Masih Belajar Mencintai: Catatan 17 Tahun Pernikahan

“Yang sering hilang dari pernikahan bukan cinta, tetapi kesediaan untuk terus belajar.”

Bagikan:

belajar mencintai pasangan
Daftar Isi

Hari ini, 18 Oktober 2026, tepat tujuh belas tahun saya menikah dengan istri saya. Kami memulainya dari nol, tanpa banyak bekal selain niat dan keyakinan bahwa ini adalah jalan yang benar. Hari ini kami dikaruniai empat orang anak, dan alhamdulillah masih berjalan bersama, setelah melewati banyak hal: yang ringan, yang melelahkan, sampai yang bagi kami terasa berat sekali. Kalau ada yang bertanya apa rahasianya, jawaban paling jujur yang bisa saya berikan justru terdengar sederhana: kami masih belajar mencintai.

Tujuh Belas Tahun Bukan Berarti Sudah Tahu Semuanya

Ada anggapan bahwa semakin lama sebuah pernikahan, semakin pasangan itu “sudah paham” satu sama lain. Sebagian benar. Setelah belasan tahun, kita hafal kebiasaan kecil pasangan, tahu apa yang membuatnya tersinggung, dan bisa menebak reaksinya sebelum ia bicara. Tetapi saya belajar bahwa rasa “sudah tahu” ini justru bisa menjadi jebakan.

Selama tujuh belas tahun, kami tidak selalu tahu cara membahagiakan satu sama lain. Ada masa ketika kami saling memahami dengan mudah, dan ada masa ketika kami harus belajar memahami kembali, seolah-olah sedang berkenalan ulang. Masa yang kedua itu awalnya terasa seperti kemunduran. Belakangan saya melihatnya berbeda: itu bukan tanda pernikahan sedang gagal, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang berubah dan perlu dipelajari lagi.

Kita Menikahi Orang yang Terus Berubah

Di sinilah saya mulai melihat pernikahan dari sudut yang lain. Orang yang kita nikahi tidak berhenti tumbuh setelah akad. Ia berubah ketika menjadi orang tua untuk pertama kali, berubah lagi ketika anak bertambah, ketika beban hidup naik turun, ketika tubuh mulai lelah, ketika cita-citanya bergeser. Kita pun begitu.

Artinya, dalam satu pernikahan yang panjang, kita sebenarnya hidup bersama beberapa “versi” dari orang yang sama. Cara mencintai yang tepat untuk versi pertama belum tentu cocok untuk versi berikutnya. Sebagai ilustrasi: perhatian yang dulu terasa manis di awal pernikahan bisa terasa biasa saja ketika pasangan sedang kewalahan mengurus anak kecil, karena yang ia butuhkan saat itu bukan kata-kata, melainkan tangan yang ikut mengangkat beban. Kalau kita terus mencintai dengan cara lama, kita bisa merasa sudah berusaha keras, sementara pasangan merasa tidak diperhatikan.

Pola ini sebenarnya juga terlihat di luar rumah. Dalam organisasi, pemimpin yang berhenti mengenal timnya karena merasa sudah lama bersama biasanya mulai salah membaca keadaan. Hubungan yang panjang tidak otomatis membuat kita paham. Yang membuat kita paham adalah kesediaan untuk terus memperhatikan.

Yang Sering Hilang Bukan Cinta, tetapi Kesediaan Belajar

Banyak pernikahan yang retak bukan karena cintanya habis sama sekali. Lebih sering, kedua orang di dalamnya berhenti belajar tentang satu sama lain. Masing-masing merasa sudah tahu, lalu berhenti bertanya. Masing-masing merasa sudah memberi cukup, lalu berhenti memperhatikan apakah yang diberikan itu yang sebenarnya dibutuhkan.

Al-Qur’an menggambarkan hubungan suami istri dengan bahasa yang menarik. Allah menjadikan di antara keduanya mawaddah dan rahmah, rasa cinta dan kasih sayang (QS. Ar-Rum: 21). Saya suka memperhatikan bahwa keduanya disebut bersama. Cinta bisa naik turun mengikuti suasana hati dan keadaan. Kasih sayang lebih tenang: ia hadir dalam bentuk kesabaran, pengertian, dan kemauan untuk tetap peduli ketika perasaan sedang tidak menggebu. Pernikahan yang panjang membutuhkan keduanya, dan rahmah sering kali menjadi penopang ketika mawaddah sedang diuji.

Dari situ saya memahami bahwa “masih belajar mencintai” bukan pengakuan kelemahan. Itu justru sikap yang menjaga sebuah hubungan tetap hidup.

Memulai dari Nol dan Belajar Saling Bersandar

Memulai rumah tangga dari nol punya pelajaran tersendiri. Ketika belum banyak yang dimiliki, tidak ada bantalan yang bisa menutupi masalah. Kekurangan terasa langsung, keputusan harus diambil bersama, dan setiap kesulitan memaksa dua orang untuk benar-benar bersandar satu sama lain.

Dalam perjalanan seperti itu, saya belajar bahwa ujian dalam pernikahan tidak selalu datang dari luar. Kadang ujian terberat adalah melihat sisi pasangan yang tidak kita sukai, atau melihat sisi diri sendiri yang ternyata tidak sebaik yang kita kira. Masalah yang berat sekali sering menyingkap hal-hal yang selama ini tersembunyi. Di titik itu, ada dua pilihan: saling menjauh, atau saling menutupi.

Al-Qur’an menyebut pasangan sebagai pakaian satu sama lain: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka” (QS. Al-Baqarah: 187). Pakaian itu menutupi, melindungi, menghangatkan, dan berada paling dekat dengan tubuh. Bagi saya, gambaran ini terasa sangat praktis. Menjadi pakaian bagi pasangan berarti menjaga kekurangannya dari pandangan orang lain, melindunginya saat ia rapuh, dan tetap dekat justru ketika keadaan sedang tidak nyaman.

Menerima Tanpa Berhenti Memperbaiki

Pernikahan ternyata bukan tentang menemukan orang yang sempurna. Ia tentang dua orang yang terus belajar menerima, memperbaiki diri, dan memilih untuk tetap berjalan bersama. Dua hal pertama, menerima dan memperbaiki, sering dianggap bertentangan, padahal keduanya harus berjalan beriringan.

Rasulullah ﷺ memberi pegangan yang sangat membumi: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlaknya, ia akan ridha dengan akhlak lainnya” (HR. Muslim, no. 1469). Hadits ini tidak meminta kita berpura-pura pasangan tidak punya kekurangan. Ia mengakui ada hal yang tidak kita sukai, lalu mengajak kita melihat gambaran yang lebih utuh. Menerima berarti berhenti menuntut pasangan menjadi orang lain.

Namun menerima pasangan tidak sama dengan berhenti memperbaiki diri sendiri. Di sinilah keseimbangannya. Kita belajar lapang terhadap kekurangan pasangan, sambil tetap keras terhadap kekurangan kita sendiri. Kalau dibalik, keras pada pasangan dan lunak pada diri sendiri, rumah tangga pelan-pelan berubah menjadi ruang saling menghakimi.

Cinta sebagai Pilihan yang Diperbarui

Bagian terakhir dari kalimat tadi mungkin yang paling penting: memilih untuk tetap berjalan bersama. Setelah tujuh belas tahun, saya semakin yakin bahwa bertahan dalam pernikahan bukan hasil satu keputusan besar di hari akad. Ia adalah kumpulan keputusan kecil yang diulang setiap hari: memilih mendengar daripada membalas, memilih meminta maaf lebih dulu, memilih pulang dengan tenang meskipun hari sedang berat.

Pilihan-pilihan kecil itu jarang terlihat oleh orang lain, dan karena itu sering diremehkan. Padahal di sanalah sebuah pernikahan sebenarnya dibangun. Sama seperti kepercayaan dalam tim tidak lahir dari satu rapat penting, melainkan dari konsistensi kecil yang terus dijaga, keutuhan rumah tangga juga lahir dari hal-hal yang terlihat sepele.

Tujuh Belas Tahun, dan Masih Murid

Hari ini saya tidak merasa sebagai orang yang sudah lulus dari pernikahan. Saya lebih merasa sebagai murid yang sudah cukup lama di kelas, cukup lama untuk tahu bahwa pelajarannya tidak pernah benar-benar selesai. Setiap tahap hidup membawa materi baru, dan setiap versi baru dari diri kami berdua menuntut cara mencintai yang baru pula.

Mungkin itu sebabnya judul tulisan ini bukan “Sudah Pandai Mencintai”, melainkan “Masih Belajar Mencintai”. Kepada istri saya: terima kasih telah bersedia belajar bersama selama tujuh belas tahun ini, termasuk pada hari-hari ketika saya menjadi murid yang lambat. Dan untuk siapa pun yang membaca ini, mungkin ada satu pertanyaan yang layak direnungkan: kapan terakhir kali kita benar-benar berusaha mengenal kembali orang yang setiap hari kita anggap sudah kita kenal? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *