Ayah Lupa: Pelajaran tentang Kebiasaan Mengkritik dan Menuntut

“Sering kali kita tidak kurang sayang. Kita hanya memakai penggaris yang salah.”

Bagikan:

ayah lupa carnegie
Daftar Isi

Belum lama ini saya membeli buku lama karya Dale Carnegie, How to Win Friends & Influence People. Saya belum selesai membacanya, tetapi bagian pertamanya sudah meninggalkan sesuatu yang terus saya pikirkan. Di bagian itu Carnegie membahas teknik dasar menghadapi orang, dan jurus pertamanya bisa diringkas dengan mudah: jangan SOK, yaitu jangan Salahkan, Omeli, dan Kritik. Namun yang paling melekat di kepala saya justru bukan teorinya, melainkan sebuah tulisan pendek yang Carnegie jadikan contoh.

Tulisan itu berjudul Father Forgets, atau Ayah Lupa, karya W. Livingston Larned. Panjangnya hanya beberapa paragraf, tetapi isinya terasa seperti cermin yang dipasang tepat di depan wajah siapa saja yang pernah memegang tanggung jawab atas orang lain, baik sebagai orang tua, atasan, guru, maupun pengemban dakwah.

Sebuah Pengakuan di Samping Tempat Tidur

Ayah Lupa ditulis sebagai pengakuan seorang ayah kepada anak laki-lakinya yang sedang tidur. Malam itu, sambil membaca koran, sang ayah tiba-tiba diserang rasa bersalah. Ia lalu masuk diam-diam ke kamar anaknya dan mulai mengingat apa saja yang ia lakukan sepanjang hari.

Pagi hari ia menegur anaknya karena hanya mengusap wajah dengan handuk, karena sepatunya tidak dibersihkan, karena barang-barang dilempar ke lantai. Saat sarapan, kesalahan terus ditemukan: makanan tumpah, makan terburu-buru, siku di atas meja, mentega terlalu tebal. Ketika si anak melambaikan tangan sambil berseru “Dadah, Ayah!”, jawaban yang ia terima hanyalah perintah untuk berdiri tegak. Sore harinya, sang ayah mempermalukan anaknya di depan teman-temannya gara-gara kaus kaki yang berlubang.

Puncaknya terjadi malam itu. Si anak masuk ke ruang baca dengan ragu, dan sang ayah membentak, “Mau apa?” Anak itu tidak menjawab. Ia berlari, memeluk leher ayahnya, menciumnya, lalu pergi tidur. Pelukan itulah yang membuat koran terlepas dari tangan sang ayah. Ia sadar bahwa ia bukan tidak mencintai anaknya. Ia hanya menuntut terlalu banyak, karena ia mengukur anak kecil itu dengan ukuran usianya sendiri.

Esai itu ditutup dengan tekad sederhana. Setiap kali kata-kata tidak sabar hendak keluar, sang ayah akan mengingatkan dirinya: dia hanyalah anak laki-laki, anak laki-laki kecil.

Masalahnya Bukan Kurang Cinta

Yang membuat tulisan Larned ini kuat adalah kejujurannya. Sang ayah tidak digambarkan sebagai orang jahat. Semua tegurannya, kalau dilihat satu per satu, bahkan bisa dibenarkan. Anak memang sebaiknya mencuci muka dengan benar, makan dengan sopan, dan menjaga barangnya. Tidak ada satu teguran pun yang terdengar keterlaluan jika berdiri sendiri.

Di sinilah letak masalahnya. Kesalahan sang ayah bukan pada isi tegurannya, melainkan pada penggaris yang ia pakai. Ia mengukur anak berusia beberapa tahun dengan standar orang dewasa yang sudah puluhan tahun hidup. Dengan penggaris seperti itu, hampir semua perilaku anak akan tampak kurang, dan hampir setiap momen berubah menjadi kesempatan untuk mengoreksi.

Saya kira inilah sudut pandang yang sering terlewat ketika kita membicarakan kebiasaan mengkritik. Kita biasanya mengira orang yang gemar menyalahkan itu kurang sayang atau kurang sabar. Padahal sering kali penyebabnya lebih halus: kita lupa bahwa orang di depan kita sedang berada di tahap yang berbeda dari kita. Kita lupa bahwa kita pun pernah makan dengan siku di meja.

Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Membentuk Suasana

Ada satu hal lagi yang menarik dari kisah itu. Sang ayah tidak sekali pun merencanakan untuk menjadi ayah yang keras. Semuanya terjadi lewat koreksi-koreksi kecil yang terasa wajar pada saat diucapkan. Namun ketika dikumpulkan dalam satu hari, koreksi-koreksi kecil itu membentuk suasana. Dan suasana itulah yang dirasakan anak, bukan alasan di balik setiap teguran.

Bandingkan dengan kesaksian Anas bin Malik, yang mulai melayani Rasulullah ﷺ sejak usia sekitar sepuluh tahun. Anas berkata bahwa selama sepuluh tahun melayani beliau, Rasulullah tidak pernah sekali pun berkata “ah” kepadanya, dan tidak pernah bertanya “mengapa kamu melakukan ini?” atau “mengapa kamu tidak melakukan itu?” (HR. Bukhari no. 6038 dan Muslim no. 2309). Sepuluh tahun bersama seorang anak yang tentu tidak selalu sempurna, tetapi yang tersisa dalam ingatan anak itu adalah ketiadaan omelan.

Kesaksian itu tidak berarti Rasulullah tidak pernah mendidik. Tentu beliau mendidik. Namun beliau tidak menjadikan setiap kekurangan kecil sebagai bahan teguran. Ada pemahaman bahwa tidak semua hal perlu dikoreksi, dan bahwa hubungan yang hangat adalah fondasi yang membuat pendidikan bisa diterima.

Penggaris yang Sama di Kantor dan Majelis

Setelah membaca Ayah Lupa, saya mulai melihat pola yang sama di banyak tempat di luar rumah. Dalam organisasi, misalnya, seorang pemimpin yang sudah bertahun-tahun di lapangan bisa dengan mudah merasa kesal melihat staf baru yang lambat, ragu, atau salah langkah. Ia lupa bahwa ketenangannya hari ini adalah hasil dari ratusan kesalahan yang dulu ia buat sendiri. Ia memakai penggaris pengalamannya untuk mengukur orang yang baru mulai belajar.

Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang staf yang baru tiga bulan bekerja diminta membuat laporan. Hasilnya berantakan, angkanya tidak rapi, dan formatnya tidak sesuai. Atasannya bisa memilih dua jalan. Ia bisa mencoret semua kekurangan itu sekaligus, atau ia bisa memilih satu hal terpenting untuk diperbaiki sambil mengakui bagian yang sudah benar. Isi koreksinya mungkin sama-sama tepat, tetapi yang pertama membuat staf itu takut menyerahkan laporan berikutnya, sedangkan yang kedua membuatnya ingin mencoba lagi.

Hal yang sama terjadi dalam dakwah. Kita kadang berharap orang yang baru mulai belajar agama langsung paham dan konsisten seperti mereka yang sudah lama mengaji. Tergesa-gesa menegur cara berpakaian atau cara beribadah orang yang baru hijrah bisa terasa seperti menjaga kebenaran, padahal yang sering terjadi adalah orang itu menjauh. Allah mengingatkan Rasulullah ﷺ bahwa berkat rahmat-Nya beliau bersikap lemah lembut, dan seandainya beliau keras dan berhati kasar, orang-orang tentu akan menjauh dari sekitarnya (QS. Ali ‘Imran: 159). Ayat itu turun dalam konteks kepemimpinan, setelah para sahabat melakukan kesalahan besar di Perang Uhud, bukan sekadar soal mentega yang terlalu tebal.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Pelajaran pertama yang bisa dibawa adalah memeriksa penggaris sebelum memeriksa kesalahan. Sebelum menegur, ada baiknya bertanya: apakah saya menilai orang ini sesuai tahapnya, atau sesuai tahap saya? Pertanyaan sederhana ini sering kali cukup untuk mengubah teguran menjadi bimbingan, atau bahkan menyadarkan kita bahwa teguran itu tidak perlu.

Pelajaran kedua adalah membedakan antara koreksi yang dibutuhkan orang lain dan koreksi yang sebenarnya hanya melayani rasa tidak nyaman kita. Sang ayah dalam esai itu marah soal kaus kaki karena harganya mahal, dan soal siku di meja karena itu mengganggu pandangannya tentang sopan santun. Tidak semua kekesalan kita adalah kebutuhan pendidikan anak. Sebagian hanyalah ketidaksabaran yang diberi pakaian nasihat.

Pelajaran ketiga adalah memberi ruang yang cukup bagi kelembutan, karena kelembutan bukan kelemahan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kelembutan tidak berada pada sesuatu kecuali ia memperindahnya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali ia memperburuknya (HR. Muslim no. 2594). Hadits ini tidak meminta kita berhenti membenarkan yang salah. Ia mengingatkan bahwa cara menyampaikan kebenaran ikut menentukan apakah kebenaran itu bisa sampai.

Penyesalan Malam dan Ujian Esok Pagi

Ada satu kalimat dalam esai Larned yang menurut saya paling jujur. Sang ayah menyebut penyesalannya malam itu sebagai penebusan yang rapuh, karena anaknya tidak akan memahaminya jika diceritakan esok hari. Penyesalan di samping tempat tidur memang mudah. Yang sulit adalah pagi berikutnya, ketika handuk kembali dipakai asal-asalan dan sarapan kembali tumpah.

Karena itu, saya kira pelajaran terbesar dari Ayah Lupa bukanlah soal anak-anak semata. Ini soal bagaimana kita memperlakukan siapa saja yang sedang tumbuh di bawah tanggung jawab kita. Mereka hampir selalu lebih muda, lebih baru, atau lebih belum berpengalaman daripada kita. Itu bukan kekurangan mereka; itu memang tahap yang sedang mereka jalani.

Mungkin pertanyaan yang layak kita bawa pulang adalah ini: jika orang-orang di sekitar kita menuliskan hari mereka bersama kita, apa yang akan paling banyak mereka ingat? Teguran-teguran kita yang benar, atau perasaan bahwa mereka diterima apa adanya sambil terus dibimbing? Si anak dalam kisah itu tetap memeluk ayahnya meskipun seharian ditegur. Kasih sayang anak memang tidak mudah layu. Tetapi orang dewasa tidak sepatutnya terus menguji ketahanannya. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *