Ada kalimat dari Ibn al-Qayyim yang menurut saya layak dibaca perlahan. Bukan karena bahasanya sulit, tetapi karena ia membawa kita pada sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: di pihak mana hati kita berdiri?
Ibn al-Qayyim menggambarkan hati manusia seperti sebuah medan pertempuran. Di dalamnya ada dua tarikan yang terus berhadapan: tarikan dunia dan tarikan akhirat. Jika kita ingin mengetahui ke mana sebenarnya hidup kita sedang berjalan, kita tidak cukup melihat apa yang kita katakan. Kita perlu melihat apa yang paling sering kita kejar, apa yang paling kita takut kehilangan, dan untuk apa kita rela menghabiskan sebagian besar hidup kita.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah.
Kita Sering Merasa Bisa Berdiri di Tengah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin merasa tidak perlu memilih. Kita ingin menjadi orang yang taat kepada Allah, tetapi pada saat yang sama kita juga ingin menikmati dunia. Kita ingin mengejar karier, memiliki penghasilan yang baik, membangun bisnis, memiliki rumah yang nyaman, dan mendapatkan penghargaan dari orang lain.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalahnya bukan pada memiliki dunia, tetapi pada ketika dunia mulai menentukan arah hati.
Kita bisa bekerja keras tanpa menjadikan pekerjaan sebagai tujuan hidup. Kita bisa memiliki harta tanpa menjadikan harta sebagai ukuran nilai diri. Kita bisa memimpin organisasi, mengejar target, membangun usaha, bahkan memiliki ambisi besar, tetapi tetap menyadari bahwa semua itu hanyalah bagian dari perjalanan, bukan tempat terakhir untuk pulang.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. Dunia dan akhirat bukan sekadar dua pilihan aktivitas. Keduanya adalah dua orientasi hidup.
Seseorang bisa terlihat sangat sibuk dengan urusan akhirat, tetapi seluruh kegelisahannya sebenarnya berpusat pada dunia. Sebaliknya, seseorang bisa terlihat sangat aktif mengejar dunia, tetapi pekerjaannya justru menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah.
Karena itu, yang perlu diperiksa bukan hanya apa yang kita kerjakan, tetapi untuk apa kita mengerjakannya dan apa yang terjadi pada hati kita ketika mendapat atau kehilangan sesuatu.
Dunia Bukan Musuh, Tetapi Tidak Boleh Menjadi Tujuan

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa dunia harus ditinggalkan. Kita tetap diperintahkan untuk bekerja, mencari rezeki, mengurus keluarga, membangun kehidupan yang baik, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan kita agar tidak melupakan bagian kita di dunia:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menarik karena tidak menyuruh kita memilih dunia atau akhirat dengan cara meninggalkan salah satunya. Yang diubah adalah urutan prioritasnya.
Akhirat menjadi tujuan. Dunia menjadi sarana.
Perbedaan ini tampaknya kecil, tetapi akibatnya sangat besar. Jika dunia menjadi tujuan, maka kita akan terus membutuhkan dunia untuk merasa cukup. Jabatan harus semakin tinggi. Penghasilan harus semakin besar. Rumah harus semakin bagus. Pengakuan harus semakin banyak. Bahkan setelah mendapatkan sesuatu yang dahulu kita anggap sebagai impian, hati segera mencari sesuatu yang lain.
Tetapi jika akhirat menjadi tujuan, dunia tetap bisa kita nikmati tanpa harus diperbudak olehnya.
Kita bekerja karena bekerja adalah bagian dari tanggung jawab. Kita mencari uang karena keluarga membutuhkan nafkah. Kita membangun bisnis karena ada nilai yang ingin diciptakan. Kita memimpin karena ada amanah yang harus ditunaikan. Bahkan ambisi pun bisa memiliki tempat yang sehat ketika ia tidak lagi menjadi pusat dari segala-galanya.
Dengan kata lain, dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai mengambil tempat di hati.
Ketika Dunia Mulai Menguasai Hati
Barangkali salah satu cara paling sederhana untuk mengetahui posisi kita adalah dengan memperhatikan bagaimana kita bereaksi terhadap dunia.
Apa yang terjadi ketika seseorang mendapatkan promosi sementara kita tidak?
Apa yang terjadi ketika orang lain mendapatkan penghasilan lebih besar?
Apa yang terjadi ketika bisnis kita gagal, jabatan kita berakhir, rencana kita tidak berjalan, atau penghargaan yang kita harapkan justru diberikan kepada orang lain?
Kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi situasi-situasi seperti itu sering menjadi semacam tes untuk menunjukkan siapa sebenarnya yang sedang kita layani.
Jika kehilangan sesuatu dari dunia membuat kita kehilangan seluruh ketenangan, mungkin dunia sudah menempati tempat yang terlalu besar di dalam hati. Jika pujian membuat kita merasa sangat tinggi dan kritik membuat kita merasa hancur, mungkin nilai diri kita terlalu banyak dititipkan kepada penilaian manusia.
Sebaliknya, orientasi kepada akhirat bukan berarti seseorang tidak sedih ketika mengalami kegagalan. Ia tetap manusia. Ia bisa kecewa, marah, takut, bahkan menangis. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya tidak kehilangan arah: ia tahu bahwa nilai hidupnya tidak ditentukan oleh satu jabatan, satu angka di rekening, satu proyek, atau satu penilaian manusia.
Di situlah orientasi akhirat memberikan ketahanan yang berbeda.
Dunia Sering Menjadi Tujuan Tanpa Kita Sadari
Yang menarik, cinta kepada dunia jarang datang dalam bentuk yang terang-terangan. Tidak banyak orang yang berkata, “Saya ingin menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.”
Ia biasanya masuk secara perlahan.
Awalnya kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Kemudian kita ingin hidup sedikit lebih nyaman. Setelah itu kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Kita ingin rumah yang lebih baik, kendaraan yang lebih bagus, jabatan yang lebih tinggi, penghasilan yang lebih besar.
Semua tampak masuk akal.
Sampai suatu hari kita menyadari bahwa kita tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan. Kita sedang mengejar standar kehidupan yang terus bergerak menjauh. Begitu satu target tercapai, muncul target berikutnya. Begitu satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru.
Bukan karena manusia tidak boleh memiliki keinginan, tetapi karena keinginan yang tidak dikendalikan akan selalu menemukan alasan untuk meminta lebih banyak.
Di sinilah perkataan Ibn al-Qayyim tentang dunia menjadi relevan. Orang yang terlalu mencintai dunia pada akhirnya justru dapat menjadi pelayannya. Ia bekerja untuk dunia, cemas karena dunia, membandingkan dirinya dengan dunia, bahkan mengukur harga dirinya berdasarkan apa yang ia miliki di dunia.
Ironisnya, semakin banyak yang ia miliki, belum tentu semakin bebas dirinya.
Ketika Dunia Berada di Tangan, Bukan di Hati
Sebaliknya, orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi tidak harus hidup miskin, menjauhi kesuksesan, atau menolak ambisi.
Ia tetap bisa menjadi profesional yang baik. Ia tetap bisa membangun perusahaan. Ia tetap bisa memiliki kekayaan. Ia tetap bisa menjadi pemimpin dan mengejar pencapaian yang tinggi.
Yang berbeda adalah hubungan batinnya dengan semua itu.
Ketika mendapatkan sesuatu, ia bersyukur tanpa merasa bahwa itulah sumber kemuliaannya. Ketika kehilangan sesuatu, ia berusaha memperbaikinya tanpa merasa bahwa seluruh hidupnya telah berakhir. Ia menggunakan dunia, tetapi tidak menyerahkan kendali hidupnya kepada dunia.
Dalam bahasa yang sederhana: ia memiliki sesuatu tanpa membiarkan sesuatu itu memilikinya.
Ini juga menjelaskan mengapa orientasi akhirat sebenarnya tidak membuat seseorang menjadi pasif. Justru sebaliknya. Ketika seseorang melihat pekerjaannya sebagai amanah, ia memiliki alasan yang lebih kuat untuk bekerja dengan baik. Ketika ia melihat kepemimpinan sebagai tanggung jawab di hadapan Allah, ia tidak semestinya menggunakan jabatan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kesadaran tentang akhirat seharusnya membuat seseorang lebih serius terhadap dunia, bukan lebih malas menghadapinya.
Maka, Di Pihak Mana Kita Berdiri?
Pertanyaan Ibn al-Qayyim akhirnya kembali kepada kita.
Jika suatu hari kita ingin mengetahui di mana posisi hati kita, mungkin kita tidak perlu mencari jawaban yang terlalu rumit. Lihat saja apa yang paling sering memenuhi pikiran kita. Lihat apa yang paling kita khawatirkan. Lihat apa yang membuat kita merasa berharga. Lihat apa yang membuat kita rela mengorbankan prinsip.
Dari sana, kita mungkin mulai melihat jawabannya.
Sebab manusia bisa mengatakan bahwa akhirat adalah tujuan, tetapi kehidupannya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kita bisa berbicara tentang tawakal, tetapi seluruh ketenangan kita bergantung pada angka. Kita bisa mengatakan bahwa rezeki berasal dari Allah, tetapi setiap keputusan kita sepenuhnya didikte oleh ketakutan kehilangan dunia.
Karena itu, persoalannya bukan apakah kita masih mencintai dunia. Tentu saja kita masih akan mencintainya. Kita hidup di dalamnya. Kita memiliki keluarga, pekerjaan, cita-cita, kebutuhan, dan tanggung jawab.
Persoalannya adalah siapa yang menjadi tuan dan siapa yang menjadi alat.
Jika dunia menjadi tuan, kita akan menjadi pelayannya.
Jika akhirat menjadi tujuan, dunia dapat menjadi alat untuk menempuh perjalanan menuju ke sana.
Mungkin inilah pemeriksaan hati yang perlu kita lakukan dari waktu ke waktu. Bukan untuk menghakimi diri sendiri, tetapi untuk memastikan bahwa kita belum salah arah.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan apa yang sedang kita kejar hari ini. Jabatan akan berakhir. Harta akan berpindah tangan. Rumah akan ditinggalkan. Nama kita perlahan akan dilupakan. Yang tersisa bukanlah seberapa banyak dunia yang berhasil kita kumpulkan, tetapi apa yang kita bawa ketika dunia tidak lagi bisa kita bawa.
Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi, “Seberapa banyak yang sudah saya dapatkan?”
Melainkan:
“Untuk apa semua yang saya dapatkan ini saya gunakan, dan ke mana sebenarnya semua ini sedang membawa hati saya?”
Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak diperbudak oleh apa yang seharusnya hanya menjadi alat. Semoga dunia cukup berada di tangan kita, sementara akhirat tetap menjadi arah perjalanan kita.
Karena hidup ini pada akhirnya bukan tentang memilih antara dunia dan akhirat dengan meninggalkan salah satunya. Kita tetap hidup di dunia, tetapi kita harus tahu untuk siapa dan menuju ke mana kita hidup. [af]







Tinggalkan Balasan