Totalitas dalam Setiap Langkah Hidup

“Kita tidak selalu dapat mengendalikan hasil, tetapi kita selalu dapat memilih bagaimana menjalankan amanah.”

Bagikan:

totalitas dalam setiap langkah-langkah hidup kita.
Daftar Isi

Ada perbedaan antara sekadar mengerjakan sesuatu dan benar-benar memberikan diri kita kepada sesuatu yang sedang dikerjakan. Dua orang bisa menghabiskan waktu yang sama untuk sebuah pekerjaan, tetapi menghasilkan kualitas yang sangat berbeda. Perbedaannya sering kali bukan pada kemampuan, melainkan pada seberapa sungguh-sungguh seseorang hadir di dalam apa yang sedang ia kerjakan.

Dalam kehidupan, kita sering berada pada persimpangan semacam itu. Kita bisa menjalankan pekerjaan sekadar untuk menyelesaikan kewajiban, atau mengerjakannya dengan kesadaran bahwa ada amanah yang sedang kita tunaikan. Kita bisa menjalani sebuah hubungan hanya karena sudah terbiasa, atau benar-benar hadir untuk memahami, menjaga, dan memperbaikinya. Di sinilah totalitas menjadi penting.

Rasulullah SAW. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah عز وجل mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan itqan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani. Meski demikian, riwayat ini memiliki pembahasan mengenai derajat dan sanadnya di kalangan ulama hadits. Karena itu, yang lebih aman adalah menjadikannya sebagai pengingat tentang nilai itqan, bukan sebagai satu-satunya landasan hukum.

Kata itqan sendiri mengandung makna melakukan sesuatu dengan baik, kokoh, cermat, dan sungguh-sungguh. Dalam pengertian yang lebih luas, ia mengajarkan bahwa kualitas pekerjaan tidak semestinya hanya diukur dari apakah sesuatu selesai, tetapi juga dari bagaimana sesuatu itu dikerjakan.

Dan mungkin di situlah makna totalitas yang sebenarnya.

Totalitas Bukan Berarti Melakukan Segalanya

Ketika mendengar kata totalitas, kita sering membayangkan seseorang yang bekerja sampai larut malam, tidak mengenal lelah, selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor, atau terus bergerak ketika orang lain sudah berhenti. Gambaran seperti itu memang bisa terlihat mengesankan, tetapi tidak selalu menunjukkan totalitas.

Totalitas bukan berarti menghabiskan seluruh tenaga untuk semua hal. Justru salah satu bentuk kedewasaan adalah mengetahui hal apa yang layak mendapatkan seluruh perhatian kita.

Seseorang tidak mungkin memberikan perhatian penuh kepada segala sesuatu sekaligus. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan, ada keluarga yang harus dijaga, ada tubuh yang perlu diistirahatkan, ada ibadah yang harus ditunaikan, dan ada persoalan yang memang harus dibiarkan karena bukan menjadi tanggung jawab kita. Karena itu, totalitas membutuhkan kemampuan menentukan prioritas.

Orang yang total bukan orang yang melakukan semuanya. Ia adalah orang yang ketika memutuskan bahwa sesuatu menjadi tanggung jawabnya, ia tidak mengerjakannya dengan setengah hati.

Hadir Sepenuhnya dalam Apa yang Sedang Kita Kerjakan

Ada banyak pekerjaan yang secara fisik kita lakukan, tetapi secara mental kita tidak benar-benar hadir di dalamnya. Kita sedang mengikuti rapat, tetapi pikiran berada di tempat lain. Kita sedang berbicara dengan seseorang, tetapi perhatian terus berpindah kepada telepon. Kita sedang menyelesaikan sebuah tugas, tetapi yang ada di kepala hanya bagaimana agar pekerjaan tersebut cepat selesai.

Secara administratif, pekerjaan itu mungkin selesai. Namun secara kualitas, belum tentu.

Totalitas dimulai dari kehadiran. Ketika kita membaca sebuah dokumen, kita benar-benar membacanya. Ketika mendengarkan orang lain, kita benar-benar mendengarkan. Ketika mengambil keputusan, kita benar-benar mempertimbangkan konsekuensinya. Ketika menjalankan sebuah amanah, kita tidak hanya bertanya, “Bagaimana agar ini selesai?”, tetapi juga, “Bagaimana agar ini dikerjakan dengan sebaik mungkin?”

Perubahan cara berpikir sederhana ini dapat menghasilkan perbedaan besar.

Mengapa Kita Sering Bekerja Setengah Hati?

Salah satu penyebabnya adalah kita terlalu fokus pada penyelesaian, bukan kualitas. Dalam banyak lingkungan kerja, misalnya, seseorang merasa pekerjaannya sudah cukup baik ketika tugas sudah ditandai selesai. Padahal sebuah pekerjaan yang selesai belum tentu sebuah pekerjaan yang tuntas.

Ada pula faktor lain: kita terlalu banyak membagi perhatian. Terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak informasi, terlalu banyak rapat, terlalu banyak notifikasi, dan terlalu banyak keinginan untuk mengerjakan semuanya sekaligus. Akibatnya, energi kita tersebar ke mana-mana.

Di sisi lain, ada pekerjaan yang memang tidak kita sukai. Kita tetap mengerjakannya, tetapi dengan sikap sekadarnya. Padahal tidak semua pekerjaan yang penting dalam hidup akan selalu menyenangkan. Kedewasaan justru terlihat ketika seseorang mampu tetap menjaga kualitas meskipun pekerjaan yang sedang dijalankan bukan sesuatu yang ia sukai.

Karena itu, totalitas bukan terutama persoalan perasaan. Ia lebih dekat kepada persoalan tanggung jawab.

Totalitas dalam Pekerjaan

Dalam dunia profesional, totalitas dapat terlihat dari hal-hal yang sebenarnya sederhana. Seorang pemimpin tidak hanya hadir dalam rapat, tetapi datang dengan persiapan. Seorang anggota tim tidak hanya menunggu instruksi, tetapi memahami tujuan dari pekerjaannya. Seorang profesional tidak hanya berusaha memenuhi target, tetapi juga memikirkan apakah proses yang digunakan sudah benar dan apakah hasilnya benar-benar memberikan manfaat.

Orang seperti ini biasanya memiliki satu kebiasaan penting: ia tidak mudah puas dengan pekerjaan yang “asal selesai”.

Ia akan bertanya apakah ada yang bisa diperbaiki. Ia memeriksa kembali detail yang mungkin terlewat. Ia mau menerima masukan. Jika melakukan kesalahan, ia tidak sibuk mencari alasan, tetapi mencoba memahami mengapa kesalahan itu terjadi dan bagaimana agar tidak terulang.

Di sinilah itqan menjadi lebih relevan daripada sekadar kerja keras. Kerja keras berbicara tentang energi yang kita keluarkan. Itqan berbicara tentang kualitas cara kita menggunakan energi tersebut.

Totalitas dalam Kepemimpinan

Dalam kepemimpinan, totalitas memiliki dimensi yang lebih besar karena dampaknya tidak berhenti pada diri sendiri. Keputusan seorang pemimpin dapat memengaruhi kehidupan, pekerjaan, bahkan masa depan banyak orang.

Karena itu, pemimpin yang total bukanlah pemimpin yang selalu terlihat sibuk. Ia adalah pemimpin yang mau memahami persoalan sebelum mengambil keputusan, berani mengambil tanggung jawab ketika keputusan ternyata keliru, dan tidak melemparkan kesalahan kepada bawahannya ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Totalitas seorang pemimpin juga terlihat dari kesediaannya membangun orang lain. Ia tidak hanya mengejar hasil jangka pendek, tetapi memikirkan apakah timnya bertumbuh, apakah orang-orang di dalam organisasi semakin mampu mengambil tanggung jawab, dan apakah sistem yang dibangun dapat berjalan dengan baik tanpa ketergantungan berlebihan pada dirinya.

Pemimpin yang bekerja dengan totalitas pada akhirnya tidak hanya meninggalkan target yang tercapai. Ia meninggalkan orang-orang yang menjadi lebih baik karena pernah bekerja bersamanya.

Totalitas dalam Hubungan dengan Orang Lain

Totalitas juga tidak berhenti di tempat kerja. Dalam hubungan antarmanusia, ia justru sering terlihat dalam hal-hal kecil yang tidak tercatat dan tidak mendapatkan penghargaan.

Mendengarkan seseorang ketika ia sedang berbicara. Menepati janji. Mengakui kesalahan. Memberikan waktu ketika orang lain membutuhkan kita. Tidak memainkan telepon ketika seseorang sedang berbicara serius. Menjaga kepercayaan meskipun tidak ada yang melihat.

Hal-hal tersebut tampak sederhana, tetapi justru di situlah kualitas sebuah hubungan dibangun.

Kita sering mengira hubungan yang baik membutuhkan tindakan-tindakan besar. Padahal dalam banyak kasus, hubungan menjadi kuat karena seseorang konsisten melakukan hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh. Totalitas tidak selalu tampak spektakuler. Sering kali ia justru hadir dalam bentuk perhatian yang sederhana tetapi dilakukan terus-menerus.

Totalitas Tidak Sama dengan Perfeksionisme

Ada satu hal yang perlu dibedakan: totalitas bukan berarti perfeksionisme.

Orang yang perfeksionis bisa menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak perlu sempurna. Ia takut menyerahkan pekerjaan karena merasa selalu ada yang kurang. Akibatnya, keinginan menghasilkan sesuatu yang sempurna justru membuat pekerjaan tidak selesai.

Totalitas berbeda. Totalitas berarti memberikan usaha terbaik sesuai dengan tujuan, kondisi, sumber daya, dan waktu yang tersedia. Kita berusaha mengerjakan sesuatu dengan baik, tetapi tetap memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Karena itu, totalitas juga membutuhkan kemampuan untuk berhenti.

Ada saatnya kita harus mengatakan, “Ini sudah cukup baik untuk tujuan yang ingin dicapai.” Ada saatnya kita harus menyerahkan pekerjaan kepada orang lain. Ada saatnya kita harus beristirahat. Ada saatnya kita harus menerima bahwa hasil terbaik yang bisa kita capai hari ini memang berbeda dengan hasil terbaik yang mungkin kita capai beberapa tahun dari sekarang.

Menerima keterbatasan bukan berarti kehilangan totalitas. Justru itu bagian dari totalitas yang sehat.

Bagaimana Membentuk Sikap Totalitas?

Totalitas tidak muncul karena sebuah keputusan besar yang kita buat sekali. Ia dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Pertama, tentukan apa yang benar-benar penting. Tidak semua hal membutuhkan perhatian yang sama. Jika semua dianggap penting, pada akhirnya tidak ada yang benar-benar mendapatkan perhatian penuh.

Kedua, kerjakan satu tanggung jawab dengan kesadaran penuh. Kurangi kebiasaan berpindah-pindah perhatian tanpa alasan yang jelas. Ketika sedang mengerjakan sesuatu yang penting, hadir di dalam pekerjaan tersebut.

Ketiga, periksa kembali kualitas pekerjaan. Jangan hanya bertanya apakah tugas sudah selesai. Tanyakan apakah hasilnya sudah memenuhi tujuan, apakah ada kesalahan yang bisa diperbaiki, dan apakah pekerjaan tersebut akan tetap terlihat baik ketika diperiksa kembali beberapa waktu kemudian.

Keempat, belajar menerima koreksi. Totalitas bukan berarti merasa bahwa kita selalu benar. Sebaliknya, orang yang sungguh-sungguh ingin menghasilkan sesuatu yang baik justru membutuhkan masukan dari orang lain.

Kelima, jaga kemampuan untuk bertahan secara konsisten. Tidak semua hal membutuhkan ledakan energi. Banyak hal penting dalam hidup justru membutuhkan kemampuan untuk hadir dan mengerjakannya dengan baik selama bertahun-tahun.

Pada Akhirnya, Totalitas adalah Bentuk Tanggung Jawab

Ada pekerjaan yang hasilnya langsung terlihat. Ada pula pekerjaan yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian. Seorang guru mungkin tidak langsung melihat dampak dari satu nasihatnya. Seorang pemimpin mungkin baru melihat hasil dari keputusan organisasinya beberapa tahun kemudian. Orang tua bahkan mungkin baru memahami pengaruh kebiasaan yang mereka tanamkan ketika anak-anak mereka telah dewasa.

Karena itu, totalitas tidak selalu memberikan imbalan yang segera.

Namun ada sesuatu yang tetap berada dalam kendali kita: bagaimana kita menjalankan amanah yang ada di hadapan kita.

Kita tidak selalu dapat menentukan hasil. Kita tidak selalu dapat mengendalikan respons orang lain. Kita bahkan tidak selalu dapat memastikan bahwa usaha yang besar akan menghasilkan sesuatu yang besar. Tetapi kita dapat memilih apakah akan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh atau sekadar menggugurkan kewajiban.

Mungkin inilah makna penting dari itqan. Ia mengajarkan bahwa kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak hal yang berhasil kita capai, tetapi juga oleh bagaimana kita menjalankan setiap amanah yang dipercayakan kepada kita.

Totalitas bukan tentang memberikan seluruh tenaga kita kepada seluruh dunia. Totalitas adalah tentang memberikan perhatian, kesungguhan, dan kualitas terbaik yang mampu kita berikan kepada sesuatu yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak akan mengingat semua pekerjaan yang pernah kita selesaikan. Orang lain juga mungkin tidak mengingat setiap usaha yang pernah kita lakukan. Tetapi ada kepuasan tertentu ketika kita tahu bahwa pada saat sebuah amanah berada di tangan kita, kita tidak mengerjakannya dengan setengah hati.

Kita hadir. Kita berpikir. Kita berusaha. Kita memperbaiki ketika salah. Dan ketika akhirnya harus meninggalkannya, kita dapat mengatakan kepada diri sendiri: saya sudah mengerjakannya dengan sebaik yang saya mampu.

Barangkali, itulah totalitas yang sesungguhnya. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *