “saya masih berharap”, tetapi tidak lagi melakukan apa pun. Ia tidak lagi mencari, tidak lagi mencoba, tidak lagi bertanya. Secara perasaan ia belum menyerah, tetapi secara tindakan ia sudah berhenti.

Harapan seperti ini rapuh, karena ia tidak diberi makan oleh usaha. Lama-kelamaan ia akan mengering sendiri dan berubah menjadi keputusasaan yang diam-diam. Sebaliknya, langkah kecil yang terus dilakukan, meskipun dengan hati yang berat, justru menjaga harapan tetap hidup. Kita tidak selalu bisa memaksa hati untuk optimis, tetapi kita hampir selalu bisa memilih untuk melakukan satu langkah berikutnya.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengatakan hal serupa ketika diberi kabar akan memiliki anak di usia yang sangat tua: “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat” (QS. Al-Hijr [15]: 56). Secara hitungan manusia, kabar itu mustahil. Tetapi para nabi tidak membatasi rahmat Allah dengan hitungan mereka sendiri.

Ketika Kita Memvonis Keadaan, Orang Lain, dan Diri Sendiri

Pelajaran ini tidak hanya berlaku untuk musibah besar. Dalam pekerjaan, organisasi, dan dakwah, putus asa sering muncul dalam bentuk yang lebih halus: sebuah vonis.

Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang pimpinan yang melihat salah satu cabangnya terus tertinggal selama berbulan-bulan. Laporannya stagnan, timnya tampak lesu, dan berbagai cara sudah dicoba. Pada titik tertentu, sangat menggoda untuk berkata, “Cabang ini memang tidak bisa diharapkan.” Kalimat itu terdengar seperti analisis yang realistis. Padahal sering kali itu adalah keputusasaan yang memakai baju objektivitas. Begitu vonis itu dijatuhkan, perhatian berkurang, dukungan berkurang, dan akhirnya keadaan benar-benar tidak berubah, bukan karena tidak mungkin, tetapi karena sudah tidak ada yang memperhatikannya lagi.

Ini tidak berarti setiap keputusan sulit adalah tanda putus asa. Seorang pemimpin bisa saja, setelah evaluasi yang jujur, menyimpulkan bahwa cabang itu membutuhkan manager baru atau strategi yang sama sekali berbeda. Keputusan seperti itu justru lahir dari harapan, karena ia masih percaya cabang itu bisa bergerak dan mau membayar harga untuk mewujudkannya. Bedanya, evaluasi menyimpulkan penyebab lalu melahirkan langkah baru, sedangkan putus asa menyimpulkan akhir cerita lalu menghentikan semua langkah. Bahkan terhadap manager yang diganti pun, yang dinilai adalah kecocokannya dengan peran saat ini, bukan masa depannya sebagai manusia.

Hal yang sama terjadi dalam dakwah dan hubungan antarmanusia. Kita mudah berkata tentang seseorang, “Orang itu sudah tidak bisa berubah.” Padahal kita tidak pernah tahu apa yang Allah siapkan untuk hati seseorang. Banyak orang yang dulu dianggap paling jauh justru kemudian menjadi orang yang paling dekat. Memvonis orang lain sebagai “tidak ada harapan” juga merupakan bentuk putus asa dari rahmat Allah, hanya saja diarahkan kepada orang lain.

Dan yang paling sering, kita menjatuhkan vonis itu kepada diri sendiri. “Saya memang begini.” “Dosa saya terlalu banyak.” “Saya sudah terlalu tua untuk belajar.” Kalimat-kalimat ini terdengar rendah hati, tetapi sebenarnya ia menutup pintu yang Allah sendiri masih biarkan terbuka.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Langkah pertama adalah belajar memisahkan fakta dari vonis. “Penjualan turun tiga bulan berturut-turut” adalah fakta. “Usaha ini tidak akan pernah berhasil” adalah vonis. Fakta perlu dihadapi dengan jujur, tetapi vonis perlu dicurigai, karena ia sering lahir dari kelelahan, bukan dari kebenaran.

Langkah kedua adalah meniru urutan Nabi Ya’qub: bawa kesedihan kepada Allah, lalu kembali bergerak. Mengadu kepada Allah bukan tanda lemah, melainkan cara menempatkan beban di tempat yang benar. Setelah itu, cari satu langkah yang masih bisa dilakukan, sekecil apa pun. Bukan rencana besar, cukup langkah berikutnya: satu telepon, satu kunjungan, satu doa yang lebih sungguh-sungguh, satu percakapan yang tertunda.

Langkah ketiga adalah berhati-hati dengan kata “tidak mungkin”, baik yang kita ucapkan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Kata itu jarang benar-benar berarti tidak mungkin. Lebih sering ia berarti “saya belum melihat caranya”, dan itu adalah dua pernyataan yang sangat berbeda.

Rendah Hati di Hadapan Kemungkinan

Kembali ke pertanyaan di awal: mengapa putus asa disejajarkan dengan kesombongan dan keraguan terhadap perintah Allah? Barangkali karena ketiganya memiliki benang merah yang sama, yaitu manusia yang menjadikan dirinya sebagai ukuran terakhir. Orang sombong mengukur kebesaran dengan dirinya. Orang yang ragu mengukur kebenaran perintah Allah dengan pikirannya. Orang yang putus asa mengukur kemungkinan masa depan dengan pandangannya yang terbatas.

Maka lawan dari putus asa bukanlah optimisme yang berlebihan. Lawannya adalah kerendahan hati: kesadaran bahwa apa yang kita lihat bukanlah keseluruhan cerita. Nabi Ya’qub tidak tahu bagaimana Yusuf akan kembali. Ia hanya tahu bahwa ia tidak berhak menutup kemungkinan itu.

Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan hari ini sederhana saja: pintu mana dalam hidup kita, dalam pekerjaan kita, atau terhadap orang-orang di sekitar kita, yang diam-diam sudah kita kunci dari dalam? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *