Tetapkan Sasaran untuk Pertumbuhan: Cara Pemimpin Mengembangkan Tim

“Sasaran yang baik bukan hanya mengubah hasil yang kita capai, tetapi juga mengubah diri kita dalam proses mencapainya.”

Bagikan:

target sasaran pertumbuhan
Daftar Isi

Dalam banyak hal, pertumbuhan tidak terjadi secara kebetulan. Orang-orang yang berkembang biasanya memiliki sesuatu yang ingin mereka capai, kemudian dengan sadar mengarahkan tenaga dan waktunya untuk menuju ke sana. Karena itu, salah satu tugas penting seorang pemimpin bukan hanya menetapkan target bagi organisasi, tetapi membantu orang-orang di dalam tim menemukan dan menetapkan sasaran yang mendorong pertumbuhan mereka.

Menariknya, hasil akhir dari sebuah sasaran sering kali bukan bagian yang paling penting. Yang lebih penting adalah siapa seseorang setelah melewati proses untuk mencapai sasaran tersebut. Ketika seseorang belajar menetapkan target, menyusun langkah, menghadapi hambatan, mengevaluasi kemajuan, lalu akhirnya mencapai apa yang dituju, sebenarnya ia sedang membangun kapasitas dirinya.

Dalam konteks kepemimpinan, sasaran seharusnya tidak berhenti pada angka atau pencapaian pekerjaan. Sasaran yang baik juga membantu seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bertanggung jawab, dan pada akhirnya lebih siap memimpin.

Sasaran yang Baik Harus Pantas

Ketika membantu seseorang menetapkan sasaran, seorang pemimpin perlu melihat gambaran yang lebih besar. Apa sebenarnya pekerjaan yang ingin kita selesaikan? Hasil seperti apa yang kita harapkan? Dan yang tidak kalah penting, menjadi seperti apa orang tersebut setelah berhasil mencapai sasaran itu?

Sasaran yang baik seharusnya berkontribusi pada sasaran yang lebih besar. Jika kita sedang membangun calon pemimpin, misalnya, jangan hanya memberinya target untuk menyelesaikan pekerjaan. Berikan pula sasaran yang membuatnya belajar mengambil keputusan, berkomunikasi, membangun tim, atau menyelesaikan persoalan.

Dengan begitu, sasaran bukan sekadar alat untuk mengejar hasil, tetapi juga menjadi alat untuk membentuk manusia.

Mulailah dari Sasaran yang Dapat Dicapai

Ada orang yang menetapkan sasaran terlalu tinggi sejak awal. Niatnya mungkin baik, tetapi sasaran yang terlalu jauh justru bisa membuat seseorang kehilangan keberanian sebelum memulai.

Ian McGregor, mantan Chairman of the Board AMAX Corporation, pernah menggambarkan pendekatan ini seperti melatih kuda. Ia memulai dengan menghadapi pagar rintangan yang rendah—sesuatu yang cukup mudah untuk dicapai—kemudian secara bertahap meningkatkan tingkat kesulitannya.

Prinsip ini sederhana, tetapi penting dalam mengembangkan orang. Keberhasilan kecil membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan yang lebih besar. Karena itu, jangan merasa bahwa sasaran yang sederhana berarti tidak ambisius. Bisa jadi, sasaran sederhana itulah yang sedang membangun fondasi untuk pencapaian yang lebih besar.

Seorang pemimpin perlu tahu kapan harus mendorong dan kapan harus memberikan ruang bagi seseorang untuk membangun kepercayaan dirinya sendiri.

Buat Sasaran yang Bisa Diukur

Sasaran yang tidak dapat diukur sering kali sulit dievaluasi. Seseorang bisa merasa sudah bekerja keras, tetapi belum tentu tahu apakah ia benar-benar bergerak menuju hasil yang diharapkan.

Karena itu, sasaran perlu memiliki ukuran yang jelas. Bukan semata-mata agar seseorang merasa diawasi, melainkan agar ia bisa melihat sendiri perkembangan yang telah dicapai.

Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang dapat berkata, “Dulu saya belum mampu melakukan ini. Sekarang saya sudah bisa.” Perasaan tersebut penting karena pertumbuhan membutuhkan bukti. Ketika kemajuan dapat dilihat dan diukur, seseorang memiliki alasan yang lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan.

Nyatakan Sasaran dengan Jelas

Sasaran yang samar akan menghasilkan usaha yang samar pula. Jika seseorang tidak benar-benar memahami apa yang hendak dicapai, bagaimana mungkin ia bisa menentukan prioritas dan mengambil langkah yang tepat?

Karena itu, sasaran harus dinyatakan dengan jelas. Apa yang ingin dicapai? Mengapa itu penting? Kapan harus tercapai? Dan seperti apa bentuk keberhasilannya?

Kejelasan memberikan fokus. Ketika arah sudah jelas, seseorang akan lebih mudah menentukan mana yang perlu dikerjakan dan mana yang sebenarnya bisa diabaikan.

Dalam pekerjaan maupun kehidupan, sering kali masalahnya bukan karena kita kekurangan waktu, tetapi karena terlalu banyak hal yang ingin kita kerjakan tanpa sasaran yang benar-benar jelas.

