Libur akhir pekan kali ini dimulai dengan permintaan yang tidak saya duga. Anak-anak, TrioF, tiba-tiba ingin pergi memancing. Saya tidak tahu dari mana ide itu muncul, dan yang lebih penting, saya sama sekali tidak punya persiapan untuk itu. Di tengah upaya mencari jalan keluar, muncul satu ide yang sebenarnya sudah lama tersimpan: bagaimana kalau kita camping saja?
Belakangan saya sadar, keputusan spontan hari itu menyimpan pelajaran yang lebih besar dari sekadar pengalaman berkemah. Ia memperlihatkan bagaimana kita sering memperlakukan rencana, dan apa yang sebenarnya diingat anak-anak dari waktu yang kita habiskan bersama mereka.
Rencana yang Terlalu Lama Disimpan
Agenda camping bersama anak-anak sebenarnya sudah saya rencanakan jauh hari. Masalahnya, rencana itu tidak pernah benar-benar terlaksana. Selalu ada alasan untuk menundanya: waktunya kurang pas, perlengkapan belum lengkap, atau lokasinya belum ditentukan. Rencana itu tidak pernah dibatalkan, tetapi juga tidak pernah dijalankan.
Saya kira banyak dari kita mengalami pola yang sama, baik dalam urusan keluarga, pekerjaan, maupun organisasi. Kita menunggu kondisi yang ideal sebelum memulai sesuatu, padahal kondisi ideal itu jarang datang dengan sendirinya. Rencana yang menunggu kesiapan sempurna sering berakhir menjadi niat baik yang tersimpan rapi. Ironisnya, yang akhirnya menggerakkan rencana camping ini bukan persiapan yang matang, melainkan situasi yang terjepit.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang membuat banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari no. 6412). Kata “tertipu” di sini menarik. Kita tidak merasa kehilangan apa pun ketika menunda, karena waktu luang terasa akan selalu ada. Padahal masa ketika anak-anak masih antusias diajak berpetualang bersama orang tuanya tidak berlangsung selamanya.
Hari itu saya memutuskan untuk berhenti menunggu. Anak-anak langsung saya minta bersiap. Ada yang menyiapkan tenda, ada yang mengurus camilan, pakaian cadangan, dan perlengkapan lainnya. Sementara mereka sibuk berkemas, saya baru mulai mencari lokasi lewat Google Maps.
Air Terjun Merdeka: Kecil, Jernih, dan Cukup
Dari beberapa calon destinasi yang muncul, pilihan akhirnya jatuh pada Air Terjun Merdeka di Tompobulu, Maros. Pertimbangan utamanya sederhana: lokasinya tidak jauh dari rumah. Menurut peta, jaraknya sekitar 33,7 km atau kurang lebih 57 menit perjalanan dengan mobil, dan bisa lebih cepat jika menggunakan motor. Untuk keberangkatan yang serba mendadak, jarak seperti ini terasa masuk akal.

Perjalanan berjalan lancar. Sebagian besar jalan sudah berupa beton dan aspal yang masih baru. Hanya ada beberapa ruas yang tergenang air hujan, serta jalan masuk sekitar 100 meter menuju lokasi yang masih berupa pengerasan.
Begitu tiba, kesan pertama saya langsung terbentuk: ini tempat yang pas. Ada sungai kecil dengan air yang jernih dan tenang, dikelilingi bebatuan besar di bagian hulunya. Di bagian hilir, air mengalir jatuh dan membentuk semacam kolam alami di bawahnya. Satu catatan yang perlu disampaikan dengan jujur: tempat ini kurang cocok untuk rombongan besar karena areanya tidak luas. Tetapi untuk satu keluarga, ukurannya justru terasa cukup.

Kami segera mendirikan tenda dan merapikan area sekitarnya. Si kecil, Fadhil, tampak sangat antusias dan tidak mau ketinggalan ikut membantu. Ada sesuatu yang berbeda ketika anak-anak terlibat langsung dalam pekerjaan, bukan hanya menunggu semuanya siap. Tenda itu bukan lagi sekadar tempat berteduh, melainkan sesuatu yang ikut mereka dirikan.
Izin Bermain Datang Setelah Memastikan Aman
Setelah tenda berdiri, anak-anak jelas sudah tidak sabar untuk bermain air. Tetapi ada satu hal yang harus saya lakukan lebih dulu, yaitu menyisir lokasi sekitar. Saya memeriksa potensi bahaya, kondisi arus, dan ancaman lain yang mungkin luput dari perhatian. Baru setelah semuanya dipastikan aman, anak-anak mendapat izin untuk turun ke air.

Bahaya yang paling perlu diwaspadai di tempat ini adalah bebatuan yang licin karena lumut. Hal ini harus terus diingatkan kepada anak-anak, bukan hanya sekali di awal. Anak-anak yang sedang gembira cenderung lupa, dan tugas orang tua adalah tetap waspada ketika anak-anak sedang larut dalam keasyikannya.
Momen ini mengingatkan saya pada prinsip kepemimpinan yang sering saya temui dalam pekerjaan. Pemimpin yang baik tidak melarang timnya bergerak, tetapi memastikan medan yang akan mereka lalui sudah dipahami. Kebebasan yang diberikan setelah risiko dipetakan terasa sangat berbeda dengan kebebasan yang dilepas begitu saja. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, termasuk seorang laki-laki atas keluarganya (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Dalam konteks keluarga, tanggung jawab itu sering kali sangat konkret: memeriksa batu mana yang licin sebelum anak-anak menginjaknya.
Mi Instan di Tengah Sungai
Menjelang siang, setelah puas bermain air, kami makan siang. Karena persiapan serba mendadak, menunya hanya mi instan ditambah sosis dan beberapa pelengkap seadanya. Kalau dinilai dari menu, makan siang ini jelas jauh dari istimewa.
Tetapi ada satu hal yang membuat anak-anak sangat senang, yaitu tempat makannya. Kami sengaja memilih duduk tepat di tengah bebatuan sungai, di bagian yang airnya mengalir deras. Sensasinya benar-benar berbeda. Makanan yang biasa saja menjadi pengalaman yang berkesan karena suasana yang menyertainya.

Di sinilah saya melihat sesuatu yang mungkin sering terlewat oleh kita sebagai orang tua. Kita cenderung mengukur kualitas waktu bersama anak dari apa yang kita sediakan: makanan, fasilitas, atau biaya yang dikeluarkan. Padahal yang diingat anak-anak sering kali bukan kelengkapannya, melainkan pengalamannya. Sebagai ilustrasi, makan malam di restoran mahal bisa dengan mudah terlupakan, sementara mi instan di atas batu di tengah arus sungai mungkin akan terus diceritakan bertahun-tahun kemudian.

Kekurangan persiapan hari itu ternyata tidak mengurangi kebahagiaan anak-anak. Yang mereka butuhkan bukan perjalanan yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir dan mau memulai.
Shalat di Depan Tenda dan Sampah yang Bukan Milik Kami
Setelah makan dan mengemil, anak-anak kembali bermain air sampai waktu dzuhur mendekat. Kami kemudian kembali ke tenda, anak-anak berganti pakaian, lalu kami shalat dzuhur berjamaah di depan tenda. Ada nuansa yang berbeda ketika shalat dilakukan di alam terbuka, dengan suara air sebagai latar belakangnya. Anak-anak belajar bahwa ibadah tidak berhenti hanya karena kita sedang berlibur.
Setelah shalat, anak-anak beristirahat sejenak sementara saya mulai berkemas untuk pulang. Sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, saya mengajak anak-anak membersihkan area sekitar tempat kami berkemah. Ternyata cukup banyak sampah plastik yang ditinggalkan pengunjung sebelumnya.

Jujur, ada rasa kesal melihatnya. Tetapi justru di sinilah ada kesempatan belajar yang tidak bisa didapat dari nasihat lisan. Anak-anak melihat sendiri bahwa kita tidak hanya bertanggung jawab atas sampah kita sendiri, tetapi juga atas tempat yang kita nikmati. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan (HR. Muslim no. 35). Memungut sampah plastik di tepi sungai mungkin terlihat sepele, tetapi ia adalah bagian dari iman yang bisa dipraktikkan anak-anak dengan tangan mereka sendiri.
Saya kira ini juga berlaku di banyak tempat lain. Di kantor, di organisasi, atau di lingkungan masyarakat, selalu ada “sampah” yang ditinggalkan orang sebelum kita: pekerjaan yang terbengkalai, sistem yang berantakan, atau kebiasaan buruk yang diwariskan. Kita bisa memilih untuk mengeluh, atau memilih untuk meninggalkan tempat itu sedikit lebih baik dari saat kita datang.
Yang Sebenarnya Kami Bawa Pulang
Setelah area dirasa cukup bersih, kami bergegas pulang. Anak-anak terlihat begitu ceria dan gembira sepanjang perjalanan. Camping pertama ini jauh dari kata sempurna: berangkat tanpa persiapan matang, lokasi dicari di menit terakhir, dan makan siang hanya mi instan. Tetapi justru karena tidak menunggu sempurna, rencana yang bertahun-tahun tertunda akhirnya terlaksana.
Saya pulang dengan satu kesadaran sederhana. Banyak hal baik dalam hidup kita tidak gagal karena kurang rencana, melainkan karena terlalu lama menunggu kesiapan. Anak-anak tidak membutuhkan perjalanan yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang mau berangkat, memastikan mereka aman, lalu memberi mereka ruang untuk menikmati dunia.
Barangkali pertanyaan yang layak kita renungkan bukan “Kapan semuanya akan siap?”, melainkan “Rencana baik apa yang sebenarnya sudah bisa dimulai hari ini, meski dengan bekal seadanya?”
Semoga di lain kesempatan, saya bisa kembali mengajak TrioF berpetualang di alam bebas, mungkin kali ini dengan persiapan yang sedikit lebih baik. [af]







Tinggalkan Balasan