Ajukan Proposal yang Mustahil Sekalipun kepada Allah

“Jangan membatasi besarnya doa hanya karena kita terbatas dalam melihat jalan keluarnya.”

Bagikan:

proposal kepada allah
Daftar Isi

Ada banyak hal dalam hidup yang tampak mustahil. Bukan karena kita tidak menginginkannya, tetapi karena jalan untuk mencapainya terasa terlalu panjang, terlalu sulit, atau berada di luar kemampuan kita. Pada titik tertentu, kita sering kali berhenti berharap bukan karena Allah tidak mampu mengabulkan, melainkan karena kita terlalu cepat mengukur kemampuan Allah dengan keterbatasan kita.

Padahal, sesuatu yang mustahil bagi manusia tidak berarti mustahil bagi Allah. Allah adalah Pemilik langit dan bumi, Penguasa seluruh alam, dan tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kekuasaan-Nya. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20).

Karena itu, jangan terlalu cepat mengecilkan doa hanya karena permintaan kita terasa terlalu besar.

Belajar dari Doa Nabi Sulaiman

Salah satu doa yang menarik untuk direnungkan adalah doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:

رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahku.”
(QS. Shad: 35)

Perhatikan apa yang diminta Nabi Sulaiman. Beliau tidak meminta sesuatu yang biasa-biasa saja. Beliau meminta kerajaan dengan kekuasaan yang sangat besar, sesuatu yang bahkan beliau minta sebagai karunia yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahnya.

Jika doa diukur hanya dengan logika manusia, permintaan seperti itu mungkin terdengar terlalu besar. Tetapi Nabi Sulaiman tidak sedang berhadapan dengan manusia. Ia sedang meminta kepada Allah.

Dan Allah mengabulkannya.

Allah menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman. Allah menundukkan jin untuknya. Bahkan burung dan berbagai makhluk lainnya berada dalam bagian dari kekuasaan yang Allah berikan kepadanya. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Allah memberikan kepada Nabi Sulaiman kekuasaan yang luar biasa sebagai sebuah karunia.

Yang menarik, doa itu tidak menunjukkan kesombongan Nabi Sulaiman. Justru konteks ayat menunjukkan bahwa beliau memohon ampun terlebih dahulu sebelum meminta karunia tersebut. Ini mengingatkan kita bahwa besarnya permintaan tidak menjadi masalah selama kita menyadari kepada siapa kita meminta.

Jangan Membatasi Doa dengan Kemampuan Kita

Sering kali masalah kita bukan karena kita tidak punya keinginan, tetapi karena kita terlalu cepat membuat batasan dalam berdoa.

Kita berkata, “Sepertinya ini terlalu sulit.” Atau, “Rasanya sudah tidak mungkin.” Bahkan kadang kita berhenti meminta karena keadaan yang kita lihat tidak menunjukkan adanya jalan keluar.

Padahal, tugas kita dalam berdoa bukan menentukan bagaimana Allah akan mengabulkannya. Kita hanya diminta untuk meminta, berusaha, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Allah berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”
(QS. Ghafir: 60)

Ayat ini tidak berarti setiap doa harus dikabulkan persis seperti yang kita bayangkan, pada waktu yang kita tentukan. Allah memiliki ilmu yang tidak kita miliki dan hikmah yang tidak selalu kita pahami. Tetapi ayat tersebut mengajarkan satu hal penting: jangan berhenti mengetuk pintu Allah hanya karena kita tidak melihat bagaimana pintu itu akan terbuka.

Mintalah yang Besar, Tetapi Tetap Rendah Hati

Ada perbedaan antara meminta sesuatu yang besar kepada Allah dan merasa berhak mendapatkannya. Yang pertama adalah keyakinan terhadap luasnya rahmat dan kekuasaan Allah. Yang kedua justru dapat membawa seseorang kepada kesombongan.

Karena itu, ketika mengajukan “proposal” kepada Allah, bawalah hati sebagai seorang hamba. Kita boleh meminta sesuatu yang sangat besar, tetapi tetap menyadari bahwa kita tidak memiliki kuasa apa-apa untuk memaksakannya.

Mungkin kita sedang meminta perubahan dalam hidup yang sudah bertahun-tahun terasa buntu. Mungkin kita sedang berharap sebuah masalah yang rumit menemukan jalan keluarnya. Mungkin kita memiliki cita-cita yang menurut perhitungan manusia terlalu jauh untuk dicapai.

Berdoalah.

Bukan karena kita yakin akan mendapatkan persis seperti yang kita minta, tetapi karena kita yakin bahwa tidak ada yang terlalu besar bagi Allah.

Nabi Muhammad ﷺ juga mengajarkan agar kita meminta kepada Allah dengan keyakinan dan tidak berdoa dalam keadaan hati yang lalai atau ragu. Dalam sebuah hadits sahih, beliau bersabda bahwa seseorang hendaknya berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan. (HR. Tirmidzi).

Pada akhirnya, doa bukan sekadar daftar keinginan yang kita sampaikan kepada Allah. Doa juga merupakan cara kita menempatkan kembali ukuran kita terhadap kehidupan. Kita boleh melihat sebuah persoalan sebagai gunung yang tidak mungkin didaki, tetapi Allah tidak terbatas oleh tinggi rendahnya gunung yang kita lihat.

Jadi, jangan hanya mengajukan proposal yang menurut perhitungan kita mungkin.

Ajukan juga proposal yang tampak mustahil.

Sebab yang kita datangi bukan manusia yang memiliki keterbatasan, tetapi Allah, Pemilik segala sesuatu.

Barangkali yang perlu kita ubah bukan besarnya doa kita, melainkan cara kita memandang siapa yang kita mintai pertolongan. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *