Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang melihat apa yang sudah dilakukannya dengan baik, lalu mengatakannya dengan tulus. Sebuah pujian yang sederhana mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi bagi orang yang menerimanya, dampaknya bisa jauh lebih panjang.
Meneguhkan pada dasarnya berarti membuat seseorang menjadi lebih teguh. Ketika kita mengatakan kepada seseorang bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan baik, kita sebenarnya sedang memperkuat keyakinannya terhadap sikap atau kemampuan yang dimilikinya. Pujian yang tepat bukan hanya membuat orang merasa dihargai, tetapi juga membantu mereka melihat bahwa apa yang mereka lakukan memiliki nilai.
Karena itu, ketika kita memuji sikap baik seseorang, sebenarnya kita sedang memberikan alasan kepadanya untuk mempertahankan sikap tersebut. Seorang anak yang dipuji karena kejujurannya, misalnya, akan semakin memahami bahwa kejujuran adalah sesuatu yang layak dipertahankan. Demikian pula seorang rekan kerja yang mendapat apresiasi karena ketelitiannya akan lebih terdorong untuk mempertahankan standar kerja yang sama.
Pujian dapat memperkuat perilaku
Kita sering menganggap pujian sebagai bentuk basa-basi. Padahal, dalam hubungan antarmanusia, pujian dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat perilaku yang baik. Apa yang mendapat perhatian dan penghargaan cenderung lebih mudah diulang.
Masalahnya, kita sering lebih cepat melihat kesalahan daripada kebaikan. Ketika seseorang melakukan kekeliruan, kita segera memberikan komentar. Tetapi ketika ia melakukan sesuatu dengan baik, kita menganggapnya sebagai hal yang memang seharusnya dilakukan sehingga tidak perlu diberi apresiasi.
Padahal, justru pada saat itulah sebuah pujian memiliki nilai. Bukan karena orang tersebut membutuhkan sanjungan setiap saat, tetapi karena manusia perlu tahu bahwa usaha dan sikap baiknya terlihat oleh orang lain.
Pujian juga tidak harus berlebihan. Bahkan, pujian yang terlalu umum sering kehilangan makna. Kalimat seperti “Kamu hebat” tentu menyenangkan untuk didengar, tetapi akan jauh lebih bermakna jika kita mengatakan, “Saya melihat bagaimana kamu tetap tenang ketika menghadapi masalah tadi. Sikap itu membantu tim mengambil keputusan dengan lebih baik.”
Pujian yang spesifik menunjukkan bahwa kita benar-benar memperhatikan. Di situlah letak kekuatannya.
Meneguhkan impian seseorang
Pujian tidak hanya berkaitan dengan apa yang sudah dilakukan seseorang. Kadang-kadang, pujian juga dapat meneguhkan sesuatu yang sedang mereka perjuangkan.
Ada orang yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi belum cukup percaya diri untuk mengakuinya. Ada pula yang mempunyai impian, tetapi terlalu banyak mendengar suara keraguan dari dalam dirinya maupun dari orang lain. Dalam keadaan seperti itu, sebuah kalimat sederhana dari orang yang dipercaya dapat menjadi penguat.
Bukan berarti kita harus memuji semua impian tanpa pertimbangan. Meneguhkan seseorang bukan berarti mengatakan bahwa semua pilihannya pasti benar. Yang kita teguhkan adalah usaha, keberanian, kualitas, atau potensi yang memang kita lihat dalam dirinya.
Misalnya, seseorang sedang belajar menjadi pemimpin dan merasa dirinya belum cukup baik. Kita mungkin melihat bahwa ia memang masih memiliki banyak kekurangan, tetapi kita juga melihat bahwa ia mau mendengarkan, mau belajar, dan bersedia bertanggung jawab. Mengatakan, “Saya melihat kamu punya kemauan untuk menjadi pemimpin yang baik karena kamu mau belajar dari kesalahan,” jauh lebih berguna daripada sekadar mengatakan, “Kamu pasti bisa.”
Pujian seperti itu membantu seseorang melihat dirinya dari sudut pandang yang mungkin belum mampu ia lihat sendiri.
Orang yang sukses pun tetap membutuhkan dorongan
Kadang-kadang kita mengira bahwa orang yang sudah berhasil tidak lagi membutuhkan pujian. Bukankah mereka sudah tahu bahwa dirinya berhasil?
Ternyata tidak selalu demikian. Kesuksesan tidak membuat seseorang kebal terhadap kebutuhan untuk dihargai. Seorang pemimpin tetap membutuhkan apresiasi. Seorang profesional yang berpengalaman tetap ingin mengetahui bahwa pekerjaannya memberikan manfaat. Bahkan orang yang tampak percaya diri pun pada suatu titik membutuhkan seseorang yang mengatakan, “Saya melihat usaha yang kamu lakukan.”
George Matthew Adams pernah menulis bahwa dalam kehidupan setiap orang terdapat banyak masa puncak yang dapat terjadi karena pujian dan dorongan dari seseorang. Ia bahkan menggambarkan dorongan sebagai “oksigen bagi jiwa”. Gagasan yang sama dikutip John C. Maxwell dalam 25 Ways to Win with People: pekerjaan yang baik sulit diharapkan dari seseorang yang tidak pernah mendapatkan dorongan atau penghargaan.
Bagi saya, ini bukan sekadar soal membuat orang merasa senang. Ada sesuatu yang lebih penting di dalamnya. Ketika kita memberikan apresiasi yang tulus, kita sedang mengatakan kepada seseorang bahwa keberadaan, usaha, atau kontribusinya diperhatikan.
Belajar lebih sering melihat yang baik
Mungkin salah satu alasan kita jarang memuji adalah karena kita terbiasa mencari apa yang salah. Di tempat kerja, perhatian kita tertuju pada target yang belum tercapai. Dalam keluarga, kita mudah melihat kebiasaan yang mengganggu. Dalam organisasi, kita lebih cepat membicarakan orang yang tidak menjalankan tugas daripada mereka yang diam-diam bekerja keras menyelesaikannya.
Bukan berarti kesalahan tidak perlu dikoreksi. Tentu saja perlu. Tetapi sebuah hubungan akan menjadi berat jika komunikasi kita hampir selalu berisi koreksi, sementara apresiasi hanya muncul sesekali.
Karena itu, mungkin kita perlu melatih diri untuk lebih peka terhadap hal-hal baik yang dilakukan orang lain. Perhatikan rekan kerja yang menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Hargai anak yang berusaha bertanggung jawab meskipun hasilnya belum sempurna. Apresiasi pasangan yang melakukan sesuatu yang mungkin selama ini kita anggap biasa.
Sering kali yang dibutuhkan bukan pujian yang besar, melainkan pengakuan yang jujur terhadap sesuatu yang memang layak dihargai.
Pada akhirnya, pujian yang baik bukan tentang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Pujian yang baik justru membantu seseorang menjadi lebih teguh pada hal-hal baik yang sudah ada dalam dirinya.
Mungkin ada orang di sekitar kita yang sedang meragukan dirinya sendiri. Mungkin ia sedang mempertanyakan apakah usahanya berarti, apakah kemampuannya cukup, atau apakah ia berada di jalan yang benar. Kita tidak selalu dapat menyelesaikan keraguannya. Tetapi mungkin kita dapat memberinya satu kalimat yang membuatnya kembali percaya untuk melangkah.
Karena itu, sebelum terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, barangkali ada baiknya kita bertanya: kebaikan apa yang sudah saya lihat hari ini, tetapi belum saya katakan kepada orang yang melakukannya? [af]







Tinggalkan Balasan