Terimalah Persaingan yang Sehat: Cermin Jujur untuk Mengukur Diri

“Persaingan menjadi sehat ketika keinginan untuk unggul membuat kita lebih rendah hati.”

Bagikan:

persaingan sehat
Daftar Isi

Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita jawab dengan jujur: apakah pekerjaan saya hari ini sudah baik? Untuk ukuran jangka panjang, kita biasanya punya pegangan seperti target bulanan, sasaran tahunan, atau indikator kinerja dari kantor. Tetapi untuk hari ini, minggu ini, atau pekerjaan yang baru saja selesai, kita sering tidak punya alat ukur yang jelas. Akhirnya kita menilai diri dengan perasaan: kalau merasa sibuk, kita anggap produktif. Kalau merasa lelah, kita anggap sudah berusaha maksimal.

Masalahnya, perasaan bukan alat ukur yang bisa dipercaya. Ada hari ketika kita sangat sibuk tetapi tidak menghasilkan apa-apa, dan ada hari yang terasa ringan tetapi justru paling berdampak. Karena itu, pertanyaan tentang efektivitas layak dipikirkan lebih serius: dengan apa sebenarnya kita mengukur diri?

Daftar Tugas Tidak Selalu Bisa Dipercaya

Cara paling umum untuk menilai hari kerja adalah melihat daftar tugas. Kalau semua sudah dicentang, kita merasa berhasil. Cara ini tidak salah, tetapi ada satu kelemahan yang jarang disadari: daftar itu kita buat sendiri. Jika standar yang kita tetapkan terlalu rendah, kita akan selalu “berhasil”, padahal sebenarnya hanya memenuhi ekspektasi yang kita turunkan sendiri.

Pilihan lain adalah bertanya kepada atasan. Ini juga berguna, tetapi tidak selalu memungkinkan setiap hari, dan atasan pun tidak selalu melihat seluruh pekerjaan kita. Ada pula orang yang bekerja tanpa atasan langsung, seperti pelaku usaha, relawan, atau mereka yang bekerja mandiri di lapangan. Mereka butuh cermin lain.

Dalam The 360° Leader, John C. Maxwell menawarkan cermin yang cukup sederhana: lihatlah apa yang dikerjakan orang lain di lini pekerjaan yang sama. Jika Anda berada di depan mereka, itu memberi tahu Anda sesuatu. Jika Anda tertinggal, itu juga memberi tahu sesuatu, dan mungkin ada hal yang perlu diperbaiki. Maxwell tidak mengatakan bahwa ini satu-satunya cara menilai diri, tetapi menurutnya ini adalah pemeriksaan realitas yang baik.

Mengapa Kita Enggan Membandingkan Diri

Gagasan ini terdengar masuk akal, tetapi dalam praktik banyak orang menghindarinya. Sebagian karena perbandingan sering diasosiasikan dengan iri hati. Kita diajari sejak kecil untuk tidak membanding-bandingkan, karena perbandingan bisa membuat orang minder atau sombong. Nasihat itu ada benarnya, terutama jika yang dibandingkan adalah harta, penampilan, atau keberuntungan hidup.

Namun ada alasan lain yang lebih jarang diakui: perbandingan membuat kita tidak nyaman. Selama kita hanya mengukur diri dengan standar sendiri, kita aman dari kenyataan bahwa mungkin ada orang lain yang bekerja lebih baik dengan kondisi yang mirip. Menghindari perbandingan kadang bukan bentuk kerendahan hati, melainkan cara halus untuk melindungi diri dari kebenaran yang kurang enak didengar.

Di sinilah persoalannya perlu dilihat ulang. Masalahnya bukan pada membandingkan, tetapi pada apa yang dibandingkan dan untuk apa perbandingan itu dilakukan. Membandingkan diri untuk merasa lebih tinggi atau merendahkan orang lain jelas merusak. Tetapi membandingkan diri untuk mengetahui di mana kita berdiri dan apa yang bisa dipelajari adalah hal yang sama sekali berbeda.

Islam Tidak Mematikan Semangat Berlomba

Menariknya, Islam tidak meminta kita mematikan semangat bersaing. Yang diarahkan adalah medannya. Ketika Al-Qur’an menggambarkan kenikmatan yang disiapkan bagi orang-orang yang berbuat baik, Allah menutupnya dengan kalimat: “…dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26). Persaingan tidak dihapus, tetapi diberi arah. Kita boleh, bahkan didorong, untuk berlomba dalam hal yang bernilai.

Rasulullah ﷺ juga membedakan dengan jelas antara iri yang tercela dan iri yang terpuji. Beliau bersabda bahwa tidak boleh ada hasad kecuali pada dua orang: orang yang diberi harta lalu menghabiskannya di jalan kebenaran, dan orang yang diberi ilmu lalu mengamalkan serta mengajarkannya (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816). Para ulama menyebut jenis iri ini sebagai ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki kebaikan yang sama tanpa berharap kebaikan itu hilang dari orang lain. Inilah inti persaingan yang sehat.

Contoh paling indah datang dari Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat bersedekah, Umar berkata dalam hati bahwa hari itu ia akan mengungguli Abu Bakar. Ia membawa separuh hartanya. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Umar pun berkata bahwa ia tidak akan pernah bisa mendahului Abu Bakar dalam hal apa pun (HR. Abu Dawud no. 1678 dan Tirmidzi no. 3675, dinilai hasan). Perhatikan bahwa Umar terang-terangan ingin menang, tetapi kekalahannya tidak membuatnya dengki. Ia justru semakin menghormati Abu Bakar. Persaingan itu membuat keduanya lebih baik, dan tidak ada yang dirugikan.

Garis Tipis antara Sehat dan Merusak

Jika persaingan bisa sehat atau merusak, bagaimana kita tahu sedang berada di sisi mana? Ada beberapa tanda yang cukup jelas jika kita mau jujur. Dalam persaingan yang sehat, kita ingin belajar dari orang yang lebih baik. Dalam persaingan yang merusak, kita diam-diam berharap orang itu gagal. Yang pertama membuat kita bertanya, “Apa yang dia lakukan dan belum saya lakukan?” Yang kedua membuat kita mencari alasan, “Dia kan wilayahnya lebih mudah.”

Tanda lainnya terlihat pada cara kita memperlakukan informasi. Orang yang bersaing secara sehat tidak keberatan berbagi cara kerja, karena ia tahu keunggulannya tidak bergantung pada ketidaktahuan orang lain. Sebaliknya, persaingan yang tidak sehat cenderung menyembunyikan, menutup akses, bahkan menjatuhkan. Dalam jangka pendek mungkin terlihat menang, tetapi dalam jangka panjang ia merusak kepercayaan dan memiskinkan seluruh tim.

Ada satu tanda lagi yang sering terlewat: persaingan sehat membuat kita fokus pada perbaikan diri, bukan pada posisi. Peringkat hanyalah informasi, bukan identitas. Saat kita berada di depan, itu bukan alasan untuk berhenti belajar. Saat kita tertinggal, itu bukan vonis bahwa kita tidak mampu.

Menerapkannya dalam Pekerjaan dan Organisasi

Lalu bagaimana menjadikan persaingan sebagai cermin yang berguna? Langkah pertama adalah memilih pembanding yang setara. Membandingkan diri dengan orang yang kondisinya sangat berbeda hanya menghasilkan rasa frustrasi atau rasa puas yang palsu. Bandingkan dengan rekan di posisi yang mirip, menghadapi tantangan yang mirip, dengan sumber daya yang tidak jauh berbeda.

Langkah kedua, bandingkan prosesnya, bukan hanya hasilnya. Sebagai ilustrasi, bayangkan dua petugas lapangan di lembaga yang sama dengan wilayah yang ukurannya serupa. Yang satu konsisten menghasilkan lebih banyak dukungan dari masyarakat. Jika yang tertinggal hanya melihat angka, ia akan merasa kalah. Tetapi jika ia melihat lebih dekat, mungkin ia menemukan bahwa rekannya lebih rajin menindaklanjuti, lebih rapi mencatat, atau lebih sabar membangun hubungan. Angka memberi tahu bahwa ada perbedaan, sementara proses memberi tahu mengapa.

Langkah ketiga, bertanyalah langsung. Ini mungkin bagian yang paling berat bagi ego, tetapi paling cepat hasilnya. Mendatangi orang yang lebih unggul dan bertanya bagaimana cara ia bekerja adalah bentuk kerendahan hati yang produktif. Kebanyakan orang yang bekerja dengan baik senang berbagi, terutama jika ditanya dengan tulus.

Bagi pemimpin, tanggung jawabnya lebih besar lagi. Pemimpin bisa menciptakan persaingan yang sehat atau yang merusak, tergantung bagaimana ia merancangnya. Papan peringkat tanpa ruang berbagi hanya akan melahirkan saling curiga. Tetapi papan peringkat yang disertai forum belajar, di mana yang unggul diminta menjelaskan cara kerjanya dan yang tertinggal dibantu tanpa dipermalukan, bisa mengangkat seluruh tim. Tujuan persaingan dalam organisasi bukan mencari siapa yang paling hebat, melainkan memastikan standar terbaik menyebar ke semua orang.

Cermin yang Kita Butuhkan

Pada akhirnya, menerima persaingan yang sehat adalah soal kejujuran. Kita bersedia melihat diri apa adanya, termasuk ketika gambarnya tidak sesuai dengan yang kita bayangkan. Orang yang menolak semua bentuk perbandingan mungkin merasa lebih tenang, tetapi ia juga kehilangan salah satu sumber umpan balik paling jernih yang tersedia setiap hari di sekitarnya.

Umar tidak malu mengakui bahwa ia ingin menang, dan tidak malu pula mengakui ketika ia kalah. Mungkin di situlah pelajaran terpentingnya. Persaingan menjadi sehat bukan ketika kita berhenti ingin unggul, tetapi ketika keinginan untuk unggul membuat kita lebih rendah hati, lebih mau belajar, dan lebih senang melihat orang lain juga menjadi baik.

Maka pertanyaannya bisa kita ubah sedikit. Bukan lagi “apakah saya lebih baik dari dia?”, melainkan: apa yang sudah ia pahami dan belum saya pahami? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *