Kita sering menghitung harga sesuatu dengan uang. Ketika membeli rumah, misalnya, yang kita pikirkan adalah berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Ketika menerima sebuah pekerjaan, kita mempertimbangkan berapa penghasilan yang akan diterima. Namun ada satu cara pandang yang jarang kita gunakan: berapa banyak waktu hidup yang harus kita tukarkan untuk mendapatkannya?
Waktu memiliki nilai yang berbeda dari uang. Uang yang hilang masih mungkin dicari kembali, tetapi waktu yang sudah berlalu tidak dapat dikembalikan. Karena itu, menghargai waktu sesungguhnya bukan sekadar pandai membuat jadwal atau menyelesaikan banyak pekerjaan. Lebih dari itu, menghargai waktu berarti menyadari bahwa setiap jam yang kita gunakan adalah bagian dari kehidupan yang tidak akan pernah kembali.
Kita Sebenarnya Membayar dengan Waktu
Charles Spezzano, dalam bukunya What to Do Between Birth and Death, mengajak kita melihat uang dari sudut pandang yang menarik. Menurutnya, ketika membeli barang atau jasa, sebenarnya kita tidak hanya membayarnya dengan uang. Kita membayarnya dengan waktu yang kita gunakan untuk mendapatkan uang tersebut.
Coba bayangkan seseorang berkata, “Lima tahun lagi saya akan memiliki cukup uang untuk membeli rumah itu.” Jika dilihat dari perspektif ini, ia sebenarnya sedang mengatakan bahwa rumah tersebut akan dibayar dengan lima tahun kehidupannya. Uang hanyalah alat pertukaran; yang benar-benar diberikan adalah bagian dari waktu hidupnya.
Cara pandang seperti ini membuat kita melihat keputusan finansial secara berbeda. Sebuah barang mungkin terlihat murah jika hanya dibandingkan dengan harga di rekening. Tetapi ketika kita menghitung berapa jam, hari, atau bahkan tahun yang harus kita gunakan untuk mendapatkannya, nilainya bisa terasa sangat berbeda.
Karena itu, pertanyaan “Berapa harganya?” terkadang perlu dilengkapi dengan pertanyaan lain: “Berapa banyak waktu hidup saya yang harus saya berikan untuk mendapatkannya?”
Kesibukan Tidak Selalu Berarti Kehidupan yang Bernilai
Hal yang sama berlaku dalam pekerjaan. Kita bisa menghabiskan sebagian besar hari dengan rapat, membalas pesan, mengejar target, menyelesaikan laporan, berpindah dari satu agenda ke agenda berikutnya, lalu pulang dalam keadaan lelah. Hari terasa penuh, tetapi belum tentu kehidupan kita benar-benar bergerak ke arah yang penting.
Ini bukan berarti pekerjaan, rapat, atau berbagai kewajiban tidak penting. Semuanya bisa memiliki nilai. Persoalannya adalah apakah kita masih sadar mengapa kita memberikan waktu kita kepada hal-hal tersebut.
Dalam organisasi, saya kira ini menjadi pertanyaan yang semakin penting. Seorang pemimpin dapat terlihat sangat sibuk sepanjang hari, tetapi kesibukan itu belum tentu menghasilkan keputusan yang lebih baik, tim yang lebih kuat, atau pekerjaan yang lebih berarti. Sebaliknya, ada orang yang mungkin tidak terlihat paling sibuk, tetapi waktunya digunakan untuk hal-hal yang memberikan dampak jauh lebih besar.
Maka produktivitas seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang kita selesaikan. Kita juga perlu bertanya apakah pekerjaan-pekerjaan tersebut memang layak mendapatkan bagian dari kehidupan kita.
Waktu Membantu Kita Menilai Kembali Prioritas
Ketika uang menjadi satu-satunya ukuran, kita mudah terjebak dalam logika “mampu membeli berarti layak membeli”. Padahal kemampuan finansial tidak selalu sama dengan nilai. Sesuatu bisa saja mampu kita beli, tetapi belum tentu layak ditukar dengan waktu dan perhatian yang harus kita korbankan untuk mendapatkannya.
Begitu juga dengan pekerjaan. Gaji yang lebih besar mungkin menarik, tetapi pertanyaan berikutnya adalah: berapa banyak waktu yang harus diberikan? Berapa banyak energi yang tersisa untuk keluarga? Berapa banyak kesempatan untuk belajar, beristirahat, beribadah, atau sekadar hadir dalam kehidupan orang-orang yang kita cintai?
Di sinilah waktu menjadi ukuran yang lebih jujur. Ketika kita menyadari bahwa kita sedang menukar kehidupan dengan berbagai hal yang kita kejar, kita akan lebih berhati-hati menentukan apa yang benar-benar penting.
Bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan atau berhenti mengejar pencapaian. Justru sebaliknya, kita perlu memastikan bahwa apa yang kita kejar memang sepadan dengan waktu yang kita berikan kepadanya.
Tidak Semua yang Meminta Waktu Layak Mendapatkannya
Ada banyak hal yang secara perlahan mengambil waktu kita tanpa kita sadari. Percakapan yang tidak perlu, perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa, pekerjaan yang sebenarnya dapat didelegasikan, kebiasaan menunda, terlalu lama berselancar di media sosial, atau bahkan keinginan untuk selalu terlihat sibuk.
Masing-masing mungkin hanya mengambil beberapa menit. Tetapi kehidupan tidak dihabiskan dalam satu keputusan besar. Kehidupan justru sering kali habis melalui kumpulan keputusan kecil yang kita ulang setiap hari.
Karena itu, mengelola waktu bukan hanya tentang memasukkan lebih banyak aktivitas ke dalam kalender. Kadang-kadang justru tentang mengeluarkan aktivitas yang tidak lagi memiliki nilai. Ada hal-hal yang harus kita katakan tidak, bukan karena semuanya buruk, tetapi karena waktu kita terbatas dan tidak semua hal layak mendapatkan bagian dari kehidupan kita.
Lihat Agenda Anda dengan Ukuran yang Berbeda
Cobalah melihat agenda hari ini dengan cara yang sedikit berbeda. Jangan hanya bertanya, “Apa yang harus saya selesaikan hari ini?” Tanyakan juga, “Jika waktu adalah bagian dari hidup saya yang sedang saya berikan, apakah semua yang ada dalam agenda ini memang pantas mendapatkannya?”
Pertanyaan itu mungkin membuat kita mengubah beberapa hal. Kita mungkin menyadari bahwa ada rapat yang tidak perlu dihadiri, pekerjaan yang bisa disederhanakan, percakapan yang sebaiknya dihentikan, atau justru seseorang yang selama ini terlalu sering kita tunda untuk ditemui.
Pada akhirnya, mengatur waktu bukan sekadar persoalan manajemen. Ini adalah persoalan kehidupan. Setiap kali kita mengatakan “ya” kepada sesuatu, kita sebenarnya sedang mengatakan “tidak” kepada hal lain karena jumlah waktu yang kita miliki tetap terbatas.
Maka mungkin ukuran terbaik dari sebuah agenda bukan seberapa penuh jadwal kita, melainkan seberapa bernilai kehidupan yang kita jalani melalui jadwal tersebut.
Waktu tidak pernah benar-benar kita miliki. Kita hanya diberi kesempatan untuk menggunakannya, hari demi hari, sampai jatah itu selesai.
Karena itu, sebelum memulai kesibukan hari ini, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah tugas-tugas dalam agenda hari ini benar-benar bernilai bagi kehidupan saya?
Mungkin pertanyaan sederhana itu lebih penting daripada sekadar bertanya apakah hari ini kita sudah cukup sibuk. [af]







Tinggalkan Balasan