Pada hari Jumat, 4 Februari 2022, sekitar pukul 15.00 WITA, putri pertama kami lahir dengan sehat dan selamat. Alhamdulillah. Setelah tiga anak laki-laki, Allah menitipkan seorang anak perempuan kepada keluarga kecil kami. Bagi kami ini bukan hanya kabar bahagia. Kelahirannya juga menjadi jawaban atas penantian dan doa yang sudah lama kami panjatkan.
Kebahagiaan seperti ini mudah dirayakan. Yang lebih sulit adalah memahaminya dengan benar. Karena itu saya ingin menuliskan beberapa hal yang saya pelajari selama menunggu kelahirannya, sebelum perasaan hari itu memudar oleh rutinitas.
Sebuah Keinginan yang Lama Disimpan
Kami sudah menikah kurang lebih dua belas tahun. Selama itu, saya pribadi sangat ingin memiliki anak perempuan. Mungkin keinginan ini muncul karena dalam keluarga saya tidak ada saudara perempuan. Saya tumbuh tanpa mengenal dari dekat bagaimana rasanya memiliki saudara perempuan di rumah. Saya juga belum pernah menjadi ayah dari seorang anak perempuan.
Namun keinginan yang lama disimpan punya risikonya sendiri. Tanpa disadari, keinginan bisa berubah menjadi tuntutan. Kita lalu merasa berhak atas sesuatu hanya karena kita sudah lama menginginkannya. Di titik itu doa bisa bergeser maknanya, dari permohonan seorang hamba menjadi daftar pesanan.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa urusan ini sepenuhnya berada di tangan Allah. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia juga bisa memberikan keduanya, atau menjadikan seseorang tidak memiliki keturunan. Semua itu karena Dia Maha Mengetahui dan Mahakuasa (QS. Asy-Syura: 49–50). Ayat ini tidak meminta kita berhenti berharap. Ayat ini menunjukkan di mana harapan itu sebaiknya diletakkan.
“Apa Amalannya?”
Setelah kabar kelahiran Fahimah tersebar, beberapa kawan dekat yang memiliki harapan yang sama bertanya kepada saya: apa amalannya? Pertanyaan ini wajar. Ketika melihat seseorang mendapatkan apa yang kita inginkan, kita ingin tahu caranya. Kita mencari resep, urutan langkah, atau rahasia tertentu yang bisa kita tiru.
Jawaban saya mungkin mengecewakan, karena memang tidak ada amalan khusus. Kali ini kami benar-benar memasrahkan semuanya kepada Allah. Kami tidak membuat strategi, tidak mencoba metode tertentu, dan tidak memperlakukan doa seperti tombol yang menjamin hasil.
Meski begitu, saya kira jawaban “tidak ada amalan” juga belum sepenuhnya tepat. Ada satu hal yang kami jaga dengan sungguh-sungguh, yaitu berprasangka baik kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku” (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675). Kami meyakini bahwa apa pun yang Allah berikan adalah yang terbaik, baik laki-laki maupun perempuan, sesuai harapan kami atau tidak. Sambil memegang keyakinan itu, kami tetap berdoa dan berharap hanya kepada-Nya.
Pasrah Bukan Berarti Berhenti Berharap
Kata “pasrah” sering dipahami sebagai sikap menyerah, seolah-olah kita tidak lagi peduli pada hasil. Pengalaman ini membuat saya melihatnya secara berbeda. Pasrah yang sehat justru membutuhkan dua hal sekaligus, yaitu harapan yang kuat dan kesiapan menerima jawaban yang berbeda dari harapan itu.
Pola ini sebenarnya sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam urusan anak. Orang yang terlalu terikat pada satu hasil biasanya cemas selama menunggu dan kecewa ketika hasilnya berbeda. Sebaliknya, orang yang tidak berharap apa-apa kehilangan semangat sejak awal. Prasangka baik kepada Allah menempatkan kita di antara keduanya. Kita tetap bersungguh-sungguh dalam doa, tetapi hati tidak dipertaruhkan pada satu jawaban saja.
Kalau ada yang ingin disebut sebagai “amalan”, mungkin inilah amalan kami. Bentuknya bukan bacaan atau ritual tertentu, melainkan cara menempatkan hati ketika berdoa.
Kebahagiaan yang Sekaligus Amanah
Setiap anak adalah amanah. Saya merasakannya pada anak pertama, kedua, dan ketiga, lalu merasakannya lagi dengan cara yang berbeda pada anak keempat ini. Kebahagiaan menyambut kelahiran hanya berlangsung beberapa hari, sedangkan tanggung jawabnya berlangsung seumur hidup. Karena itu doa terbesar kami saat ini bukan lagi soal jenis kelamin. Kami berdoa agar Allah menguatkan kami dan memberi kami kesabaran untuk memikul tanggung jawab atas amanah-amanah yang sangat berharga ini.
Ada satu hadits yang membuat saya memandang kehadiran anak perempuan dengan lebih serius. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang diuji dengan anak-anak perempuan lalu berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka (HR. Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629). Dalam hadits itu, anak perempuan disebut sebagai ujian. Kemuliaannya tidak datang dari kehadirannya semata, tetapi dari cara orang tua memperlakukan, mendidik, dan menjaganya. Doa yang terkabul ternyata baru awal dari sebuah kerja panjang.
Sebuah Nama, Sebuah Doa
Untuk menyambut kebahagiaan ini, kami sepakat memberi putri kami nama Fahimah Inayatullah Rabbani.

Fahimah berarti perempuan yang diberi pemahaman dan kecerdasan. Kecerdasan yang kami harapkan bukan sekadar pandai, tetapi mampu memahami hal-hal yang penting. Inayatullah berarti pertolongan, perlindungan, dan pemeliharaan dari Allah. Sebagai orang tua, kami sadar bahwa penjagaan kami terbatas, sedangkan penjagaan-Nya tidak. Rabbani adalah harapan terbesar kami, yaitu agar kelak ia tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Rabb-nya, belajar, mengajarkan, dan hidup dengan ilmu itu. Kata ini mengingatkan kami pada QS. Ali ‘Imran: 79, yang menyeru manusia untuk menjadi rabbaniyyin melalui pengajaran Kitab dan kesungguhan dalam mempelajarinya.
Sebuah nama memang tidak otomatis membentuk seorang anak. Nama adalah doa yang diucapkan setiap kali kami memanggilnya. Nama juga menjadi pengingat bagi kami sebagai orang tua tentang arah pendidikan yang harus kami tempuh.
Yang Diminta dan yang Dititipkan
Saat menimang Fahimah untuk pertama kali, saya menyadari sesuatu yang sederhana. Selama bertahun-tahun saya berdoa meminta anak perempuan. Ketika Allah mengabulkannya, yang saya terima ternyata bukan sesuatu untuk dimiliki, melainkan seseorang yang dititipkan untuk dijaga.
Mungkin begitu pula dengan banyak hal lain yang kita minta dalam hidup, entah pekerjaan, jabatan, maupun kepercayaan orang lain. Kita sering sibuk menantikan doa itu terkabul, padahal pertanyaan yang lebih penting baru muncul setelahnya: apakah kita siap menjaga apa yang telah diberikan?
Selamat datang, Fahimah. Semoga Allah memudahkan kami menjaga amanah ini. Aamiin ya Mujibas-sailin. [af]







Tinggalkan Balasan