Masih tentang perjalanan kami mengantar Kakak Fauzan ke Bogor dalam rangka mengikuti tes seleksi masuk pesantren Ma’had Syaraful Haramain. Setelah menyelesaikan agenda utama di Bogor, perjalanan kami belum selesai. Kali ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Jakarta untuk menghabiskan sisa waktu sebelum kembali ke Makassar.
Sebelum melanjutkan cerita, saya ingin sedikit menjelaskan alasan saya memilih judul “Napak Tilas ‘Keliling’ Jakarta Bareng Keluarga”.
Pada tulisan sebelumnya tentang Family Trip ke Jakarta via Jalur Laut, saya pernah bercerita bahwa pada tahun 2013 kami juga pernah berkunjung ke Jakarta bersama keluarga. Waktu itu agenda utama kami adalah menghadiri Muktamar Khilafah 2013. Perjalanan tersebut tentu meninggalkan beberapa kenangan, termasuk tempat-tempat yang pernah kami datangi bersama.
Sembilan tahun kemudian, ketika kembali ke Jakarta, saya melihat perjalanan ini seperti sebuah kesempatan untuk melakukan napak tilas. Kami mencoba mendatangi kembali beberapa tempat yang pernah kami kunjungi pada perjalanan tahun 2013, meskipun tentu tidak semuanya. Ada tempat yang masih kami ingat, ada pula yang ternyata sudah banyak berubah.
Karena itu, istilah “napak tilas” terasa cukup pas untuk menggambarkan perjalanan kami kali ini.
Dari Bogor Menuju Jakarta
Setelah menyelesaikan agenda Kakak Fauzan di Bogor, kami segera bergegas menuju Jakarta. Dari tempat kami berada, kami menuju Stasiun Bogor Kota dengan menggunakan taksi online, sebagaimana ketika pertama kali tiba di Bogor.
Dari Stasiun Bogor Kota kami kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan KRL menuju Jakarta. Tujuan kami adalah kawasan Ancol karena kami sudah melakukan reservasi penginapan sampai tanggal 13 Desember 2022, bertepatan dengan jadwal kepulangan kami ke Makassar.

Sengaja kami memilih penginapan di sekitar Ancol karena lokasinya cukup strategis untuk agenda kami. Dari sana kami relatif dekat dengan Pelabuhan Tanjung Priok, dekat dengan Stasiun Jakarta Kota yang nantinya akan banyak membantu kami berkeliling Jakarta, dan tentu saja dekat dengan destinasi terakhir yang sudah masuk dalam rencana perjalanan, yaitu Sea World Ancol.

Ketika tiba di Jakarta, hari sudah malam. Kami berangkat dari Bogor menjelang sore dan perjalanan menggunakan KRL cukup menguras tenaga, apalagi setelah seharian beraktivitas. Anak-anak pun terlihat sudah lelah. Jadi, setibanya di penginapan, tidak banyak agenda yang kami pikirkan selain beristirahat dan mempersiapkan diri untuk perjalanan esok hari.
Menyusuri Kembali Kota Tua Jakarta
Esoknya, Ahad, 11 Desember 2022, kami mulai menjalankan agenda “napak tilas”. Setelah sarapan pagi, kami bergegas menuju Kota Tua dengan menggunakan taksi online. Jaraknya dari penginapan tidak terlalu jauh sehingga perjalanan pagi itu cukup santai.
Kota Tua yang kami lihat kali ini terasa berbeda dibandingkan kunjungan kami pada tahun-tahun sebelumnya. Kawasan ini sudah banyak berbenah dan terlihat lebih tertata. Ruang publiknya terasa lebih nyaman untuk dikunjungi, sehingga kami bisa menikmati suasana sambil berjalan-jalan dan mengambil beberapa foto bersama.

Bagi saya, ada hal menarik ketika kembali ke sebuah tempat setelah bertahun-tahun. Tempatnya mungkin masih sama, tetapi kita sendiri sudah berubah. Anak-anak yang dulu masih kecil kini sudah semakin besar. Cara mereka melihat sebuah tempat juga berbeda. Sebuah perjalanan yang dulu mungkin hanya menjadi kenangan, sekarang berubah menjadi cerita baru yang kami jalani bersama.

Kami pun menyempatkan diri berfoto di beberapa lokasi, mulai dari kawasan Stasiun Jakarta Kota, area Kota Tua, Museum Fatahillah, hingga di sekitar Cafe Batavia. Tidak semua tempat yang kami kunjungi harus memiliki agenda khusus. Kadang-kadang, sekadar berjalan bersama keluarga dan melihat kembali tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup sudah cukup menyenangkan.
Melanjutkan Napak Tilas ke MONAS
Setelah cukup mengeksplorasi Kota Tua, perjalanan kami lanjutkan menuju Monumen Nasional atau MONAS. Kami kembali menuju Stasiun Jakarta Kota, kemudian mengambil perjalanan menuju Stasiun Juanda.
Dari Stasiun Juanda, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan BeMor menuju kawasan MONAS. Bagi anak-anak, naik kendaraan seperti ini juga menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Perjalanan tidak selalu harus diukur dari destinasi akhirnya. Kadang-kadang, cara kita menuju sebuah tempat justru menjadi cerita tersendiri.

Sesampainya di MONAS, suasananya cukup ramai. Kebetulan hari itu adalah akhir pekan sehingga banyak keluarga dan pengunjung lainnya yang datang. Sebelum masuk, tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama dengan latar belakang MONAS.

Setelah itu kami menuju loket pembelian tiket. Saat itu ada pilihan untuk sekadar mengunjungi area bawah, termasuk Museum Sejarah Nasional, atau mengambil tiket yang sekaligus memberikan kesempatan untuk naik ke bagian atas MONAS.

Kami akhirnya memilih untuk mengunjungi area bawah saja.
Pertimbangannya sederhana. Untuk naik ke puncak MONAS, pengunjung harus menunggu giliran sesuai jadwal yang ditentukan petugas. Sementara waktu kami cukup terbatas dan masih ada agenda lain setelahnya. Kami juga harus mempertimbangkan kondisi anak-anak, terutama si kecil Fahimah yang tentu punya batas energi dan mood yang berbeda dibandingkan kakak-kakaknya.
Menurut saya, dalam perjalanan bersama keluarga, hal-hal seperti ini memang perlu diperhatikan. Tidak semua tempat harus dituntaskan seluruhnya. Kadang kita perlu memilih mana yang paling realistis dinikmati bersama, daripada memaksakan semua agenda tetapi akhirnya anak-anak kelelahan dan perjalanan kehilangan kesenangannya.
Belajar Sejarah dari Diorama
Setelah selesai membeli tiket, kami masuk ke area MONAS melalui terowongan bawah. Anak-anak terlihat cukup antusias ketika memasuki Museum Sejarah Nasional yang berada di bagian bawah.

Di dalam museum terdapat berbagai diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia. Bagi anak-anak, melihat sejarah dalam bentuk visual seperti ini tentu berbeda dengan sekadar membaca buku pelajaran. Mereka bisa melihat gambaran peristiwa dan tokoh sejarah dalam bentuk yang lebih konkret.

Kami pun berkeliling melihat berbagai diorama yang ada. Kakak-kakaknya terlihat menikmati kunjungan tersebut, termasuk Mr. Fedhil dan Mr. Fauzan yang sempat berfoto di antara diorama-diorama sejarah.
Setelah cukup berkeliling, kami keluar kembali melalui terowongan bawah. Walaupun tidak sampai naik ke puncak MONAS, kunjungan singkat ini tetap memberikan pengalaman yang cukup bagi kami sekeluarga.

Istirahat Sebentar, Lalu Menjenguk Keluarga
Hari sudah mulai mendekati waktu Dzuhur. Setelah keluar dari MONAS, kami segera mencari tempat untuk makan siang. Kami kemudian melipir ke area food court di sekitar parkiran pintu masuk utama MONAS.
Setelah makan, kami menunaikan shalat dan beristirahat sejenak. Perjalanan bersama anak-anak memang membutuhkan ritme yang sedikit berbeda. Tidak bisa terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa memberikan kesempatan untuk makan, shalat, duduk, dan sekadar mengembalikan tenaga.
Setelah semuanya cukup terkondisikan, kami tidak langsung kembali ke penginapan. Ada satu agenda lain yang ingin kami lakukan. Kami menyempatkan diri menjenguk keluarga yang sedang menjalani perawatan di Jakarta dan saat itu menginap di daerah Fatmawati.
Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju Fatmawati. Bagi saya, bagian seperti ini juga menjadi salah satu makna penting dari sebuah perjalanan keluarga. Berkunjung ke sebuah kota bukan hanya soal mendatangi tempat wisata atau mencatat berapa banyak destinasi yang berhasil dikunjungi. Ada kesempatan untuk bertemu keluarga, menyempatkan waktu untuk menjenguk, dan menunjukkan perhatian kepada orang-orang yang sedang membutuhkan dukungan.
Kami pun bertemu dengan keluarga dan mendoakan agar Om Kakek Bani segera diberikan kesehatan dan kesembuhan.

Jakarta, Kenangan Lama dan Cerita Baru
Setelah dari Fatmawati, kami segera beranjak kembali menuju penginapan. Hari sudah menjelang malam dan tubuh mulai terasa lelah. Kami masih memiliki satu agenda terakhir yang sudah lama ditunggu anak-anak, yaitu mengunjungi Sea World Ancol.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan kali ini sebenarnya bukan perjalanan yang terlalu panjang. Kami hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta dalam waktu yang relatif singkat. Tetapi justru dari perjalanan sederhana seperti inilah banyak cerita keluarga yang tersimpan.
Ada tempat yang kami datangi kembali setelah bertahun-tahun. Ada tempat yang sudah berubah. Ada anak-anak yang kini tidak lagi sama seperti ketika perjalanan kami sebelumnya. Dan ada pula kenangan lama yang kembali muncul ketika kami melewati tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan keluarga.
Mungkin inilah yang membuat sebuah perjalanan terasa lebih dari sekadar wisata. Kita bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga sedang mempertemukan masa lalu dengan kehidupan kita hari ini.
Sembilan tahun sebelumnya kami pernah berada di Jakarta dengan cerita yang berbeda. Tahun 2022 kami kembali lagi bersama keluarga, membawa cerita dan tujuan yang berbeda pula. Tempatnya mungkin sama, tetapi orang-orangnya sudah tumbuh dan perjalanan hidupnya sudah berubah.
Dan mungkin, beberapa tahun lagi ketika kami kembali membuka foto-foto perjalanan ini, anak-anak akan melihatnya dengan cara yang berbeda lagi. Mereka mungkin tidak terlalu mengingat detail perjalanan hari itu, tetapi foto-foto tersebut akan menjadi pengingat bahwa pernah ada satu masa ketika kami berjalan bersama, naik kereta, menyusuri Kota Tua, mengunjungi MONAS, menjenguk keluarga, lalu pulang dalam keadaan lelah tetapi membawa cerita.
Perjalanan berikutnya adalah destinasi terakhir kami di Jakarta: Sea World Ancol. Ceritanya saya lanjutkan pada tulisan berikutnya. [af]







Tinggalkan Balasan