Ada satu hal menarik dalam kepemimpinan: sering kali kita bisa melihat seperti apa seorang pemimpin dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Bukan berarti semua anggota tim pasti memiliki karakter yang sama persis dengan pemimpinnya. Namun, dalam jangka panjang, biasanya ada pola tertentu yang terbentuk. Cara berpikir, sikap, nilai, bahkan standar kerja seorang pemimpin perlahan-lahan akan memengaruhi siapa yang tertarik untuk bergabung, bertahan, dan bertumbuh bersamanya.
Karena itu, menjadi pemimpin sebenarnya bukan hanya soal bagaimana kita memimpin orang lain. Ada pertanyaan yang tidak kalah penting: orang seperti apa yang kita tarik ke dalam lingkungan kita? Jika kita terus mendapatkan orang-orang dengan karakter yang sama, mungkin persoalannya bukan semata-mata pada mereka. Bisa jadi, ada sesuatu dalam diri kita yang sedang menarik mereka.

Pemimpin Menarik Orang yang Memiliki Kesamaan
John C. Maxwell dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership menyebut salah satu prinsip kepemimpinan yang menarik: “Anda adalah siapa yang Anda tarik.” Gagasan ini sederhana, tetapi cukup dalam untuk direnungkan. Pemimpin cenderung menarik orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengannya, baik dalam cara berpikir, nilai, energi, maupun kemampuan.
Coba perhatikan sebuah organisasi yang sudah berjalan cukup lama. Biasanya kita akan menemukan karakter yang terasa dominan. Ada organisasi yang orang-orangnya disiplin, cepat bergerak, dan penuh inisiatif. Ada pula organisasi yang cenderung lambat, banyak menunggu instruksi, dan nyaman berada di zona aman. Tentu banyak faktor yang memengaruhi budaya tersebut, tetapi karakter pemimpin biasanya menjadi salah satu faktor yang sangat kuat.
Itulah sebabnya perubahan organisasi sering kali harus dimulai dari perubahan kepemimpinan. Sulit berharap tim memiliki standar yang lebih tinggi jika pemimpinnya sendiri tidak menunjukkan standar tersebut dalam keseharian.
Kesamaan Generasi
Salah satu hal yang sering terlihat adalah kesamaan generasi. Orang cenderung merasa lebih nyaman bekerja dengan mereka yang memiliki pengalaman hidup, referensi, atau cara pandang yang relatif mirip. Karena itu, tidak mengherankan jika sebuah organisasi pada akhirnya didominasi oleh kelompok usia tertentu.
Namun, di sinilah seorang pemimpin perlu berhati-hati. Kesamaan memang bisa menciptakan kenyamanan, tetapi terlalu banyak kesamaan juga dapat membuat organisasi kehilangan perspektif yang berbeda. Pemimpin yang ingin membangun organisasi yang sehat perlu belajar menciptakan ruang bagi generasi yang berbeda untuk saling melengkapi, bukan sekadar berkumpul dengan orang-orang yang paling mirip dengan dirinya.
Sikap yang Menular
Sikap seorang pemimpin juga menjadi daya tarik yang kuat. Orang yang memiliki sikap positif biasanya membuat lingkungan di sekitarnya terasa lebih ringan. Sebaliknya, pemimpin yang mudah mengeluh, sinis, atau selalu melihat masalah dari sisi negatif dapat menciptakan suasana yang sama di dalam tim.
Ini bukan berarti seorang pemimpin harus selalu terlihat bahagia atau berpura-pura optimistis. Pemimpin tetap boleh kecewa, marah, lelah, dan mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan baik. Yang membedakan adalah bagaimana ia mengelola semua itu dan bagaimana sikap tersebut memengaruhi orang-orang di sekitarnya.
Dalam banyak kasus, anggota tim bukan hanya mendengarkan apa yang dikatakan pemimpin. Mereka juga membaca bagaimana pemimpin bereaksi ketika menghadapi tekanan. Dari sanalah budaya sering kali terbentuk tanpa pernah dituliskan dalam dokumen organisasi.
Nilai-Nilai yang Anda Bawa
Lebih dalam daripada sikap adalah nilai-nilai. Orang yang bergabung dengan kita pada akhirnya akan berhadapan dengan apa yang kita anggap penting. Jika kita menghargai integritas, tanggung jawab, pembelajaran, dan kerja keras, nilai-nilai tersebut akan menjadi bagian dari standar yang kita bangun.
Sebaliknya, jika seorang pemimpin terbiasa mengabaikan integritas ketika ada kepentingan tertentu, jangan heran jika orang-orang di sekitarnya belajar melakukan hal yang sama. Nilai yang sesungguhnya bukanlah nilai yang tertulis di dinding kantor, tetapi nilai yang terlihat ketika organisasi berada dalam situasi sulit dan harus memilih antara yang benar dan yang menguntungkan.
Dalam konteks ini, kepemimpinan menjadi sangat personal. Kita tidak hanya mengajarkan nilai melalui kata-kata; kita mengajarkannya melalui keputusan-keputusan yang kita ambil.
Energi yang Anda Pancarkan
Ada pula faktor yang sering tidak disadari: energi. Orang dengan energi tinggi biasanya lebih mudah terhubung dengan orang yang memiliki semangat dan tempo kerja yang serupa. Sebaliknya, perbedaan energi yang terlalu jauh dalam sebuah tim dapat menimbulkan gesekan jika tidak dikelola dengan baik.
Bayangkan seorang pemimpin yang sangat cepat dalam mengambil keputusan dan mengharapkan semua orang bergerak dengan tempo yang sama. Jika seluruh tim memiliki ritme serupa, pekerjaan mungkin berjalan sangat dinamis. Tetapi jika ada anggota tim yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menganalisis dan memproses informasi, perbedaan tersebut bisa menjadi sumber frustrasi.
Karena itu, tugas pemimpin bukan mencari orang yang persis sama dengannya. Tugasnya adalah memahami perbedaan energi dan karakter, lalu menempatkan orang pada posisi yang memungkinkan perbedaan tersebut menjadi kekuatan.
Bakat dan Keunggulan yang Anda Hargai
Kita juga cenderung tertarik pada orang yang memiliki kemampuan yang kita kagumi. Seorang pemimpin yang menghargai kreativitas akan lebih mudah melihat dan menarik orang-orang kreatif. Pemimpin yang menghargai kemampuan menjual akan tertarik pada orang yang memiliki kemampuan komunikasi dan persuasi yang kuat.
Namun, ada satu jebakan di sini: kita bisa terlalu mudah merekrut orang yang mirip dengan diri sendiri.
Padahal, organisasi yang sehat tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang seperti pemimpinnya. Kadang-kadang yang dibutuhkan justru orang yang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh pemimpin tersebut. Pemimpin yang kuat bukan orang yang mengumpulkan orang-orang yang menyerupai dirinya, tetapi orang yang mampu membangun tim dengan kekuatan yang saling melengkapi.
Dan yang Paling Penting: Kemampuan Kepemimpinan
Pada akhirnya, kemampuan kepemimpinan juga menarik orang-orang dengan karakter tertentu. Pemimpin yang terus belajar biasanya lebih mudah menarik orang yang ingin bertumbuh. Pemimpin yang memberi kepercayaan cenderung menciptakan lingkungan yang mendorong orang untuk mengambil tanggung jawab. Sebaliknya, pemimpin yang gemar mengontrol setiap hal mungkin akan menciptakan tim yang terbiasa menunggu perintah.
Di sinilah kalimat “Anda adalah siapa yang Anda tarik” menjadi sebuah cermin.
Jika Anda merasa selalu mendapatkan orang yang pasif, mungkin ada baiknya bertanya: apakah cara saya memimpin justru membuat mereka pasif? Jika orang-orang di sekitar saya tidak berani mengambil keputusan, apakah saya selama ini memberi mereka cukup ruang untuk mengambil keputusan? Jika tim saya tidak berkembang, apakah saya sendiri masih menunjukkan semangat untuk belajar?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang tidak selalu nyaman. Tetapi justru pertanyaan semacam itulah yang sering membawa seorang pemimpin kepada pertumbuhan.
Kepemimpinan Dimulai dari Diri Sendiri
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat kuat tentang perubahan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini berbicara tentang perubahan secara lebih luas, tetapi prinsipnya sangat relevan ketika kita berbicara tentang kepemimpinan. Kita sering ingin mengubah anggota tim, memperbaiki budaya organisasi, atau meningkatkan kinerja orang lain. Namun, perubahan yang bertahan lama sering kali dimulai dari pertanyaan yang lebih sederhana: apa yang perlu saya ubah dari diri saya sendiri?
Mungkin kita ingin mendapatkan orang-orang yang lebih disiplin, tetapi kita sendiri masih sering terlambat. Kita ingin tim yang bertanggung jawab, tetapi kita masih mudah melempar kesalahan kepada orang lain. Kita ingin orang-orang yang mau belajar, tetapi kita sendiri sudah terlalu nyaman dengan cara lama.
Pemimpin tidak harus sempurna. Tetapi pemimpin perlu bersedia menjadi contoh dari standar yang ia harapkan dari orang lain.
Perhatikan Siapa yang Ada di Sekitar Anda
Cobalah sesekali melihat orang-orang yang bekerja bersama Anda. Bukan untuk menghakimi mereka, tetapi untuk bercermin. Apa karakter yang paling banyak Anda temukan? Apakah mereka berani mengambil inisiatif? Apakah mereka terbuka terhadap perubahan? Apakah mereka bertanggung jawab? Apakah mereka saling mendukung? Atau justru banyak di antara mereka yang memiliki kebiasaan yang sebenarnya ingin Anda ubah?
Jawabannya mungkin memberi kita gambaran tentang diri kita sendiri sebagai pemimpin.
Tentu saja manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar hasil dari kepemimpinan seseorang. Ada faktor keluarga, pendidikan, pengalaman, lingkungan, dan pilihan pribadi yang turut membentuk karakter seseorang. Karena itu, prinsip ini tidak boleh dipahami secara terlalu sederhana seolah-olah semua orang di sekitar kita adalah cerminan sempurna diri kita.
Namun sebagai prinsip refleksi, gagasan ini tetap sangat berguna: orang-orang yang kita tarik sering kali memberi petunjuk tentang siapa kita dan apa yang kita bangun.
Maka, sebelum bertanya, “Mengapa saya mendapatkan orang-orang seperti ini?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan:
“Apa yang ada dalam diri saya sehingga orang-orang seperti ini tertarik untuk berjalan bersama saya?”
Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang memengaruhi orang lain. Kepemimpinan juga tentang menjadi pribadi yang layak diikuti oleh orang-orang yang kita harapkan hadir dalam perjalanan kita.
Dan jika kita ingin menarik orang-orang yang lebih baik, mungkin langkah pertama bukan mencari mereka lebih jauh. Mungkin kita perlu bertumbuh menjadi pribadi yang mampu menarik mereka. [af]







Tinggalkan Balasan