Kompetensi bukan sekadar kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan. Orang yang kompeten tahu apa yang dapat ia kerjakan dengan baik, terus berusaha memperbaikinya, dan pada saat yang sama menyadari pekerjaan apa yang bukan menjadi kekuatannya. Ia tidak berusaha menjadi ahli dalam segala hal. Ia memilih bidang yang dapat dikuasainya, lalu memberikan perhatian dan energi yang cukup untuk menjadi semakin baik di dalamnya.
Pertanyaannya, apakah orang-orang di sekitar Anda dapat mengandalkan Anda? Ketika sebuah pekerjaan penting diberikan kepada Anda, apakah mereka percaya bahwa pekerjaan itu akan diselesaikan dengan baik? Kompetensi pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang seberapa konsisten kita menghasilkan sesuatu yang dapat diandalkan.
Fokus pada bidang yang ingin dikuasai
Sulit mengembangkan kompetensi jika kita ingin mengerjakan segala sesuatu. Energi yang terlalu banyak tersebar akan membuat kemampuan kita berkembang, tetapi tidak pernah benar-benar mendalam. Karena itu, penting untuk menentukan bidang yang ingin kita kuasai—bidang yang sesuai dengan kemampuan, minat, pengalaman, sekaligus peluang yang kita miliki.
Fokus bukan berarti menutup diri dari hal-hal lain. Fokus berarti tahu di mana kita seharusnya memberikan energi terbaik. Dalam pekerjaan dan kepemimpinan, orang yang memiliki keahlian yang jelas biasanya lebih mudah dipercaya karena orang lain tahu kontribusi apa yang dapat diharapkan darinya.
Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diusahakannya:
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
QS. An-Najm (53): 39
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang hasil, tetapi juga mengingatkan pentingnya usaha yang sungguh-sungguh. Kompetensi tidak tumbuh dari keinginan untuk terlihat mampu. Ia tumbuh dari kesediaan untuk terus mengerjakan, belajar, memperbaiki, dan mengulang.
Jangan abaikan 10 persen terakhir
Sering kali perbedaan antara pekerjaan yang biasa dan pekerjaan yang baik justru terletak pada bagian terakhir yang sering kita abaikan. Ide sudah ada, pekerjaan hampir selesai, tetapi kita berhenti sebelum memastikan detail-detailnya benar. Padahal, kualitas sering kali ditentukan oleh hal-hal kecil yang tidak terlihat pada pandangan pertama.
Memperhatikan detail bukan berarti menjadi orang yang suka mengontrol segala sesuatu. Ada perbedaan antara teliti dan micromanagement. Orang yang teliti memastikan bahwa bagian penting dari pekerjaannya benar-benar selesai, sementara orang yang suka mengontrol merasa harus mengawasi setiap hal yang dilakukan orang lain.
Cobalah memperhatikan kembali pekerjaan Anda berikutnya. Setelah 90 persen pekerjaan selesai, jangan langsung menganggap semuanya beres. Periksa kembali, sempurnakan bagian yang masih lemah, dan tanyakan: apa yang bisa saya lakukan agar hasil pekerjaan ini benar-benar layak dipertanggungjawabkan?
Kompetensi terlihat pada implementasi
Banyak orang memiliki ide bagus. Tidak banyak yang mampu mengubah ide tersebut menjadi kenyataan. Karena itu, kompetensi juga terlihat dari kemampuan mengimplementasikan sesuatu, bukan hanya dari kemampuan memikirkan sesuatu.
Di dalam organisasi, kesenjangan antara gagasan dan pelaksanaan sering kali menjadi masalah. Rapat menghasilkan banyak keputusan, strategi terlihat bagus di atas kertas, tetapi ketika tiba waktunya menjalankan, semuanya menjadi jauh lebih sulit. Di sinilah kompetensi diuji.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang seharusnya kita lakukan?” Tanyakan juga, “Bagaimana kita akan melakukannya?” Siapa yang mengerjakan? Apa langkah pertamanya? Apa hambatannya? Bagaimana kita mengetahui bahwa prosesnya berjalan dengan benar? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini sering kali membuat sebuah gagasan menjadi lebih nyata.
Menjadi orang yang dapat diandalkan
Pada akhirnya, kompetensi bukan tentang menjadi orang yang paling tahu atau paling pintar di dalam sebuah tim. Kompetensi lebih sederhana sekaligus lebih sulit: menjadi orang yang dapat diandalkan.
Ketika Anda menerima sebuah tanggung jawab, orang lain tidak perlu terus-menerus mengingatkan. Ketika Anda menemukan kekurangan, Anda tidak menunggu orang lain menunjukkannya. Ketika pekerjaan belum selesai dengan baik, Anda tidak berhenti hanya karena secara formal tugasnya sudah hampir selesai.
Itulah sebabnya mengembangkan kompetensi sebenarnya merupakan proses membangun kepercayaan. Semakin baik kemampuan kita, semakin baik kualitas pekerjaan kita, dan semakin konsisten kita menyelesaikan tanggung jawab, semakin besar pula kepercayaan yang diberikan orang lain.
Mungkin kita tidak perlu berusaha menjadi orang yang bisa mengerjakan semuanya. Lebih penting menjadi orang yang ketika sebuah pekerjaan tertentu dipercayakan kepada kita, orang lain merasa tenang karena tahu pekerjaan itu berada di tangan yang tepat.
Berikan fokus yang istimewa pada pekerjaan Anda hari ini. Kerjakan dengan baik, perhatikan detailnya, dan pastikan gagasan tidak berhenti sebagai gagasan. Di situlah kompetensi bertumbuh. [af]







Tinggalkan Balasan