Tetap Berikan Ruang untuk Fleksibilitas

Jelas bukan berarti kaku. Sasaran memang perlu memberikan arah, tetapi cara mencapainya tidak selalu harus sama.

Dalam perjalanan menuju sasaran, keadaan bisa berubah. Prioritas mungkin bergeser, informasi baru bisa muncul, dan seseorang mungkin menemukan cara yang lebih baik untuk mencapai hasil yang sama. Karena itu, sasaran perlu cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tanpa kehilangan tujuan utamanya.

Fleksibilitas juga penting karena manusia sedang bertumbuh. Jika kita terlalu kaku terhadap sasaran dan cara mencapainya, kita mungkin justru menghambat proses belajar orang yang sedang kita kembangkan.

Pemimpin bukan hanya bertanya, “Apakah target ini tercapai?” tetapi juga, “Apa yang dipelajari orang ini dalam proses mencapainya?”

Tuliskan Sasaran

Ada perbedaan antara sasaran yang hanya ada di dalam pikiran dan sasaran yang dituangkan dalam tulisan.

Ketika seseorang menuliskan sasaran, ia sedang membuat komitmen yang lebih nyata kepada dirinya sendiri. Sasaran tersebut menjadi sesuatu yang dapat dilihat kembali, dievaluasi, dan diperbaiki.

Menulis juga membantu kita berpikir lebih jernih. Sesuatu yang terasa jelas di kepala terkadang menjadi jauh lebih kabur ketika harus dituangkan ke dalam kalimat. Justru di situlah manfaatnya. Kita dipaksa untuk menjawab: sebenarnya apa yang ingin saya capai?

Bagi seorang pemimpin, mendorong anggota tim untuk menuliskan sasaran bukan sekadar persoalan administrasi. Ini adalah latihan untuk membangun rasa tanggung jawab.

Sasaran Perlu Ditinjau, Bukan Sekadar Ditetapkan

Menetapkan sasaran hanyalah awal. Setelah itu, seseorang perlu secara berkala melihat kembali sasaran tersebut dan bertanya: Sudah sejauh mana saya berjalan? Apa yang sudah saya capai? Apa yang menghambat? Apa yang perlu saya ubah?

Kebiasaan melakukan evaluasi seperti ini sebenarnya sudah lama dikenal dalam tradisi pengembangan diri. Benjamin Franklin, misalnya, menyediakan waktu untuk mengajukan dua pertanyaan kepada dirinya sendiri.

Pada pagi hari ia bertanya, “Apa perbuatan baik yang akan kulakukan hari ini?” Pada petang hari ia bertanya, “Apa perbuatan baik yang telah kulakukan hari ini?”

Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi menunjukkan sebuah prinsip penting: pertumbuhan membutuhkan refleksi. Kita tidak cukup hanya bergerak. Sesekali kita perlu berhenti untuk melihat apakah gerakan kita benar-benar membawa kita ke arah yang tepat.

Dalam perspektif Islam, semangat evaluasi diri juga memiliki tempat yang kuat. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya melihat kembali apa yang telah dilakukan dan mempersiapkan apa yang akan datang. Dalam konteks kepemimpinan, prinsip tersebut relevan: orang yang ingin bertumbuh perlu belajar mengevaluasi perjalanan, bukan hanya mengejar tujuan.

Tugas Pemimpin Bukan Hanya Memberi Target

Pada akhirnya, menetapkan sasaran bukan sekadar pekerjaan membuat daftar target. Di balik setiap sasaran seharusnya ada proses pengembangan manusia.

Pemimpin yang baik tidak hanya bertanya, “Berapa hasil yang harus dicapai?” Ia juga bertanya, “Kemampuan apa yang perlu dibangun agar orang ini mampu mencapai hasil tersebut?”

Di sinilah sasaran menjadi instrumen kepemimpinan. Sebuah target penjualan dapat melatih ketekunan. Sebuah proyek dapat melatih kemampuan mengambil keputusan. Sebuah tanggung jawab baru dapat melatih keberanian memimpin. Bahkan kegagalan mencapai sasaran pun bisa menjadi bahan belajar yang sangat berharga jika dievaluasi dengan jujur.

Karena itu, jangan hanya membantu orang mencapai sesuatu. Bantu mereka menjadi seseorang.

Mungkin inilah bagian yang paling menarik dari proses menetapkan sasaran: pada akhirnya, pencapaian bukan hanya tentang apa yang berhasil kita dapatkan, tetapi tentang siapa kita ketika sampai di sana.

Jika hari ini Anda memimpin sebuah tim, cobalah melakukan sesuatu yang sederhana. Bantu satu orang dalam tim Anda menetapkan satu sasaran yang jelas untuk hari ini. Pastikan sasaran itu penting, dapat dicapai, dapat diukur, dan memberi ruang baginya untuk belajar.

Kemudian, jangan berhenti pada pertanyaan, “Apakah targetnya tercapai?”

Tanyakan juga, “Apa yang menjadi lebih baik dalam diri Anda setelah mengejar sasaran itu?”

Sebab pemimpin yang benar-benar membangun orang tidak hanya menghasilkan pekerjaan yang selesai. Ia menghasilkan manusia yang semakin mampu berdiri, berpikir, mengambil tanggung jawab, dan suatu hari nanti membantu orang lain bertumbuh. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *