Memaknai Tahun Baru: Muhasabah, Bersyukur, dan Memperbaiki Diri

“Yang berubah ketika tahun berganti bukan hanya angka pada kalender, tetapi juga berkurangnya waktu yang kita miliki.”

Bagikan:

memaknai makna di tahun yang baru
Daftar Isi

Bagi kebanyakan orang, tahun baru, khususnya tanggal 1 Januari, adalah hari yang istimewa. Malam pergantian tahun biasanya dirayakan dengan berbagai cara: berkumpul bersama keluarga atau teman, menikmati pertunjukan, menyalakan kembang api, atau sekadar menunggu detik-detik pergantian tahun. Suasananya memang berbeda dari hari biasa.

Bagi saya, pergantian tahun sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Ia tidak lebih dari pergantian satu tanggal ke tanggal berikutnya. Tidak ada sesuatu yang berubah secara ajaib hanya karena angka tahun pada kalender berganti. Matahari tetap terbit seperti biasa, pekerjaan tetap menunggu, tanggung jawab tetap harus dijalankan, dan waktu terus berjalan tanpa menunggu kita siap atau tidak.

Namun, justru karena waktu terus berjalan itulah pergantian tahun semestinya membuat kita berhenti sejenak untuk melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui.

Berhati-hati dengan Cara Kita Merayakan Tahun Baru

Sebagai seorang Muslim, saya melihat ada hal lain yang perlu diperhatikan. Pergantian tahun jangan sampai diperlakukan seolah-olah menjadi sebuah perayaan yang wajib dilakukan setiap tahun. Apalagi jika bentuk perayaannya mengikuti ritual atau kebiasaan keagamaan umat lain.

Dalam Islam dikenal konsep tasyabbuh, yaitu menyerupai suatu kaum dalam perkara yang menjadi kekhususan mereka. Rasulullah SAW. bersabda:

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

(HR. Abu Dawud no. 403; Ahmad, 5/20).

Karena itu, seorang Muslim perlu berhati-hati agar tidak menjadikan pergantian tahun sebagai ritual keagamaan atau mengikuti bentuk perayaan yang memiliki makna keagamaan tertentu.

Secara sejarah, penanggalan 1 Januari sebagai awal tahun memang memiliki perjalanan panjang dalam tradisi Barat. Kalender yang kita gunakan sekarang, yaitu kalender Gregorian, juga mempunyai sejarah yang berkaitan dengan tradisi Eropa dan Gereja Katolik. Dalam perkembangannya, pergantian tahun kemudian menjadi tradisi sosial yang dilakukan oleh masyarakat di berbagai negara, termasuk masyarakat Muslim.

Karena itu, menurut saya, persoalannya bukan sekadar apakah kalender yang digunakan berasal dari sejarah tertentu atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang Muslim menempatkan dirinya terhadap sebuah tradisi. Jangan sampai sesuatu yang pada awalnya hanya berupa pergantian kalender berubah menjadi perayaan yang memiliki nilai ibadah atau ritual yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Lalu, kalau begitu, bagaimana sebaiknya seorang Muslim memaknai pergantian tahun?

Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah

Saya kira tidak ada salahnya menjadikan pergantian tahun sebagai momentum untuk muhasabah. Bukan karena tanggal 1 Januari memiliki keistimewaan tertentu dalam Islam, tetapi karena pergantian tahun secara psikologis dapat menjadi pengingat bahwa satu bagian dari hidup kita telah berlalu.

Padahal, muhasabah sebenarnya tidak perlu menunggu tahun baru. Setiap hari kita bisa melakukannya. Bahkan semakin sering seseorang mengevaluasi dirinya, semakin kecil kemungkinan ia membiarkan kesalahan berlangsung terlalu lama.

Secara sederhana, muhasabah berarti melakukan perhitungan atau evaluasi terhadap diri sendiri. Kita bertanya kepada diri sendiri: bagaimana ibadah saya selama ini? Apa saja kewajiban yang sudah saya jalankan? Apa yang masih saya tinggalkan? Kesalahan apa yang perlu saya perbaiki? Dan apakah kehidupan yang saya jalani hari ini semakin mendekatkan saya kepada Allah atau justru sebaliknya?

Allah SWT. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Ayat ini mengingatkan kita untuk memperhatikan apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan yang akan datang. Dalam tafsirnya, Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dasar dalam melakukan muhasabah. Seseorang perlu mengevaluasi dirinya; ketika menemukan kesalahan, ia segera memperbaikinya dan bertobat, sementara ketika menemukan kekurangan dalam menjalankan perintah Allah, ia berusaha memperbaikinya dengan meminta pertolongan kepada-Nya.

Dengan demikian, muhasabah bukan sekadar mengingat apa yang telah terjadi. Ia seharusnya menghasilkan perubahan.

Kalau sepanjang tahun kita menyadari masih banyak waktu yang terbuang, maka tahun berikutnya harus ada usaha untuk memperbaikinya. Kalau ibadah kita masih banyak kekurangan, maka perlu ada langkah nyata untuk memperbaikinya. Kalau hubungan dengan orang lain masih sering diwarnai ego dan emosi, mungkin sudah waktunya kita belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Inilah yang membuat muhasabah berbeda dengan sekadar mengenang masa lalu. Kita tidak hanya melihat ke belakang, tetapi menggunakan apa yang kita lihat untuk menentukan langkah berikutnya.

Jangan Hanya Membuat Resolusi, Buat Perubahan

Setiap menjelang tahun baru, kita juga sering mendengar istilah resolusi. Ada yang ingin hidup lebih sehat, membaca lebih banyak buku, memperbaiki karier, meningkatkan penghasilan, belajar sesuatu yang baru, atau lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Tidak ada yang salah dengan membuat resolusi. Bahkan menurut saya, membuat target untuk memperbaiki diri merupakan kebiasaan yang baik. Masalahnya bukan pada resolusinya, tetapi pada apa yang terjadi setelah resolusi itu dibuat.

Kita sering begitu bersemangat menuliskan berbagai rencana pada awal tahun, tetapi beberapa minggu kemudian semuanya kembali seperti semula. Karena itu, resolusi sebaiknya tidak berhenti pada daftar keinginan. Ia perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan dan tindakan yang bisa dilakukan secara konsisten.

Bagi seorang Muslim, resolusi juga seharusnya tidak hanya berbicara tentang pencapaian duniawi. Memperbaiki kualitas pekerjaan tentu baik. Meningkatkan kesehatan tentu penting. Memperbaiki kondisi keuangan juga merupakan sesuatu yang perlu diusahakan. Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa memperbaiki kualitas ibadah, akhlak, hubungan dengan keluarga, dan hubungan kita dengan Allah SWT.

Ada sebuah nasihat yang sering dikutip:

“Barang siapa hari ini lebih baik daripada kemarin, maka ia beruntung. Barang siapa hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk daripada kemarin, maka ia celaka.”

Nasihat ini sering dinisbatkan kepada Rasulullah SAW., tetapi riwayat tersebut dinilai dhaif oleh para ulama. Karena itu, saya tidak ingin menjadikannya sebagai hadits Nabi. Namun, sebagai sebuah nasihat tentang pentingnya evaluasi diri, maknanya tetap dapat kita renungkan selama tidak dianggap sebagai sabda Rasulullah SAW.

Yang penting bukan apakah kita memiliki resolusi yang banyak, tetapi apakah ada perbaikan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan kita.

Jangan Lupa Bersyukur

Ada satu hal lagi yang menurut saya tidak kalah penting ketika kita melewati pergantian tahun: bersyukur.

Kita sering sibuk menghitung apa yang belum kita miliki sehingga lupa menghitung apa yang sudah Allah berikan. Kita melihat target yang belum tercapai, tetapi lupa bahwa masih banyak nikmat yang sebenarnya sudah kita terima sepanjang perjalanan satu tahun terakhir.

Masih diberi kesehatan adalah nikmat. Masih diberi kesempatan bekerja adalah nikmat. Masih memiliki keluarga dan orang-orang yang menyayangi kita adalah nikmat. Masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan bertaubat juga merupakan nikmat yang sering kali tidak kita sadari.

Allah SWT. berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”

(QS. Ibrahim [14]: 7).

Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Justru sebaliknya, rasa syukur seharusnya membuat kita lebih sadar bahwa kesempatan yang diberikan Allah harus digunakan dengan sebaik-baiknya.

Karena itu, ketika satu tahun berakhir, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apa yang sudah saya dapatkan tahun ini?” tetapi juga, “Apa yang sudah saya lakukan dengan semua yang telah Allah berikan kepada saya?”

Tahun Berganti, Apa yang Berubah dalam Diri Kita?

Pada akhirnya, pergantian tahun hanyalah pergantian angka pada kalender. Waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Yang menjadi persoalan adalah apa yang kita lakukan dengan waktu yang terus berkurang itu.

Kita boleh menjadikan tahun baru sebagai momentum untuk membuat target, menyusun rencana, memperbaiki pekerjaan, membangun kebiasaan baru, atau menetapkan berbagai tujuan. Tetapi akan lebih bermakna jika semua itu diawali dengan muhasabah: melihat apa yang sudah kita lakukan, mengakui kekurangan, memperbaiki kesalahan, lalu melangkah kembali dengan kesadaran yang lebih baik.

Tidak perlu menunggu tahun baru untuk menjadi lebih baik. Tetapi jika pergantian tahun bisa membuat kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa satu tahun kehidupan telah berlalu, gunakanlah kesadaran itu untuk sesuatu yang lebih penting.

Sebab yang sebenarnya bertambah ketika tahun berganti bukan hanya usia kita. Jatah waktu kita juga semakin berkurang.

Maka, ketika kalender menunjukkan tahun yang baru, mungkin pertanyaan terpenting bukan “Apa yang akan saya rayakan?”, melainkan “Apa yang akan saya perbaiki?”

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari waktu yang telah berlalu, memperbaiki apa yang masih kurang, mensyukuri nikmat yang telah diberikan, dan menggunakan sisa waktu dengan lebih baik.

Semoga tahun yang baru bukan hanya menjadi tahun yang baru di kalender, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *