Setelah pengalaman perdana camping bersama TRIOF, akhirnya kami kembali menggelar tenda. Kalau pada camping pertama semuanya masih terasa seperti percobaan, kali ini rasanya sudah sedikit lebih siap. Kami tahu apa yang harus dibawa, apa yang mungkin merepotkan, dan tentu saja sudah punya gambaran bahwa camping bersama anak-anak hampir selalu berarti: lebih banyak cerita, lebih banyak tawa, dan lebih banyak kejadian tak terduga.
Kali ini tujuan kami adalah Tappawita Arra High Land, sebuah kawasan wisata dan edukasi yang menawarkan perpaduan antara suasana alam dan fasilitas yang cukup nyaman. Camping kedua ini terasa sedikit berbeda karena kakak Fauzan tidak ikut bersama kami. Meski begitu, TRIOF tetap antusias. Begitu sampai di lokasi, suasana langsung berubah menjadi suasana liburan yang sebenarnya.
Tappawita Arra High Land: Alam yang Nyaman untuk Camping Keluarga

Kami tiba di Tappawita menjelang siang. Begitu masuk ke kawasan wisata, pemandangan hijau yang cukup luas langsung menyambut. Udara terasa sejuk dan suasananya jauh dari hiruk-pikuk kota. Di kejauhan terlihat aliran sungai dengan batu-batu besar, sementara di sekitar kawasan tersedia area camping, arena outbound, dan track ATV.
Ada pula sebuah aula yang cukup besar serta beberapa bangunan lain, termasuk masjid yang saat itu masih dalam proses pembangunan. Bagi kami, keberadaan fasilitas seperti ini membuat camping terasa lebih nyaman, terutama ketika membawa anak-anak.
Setelah makan siang, anak-anak rupanya sudah tidak sabar melihat sungai. Airnya cukup jernih dan dangkal sehingga relatif aman untuk bermain, meskipun tentu saja tetap harus diawasi. Ada beberapa bagian yang lebih dalam dan cukup untuk sekadar berendam atau berenang.

Akhirnya kami pun turun ke sungai. Rencana awalnya hanya bermain sebentar, tetapi seperti yang sering terjadi ketika anak-anak sudah menemukan sesuatu yang menyenangkan, konsep “sebentar” menjadi sangat relatif. Mereka terus bermain, berpindah dari satu batu ke batu lainnya, berendam, dan menikmati air sungai.
Tanpa terasa, matahari mulai condong ke barat. Waktu ternyata berjalan jauh lebih cepat ketika kita sedang bersenang-senang. Ketika sadar hari sudah mendekati maghrib, kami segera bersiap kembali ke area camping.
Makanan Sederhana, Tapi Rasanya Berbeda
Setelah tenda berdiri dan langit mulai gelap, kami bergegas menunaikan shalat Maghrib. Setelah itu, suasana camping perlahan berubah menjadi lebih tenang. Udara semakin dingin, cahaya di sekitar mulai berkurang, dan suara alam terdengar semakin jelas.
Tetapi sebelum benar-benar masuk ke dalam tenda dan beristirahat, ada satu ritual yang rasanya hampir tidak boleh dilewatkan: memasak.

Tidak ada menu istimewa. Hanya mi instan dan kopi panas. Namun anehnya, makanan sederhana seperti itu selalu terasa lebih nikmat ketika disantap di alam terbuka. Mungkin memang bukan soal makanannya. Ada suasana yang ikut menjadi bagian dari rasanya.
Mi instan yang biasa kita makan di rumah tiba-tiba terasa berbeda ketika dimasak di depan tenda, ditemani udara malam dan suara anak-anak yang masih ramai. Kopi panas pun terasa lebih nikmat ketika diminum perlahan sambil menikmati suasana. Barangkali bumbu tambahannya memang bukan sesuatu yang bisa dibeli di toko: tawa, cerita, dan kebersamaan.
Ketika Camping Menjadi Ruang untuk Bercerita


Malam semakin larut, tetapi obrolan justru semakin panjang. Dari cerita yang tidak jelas awal dan akhirnya, pengalaman sehari-hari, hal-hal lucu, sampai cerita tentang apa yang mereka inginkan dan impikan.
Ada sesuatu yang menarik dari berbicara dengan anak-anak ketika kita tidak sedang berada di rumah.
Di rumah, percakapan sering kali terpotong oleh banyak hal. Ada pekerjaan, ada gawai, ada televisi, ada kegiatan masing-masing, dan ada rutinitas yang membuat setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri. Di dalam tenda, semua gangguan itu terasa jauh lebih sedikit.
Kami hanya duduk bersama. Mendengarkan. Bercerita. Sesekali tertawa. Sesekali membahas hal yang sebenarnya sederhana, tetapi menjadi menarik karena dibicarakan dalam suasana yang berbeda.

Di tengah udara malam yang dingin, suara jangkrik yang terdengar dari luar tenda, dan cahaya lampu yang remang-remang, percakapan seperti itu terasa sangat berharga.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa saya menikmati camping bersama anak-anak. Tujuan akhirnya bukan hanya membawa mereka melihat tempat baru atau mencoba aktivitas yang berbeda. Ada kesempatan untuk menciptakan ruang yang memungkinkan kami saling mengenal sedikit lebih jauh.
Anak-anak tumbuh begitu cepat. Hal-hal yang hari ini mereka ceritakan dengan antusias, beberapa tahun lagi mungkin sudah tidak lagi menjadi topik pembicaraan. Karena itu, saya mulai menyadari bahwa yang paling berharga dari perjalanan seperti ini bukanlah tempat yang kami datangi, melainkan percakapan dan kenangan yang terbentuk di sepanjang perjalanan.
Tappawita dan Kenyamanan yang Membuat Camping Lebih Santai

Dibandingkan pengalaman camping sebelumnya, Tappawita Arra High Land menawarkan fasilitas yang cukup membuat kami nyaman. Salah satu yang paling terasa tentu saja kamar mandi dan toilet yang bersih. Hal sederhana seperti ini ternyata sangat berarti ketika camping bersama anak-anak.
Kami tidak perlu mengalami drama seperti pada pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Selain itu, tersedia pula hall yang cukup luas untuk berbagai kegiatan bersama. Tempat seperti ini tentu menarik jika suatu saat ingin membuat gathering, family camp, atau kegiatan bersama dalam kelompok yang lebih besar.
Bagi yang menyukai aktivitas yang lebih menantang, tersedia pula ATV dan arena outbound. Sayangnya, karena waktu kami terbatas, kali ini kami belum sempat mencoba keduanya.

Dan justru di situlah menariknya.
Tidak semua tempat harus dituntaskan dalam satu kunjungan.
Ada kalanya sebuah perjalanan terasa lebih menyenangkan ketika masih menyisakan sesuatu yang belum dilakukan. Ada aktivitas yang belum dicoba, tempat yang belum dijelajahi, atau sekadar alasan untuk mengatakan, “Nanti kita ke sini lagi.”
Tidak Semua Perjalanan Harus Jauh untuk Menjadi Berarti
Camping kedua bersama TRIOF mengingatkan saya pada sesuatu yang sebenarnya sederhana: kedekatan tidak selalu membutuhkan perjalanan yang jauh atau kegiatan yang mahal.
Kadang-kadang kita hanya perlu keluar dari rutinitas.
Pergi ke tempat yang berbeda, mendirikan tenda, bermain di sungai, memasak mi instan, lalu duduk bersama sambil mendengarkan cerita anak-anak. Dari luar mungkin semua itu terlihat biasa saja. Tetapi bagi kami, justru hal-hal sederhana seperti itulah yang perlahan menjadi kenangan.

Saya juga mulai melihat bahwa kegiatan seperti camping memberi kesempatan kepada anak-anak untuk belajar sesuatu yang tidak selalu bisa mereka dapatkan di dalam rumah. Mereka belajar beradaptasi dengan lingkungan, menikmati alam, bekerja sama, mengurus barang-barangnya, dan merasakan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang serba nyaman.
Tetapi yang paling penting bagi saya adalah kesempatan untuk hadir.
Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi benar-benar hadir dalam percakapan, permainan, tawa, dan cerita mereka.
Camping kedua ini akhirnya selesai dengan lebih banyak cerita dibandingkan ketika kami berangkat. Kami memang belum sempat mencoba ATV dan outbound. Masih ada banyak hal yang belum kami lakukan.
Tapi mungkin justru itu yang membuat kami ingin kembali.
Karena sebuah perjalanan yang baik tidak selalu harus memberikan semuanya. Kadang ia cukup meninggalkan satu alasan sederhana untuk berkata: “Suatu hari nanti, kita kembali lagi ke sini.”
Dan untuk TRIOF, sepertinya cerita camping kami masih akan berlanjut. [af]







Tinggalkan Balasan