Ada nikmat yang mudah kita sadari karena bisa kita lihat, rasakan, dan ceritakan kepada orang lain. Tetapi ada pula nikmat yang justru begitu besar nilainya karena Allah menyembunyikannya dari pandangan manusia. Kita sering lupa bahwa kehidupan kita sebenarnya ditopang oleh banyak hal yang tidak kita sadari sebagai nikmat.
Suatu ketika, Ibn Taimiyyah rahimahullah ditanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” Beliau menjawab:
“Aku berada di antara dua nikmat, dan aku tidak tahu mana di antara keduanya yang lebih utama.”
Kemudian beliau menjelaskan dua nikmat itu: dosa-dosa yang Allah tutupi sehingga tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang mempermalukannya karena dosa tersebut, dan kecintaan yang Allah tanamkan di hati manusia kepadanya, padahal amalnya tidak akan mampu mencapai derajat kecintaan itu.
Nikmat ketika Allah menutupi aib kita
Kita sering merasa baik karena orang lain melihat kita sebagai orang baik. Kita merasa terhormat karena tidak ada yang mengetahui sisi-sisi buruk dalam diri kita. Padahal, boleh jadi kehormatan itu bukan semata-mata karena kita memang pantas mendapatkannya, melainkan karena Allah masih berkenan menutup aib kita.
Coba bayangkan jika seluruh dosa yang pernah kita lakukan diketahui orang-orang terdekat: keluarga, sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang selama ini memandang kita dengan baik. Berapa banyak di antara mereka yang masih akan memberikan penghormatan yang sama? Berapa banyak yang masih mau duduk bersama kita tanpa rasa jijik atau kecewa?
Karena itu, salah satu bentuk kasih sayang Allah yang sering luput kita syukuri adalah ketika Dia menutup sesuatu yang seandainya dibuka, mungkin akan membuat kita kehilangan banyak hal. Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan, tetapi Dia tidak selalu membukanya kepada manusia.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah tidak hanya mengetahui dosa manusia, tetapi juga memberi ruang untuk kembali dan memperbaiki diri. Dalam QS. Az-Zumar ayat 53, Allah berfirman agar hamba-hamba-Nya yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Bahkan setelah seseorang mengakui keburukannya, pintu kembali kepada Allah tetap terbuka.
Maka, ketika orang lain masih menghormati kita, jangan buru-buru menganggap bahwa kita memang sebaik yang mereka kira. Bisa jadi, itu adalah salah satu bentuk ستر الله—Allah sedang menutupi kita.
Dan nikmat seperti ini seharusnya tidak membuat kita nyaman dengan dosa. Justru sebaliknya, ia semestinya membuat kita semakin malu kepada Allah.
Nikmat ketika Allah menanamkan cinta di hati manusia
Nikmat kedua yang disebut Ibn Taimiyyah tidak kalah menarik: adanya kecintaan yang Allah letakkan di hati manusia kepada kita, sementara beliau merasa amalnya sendiri tidak cukup untuk mendapatkannya.
Ini mengajarkan sesuatu yang penting tentang hubungan antarmanusia. Tidak semua penerimaan, penghormatan, dan kasih sayang yang kita terima merupakan hasil dari kemampuan kita sendiri. Ada bagian yang berada di luar kendali kita, dan di situlah kita melihat betapa luasnya karunia Allah.
Bukankah kita pernah bertemu seseorang yang sejak awal terasa menyenangkan untuk diajak berbicara? Kita belum lama mengenalnya, tetapi entah mengapa hati terasa nyaman. Sebaliknya, ada pula orang yang secara kemampuan, penampilan, atau pencapaian mungkin tidak memiliki banyak kelebihan, tetapi orang-orang di sekitarnya begitu menyayanginya.
Ada sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika manusia.
Nabi ﷺ bersabda bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril dan memberitahukan kecintaan-Nya kepada hamba tersebut. Kemudian kecintaan itu diterima di langit dan pada akhirnya diletakkan penerimaan baginya di bumi. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Artinya, ada bentuk penerimaan manusia yang pada hakikatnya merupakan karunia dari Allah.
Karena itu, ketika ada orang-orang yang mencintai, menghormati, dan mempercayai kita, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apa sebenarnya yang membuat mereka tetap mencintai saya? Apakah benar semata-mata karena kebaikan saya?
Jangan-jangan ada banyak kekurangan yang mereka tidak tahu. Jangan-jangan ada banyak kelemahan yang Allah sembunyikan. Dan jangan-jangan rasa cinta yang mereka berikan adalah sesuatu yang Allah sendiri titipkan ke dalam hati mereka.
Kita hidup di antara dua karunia
Di titik ini, perkataan Ibn Taimiyyah menjadi semakin dalam. Kita ternyata hidup di antara dua karunia yang sering tidak kita sadari: aib yang Allah tutupi dan kebaikan yang Allah tampakkan.
Yang pertama menyelamatkan kita dari pandangan buruk manusia. Yang kedua membuat kita mendapatkan kasih sayang dan penghormatan yang mungkin sebenarnya tidak sebanding dengan amal kita.
Keduanya sama-sama mengingatkan kita untuk tidak terlalu cepat membanggakan diri.
Ketika orang memuji kita, ingatlah bahwa mereka tidak mengetahui seluruh diri kita. Mereka hanya melihat bagian yang Allah izinkan untuk mereka lihat. Dan ketika kita merasa memiliki tempat di hati orang lain, ingatlah bahwa hati mereka bukan milik kita. Allah-lah yang membolak-balikkan hati dan menanamkan rasa cinta di dalamnya.
Mungkin karena itu, semakin seseorang mengenal dirinya, semakin ia sulit merasa pantas mendapatkan pujian.
Kita tahu apa yang pernah kita lakukan ketika tidak ada orang lain yang melihat. Kita tahu betapa seringnya niat kita tidak sebersih yang terlihat. Kita tahu berapa banyak kesempatan untuk berbuat baik yang kita lewatkan. Kita juga tahu bahwa jika Allah membuka seluruh kekurangan kita, mungkin tidak banyak orang yang akan memandang kita dengan cara yang sama.
Maka, ketika masih ada orang yang menyayangi kita, barangkali itu bukan alasan untuk merasa lebih baik daripada mereka. Sebaliknya, itu adalah alasan untuk lebih banyak bersyukur.
Jangan jadikan tertutupnya aib sebagai alasan untuk terus berbuat dosa
Ada satu hal yang perlu kita waspadai. Merasakan nikmat karena Allah menutup aib bukan berarti kita boleh terus menyembunyikan dosa sambil merasa aman.
Allah menutup aib kita bukan agar kita merasa bebas melakukan apa saja. Barangkali Dia sedang memberi kita kesempatan untuk berhenti sebelum sesuatu yang selama ini tertutup akhirnya terbuka.
Karena itu, nikmat ستر الله seharusnya melahirkan rasa malu, taubat, dan keinginan untuk memperbaiki diri. Kita tidak perlu sibuk menceritakan dosa masa lalu kepada manusia, tetapi kita perlu jujur di hadapan Allah dan meminta agar Dia memperbaiki apa yang masih rusak dalam diri kita.
Begitu pula dengan cinta manusia. Ketika Allah memberi kita tempat di hati orang lain, jangan digunakan untuk merasa lebih tinggi. Justru semakin banyak orang yang mencintai kita, semakin besar tanggung jawab kita untuk menjaga amanah tersebut.
Sebab cinta manusia bukan sesuatu yang kita miliki selamanya. Ia bisa datang karena Allah dan bisa pergi ketika Allah menghendakinya.
Pada akhirnya, mungkin kita memang hidup di antara dua nikmat besar seperti yang dikatakan Ibn Taimiyyah: dosa yang Allah tutupi dan cinta yang Allah tanamkan. Yang satu mengajarkan kita untuk rendah hati terhadap diri sendiri; yang lain mengajarkan kita untuk bersyukur atas kebaikan yang datang melalui orang lain.
Dan mungkin, di antara keduanya, ada doa yang layak terus kita panjatkan: agar Allah tidak membuka aib kita di hadapan manusia, tetapi membuka mata hati kita untuk melihat aib diri sendiri; dan agar cinta yang Dia titipkan di hati manusia kepada kita tidak membuat kita lupa kepada-Nya.
Sebab kalau bukan karena Allah menutup keburukan kita, siapa yang masih akan melihat kita dengan baik? Dan kalau bukan karena Allah menanamkan kasih sayang di hati manusia, apa yang membuat mereka tetap memilih untuk mencintai kita?
اللهم يا مقلب القلوب، ثبت قلوبنا على دينك، وألّف بين قلوبنا، وارزقنا حبك وحب من يحبك وحب كل عمل يقربنا إلى حبك. [af]







Tinggalkan Balasan