Menerima Tanggung Jawab: Mengapa Pemimpin Tidak Boleh Bermental Korban

“Pemimpin yang baik menanggung kegagalan lebih dulu dan mengklaim keberhasilan paling akhir.”

Bagikan:

tanggung jawab
Daftar Isi

Ada satu kalimat yang sering terdengar ketika sebuah target tidak tercapai: “Situasinya memang sedang sulit.” Kalimat itu tidak salah. Situasi memang sering sulit, pasar berubah, anggaran terbatas, dan orang-orang di sekitar kita tidak selalu bekerja sesuai harapan. Persoalannya muncul ketika kalimat itu menjadi titik akhir pembicaraan. Pada saat itu, seseorang sebenarnya sedang berhenti memimpin, sekalipun jabatannya masih melekat.

John C. Maxwell, dalam The 21 Indispensable Qualities of a Leader, menempatkan tanggung jawab sebagai salah satu kualitas yang tidak bisa ditawar dari seorang pemimpin. Intinya sederhana: pemimpin yang baik menolak memakai mentalitas korban. Ia tidak memindahkan beban hidupnya kepada orang tua, pasangan, atasan, rekan kerja, atau pemerintah. Gagasan ini terdengar lurus, tetapi penerapannya jauh lebih halus daripada yang terlihat.

Mengapa Mentalitas Korban Begitu Menggoda

Mentalitas korban jarang muncul karena seseorang malas. Ia lebih sering muncul karena terasa aman. Ketika kegagalan bisa dijelaskan oleh faktor luar, harga diri kita terlindungi. Kita tidak perlu mengakui bahwa ada keputusan yang keliru, persiapan yang kurang, atau kebiasaan yang selama ini kita biarkan.

Yang membuatnya sulit dikenali adalah karena alasan-alasan itu biasanya benar. Atasan memang memberi target yang tidak realistis. Tim memang kekurangan orang. Kondisi ekonomi memang sedang lesu. Mentalitas korban tidak dibangun di atas kebohongan, tetapi di atas kebenaran yang dipakai secara keliru. Faktor luar diperlakukan sebagai kesimpulan, padahal seharusnya ia hanya menjadi bagian dari penjelasan.

Di sinilah letak perbedaannya. Orang yang bertanggung jawab tetap mengakui adanya faktor luar, tetapi ia tidak berhenti di sana. Setelah semua hal yang di luar kendalinya disebutkan, ia masih bertanya: lalu bagian mana yang ada di tangan saya?

Pemanah yang Tidak Menyalahkan Sasaran

Maxwell mengutip sebuah perumpamaan dari Gilbert Arland tentang pemanah. Ketika anak panahnya meleset, pemanah yang baik mencari sebab pada dirinya sendiri, bukan pada papan sasaran. Sasaran tidak pernah bergeser untuk menghindari anak panah. Jika ingin bidikan membaik, yang perlu diperbaiki adalah si pemanah.

Perumpamaan ini mengingatkan saya pada peristiwa Uhud, yang justru juga berkisah tentang pemanah. Pasukan pemanah yang ditempatkan Rasulullah ﷺ di atas bukit meninggalkan posnya karena mengira pertempuran sudah dimenangkan, padahal perintahnya jelas untuk tetap bertahan. Celah itu dimanfaatkan musuh, dan kaum Muslimin menderita kekalahan yang menyakitkan.

Setelah peristiwa itu, sebagian sahabat bertanya-tanya dari mana datangnya musibah tersebut. Allah menjawabnya dalam QS. Ali ‘Imran ayat 165: “Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’” Yang menarik, jawaban ini diberikan kepada generasi terbaik umat, dalam perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ. Jika mereka saja diarahkan untuk melihat ke dalam, maka kita tentu tidak punya alasan untuk selalu melihat ke luar.

Tanggung Jawab Bukan Berarti Menyalahkan Diri Sendiri

Ada salah paham yang perlu diluruskan. Menerima tanggung jawab tidak sama dengan menghukum diri sendiri atas segala hal yang terjadi. Orang yang terus-menerus berkata “semua ini salah saya” belum tentu bertanggung jawab. Kadang ia hanya memindahkan mentalitas korban ke arah yang lain, yaitu menjadi korban dari dirinya sendiri.

Perbedaannya terletak pada arah pertanyaan. Rasa bersalah bertanya, “Siapa yang harus disalahkan?” Tanggung jawab bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan sekarang?” Pertanyaan pertama melihat ke belakang dan berhenti di sana. Pertanyaan kedua juga melihat ke belakang, tetapi tujuannya untuk melangkah ke depan dengan lebih baik.

Dalam Islam, tanggung jawab memang bersifat personal. QS. Al-Muddatstsir ayat 38 menegaskan bahwa setiap diri tergadai oleh apa yang telah ia kerjakan. Ayat ini tidak dimaksudkan untuk membuat kita cemas, melainkan untuk menyadarkan bahwa amal kita adalah wilayah yang benar-benar kita miliki. Kita tidak dimintai pertanggungjawaban atas keputusan orang lain, tetapi kita pasti dimintai pertanggungjawaban atas cara kita merespons keputusan tersebut.

Kepercayaan Diberikan kepada Orang yang Menyelesaikan

Maxwell menyampaikan satu hal yang sering terlewat: peluang untuk memimpin biasanya datang kepada orang yang terbukti mampu menyelesaikan pekerjaan. Dalam organisasi mana pun, kepercayaan tidak diberikan berdasarkan seberapa bagus seseorang menjelaskan kendala. Kepercayaan diberikan kepada orang yang, dengan segala kendalanya, tetap membawa pulang hasil.

Sebagai ilustrasi, bayangkan dua kepala tim yang sama-sama gagal mencapai target bulanan. Yang pertama datang dengan daftar panjang penyebab: cuaca buruk, anggota tim yang sakit, sistem yang sempat bermasalah. Yang kedua menyebutkan penyebab yang kurang lebih sama, lalu menambahkan, “Saya terlambat menyesuaikan rencana ketika dua orang tidak bisa turun. Bulan depan saya akan menyiapkan cadangan sejak awal.” Keduanya sama-sama gagal, tetapi hanya satu orang yang membuat atasannya lebih tenang menyerahkan amanah yang lebih besar.

Hal ini berlaku juga di bawah tekanan. Saat keadaan normal, hampir semua orang terlihat bertanggung jawab. Ujian sebenarnya terjadi ketika situasi memburuk, waktu sempit, dan tidak ada orang lain yang bisa diandalkan. Pada momen seperti itu, orang akan mengingat siapa yang mengambil alih dan siapa yang mencari tempat berlindung.

Pemimpin Menanggung Lebih Dulu

Bagi seorang pemimpin, tanggung jawab tidak berhenti pada dirinya sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Hadits ini menempatkan kepemimpinan bukan sebagai hak istimewa, melainkan sebagai beban pertanggungjawaban yang meluas sampai kepada orang-orang yang kita pimpin.

Artinya, ketika tim gagal, pemimpin tidak bisa berdiri di samping dan menunjuk anggota timnya. Mungkin memang ada anggota yang lalai, tetapi siapa yang menempatkannya di posisi itu? Siapa yang tidak memeriksa lebih awal? Siapa yang tidak memberi arahan yang cukup jelas? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bertujuan untuk mencari kambing hitam baru, melainkan untuk menemukan bagian yang bisa diperbaiki oleh pemimpin itu sendiri.

Ada pola sederhana yang bisa dijadikan pegangan: pemimpin yang baik menanggung kegagalan lebih dulu dan mengklaim keberhasilan paling akhir. Ketika hasil buruk, ia maju ke depan. Ketika hasil baik, ia mundur dan membiarkan timnya mendapat sorotan. Tim yang dipimpin dengan cara seperti ini biasanya lebih berani mengambil inisiatif, karena mereka tahu tidak akan ditinggalkan ketika keadaan berjalan tidak sesuai rencana.

Melatih Rasa Tanggung Jawab dalam Keseharian

Rasa tanggung jawab bukan bakat bawaan. Ia terbentuk dari kebiasaan kecil yang diulang. Salah satunya adalah memperhatikan bahasa kita sendiri, terutama kata “tapi” dalam laporan. “Target belum tercapai, tapi kondisi lapangan sulit” terdengar berbeda dengan “Target belum tercapai. Kondisi lapangan sulit, dan ini yang akan saya ubah.” Perubahannya kecil, tetapi menggeser posisi kita dari pihak yang menjelaskan menjadi pihak yang bertindak.

Kebiasaan lainnya adalah memisahkan dengan jujur apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan, lalu mencurahkan energi pada yang pertama. Kita tidak bisa mengatur kebijakan atasan, tetapi kita bisa mengatur kualitas persiapan. Kita tidak bisa memastikan semua anggota tim selalu bersemangat, tetapi kita bisa memastikan arahan kita jelas dan teladan kita konsisten.

Terakhir, biasakan melakukan evaluasi sebelum diminta. Orang yang menunggu ditegur untuk mengakui kesalahan sebenarnya sedang menyerahkan kendali kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang datang lebih dulu dengan evaluasinya sendiri menunjukkan bahwa ia memegang pekerjaannya dengan sungguh-sungguh.

Bagian yang Ada di Tangan Kita

Pada akhirnya, menerima tanggung jawab adalah soal ke mana kita mengarahkan pandangan ketika anak panah meleset. Melihat ke sasaran terasa lebih nyaman, karena kesalahan berada di luar diri. Namun, tidak ada bidikan yang membaik hanya karena kita pandai menjelaskan mengapa sasaran sulit dikenai.

Mungkin pertanyaan yang layak kita bawa setelah ini bukan “Siapa yang membuat semua ini sulit?” melainkan pertanyaan yang lebih sunyi dan lebih jujur: dari semua hal yang terjadi, bagian mana yang sebenarnya ada di tangan saya, dan apa yang sudah saya lakukan dengannya? [af]

2 responses to “Menerima Tanggung Jawab: Mengapa Pemimpin Tidak Boleh Bermental Korban”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *