Bertumbuh Adalah Pilihan

“Kita semua akan berubah. Pertanyaannya bukan apakah kita berubah, tetapi ke arah mana perubahan itu membawa kita.”

Bagikan:

bertumbuh adalah pilihan
Daftar Isi

Kita sering kali tidak menyukai perubahan, terutama ketika perubahan itu menyentuh diri kita sendiri. Kita mungkin senang melihat organisasi berubah menjadi lebih baik, orang lain berubah menjadi lebih dewasa, atau keadaan berubah menjadi lebih nyaman. Tetapi ketika perubahan itu menuntut kita untuk mengubah kebiasaan, cara berpikir, atau cara bekerja, ceritanya bisa berbeda.

Leo Tolstoy pernah mengatakan, “Setiap orang ingin mengubah dunia, tetapi tidak seorang pun berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” Ada sesuatu yang menggelitik dari kalimat itu. Kita memang tidak selalu bisa memilih perubahan yang datang kepada kita, tetapi kita selalu memiliki pilihan tentang bagaimana meresponsnya.

Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Usia bertambah, lingkungan berubah, pekerjaan berubah, teknologi berubah, orang-orang di sekitar kita berubah, bahkan cara kita memandang kehidupan pun semestinya berubah seiring bertambahnya pengalaman. Namun, bertumbuh adalah pilihan. Tidak semua orang yang mengalami perubahan otomatis mengalami pertumbuhan.

Berubah Belum Tentu Bertumbuh

Seseorang bisa bertahun-tahun berada dalam sebuah pekerjaan tanpa benar-benar bertumbuh. Ia menjalani rutinitas yang sama, menggunakan cara yang sama, menghadapi masalah yang sama, bahkan melakukan kesalahan yang sama. Waktu berjalan, tetapi dirinya tidak banyak berubah.

Di sinilah kita perlu membedakan antara bertambahnya usia dan bertambahnya kualitas diri. Usia bertambah dengan sendirinya. Pengalaman juga datang seiring waktu. Tetapi kemampuan untuk belajar dari pengalaman, memperbaiki diri, dan menjadi lebih matang tidak datang secara otomatis.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan yang berarti tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi di luar diri kita. Ada bagian dari perubahan yang menuntut kita melihat ke dalam: cara berpikir, sikap, kebiasaan, pilihan, dan tindakan kita sendiri.

Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya, “Apa yang berubah dalam hidup saya?” tetapi juga, “Apa yang berubah dalam diri saya?”

Pertumbuhan Memerlukan Kesengajaan

Howard Hendricks pernah mengajukan pertanyaan yang sederhana tetapi cukup mengganggu: “Bagaimana Anda berubah belakangan ini? Dalam minggu terakhir? Bulan terakhir? Tahun terakhir? Bisakah Anda menyebutkannya secara spesifik?”

Saya kira pertanyaan itu layak kita ajukan kepada diri sendiri.

Bukan sekadar, “Saya ingin menjadi lebih baik,” tetapi lebih spesifik: Apakah saya sekarang lebih mampu mendengarkan dibandingkan setahun lalu? Apakah saya lebih baik dalam mengambil keputusan? Apakah saya lebih sabar menghadapi orang yang berbeda dengan saya? Apakah saya lebih disiplin menggunakan waktu? Apakah pengetahuan saya bertambah dan benar-benar memengaruhi cara saya bekerja?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting karena pertumbuhan biasanya tidak terjadi secara kebetulan. Ia membutuhkan kesadaran, kemauan belajar, keberanian menerima koreksi, dan kesediaan meninggalkan cara lama yang sudah tidak lagi efektif.

Ada masa ketika kita perlu mengakui bahwa sesuatu yang dulu berhasil bagi kita tidak lagi cukup untuk membawa kita ke tingkat berikutnya.

Jangan Terlalu Nyaman dengan Diri yang Sekarang

Salah satu hambatan terbesar dalam pertumbuhan adalah rasa nyaman dengan keadaan sekarang. Kita sudah mengetahui apa yang kita kuasai, terbiasa dengan lingkungan kita, dan merasa cukup aman dengan cara-cara yang selama ini kita gunakan.

Masalahnya, kemampuan potensial kita sering berada di luar wilayah yang sudah kita kuasai.

Seorang pemimpin yang berhenti belajar akan perlahan kehilangan relevansi. Seorang profesional yang merasa sudah cukup tahu akan tertinggal oleh perubahan. Bahkan dalam hubungan dengan manusia, seseorang yang tidak mau belajar memahami orang lain bisa terus mengulangi pola komunikasi yang sama tanpa menyadari mengapa hubungannya tidak berkembang.

Pertumbuhan hampir selalu mengandung sedikit ketidaknyamanan. Kita harus bersedia mengatakan, “Saya belum tahu,” “Saya mungkin keliru,” atau “Ada cara yang lebih baik daripada cara saya selama ini.”

Itulah sebabnya kerendahan hati menjadi bagian penting dari pertumbuhan. Orang yang merasa sudah sampai biasanya berhenti berjalan.

Ukur Pertumbuhan dengan Perubahan yang Nyata

Pertumbuhan pribadi tidak harus selalu spektakuler. Kadang-kadang ia terlihat dalam perubahan yang sangat sederhana: kita lebih tenang ketika menghadapi masalah, lebih cermat sebelum mengambil keputusan, lebih terbuka menerima masukan, atau lebih mampu menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikatakan.

Pertumbuhan juga bisa berarti meninggalkan sesuatu. Meninggalkan kebiasaan yang buruk, cara berpikir yang sempit, pekerjaan yang tidak lagi memberi nilai, atau bahkan keyakinan tentang diri sendiri yang ternyata selama ini membatasi langkah.

Karena itu, saya kira pertanyaan tentang pertumbuhan sebaiknya tidak berhenti pada “Apa yang sudah saya pelajari?” tetapi dilanjutkan dengan “Apa yang saya lakukan secara berbeda karena pembelajaran itu?”

Sebab pengetahuan yang tidak mengubah cara kita berpikir dan bertindak pada akhirnya hanya menambah isi kepala, bukan kualitas diri.

Bertumbuh Sampai Akhir

Dalam pandangan Islam, menjadi lebih baik bukan proyek yang memiliki titik selesai. Selama hidup masih berjalan, masih ada ruang untuk memperbaiki diri.

Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Hadits yang sering dikutip dengan makna tersebut memang populer, tetapi riwayatnya tidak memiliki derajat yang kuat untuk dijadikan hadits Nabi ﷺ. Karena itu, saya lebih nyaman mengambil prinsip pertumbuhan dari sumber yang lebih kokoh.

Allah berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Surah yang sangat pendek ini mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan dan manusia berada dalam kerugian jika hidupnya tidak diisi dengan iman, amal, dan proses saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Maka pertumbuhan bukan sekadar tentang menjadi lebih pintar, lebih sukses, atau lebih produktif. Pertumbuhan juga berarti menjadi manusia yang lebih baik dalam menjalankan amanah, memperlakukan orang lain, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan di hadapan Allah.

Pada akhirnya, kita semua akan berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan berubah, tetapi ke arah mana perubahan itu membawa kita.

Waktu akan terus berjalan tanpa meminta izin. Usia akan bertambah, keadaan akan berganti, dan dunia akan terus bergerak. Yang berada dalam kendali kita adalah keputusan untuk tidak sekadar menjadi lebih tua, tetapi menjadi lebih matang.

Mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri: Dalam bidang apa saya benar-benar bertumbuh belakangan ini?

Dan yang lebih penting, jika hari ini saya masih sama seperti saya setahun yang lalu, apa sebenarnya yang sedang saya lakukan dengan waktu yang Allah berikan? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *