Pemimpin dan Batasan: Kapan Aturan Perlu Dipertanyakan?

“Pemimpin yang baik bukan yang paling berani menabrak batas, melainkan yang paling jernih membedakan nilai dari kebiasaan.”

Bagikan:

aturan bagi pemimpin
Daftar Isi

Sejak kecil kita dilatih untuk mengikuti aturan. Berbaris dengan lurus, mengerjakan pekerjaan rumah, mengangkat tangan sebelum bertanya. Sebagian besar aturan itu baik karena menjaga kita dari kekacauan dan membuat hidup bersama bisa berjalan. Namun ada satu hal yang jarang diajarkan bersamaan dengan aturan-aturan itu, yaitu kapan sebuah aturan perlu dipertanyakan. Akibatnya, banyak orang tumbuh menjadi pelaksana yang patuh, tetapi kesulitan ketika keadaan menuntut mereka mencari jalan yang belum pernah ditempuh.

Persoalan ini terasa sekali di dunia kerja dan organisasi. Kita sering bertemu tim yang rapi, tertib, dan disiplin, tetapi hasilnya tidak bergerak dari tahun ke tahun. Tidak ada yang salah dengan disiplinnya. Yang bermasalah adalah tidak ada seorang pun yang berani bertanya apakah cara yang sedang dijaga dengan disiplin itu masih cara yang tepat.

Aturan yang Menjaga dan Aturan yang Mengurung

Sebagian aturan bekerja seperti hukum alam. Jika sebuah batu bata dijatuhkan dari lantai dua, kita tahu batu itu akan jatuh ke tanah. Jika kita lupa memesan perlengkapan kantor, suatu hari kita akan kehabisan. Aturan semacam ini lahir dari hubungan sebab dan akibat yang jelas, dan melanggarnya hanya akan mendatangkan masalah.

Tetapi tidak semua aturan dalam organisasi lahir dari sebab-akibat yang seperti itu. Banyak aturan sebenarnya adalah jawaban atas masalah lama. Masalahnya sudah lama hilang, tetapi jawabannya tetap tinggal dan pelan-pelan berubah menjadi kebiasaan yang tidak lagi dipahami alasannya. Di sinilah aturan berhenti menjaga dan mulai mengurung.

Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah organisasi yang mewajibkan laporan kegiatan lapangan ditulis di formulir kertas lalu dikirim setiap akhir pekan. Aturan itu mungkin dibuat ketika jaringan internet belum bisa diandalkan di daerah. Bertahun-tahun kemudian, setiap orang sudah memegang ponsel, tetapi formulir kertas tetap berjalan. Tidak ada yang menentangnya, karena tidak ada yang ingat mengapa aturan itu dibuat. Yang tersisa hanyalah rasa bahwa “memang begini caranya.”

Mengapa Manajer Cenderung Menjaga Batas

John C. Maxwell dalam The 360° Leader membuat pembedaan yang menarik antara mengelola dan memimpin. Manajer, menurutnya, banyak mengandalkan aturan untuk memastikan proses yang diawasinya berjalan sebagaimana mestinya. Itu bukan kelemahan. Manajemen memang membutuhkan disiplin, termasuk aturan yang kita tetapkan untuk diri sendiri.

Masalahnya, kecenderungan menjaga batas punya logika yang sangat masuk akal. Aturan membuat hasil bisa diprediksi, kesalahan bisa dilacak, dan tanggung jawab jelas siapa pemiliknya. Bagi seseorang yang dinilai dari stabilitas, mengikuti aturan adalah pilihan paling aman. Mengubah sesuatu berarti mengambil risiko, dan risiko jarang mendapat pujian sebelum hasilnya terlihat.

Karena itu, Maxwell menyebut bahwa untuk bergerak melampaui manajemen, seseorang harus bersedia berpikir di luar kotaknya sendiri. Pemimpin ingin menemukan jalan yang lebih baik dan ingin melihat kemajuan. Kemajuan hampir selalu menuntut perubahan, dan perubahan hampir selalu berarti melewati batas yang selama ini dianggap wajar. Pertanyaan khas seorang pemimpin sederhana saja: “Mengapa kita melakukannya dengan cara ini?” lalu diikuti ajakan, “Bagaimana kalau kita mencoba cara lain?”

Tidak Semua Batas Boleh Dilampaui

Di titik ini, gagasan “pemimpin melenyapkan batasan” perlu dibaca dengan hati-hati. Jika dipahami secara mentah, ia bisa melahirkan pemimpin yang gemar mengubah segalanya hanya karena ingin terlihat berbeda. Organisasi yang dipimpin seperti itu tidak bertumbuh, melainkan kelelahan karena terus berganti arah.

Islam memberi kerangka yang sangat jernih untuk memilah hal ini. Dalam urusan ibadah, batasnya sudah ditetapkan dan tidak menjadi wilayah kreativitas. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang mengada-adakan dalam urusan agama ini sesuatu yang bukan darinya, maka hal itu tertolak (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718). Namun dalam urusan dunia, ruangnya jauh lebih luas. Ketika para sahabat di Madinah mengikuti saran beliau untuk tidak menyerbukkan kurma lalu hasil panennya menurun, Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” (HR. Muslim no. 2363).

Pembedaan ini sangat berguna bagi siapa saja yang memimpin. Ada batas yang bersifat prinsip, seperti kejujuran, amanah, dan larangan yang jelas, yang justru harus dijaga dengan teguh. Ada pula batas yang bersifat cara, seperti prosedur, format laporan, jalur koordinasi, atau metode kerja, yang boleh dan bahkan perlu terus diperbaiki. Pemimpin yang baik bukan orang yang paling berani menabrak batas, melainkan orang yang paling jernih membedakan mana nilai yang harus dipertahankan dan mana kebiasaan yang boleh ditinggalkan.

Cara Melihat Batasan dengan Lebih Jernih

Lalu bagaimana menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari? Langkah pertama adalah menelusuri asal-usul sebuah aturan. Tanyakan kapan aturan itu dibuat, masalah apa yang ingin diselesaikannya, dan apakah masalah itu masih ada sampai sekarang. Pertanyaan sederhana ini sering langsung memperlihatkan mana aturan yang masih bekerja dan mana yang hanya bertahan karena kebiasaan.

Langkah berikutnya adalah memisahkan tujuan dari caranya. Dalam dakwah dan penggalangan dana, misalnya, tujuan menjaga kepercayaan donatur tidak boleh ditawar. Tetapi cara melaporkan amanah itu bisa berubah, dari laporan cetak yang datang berbulan-bulan kemudian menjadi kabar singkat yang sampai pada hari yang sama. Ketika tujuan dan cara sudah dipisahkan, perubahan tidak lagi terasa sebagai ancaman, karena yang diganti hanyalah alat, bukan nilai.

Langkah ketiga adalah mencoba dalam skala kecil sebelum mengubah secara menyeluruh. Pemimpin yang ingin menyeberangi batas tidak harus meruntuhkan seluruh sistem sekaligus. Ia bisa menguji satu cara baru di satu tim atau satu wilayah, melihat hasilnya, lalu membawa bukti itu ke meja diskusi. Cara ini menghormati orang-orang yang selama ini menjaga aturan lama sekaligus memberi ruang bagi kemajuan.

Langkah terakhir, dan mungkin yang paling berat, adalah bersedia memikul akibatnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang memulai dalam Islam suatu kebiasaan yang baik, ia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya, dan siapa yang memulai kebiasaan buruk, ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya (HR. Muslim no. 1017). Hadits ini mengingatkan bahwa memulai sesuatu yang baru bukan sekadar soal keberanian. Ia adalah tanggung jawab yang ikut berjalan sejauh kebiasaan itu diikuti orang lain.

Batas yang Paling Sulit Ada di Dalam Diri

Setelah semua itu, ada satu kenyataan yang sering terlewat. Batasan yang paling menahan sebuah organisasi biasanya bukan yang tertulis di buku pedoman, melainkan yang tersimpan di kepala para pemimpinnya. Kalimat seperti “di daerah kita memang sulit”, “tim kita memang begini”, atau “dulu sudah pernah dicoba dan gagal” bekerja jauh lebih kuat daripada aturan resmi mana pun. Ia jarang diucapkan sebagai aturan, tetapi diam-diam menentukan apa yang dianggap mungkin.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini sering dibaca sebagai ajakan memperbaiki diri secara pribadi, dan itu benar. Namun bagi seorang pemimpin, ayat ini juga mengandung pesan tentang urutan. Perubahan dalam sebuah tim hampir tidak pernah dimulai dari prosedur baru, tetapi dari cara pandang baru yang lebih dulu tumbuh di dalam orang-orang yang memimpinnya.

Karena itu, sebelum bertanya aturan mana yang perlu dilampaui oleh tim, seorang pemimpin perlu jujur bertanya pada dirinya sendiri. Batas apa yang selama ini saya anggap wajar padahal hanya kebiasaan? Keyakinan apa tentang tim, wilayah, atau pekerjaan saya yang belum pernah benar-benar saya uji?

Bertanya Sebelum Melangkah

Pemimpin memang perlu berani menyeberangi batas, tetapi keberanian itu baru bernilai ketika didahului oleh kejernihan. Ia tahu batas mana yang menjaga dan batas mana yang mengurung. Ia menghormati alasan di balik aturan lama, sambil tetap bertanya apakah alasan itu masih berlaku hari ini.

Barangkali ukuran kepemimpinan bukan seberapa banyak aturan yang berhasil kita ubah, melainkan seberapa sering kita berhenti sejenak untuk bertanya, “Mengapa kita melakukannya dengan cara ini?” dan sungguh-sungguh mendengarkan jawabannya. Sebab sering kali, jalan yang lebih baik sudah lama ada di depan kita. Kita hanya belum pernah bertanya apakah pagar yang menghalanginya memang perlu ada di sana. [af]

2 responses to “Pemimpin dan Batasan: Kapan Aturan Perlu Dipertanyakan?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *