Percaya pada Potensi Orang: Cara Paling Sederhana untuk Membuat Seseorang Bertumbuh

“Orang jarang berubah karena dikritik, tetapi sering berubah karena merasa dipercaya.”

Bagikan:

potensi orang
Daftar Isi

Ada satu kebiasaan yang hampir semua orang lakukan tanpa sadar. Kita menilai orang dari apa yang tampak hari ini, lalu memperlakukannya sesuai penilaian itu. Rekan kerja yang pernah lalai kita anggap tidak bisa dipercaya. Anak yang sering lupa mengerjakan tugas kita sebut pemalas. Anggota tim yang pendiam kita anggap tidak punya ide. Penilaian itu terasa adil karena didasarkan pada bukti, padahal ada satu hal yang sering terlewat: cara kita memperlakukan seseorang ikut menentukan akan menjadi apa dia nanti.

Kita Cenderung Melihat Orang dari Versi Terburuknya

Penilaian berdasarkan apa yang terlihat memang praktis. Ia cepat, terasa objektif, dan melindungi kita dari kekecewaan. Masalahnya, penilaian itu jarang tetap menjadi penilaian. Ia berubah menjadi sikap, sikap berubah menjadi perlakuan, dan perlakuan itu perlahan dibaca oleh orang yang bersangkutan sebagai pesan tentang siapa dirinya.

Orang yang terus diperlakukan sebagai “tidak bisa diandalkan” lama-lama berhenti berusaha untuk diandalkan. Untuk apa berusaha, kalau hasilnya tetap dipandang dengan curiga? Di titik ini, label yang awalnya hanya deskripsi berubah menjadi ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Kita merasa penilaian kita terbukti benar, tanpa menyadari bahwa kita ikut membantu membuatnya benar.

Al-Qur’an menyinggung bahaya ini dengan cara yang sangat praktis. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah melarang orang beriman saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Larangan ini bukan sekadar soal sopan santun. Sebutan yang terus diulang punya daya bentuk, dan cara kita menyebut seseorang sering kali menjadi cara orang itu memandang dirinya sendiri.

Apa yang Dimaksud Goethe

Johann Wolfgang von Goethe, penyair dan pemikir Jerman, menulis sebuah gagasan dalam novelnya Wilhelm Meisters Lehrjahre yang kemudian banyak dikutip. Kurang lebih ia mengatakan:

“jika kita memperlakukan orang hanya sebagaimana adanya, kita membuatnya lebih buruk; tetapi jika kita memperlakukannya seolah-olah ia sudah menjadi apa yang seharusnya, kita membawanya ke tempat yang semestinya ia capai.”

Kalimat ini mudah disalahpahami sebagai ajakan untuk berpura-pura. Padahal maksudnya lebih dalam. Setiap orang punya dua versi: versi yang terlihat hari ini dan versi yang mungkin ia capai. Pertanyaannya, versi mana yang kita ajak bicara? Kalau kita selalu berbicara kepada versi yang lemah, versi itulah yang terus menjawab. Kalau kita sesekali berbicara kepada versi yang lebih baik, ada kemungkinan versi itu mulai muncul.

Orang-Orang yang Pernah Melihat Sesuatu dalam Diri Kita

Cobalah mengingat orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda. Mungkin seorang guru yang membuat Anda yakin bahwa Anda mampu. Mungkin seorang atasan yang memberi kesempatan sebelum Anda merasa siap. Mungkin seorang pembimbing yang mengatakan bahwa Anda punya sesuatu yang berharga, atau seseorang yang cukup percaya pada Anda hingga berani berkata, “Ya, saya bersedia” untuk menjalani hidup bersama.

Hampir selalu ada satu kesamaan di antara mereka. Mereka memercayai Anda lebih dulu, bahkan sebelum ada cukup bukti. Mereka melihat sesuatu yang belum Anda lihat dalam diri sendiri. Mereka tidak hanya hadir pada momen-momen penting dalam hidup Anda; dalam banyak hal, merekalah yang menciptakan momen-momen itu.

John C. Maxwell dalam Winning with People menyebut ini sebagai salah satu prinsip terpenting dalam hubungan antarmanusia: percayalah pada yang terbaik dalam diri orang lain, maka Anda akan mengeluarkan yang terbaik dari mereka. Ia bahkan mengajak pembacanya untuk memandang setiap orang sebagai “angka 10”, nilai tertinggi, bukan menunggu mereka membuktikan diri layak mendapat nilai itu.

Cara Nabi ﷺ Menyebut Kelebihan Lebih Dulu

Salah satu contoh paling indah tentang hal ini ada dalam cara Rasulullah ﷺ memperlakukan para sahabat. Suatu ketika beliau bersabda tentang Abdullah bin Umar, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, seandainya ia mau shalat malam.” Salim, putra Abdullah, menceritakan bahwa setelah itu ayahnya hanya tidur sedikit di malam hari (HR. Bukhari no. 1121 dan Muslim no. 2479).

Perhatikan susunannya. Nabi tidak berkata, “Abdullah kurang ibadah malamnya.” Beliau membuka dengan pengakuan atas kebaikan, lalu menunjukkan satu hal yang akan menyempurnakannya. Kritik itu tetap ada, tetapi diletakkan di dalam bingkai kepercayaan. Hasilnya bukan rasa tersinggung, melainkan perubahan yang bertahan seumur hidup.

Dalam hadits lain, Nabi berkata kepada Asyaj dari Bani Abdul Qais, “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah: kesabaran dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)” (HR. Muslim no. 17). Kalimat seperti ini memberi seseorang identitas yang layak dijaga. Orang yang tahu bahwa dirinya dikenal karena kesabarannya akan berpikir dua kali sebelum bertindak gegabah.

Percaya Bukan Berarti Menutup Mata

Di sinilah sering terjadi salah paham. Percaya pada potensi seseorang tidak sama dengan memuji tanpa dasar, membiarkan kesalahan, atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Pujian kosong justru merusak kepercayaan, karena orang bisa merasakan kapan kata-kata kita tidak tulus.

Kepercayaan yang sehat biasanya punya tiga unsur. Pertama, pengakuan yang jujur terhadap kelebihan yang memang ada, sekecil apa pun. Kedua, harapan yang jelas, karena percaya pada seseorang berarti percaya ia mampu memenuhi standar, bukan menurunkan standar untuknya. Ketiga, pendampingan, karena potensi tidak tumbuh hanya dengan dipercaya, tetapi juga dengan diberi ruang, kesempatan, dan bimbingan ketika ia tersandung.

Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang pemimpin tim yang memiliki anggota baru yang hasil kerjanya belum memuaskan. Pemimpin pertama berkata, “Kamu memang belum bisa diandalkan untuk tugas ini.” Pemimpin kedua berkata, “Saya lihat kamu teliti dalam mencatat data. Kemampuan itu penting untuk tugas ini. Minggu depan coba pegang satu bagian, nanti kita evaluasi bersama.” Kondisi anggota itu sama, tetapi arah pertumbuhannya kemungkinan besar akan sangat berbeda.

Dalam organisasi, dakwah, maupun kepemimpinan, perbedaan ini terasa nyata. Orang jarang meninggalkan pekerjaan yang berat; mereka lebih sering meninggalkan tempat di mana mereka merasa tidak dipercaya. Sebaliknya, banyak orang mau bertahan dalam situasi sulit karena ada satu orang yang terus meyakini bahwa mereka mampu.

Mulai dari Lingkaran Terdekat

Prinsip ini paling mudah diucapkan di ruang rapat, tetapi paling sulit dipraktikkan di rumah. Justru dengan orang-orang terdekat kita paling sering memakai label: pasangan yang “memang begitu orangnya”, anak yang “susah diatur”, saudara yang “tidak pernah berubah”. Kedekatan membuat kita merasa paling tahu, padahal sering kali yang kita tahu hanyalah versi lama dari mereka.

Karena itu, tempat terbaik untuk memulai adalah rumah. Sebutlah kebaikan pasangan dengan spesifik, bukan sekadar terima kasih umum. Ketika menegur anak, mulailah dari sifat baik yang Anda lihat dalam dirinya, lalu tunjukkan apa yang bisa ia perbaiki. Kebiasaan kecil seperti ini, jika dilakukan terus-menerus, perlahan mengubah cara keluarga memandang satu sama lain.

Setelah itu, perluas lingkarannya: rekan kerja, tim, jamaah, mitra, bahkan orang yang baru dikenal. Tidak perlu menunggu mereka sempurna untuk mulai memercayai sesuatu yang baik dalam diri mereka. Sering kali kepercayaan itulah yang menjadi alasan mereka mulai bergerak.

Menjadi Orang Itu bagi Orang Lain

Kita semua adalah hasil dari banyak hal, tetapi salah satunya adalah orang-orang yang pernah memilih untuk percaya kepada kita ketika kita sendiri belum yakin. Mereka tidak selalu tahu seberapa besar pengaruh mereka. Mungkin hanya satu kalimat, satu kesempatan, atau satu tatapan yang mengatakan, “Saya tahu kamu bisa.”

Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang pernah memercayai kita. Pertanyaannya adalah: siapa yang saat ini sedang menunggu seseorang memercayai mereka, dan apakah kita bersedia menjadi orang itu? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *