Kabar meninggalnya Ameer Adzikra, putra kedua almarhum KH. Arifin Ilham, pernah mengejutkan banyak orang. Usianya masih sangat muda, sekitar 20 tahun. Belum lama sebelumnya, kita juga dikejutkan oleh meninggalnya Vanessa Angel dan suaminya, Bibi Ardiansyah, dalam kecelakaan di jalan tol. Kabar-kabar seperti itu selalu mengingatkan kita pada satu kenyataan yang sering kita tahu, tetapi jarang benar-benar kita renungkan: kematian tidak mengenal usia.
Ada ungkapan yang cukup sederhana, tetapi dalam maknanya: umur bukan nomor urut, melainkan nomor cabut. Kita sering mengira bahwa yang lebih tua akan lebih dahulu pergi, sementara yang masih muda masih memiliki perjalanan panjang di hadapannya. Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan gilirannya tiba.
Allah SWT. berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Karena itu, setiap kali mendengar kabar kematian, seharusnya kita tidak hanya mengucapkan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Kita juga perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: jika giliran itu datang kepada saya, apakah saya sudah siap?
Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar bertanya berapa usia seseorang ketika meninggal.
Kematian Mengingatkan Kita bahwa Hidup Ada Batasnya
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertindak seolah-olah masih memiliki banyak waktu. Kita sibuk bekerja, mengejar target, mengumpulkan harta, membangun karier, merencanakan masa depan, dan menyelesaikan berbagai urusan. Semua itu tentu penting. Tetapi ada satu hal yang sering luput dari perhatian: semua rencana itu memiliki batas waktu yang tidak pernah kita ketahui.
Nasihat Malaikat Jibril kepada Rasulullah ﷺ sangat kuat untuk direnungkan:
عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيهِ
“Hiduplah sesukamu, karena sungguh engkau pasti mati. Cintailah siapa pun yang engkau cintai, karena sungguh engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, karena sungguh engkau akan menemui balasan dari perbuatanmu.”
(HR. Al-Baihaqi)
Nasihat ini seakan mengingatkan kita bahwa ada tiga kepastian dalam kehidupan: kita akan mati, kita akan berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, dan kita akan berhadapan dengan konsekuensi dari apa yang kita kerjakan.
Karena itu, kematian bukan hanya akhir dari kehidupan. Ia juga merupakan pengingat bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan setelahnya.
Yang Kita Kumpulkan Tidak Semuanya Ikut Bersama Kita
Ada hal lain yang sering membuat kita lupa. Kita bekerja keras mengumpulkan sesuatu yang pada akhirnya harus kita tinggalkan.
Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain. Kendaraan yang kita beli akan berpindah tangan. Jabatan akan berakhir. Uang yang kita kumpulkan akan diwariskan. Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat dengan baik pun pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.
Lalu apa yang benar-benar kita bawa?
Rasulullah ﷺ menjelaskan hal itu dengan sangat jelas. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:
“Yang mengikuti mayit ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali dan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.”
(HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960)
Hadits ini tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia atau berhenti bekerja. Islam tidak mengajarkan demikian. Kita tetap perlu bekerja, membangun usaha, menafkahi keluarga, mengejar ilmu, dan memberikan manfaat sebanyak mungkin.
Tetapi hadits tersebut membantu kita menempatkan semuanya pada posisi yang benar.
Harta adalah sarana, bukan tujuan akhir. Jabatan adalah amanah, bukan identitas abadi. Pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan.
Yang akan tetap bersama kita ketika semua yang lain kembali adalah amal.
Jangan Sampai Sibuk Menyiapkan Masa Depan, tetapi Lupa Menyiapkan Akhir
Ada ironi dalam kehidupan kita. Untuk menghadapi masa depan yang belum tentu kita temui, kita begitu serius mempersiapkannya.
Kita menabung untuk hari tua. Kita menyiapkan pendidikan anak. Kita membeli asuransi. Kita merencanakan investasi. Kita membangun rumah. Kita memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang.
Semua itu baik. Tetapi pernahkah kita memberikan perhatian yang sama seriusnya untuk sesuatu yang pasti terjadi?
Kematian.
Kita sering mengatakan, “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih banyak beribadah.” Seolah-olah usia tua adalah sesuatu yang pasti akan diberikan kepada kita. Padahal, banyak orang yang tidak pernah sampai pada usia yang mereka bayangkan.
Mungkin persoalannya bukan bahwa kita tidak tahu kematian itu pasti. Kita tahu. Hanya saja, kita sering hidup seolah-olah kepastian itu masih sangat jauh.
Kematian Seharusnya Mengubah Cara Kita Menjalani Hari Ini
Mengingat kematian bukan berarti membuat kita hidup dalam ketakutan. Justru sebaliknya, ia seharusnya membuat kita hidup dengan lebih sadar.
Kita menjadi lebih berhati-hati dalam menggunakan waktu. Lebih serius dalam memperbaiki hubungan dengan orang lain. Lebih mudah meminta maaf ketika bersalah. Lebih ringan memaafkan. Lebih berhati-hati mencari rezeki. Dan lebih sadar bahwa setiap kesempatan berbuat baik mungkin tidak datang dua kali.
Kematian juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu sombong dengan apa yang kita miliki hari ini. Sebab ada orang yang pagi ini masih membuat rencana, tetapi sore harinya sudah tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan dunia.
Maka, setiap hari yang masih kita jalani sebenarnya adalah kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki shalat. Kesempatan untuk berbakti kepada orang tua. Kesempatan untuk membahagiakan pasangan dan anak-anak. Kesempatan untuk meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Kesempatan untuk bersedekah. Kesempatan untuk membantu orang lain. Dan kesempatan untuk memperbaiki amal yang selama ini masih jauh dari sempurna.
Pertanyaan Terpenting Bukan Kapan Kita Mati
Kita tidak tahu kapan kematian datang. Dan mungkin memang bukan itu pertanyaan terpenting yang harus kita jawab.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: jika kematian datang lebih cepat dari yang kita perkirakan, apakah kehidupan yang selama ini kita jalani sudah cukup untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah?
Apa yang selama ini kita kejar?
Apa yang paling banyak menghabiskan waktu kita?
Untuk apa tenaga kita digunakan?
Apa yang akan tersisa dari pekerjaan kita ketika jabatan sudah tidak ada?
Apa yang akan dikenang anak-anak kita dari kehadiran kita?
Dan yang paling penting: amal apa yang akan kita bawa ketika semua yang kita cintai harus kita tinggalkan?
Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab kapan ajalnya tiba. Tetapi selama masih diberi napas, kita masih diberi kesempatan untuk mempersiapkan jawabannya.
Karena itu, jangan sampai kita mati-matian mengumpulkan sesuatu yang belum tentu sempat kita nikmati, sementara kita lupa menyiapkan bekal untuk sesuatu yang pasti kita hadapi.
Kematian bukan hanya tentang seseorang yang telah pergi. Setiap kematian adalah pesan yang sedang mengetuk pintu kehidupan kita sendiri.
Dan selama pintu itu belum diketuk untuk kita, mungkin pertanyaan terbaiknya bukan, “Kapan saya akan mati?” melainkan, “Apa yang sedang saya persiapkan untuk hari ketika saya tidak bisa lagi menambah apa pun?” [af]







Tinggalkan Balasan