Rasa Takutmu Habis untuk Apa? Catatan tentang Keberanian Seorang Pemimpin

“Keberanian bukan tentang menghilangkan rasa takut, melainkan memilih untuk takut pada hal yang tepat.”

Bagikan:

keberanian
Daftar Isi

Banyak orang membayangkan pemimpin yang berani sebagai sosok yang tidak pernah gentar. Ia mengambil keputusan besar tanpa ragu, berbicara lantang di depan forum, dan seolah tidak mengenal rasa cemas. Gambaran seperti ini terdengar heroik, tetapi justru menyesatkan. Kalau keberanian berarti tidak punya rasa takut, hampir tidak ada orang yang memenuhi syarat untuk memimpin.

Kenyataannya lebih sederhana dan sekaligus lebih menantang. Orang yang berani tetap merasakan takut. Perbedaannya ada pada apa yang mereka takuti, dan apa yang mereka lakukan dengan rasa takut itu.

Satu Sifat yang Selalu Muncul pada Pemimpin Efektif

Dalam The 21 Indispensable Qualities of a Leader, John C. Maxwell mengutip pengamatan Larry Osborne yang menarik. Menurut Osborne, para pemimpin yang efektif ternyata sangat sedikit kesamaannya. Gaya mereka berbeda, cara berpikir mereka berbeda, bahkan apa yang diyakini benar oleh satu pemimpin bisa dibantah oleh pemimpin lain. Namun ada satu sifat yang hampir selalu muncul: kesediaan mereka menanggung risiko.

Pengamatan ini penting karena menggeser fokus kita. Selama ini kita sering mencari “rumus pemimpin hebat” pada karisma, kecerdasan, atau kemampuan berbicara. Padahal semua itu ternyata bervariasi. Yang konsisten justru sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kemauan untuk melangkah ketika hasilnya belum pasti.

Sejarawan Romawi, Tacitus, pernah menulis bahwa hasrat untuk merasa aman menghambat setiap usaha yang besar dan mulia. Kalimat itu terasa keras, tetapi masuk akal. Hampir semua hal yang berarti, seperti membuka program baru, memperbaiki sistem yang rusak, menegur orang yang keliru, atau memulai sesuatu dari nol, menuntut kita keluar dari wilayah yang nyaman. Rasa aman itu sendiri tidak salah. Masalahnya muncul ketika rasa aman berubah menjadi tujuan utama, sehingga setiap keputusan diukur dari seberapa kecil risikonya, bukan seberapa besar manfaatnya.

Ironi yang Jarang Disadari: Jumlah Ketakutannya Sama

Ada satu gagasan dari Maxwell yang menurut saya paling layak direnungkan. Orang yang berani mengambil risiko dan orang yang tidak berani, ternyata mengalami jumlah ketakutan yang kurang lebih sama dalam hidup mereka. Bedanya, orang yang menghindari peluang menghabiskan rasa takutnya untuk hal-hal yang remeh.

Coba perhatikan baik-baik. Orang yang tidak pernah berani mengambil keputusan besar tidak lantas hidup tenang. Ia tetap cemas, hanya saja kecemasannya berpindah ke hal kecil: takut dikomentari rekan kerja, takut salah bicara di grup, takut terlihat tidak sempurna, takut atasan tidak suka. Energi takutnya tetap terpakai, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Sebaliknya, orang yang berani juga takut. Ia takut programnya gagal, takut timnya kecewa, takut keputusannya keliru. Namun ketakutan itu melekat pada sesuatu yang bermakna. Ia takut karena sedang mempertaruhkan hal yang penting, dan karena itu rasa takutnya ikut mendorongnya untuk bersiap lebih matang.

Jadi pertanyaannya bukan lagi “bagaimana agar saya tidak takut?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah: “Rasa takut saya selama ini habis untuk apa?” Jika toh kita akan merasa takut, bukankah lebih baik takut karena sedang memperjuangkan sesuatu yang besar, daripada takut karena hal-hal yang sebenarnya tidak penting?

Islam Tidak Memuliakan Rasa Aman yang Melemahkan

Menariknya, Islam tidak memandang sifat pengecut sebagai kehati-hatian. Rasulullah ﷺ bahkan memasukkannya ke dalam daftar hal yang beliau mohonkan perlindungan darinya. Dalam doa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 2823) dan Muslim (no. 2706), beliau berlindung kepada Allah dari sifat lemah, malas, pengecut, dan pikun. Sifat pengecut disejajarkan dengan kelemahan dan kemalasan, karena ketiganya sama-sama membuat seseorang tidak bergerak ketika seharusnya bergerak.

Di hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan. Lalu beliau berpesan agar kita bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak bersikap lemah (HR. Muslim no. 2664). Perhatikan urutannya: mengejar manfaat, bersandar kepada Allah, lalu jangan lemah. Keberanian dalam Islam bukan nekat, melainkan langkah yang diarahkan pada kebaikan dan disandarkan pada pertolongan Allah.

Inilah yang membedakan berani dengan sembrono. Orang sembrono mengambil risiko demi sensasi atau gengsi. Orang berani mengambil risiko karena ada manfaat yang ingin diraih, dan ia sadar bahwa hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada di tangannya.

Seperti Apa Wujudnya dalam Pekerjaan Sehari-hari?

Keberanian dalam kepemimpinan jarang terlihat dramatis. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang kepala cabang yang tahu bahwa cara kerja timnya sudah tidak efektif. Angka stagnan, laporan rapi tetapi hasil di lapangan tidak bertambah. Ia punya dua pilihan. Pilihan pertama adalah mempertahankan pola lama, karena pola itu aman dan tidak memancing protes. Pilihan kedua adalah mengajak tim mencoba pendekatan baru yang belum tentu berhasil, dengan risiko ia yang pertama disalahkan jika gagal.

Pilihan pertama terasa nyaman, tetapi sebenarnya ia sedang memilih untuk takut pada hal yang kecil: takut ditanya, takut dikritik, takut terlihat salah. Pilihan kedua lebih menegangkan, tetapi ketakutannya melekat pada hal yang layak diperjuangkan, yaitu masa depan timnya.

Wujud keberanian lain bisa lebih sederhana lagi. Berani mengakui kesalahan di depan tim. Berani mengatakan “tidak” pada permintaan yang menyimpang dari tujuan. Berani memberi kepercayaan kepada orang muda yang belum terbukti. Berani memulai, meskipun belum semua hal terlihat jelas. Tidak ada satu pun dari contoh ini yang akan masuk berita, tetapi justru di sinilah kualitas seorang pemimpin diuji setiap hari.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat relevan untuk situasi seperti ini. Setelah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk bermusyawarah, Allah berfirman: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah” (QS. Ali ‘Imran: 159). Ayat ini menunjukkan urutan yang sehat bagi seorang pemimpin: dengarkan, pertimbangkan, putuskan, lalu melangkah dengan tawakal. Musyawarah bukan alasan untuk menunda selamanya, dan tawakal bukan alasan untuk tidak berpikir.

Keberanian Itu Dilatih, Bukan Ditunggu

Banyak orang menunggu rasa berani datang terlebih dahulu sebelum bertindak. Padahal urutannya sering terbalik. Eleanor Roosevelt, dalam pengamatannya yang juga dikutip Maxwell, menjelaskan bahwa kekuatan dan keyakinan tumbuh dari setiap pengalaman ketika kita benar-benar berhenti dan menghadapi rasa takut. Setiap kali berhasil melewatinya, kita punya bukti kecil bahwa kita juga sanggup menghadapi ketakutan berikutnya. Karena itu, menurutnya, kita perlu melakukan hal yang kita kira tidak mampu kita lakukan.

Artinya, keberanian bekerja seperti otot. Ia tidak muncul dari membaca tentang keberanian, tetapi dari menggunakannya sedikit demi sedikit. Mulailah dari risiko yang terukur: menyampaikan pendapat yang berbeda dalam rapat, mencoba satu pendekatan baru dalam skala kecil, atau mengambil tanggung jawab yang selama ini dihindari. Setiap langkah kecil itu memperluas batas rasa aman kita, sehingga keputusan yang dulu terasa mustahil perlahan menjadi masuk akal.

Ini juga berarti kegagalan bukan bukti bahwa kita tidak berani. Kegagalan sering kali justru biaya dari keberanian itu sendiri. Orang yang tidak pernah gagal mungkin bukan orang yang paling cakap, melainkan orang yang paling jarang mencoba. Soal bagaimana bangkit setelah langkah yang tidak berjalan sesuai rencana, saya pernah menuliskannya dalam tulisan bangkit, mengatasi, dan maju terus.

Hidup yang Tidak Pernah Benar-benar Dimulai

John Henry Newman, teolog Inggris, pernah mengingatkan bahwa yang perlu ditakutkan bukanlah berakhirnya hidup, melainkan hidup yang tidak pernah benar-benar dimulai. Kalimat ini terasa sangat dekat dengan dunia kepemimpinan. Ada orang yang memegang jabatan bertahun-tahun, tetapi tidak pernah benar-benar memimpin. Ia hadir, menandatangani, melaporkan, namun tidak pernah mempertaruhkan apa pun untuk perubahan.

Pada akhirnya, kita semua akan merasakan takut. Itu bagian dari menjadi manusia, dan tidak ada yang perlu disesali dari situ. Yang perlu kita periksa adalah ke mana rasa takut itu kita belanjakan. Apakah ia habis untuk menjaga citra, menghindari komentar, dan mempertahankan kenyamanan? Atau ia kita arahkan pada sesuatu yang sungguh layak diperjuangkan?

Mungkin keberanian bukan tentang menghilangkan rasa takut. Mungkin keberanian adalah keputusan sederhana untuk takut pada hal yang tepat. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *