Ada masa ketika saya merasa bahwa energi adalah sesuatu yang tidak perlu terlalu saya pikirkan. Selama masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ya dikerjakan. Selama ada kesempatan untuk bertemu orang, berdiskusi, menulis, atau melakukan sesuatu yang saya anggap penting, saya jalani saja. Bahkan ketika ada yang bertanya bagaimana saya bisa mengerjakan begitu banyak hal, jawaban saya sering sederhana, setengah bercanda, “Energi tinggi, IQ rendah.”
Sejak kecil saya memang termasuk orang yang cukup bersemangat. Rasanya selalu ada saja sesuatu yang ingin dikerjakan. Karena itu, saya dulu tidak terlalu memikirkan apakah energi saya sedang penuh atau mulai berkurang. Saya lebih banyak berpikir tentang bagaimana menyelesaikan pekerjaan daripada bagaimana mengelola energi untuk menyelesaikannya.
Belakangan saya mulai menyadari bahwa energi ternyata perlu dikelola sebagaimana kita mengelola waktu. Waktu yang terlewat tidak bisa kembali, begitu juga energi yang terkuras tanpa arah tidak selalu mudah dipulihkan.
Tidak Semua Hal Layak Mendapatkan Energi yang Sama
Salah satu kebiasaan yang mulai saya lakukan adalah melihat kembali agenda setiap pagi. Saya bertanya kepada diri sendiri, “Dari semua yang ada di kalender hari ini, mana yang paling penting?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi menurut saya cukup penting bagi siapa pun yang memiliki banyak tanggung jawab. Sebab, masalah kita sering kali bukan karena terlalu sedikit energi, melainkan karena energi yang tersedia dibagikan kepada terlalu banyak hal. Akibatnya, ketika tiba pada sesuatu yang benar-benar penting, kita justru sudah kehabisan tenaga dan perhatian.
Kalau hari itu saya harus bertemu keluarga, memimpin sebuah pekerjaan, berbicara dengan seseorang yang membutuhkan perhatian, memenuhi komitmen profesional, atau menyediakan waktu untuk menulis, saya perlu memastikan bahwa saya masih memiliki energi yang cukup untuk menjalaninya dengan baik.
Bagi saya, memberikan yang terbaik bukan hanya soal kemampuan. Ada unsur perhatian di dalamnya. Kita bisa hadir secara fisik dalam sebuah pertemuan, tetapi belum tentu benar-benar hadir dengan pikiran dan hati kita. Tubuh ada di sana, tetapi energi kita sudah habis dipakai untuk memikirkan banyak hal lain.
Karena itu, saya mulai belajar membedakan antara apa yang penting dan apa yang sekadar ramai.
Tidak semua agenda harus mendapatkan energi terbaik kita.
Pemimpin Tidak Hanya Mengelola Waktu
Saya semakin tertarik dengan gagasan bahwa seorang pemimpin bukan hanya perlu belajar mengelola waktu, tetapi juga mengelola energinya.
Waktu memang terbatas dan tidak bisa ditambah. Tetapi energi juga memiliki batas. Bahkan seseorang yang dikenal sangat aktif dan penuh semangat pun bisa mengalami kelelahan ketika terlalu lama berada dalam situasi yang menguras pikiran, emosi, dan perhatian.

Dalam bukunya The 360° Leader, John C. Maxwell membahas tiga hal yang menurut saya menarik karena sering tidak disadari: ABC Pengisap Energi.
1. Activity Without Direction — Aktivitas Tanpa Arah
Yang pertama adalah aktivitas tanpa arah.
Kita sibuk, tetapi tidak benar-benar tahu untuk apa kesibukan itu dilakukan. Kalender penuh, rapat banyak, pesan terus masuk, pekerjaan terus bergerak, tetapi ketika hari berakhir kita sulit menjawab pertanyaan sederhana: “Apa sebenarnya yang sudah saya hasilkan hari ini?”
Ini salah satu bentuk pemborosan energi yang paling halus. Kita merasa produktif karena terus bergerak, padahal belum tentu bergerak menuju sesuatu yang penting.
Dalam pekerjaan dan organisasi, saya melihat bahwa aktivitas tanpa arah sering terjadi ketika orang terlalu fokus pada kesibukan dan kehilangan hubungan dengan tujuan. Akhirnya, energi habis untuk melakukan banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu membawa organisasi ke mana-mana.
2. Burden Without Action — Beban Tanpa Tindakan
Yang kedua adalah beban tanpa tindakan.
Ada hal-hal yang kita tahu penting, tetapi terus kita bawa dalam pikiran tanpa pernah benar-benar diselesaikan. Kita memikirkannya berulang-ulang, membicarakannya berkali-kali, bahkan merasa terbebani olehnya, tetapi tidak mengambil langkah yang diperlukan.
Beban semacam ini melelahkan karena terus mengonsumsi energi mental. Masalahnya mungkin belum selesai, tetapi pikiran kita sudah berkali-kali membayar ongkos untuk memikirkannya.
Dalam situasi seperti ini, terkadang yang kita perlukan bukan tambahan motivasi, melainkan keberanian untuk mengambil tindakan. Tidak harus langsung menyelesaikan semuanya. Satu langkah nyata sering kali lebih melegakan daripada seratus kali memikirkan masalah yang sama.
3. Conflict Without Resolution — Konflik Tanpa Penyelesaian
Yang ketiga adalah konflik tanpa penyelesaian.
Konflik adalah bagian dari kehidupan organisasi. Perbedaan pendapat, kepentingan, cara kerja, bahkan karakter manusia memang tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya. Yang menjadi masalah adalah ketika konflik terus dibiarkan tanpa ada upaya untuk menyelesaikan akar persoalannya.
Konflik yang tidak selesai akan menghabiskan energi lebih besar daripada yang kita sadari. Orang mulai berhati-hati dalam berbicara, hubungan menjadi tegang, komunikasi tidak lagi terbuka, dan perhatian yang seharusnya digunakan untuk bekerja akhirnya tersedot untuk menghadapi ketegangan.
Karena itu, seorang pemimpin perlu belajar menghadapi konflik, bukan sekadar menghindarinya. Tidak semua konflik harus dimenangkan. Tetapi konflik yang penting perlu diselesaikan agar energi orang-orang di dalam organisasi dapat kembali digunakan untuk sesuatu yang lebih produktif.
Perhatikan Apa yang Menguras Energi Anda
Ketika membaca gagasan Maxwell tentang ABC Pengisap Energi ini, saya merasa bahwa konsep tersebut sebenarnya tidak hanya berlaku di tempat kerja. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa mengalami hal yang sama.
Ada aktivitas yang sebenarnya tidak penting tetapi terus kita lakukan. Ada persoalan yang kita tahu harus diselesaikan tetapi terus kita tunda. Ada konflik yang kita hindari karena merasa tidak nyaman membicarakannya. Semuanya mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri, tetapi ketika berlangsung terus-menerus, akumulasinya bisa sangat menguras energi.
Mungkin karena itu, mengelola energi bukan berarti kita harus selalu berusaha menjadi orang yang penuh energi. Justru sebaliknya, kita perlu mengenali ke mana energi kita pergi.
Saya kira ini penting terutama bagi orang yang memiliki banyak peran. Sebagai seorang pemimpin, misalnya, kita mungkin harus mengurus pekerjaan, bertemu tim, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, sekaligus tetap menjadi pasangan dan orang tua yang hadir untuk keluarga. Kalau semua hal dianggap sama pentingnya dan semuanya diberi energi yang sama, pada akhirnya ada bagian kehidupan yang akan mendapatkan sisa-sisa tenaga kita.
Padahal, orang-orang yang paling dekat dengan kita sering kali bukan membutuhkan waktu kita yang paling banyak, melainkan perhatian kita yang paling utuh.
Energi Adalah Cara Kita Menghargai Hal yang Penting
Saya belajar bahwa memberikan energi terbaik kepada sesuatu sebenarnya merupakan salah satu bentuk penghargaan.
Ketika kita memberikan perhatian penuh kepada seseorang yang sedang berbicara, kita sedang mengatakan bahwa orang itu penting. Ketika kita mengerjakan sebuah tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, kita sedang menunjukkan bahwa amanah itu penting. Ketika kita menyediakan waktu untuk keluarga dengan meninggalkan sejenak gangguan pekerjaan, kita sedang menunjukkan bahwa keluarga memiliki tempat yang penting dalam hidup kita.
Karena itu, saya tidak lagi melihat pengelolaan energi hanya sebagai persoalan produktivitas. Ini juga persoalan prioritas dan nilai hidup.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Tetapi tidak semua hal harus kita lakukan dengan energi terbaik kita. Dan ada beberapa hal yang memang terlalu penting untuk dikerjakan dengan energi yang tersisa.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Berapa banyak yang bisa saya kerjakan hari ini?” tetapi, “Untuk apa saya ingin menggunakan energi terbaik yang saya miliki hari ini?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa mengubah cara kita menyusun hari.
Pada akhirnya, saya kira kita tidak perlu menjadi orang yang selalu memiliki energi tinggi. Kita hanya perlu cukup bijaksana untuk mengetahui kapan energi harus dikeluarkan, kepada siapa harus diberikan, dan untuk apa digunakan.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kerjakan. Ada hal-hal yang memang harus kita kerjakan dengan segenap perhatian, karena di sanalah nilai sebenarnya dari energi kita berada.
Jadi, kalau hari ini Anda merasa lelah, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan melihat kembali kalender, pekerjaan, hubungan, dan persoalan yang sedang Anda hadapi.
Di mana sebenarnya energi Anda sedang habis? Dan apakah sesuatu yang menyerap energi itu memang layak mendapatkannya? [af]







Tinggalkan Balasan