Edward Watson Howe pernah berkelakar, “Tidak ada orang yang akan mendengarkan Anda berbicara jika ia tidak tahu bahwa dialah pembicara berikutnya.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menggambarkan kebiasaan banyak orang ketika berkomunikasi. Kita sering kali terlihat mendengarkan, padahal di dalam kepala sedang menyiapkan jawaban, menyusun bantahan, atau sekadar menunggu kesempatan untuk kembali berbicara.
Mendengarkan ternyata tidak sesederhana diam ketika orang lain berbicara. Ada perbedaan antara sekadar mendengar suara dengan benar-benar berusaha memahami apa yang sedang disampaikan. Orang yang memiliki pengaruh biasanya memahami perbedaan ini. Mereka tidak terburu-buru menunjukkan bahwa dirinya tahu, tetapi memberi ruang kepada orang lain untuk berbicara dan menyampaikan pikirannya.
Ketika Lyndon B. Johnson masih menjadi senator muda dari Texas, ia memasang sebuah tulisan di dinding kantornya: “You ain’t learnin’ nothin’ when you’re doin’ all the talkin’.” Kurang lebih artinya, kita tidak akan belajar apa-apa jika terus-menerus menjadi orang yang paling banyak berbicara. Ada pelajaran sederhana di balik kalimat tersebut: semakin banyak kita berbicara, semakin sedikit kesempatan yang kita berikan kepada diri sendiri untuk belajar.
Woodrow Wilson, Presiden Amerika Serikat ke-28, pernah mengatakan, “Telinga seorang pemimpin harus penuh dengan suara rakyat.” Bagi saya, kalimat ini menarik karena kepemimpinan ternyata tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk berbicara dan memberikan arahan. Seorang pemimpin juga perlu memiliki kesediaan untuk mendengarkan orang-orang yang dipimpinnya.
Mendengarkan adalah bentuk penghargaan
Ketika kita benar-benar mendengarkan seseorang, sesungguhnya kita sedang mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan penting untuk diperhatikan. Karena itu, mendengarkan merupakan salah satu bentuk penghargaan yang sederhana tetapi sering dilupakan.
Dalam pekerjaan, misalnya, seorang atasan mungkin merasa sudah memberikan banyak kesempatan kepada bawahannya untuk berbicara. Namun, jika setiap kali bawahan menyampaikan pendapat sang atasan langsung memotong, menghakimi, atau sibuk menyiapkan jawaban, sebenarnya kesempatan untuk berbicara itu tidak banyak berarti.
Orang tidak selalu membutuhkan kita untuk menyelesaikan masalah mereka. Kadang-kadang mereka hanya ingin didengarkan terlebih dahulu. Dari sinilah hubungan yang baik mulai dibangun.
Mendengarkan membuat kita lebih memahami
Ada banyak hal yang tidak akan kita ketahui jika kita terlalu sibuk berbicara. Dengan mendengarkan, kita memperoleh informasi, memahami sudut pandang yang berbeda, dan melihat persoalan dari perspektif yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Dalam sebuah organisasi, misalnya, masalah yang terlihat sederhana dari ruang rapat bisa terasa sangat berbeda bagi orang yang mengerjakannya setiap hari. Seorang pemimpin yang mau turun dan mendengarkan orang di lapangan akan mendapatkan informasi yang tidak selalu muncul dalam laporan atau presentasi.
Karena itu, mendengarkan bukan hanya persoalan hubungan antarmanusia. Mendengarkan juga merupakan cara untuk mendapatkan informasi yang lebih baik sebelum mengambil keputusan.
Mendengarkan membuka ruang bagi ide
Kadang-kadang kita terlalu cepat memberikan solusi karena merasa sudah memahami persoalan. Padahal, jika kita mau mendengarkan lebih lama, bisa jadi kita menemukan bahwa persoalannya tidak seperti yang kita bayangkan.
Ide yang baik juga tidak selalu datang dari orang yang paling senior atau paling banyak berbicara. Dalam sebuah tim, gagasan sederhana dari seseorang yang setiap hari berhadapan langsung dengan pelanggan, mesin, proses kerja, atau masalah operasional bisa jadi jauh lebih berguna daripada teori yang dibicarakan dalam ruang rapat.
Itulah sebabnya pemimpin yang baik tidak hanya bertanya, “Apa pendapat saya tentang masalah ini?” tetapi juga, “Apa yang belum saya dengar dari orang-orang yang terlibat di dalamnya?”
Mendengarkan membangun kepercayaan
Saya kira salah satu manfaat terbesar dari mendengarkan adalah tumbuhnya kepercayaan. Ketika seseorang merasa didengarkan, ia akan lebih mudah merasa dihargai. Dari sana, komunikasi menjadi lebih terbuka dan hubungan menjadi lebih kuat.
Roger G. Imhoff mengatakan, “Biarlah orang merasa yakin dengan diri Anda. Mungkin mendengarkan tidak membantu Anda, tetapi pasti akan membantu mereka.” Pada pandangan pertama, mendengarkan memang terlihat seperti sesuatu yang lebih banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Namun, sebenarnya kita juga mendapatkan manfaat yang besar darinya.
Dengan mendengarkan, kita membangun hubungan, mendapatkan informasi, memperluas pemahaman, menemukan ide, dan pada akhirnya membangun kepercayaan. Dalam jangka panjang, semua itu merupakan modal penting bagi seseorang yang ingin memengaruhi orang lain.
Tidak semua percakapan harus dimenangkan
Ada satu kebiasaan yang menurut saya perlu kita periksa dalam diri sendiri: keinginan untuk selalu memberikan respons. Kita merasa harus memiliki jawaban, harus memberikan pendapat, atau harus menunjukkan bahwa kita memahami persoalan.
Padahal, tidak semua percakapan membutuhkan jawaban dari kita. Ada kalanya orang lain hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Tugas kita bukan langsung memberikan nasihat, melainkan memahami terlebih dahulu.
Mungkin inilah bagian yang paling sulit dari mendengarkan. Kita harus menahan keinginan untuk menjadi pusat percakapan. Kita harus bersedia sejenak menyingkirkan ego dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyelesaikan pikirannya.
John C. Maxwell, dalam Becoming a Person of Influence, menempatkan kemampuan mendengarkan sebagai salah satu bagian penting dalam membangun pengaruh. Pengaruh ternyata tidak selalu dimulai dari seberapa baik kita berbicara. Bisa jadi justru dimulai dari seberapa sungguh-sungguh kita mendengarkan.
Mendengarkan dengan baik bukan berarti kita harus selalu setuju dengan apa yang dikatakan orang lain. Mendengarkan berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk dipahami sebelum kita memutuskan untuk menanggapi.
Mungkin karena itu, menjadi pendengar yang baik sebenarnya bukan perkara kehilangan kesempatan untuk berbicara. Sebaliknya, kita sedang membuka kesempatan untuk belajar sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Barangkali, mulai hari ini kita bisa mencoba satu hal sederhana: ketika seseorang berbicara kepada kita, jangan buru-buru memikirkan apa yang akan kita katakan berikutnya. Dengarkan sampai ia selesai. Pahami sebelum menjawab. Bisa jadi, dari percakapan yang selama ini kita anggap biasa, ada sesuatu yang sebenarnya sedang mengajarkan kita banyak hal. [af]







Tinggalkan Balasan