Berikan Mereka Perlakuan “10”: Cara Pemimpin Membantu Orang Bertumbuh

“Perlakukan seseorang berdasarkan potensinya, bukan hanya berdasarkan kekurangannya hari ini.”

Bagikan:

beri mereka perlakuan 10
Daftar Isi

Ada satu hal yang menarik dalam memimpin orang: sering kali seseorang mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik ketika ia merasa dihargai oleh pemimpinnya. Bukan semata-mata karena takut pada atasan, bukan pula hanya karena aturan dan target, tetapi karena ada hubungan yang dibangun di atas rasa percaya dan saling menghormati.

Saya mengamati, orang-orang biasanya akan berusaha memenuhi harapan pemimpinnya ketika mereka menyukai dan menghormati pemimpin tersebut. Tentu, “menyukai” di sini bukan berarti pemimpin harus menjadi orang yang selalu menyenangkan atau menuruti semua keinginan bawahannya. Yang lebih penting adalah adanya hubungan yang sehat, tulus, dan manusiawi.

Ketika seorang pemimpin berhasil membangun hubungan seperti itu, sesuatu yang menarik biasanya terjadi. Orang-orang tidak lagi bekerja sekadar karena kewajiban. Mereka mulai memberikan lebih banyak dari yang diminta. Mereka bersedia berusaha lebih keras, mengambil tanggung jawab, dan memberikan yang terbaik karena mereka merasa dirinya dipercaya dan dihargai.

Orang Bekerja Lebih Baik Ketika Mereka Merasa Bernilai

Salah satu kesalahan dalam memimpin adalah melihat orang hanya berdasarkan kondisi mereka hari ini. Kita melihat kemampuan mereka sekarang, kesalahan mereka, kekurangan mereka, lalu membuat kesimpulan tentang seberapa jauh mereka bisa berkembang.

Padahal, setiap orang memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik.

Seorang karyawan yang hari ini kurang percaya diri mungkin suatu hari bisa menjadi orang yang sangat diandalkan. Seseorang yang masih sering melakukan kesalahan mungkin sebenarnya hanya membutuhkan arahan, kesempatan, dan kepercayaan. Bahkan orang yang saat ini belum menunjukkan kemampuan terbaiknya bisa saja sedang berada dalam proses menemukan potensi yang belum pernah ia gunakan.

Karena itu, salah satu tugas pemimpin bukan hanya melihat siapa seseorang sekarang, tetapi juga melihat siapa yang mungkin ia menjadi.

Inilah yang saya pahami dari sebuah prinsip sederhana: perlakukan seseorang seperti angka “10”, bahkan ketika ia belum menunjukkan dirinya sebagai “10”.

Bukan berarti kita menutup mata terhadap kekurangan. Bukan pula berarti semua orang harus diberi penilaian yang sama tanpa mempertimbangkan kinerja. Maksudnya adalah memberikan penghargaan terhadap potensi seseorang sebelum potensi itu sepenuhnya terlihat.

Pelajaran John C. Maxwell dari Ayahnya

Ada sebuah kisah menarik yang ditulis oleh John C. Maxwell dalam The 360° Leader. Kisah ini menurut saya memberikan gambaran yang sangat sederhana tentang bagaimana seorang pemimpin memperlakukan orang lain.

Maxwell menceritakan bahwa selama bertahun-tahun ia telah belajar banyak tentang kepemimpinan dari berbagai pemimpin. Namun, salah satu pemimpin yang paling ia kagumi justru adalah ayahnya sendiri, Melvin Maxwell.

Pada Desember 2004, John mengunjungi orang tuanya di Orlando. Saat itu ia dijadwalkan untuk mengambil bagian dalam sebuah seminar dan membutuhkan tempat yang tenang untuk melakukannya. Ayahnya kemudian mempersilakan John menggunakan ruang kantornya.

Ketika John duduk di meja kerja ayahnya, ia melihat sebuah kartu kecil yang diletakkan di samping telepon. Di kartu tersebut terdapat tiga kalimat yang ditulis tangan:

#1 Bangkitkan semangat orang dengan dorongan.

#2 Beri orang penghargaan dengan pujian.

#3 Beri orang pengakuan dengan ucapan terima kasih.

Bagi saya, bagian ini menarik bukan hanya karena isi kalimatnya, tetapi juga karena alasan kartu tersebut berada di sana.

John kemudian menyadari bahwa ayahnya sengaja menulis kalimat-kalimat tersebut sebagai pengingat bagi dirinya sendiri tentang bagaimana ia ingin memperlakukan orang ketika berbicara dengan mereka melalui telepon. Artinya, memperlakukan orang dengan baik bukan sekadar sesuatu yang dilakukan ketika sedang teringat, tetapi sesuatu yang sengaja diingatkan dan dilatih.

John juga menyadari bahwa ayahnya telah mengajarinya sebuah prinsip penting: melihat setiap orang sebagai pribadi yang bernilai “10”.

Saya kira di sinilah letak pelajaran kepemimpinannya.

Ayah John Maxwell tidak hanya mengajarkan bagaimana memimpin orang melalui kata-kata atau teori. Ia menunjukkan melalui kebiasaan sederhana bahwa setiap orang perlu diperlakukan dengan penghargaan, dorongan, dan rasa terima kasih.

Ekspektasi Pemimpin Bisa Menjadi Cermin bagi Orang yang Dipimpin

Bayangkan seorang pemimpin yang terus-menerus mengatakan kepada bawahannya bahwa mereka tidak kompeten. Setiap kesalahan diperbesar, setiap keberhasilan dianggap biasa, dan setiap usaha selalu dicurigai. Apa yang kemungkinan terjadi?

Lambat laun, orang tersebut mungkin benar-benar mulai bertindak seperti orang yang tidak kompeten.

Sebaliknya, bayangkan seorang pemimpin yang mengatakan, “Saya tahu kamu bisa lebih baik dari ini. Saya percaya kamu mampu mengambil tanggung jawab yang lebih besar.” Kalimat seperti itu tidak otomatis membuat seseorang berubah. Namun, ia dapat membuka ruang bagi orang tersebut untuk mulai melihat dirinya dengan cara yang berbeda.

Di sinilah pentingnya ekspektasi seorang pemimpin.

Orang sering kali tumbuh sesuai dengan cara mereka dipandang oleh orang-orang yang mereka hormati. Ketika seorang pemimpin memperlakukan seseorang sebagai pribadi yang mampu, bertanggung jawab, dan bernilai, ia sedang memberikan sebuah pesan: “Saya melihat sesuatu dalam diri Anda yang mungkin belum Anda lihat sendiri.”

Tentu, tetap ada batasnya. Memberikan perlakuan “10” bukan berarti memberikan toleransi tanpa batas terhadap kinerja buruk. Seorang pemimpin tetap harus memberikan umpan balik, menegur ketika diperlukan, menetapkan standar, dan meminta pertanggungjawaban. Bedanya, semua itu dilakukan dengan keyakinan bahwa orang tersebut masih bisa bertumbuh.

Memimpin Orang yang Belum Menjadi “10”

Ada perbedaan besar antara menganggap seseorang sudah sempurna dan memperlakukan seseorang berdasarkan potensi terbaiknya.

Yang pertama adalah menutup mata terhadap kenyataan. Yang kedua adalah melihat kenyataan sekaligus melihat kemungkinan.

Seorang pemimpin yang baik tidak berkata, “Kamu sudah hebat, jadi tidak perlu berubah.” Ia justru mengatakan, “Saya tahu kamu masih punya banyak hal untuk diperbaiki, tetapi saya juga percaya kamu mampu menjadi lebih baik.”

Menurut saya, inilah bentuk penghargaan yang lebih bermakna.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita bisa memilih untuk mempermalukannya atau membantunya belajar. Ketika seseorang berhasil, kita bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya terjadi atau memberikan apresiasi yang tulus. Ketika seseorang sedang kehilangan semangat, kita bisa menghakiminya atau memberikan dorongan agar ia kembali menemukan kepercayaan dirinya.

Pilihan-pilihan kecil seperti ini membentuk budaya kepemimpinan.

Kepemimpinan Bukan Hanya Tentang Mengeluarkan Potensi

Kita sering berbicara tentang bagaimana pemimpin harus “mengeluarkan potensi” orang lain. Namun, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana jika cara kita memperlakukan orang justru ikut menentukan apakah potensi itu akan muncul?

Orang yang terus-menerus dicurigai akan belajar bekerja sekadarnya. Orang yang tidak pernah dihargai akan kehilangan alasan untuk memberikan lebih. Sebaliknya, orang yang dipercaya cenderung belajar bertanggung jawab atas kepercayaan tersebut.

Itulah sebabnya tiga kalimat yang ditulis ayah John C. Maxwell terasa begitu sederhana sekaligus dalam: dorong, puji, dan berterima kasih.

Dorongan membuat orang berani melangkah. Pujian membuat mereka tahu bahwa usaha mereka terlihat. Ucapan terima kasih membuat mereka merasa bahwa kontribusinya memiliki arti.

Ketiganya bukan sekadar teknik komunikasi. Jika dilakukan dengan tulus, ketiganya menunjukkan bahwa kita melihat orang lain sebagai manusia yang memiliki nilai.

Mulailah Melihat Orang dari Potensinya

John C. Maxwell kemudian memberikan sebuah nasihat yang menurut saya sangat relevan dengan gagasan ini:

“Mulailah pada hari ini untuk melihat dan memimpin orang seperti apa mereka nantinya, jangan sebagaimana adanya mereka sekarang, dan Anda akan menjadi kagum menyaksikan bagaimana mereka menanggapi Anda.”

Saya menyukai gagasan tersebut karena mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengelola keadaan yang ada. Kepemimpinan juga tentang membantu seseorang bergerak menuju keadaan yang lebih baik.

Dalam Islam, kita pun diajarkan untuk memperlakukan manusia dengan cara yang baik. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 70 bahwa manusia telah dimuliakan oleh-Nya. Prinsip ini mengingatkan kita bahwa sebelum seseorang menjadi bawahan, rekan kerja, anggota tim, atau orang yang kita pimpin, ia terlebih dahulu adalah manusia yang memiliki kehormatan.

Karena itu, mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: bagaimana saya memperlakukan orang-orang yang bekerja bersama saya?

Apakah saya hanya melihat kesalahan mereka? Apakah saya lebih cepat mengkritik daripada mengapresiasi? Apakah saya hanya menuntut hasil, atau saya juga membantu mereka berkembang menjadi pribadi yang mampu menghasilkan sesuatu yang lebih besar?

Pemimpin yang baik tidak hanya mendapatkan hasil dari orang lain. Ia juga meninggalkan orang-orang yang menjadi lebih baik karena pernah dipimpin olehnya.

Mungkin itulah makna paling dalam dari memperlakukan seseorang sebagai “10”. Bukan dengan berpura-pura bahwa mereka sudah sempurna, tetapi dengan memilih untuk melihat nilai, kemungkinan, dan masa depan mereka—bahkan ketika semua itu belum sepenuhnya terlihat hari ini.

Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan pemimpin yang mengatakan, “Kamu sudah hebat.” Mereka membutuhkan pemimpin yang mengatakan, “Saya melihat bahwa kamu bisa menjadi jauh lebih baik, dan saya bersedia membantu kamu sampai ke sana.” [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *