Jangan Terus Melihat ke Belakang, Tatap Masa Depan dengan Tenang

“Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi kita masih bisa menentukan apa yang kita lakukan setelahnya.”

Bagikan:

jangan lihat ke belakang lihatlah ke depan
Daftar Isi

Ada masa dalam hidup ketika sebuah ujian sebenarnya sudah berlalu, tetapi hati kita masih tinggal di dalamnya. Kejadiannya mungkin sudah bertahun-tahun lewat, masalahnya sudah selesai, bahkan keadaan sudah jauh berubah. Namun ketika kita kembali mengingatnya, rasa sakit itu seolah hadir kembali.

Allah SWT. berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menarik untuk direnungkan. Setelah menyebut berbagai bentuk ujian—rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan—Allah tidak berhenti pada ujian itu. Allah justru memberikan kabar gembira kepada mereka yang bersabar. Seolah ada pesan bahwa ujian bukanlah akhir dari perjalanan.

Masa lalu untuk dipelajari, bukan ditinggali

Masa lalu tetap penting. Tetapi tempatnya bukan untuk kita tinggali. Ia adalah tempat untuk belajar, melakukan muhasabah, memahami kesalahan, dan mengambil pelajaran agar kita tidak mengulanginya di masa depan.

Masalahnya, kita sering melakukan lebih dari sekadar belajar dari masa lalu. Kita mengulangnya di dalam pikiran. Kita mengingat kembali siapa yang menyakiti kita, keputusan yang salah, kesempatan yang terlewat, kegagalan yang pernah terjadi, atau ujian yang dahulu terasa begitu berat.

Setiap kali kita mengulangnya, luka yang sebenarnya sudah mulai sembuh seperti kembali dibuka. Penyesalan datang lagi. Kesedihan muncul lagi. Kita mulai bertanya, “Mengapa dulu saya mengambil keputusan itu?” atau “Mengapa semua ini harus terjadi kepada saya?”

Padahal, ada bagian dari masa lalu yang memang tidak perlu kita bawa terus ke hari ini.

Jangan terjebak dalam kata “seandainya”

Salah satu cara masa lalu terus menguasai kita adalah melalui kata seandainya.

Seandainya waktu itu saya memilih yang lain. Seandainya saya tidak percaya kepadanya. Seandainya saya mengambil kesempatan itu. Seandainya saya tahu sejak awal, tentu semuanya akan berbeda.

Mungkin benar. Tetapi semua itu tidak lagi mengubah apa yang telah terjadi.

Dalam kehidupan, kita perlu belajar membedakan antara mengambil pelajaran dari masa lalu dan terus berdebat dengan masa lalu. Yang pertama membuat kita bertumbuh. Yang kedua hanya menguras energi.

Kita memang tidak bisa mengubah kejadian yang sudah berlalu. Tetapi kita masih bisa menentukan apa yang akan kita lakukan setelah kejadian itu. Di situlah letak ruang ikhtiar kita.

Allah SWT. berfirman:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al-Hadid: 23)

Ayat ini bukan berarti kita tidak boleh sedih ketika kehilangan atau mengalami kegagalan. Manusia tetap memiliki hati, dan kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Tetapi kita tidak seharusnya membiarkan sesuatu yang telah berlalu menguasai seluruh kehidupan kita hari ini.

Menerima bukan berarti menyerah

Menerima takdir juga bukan berarti berhenti berusaha. Menerima berarti mengakui bahwa ada bagian kehidupan yang berada di luar kendali kita.

Kita berikhtiar pada sesuatu yang masih bisa kita ubah. Kita memperbaiki kesalahan yang masih bisa diperbaiki. Kita meminta maaf jika memang harus meminta maaf. Kita belajar dari keputusan yang keliru. Setelah itu, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Karena terlalu lama menyalahkan keadaan tidak akan mengembalikan waktu. Menyalahkan diri sendiri terus-menerus juga tidak akan memperbaiki masa lalu. Bahkan, jika tidak hati-hati, kita bisa sampai pada tahap mempertanyakan ketetapan Allah hanya karena kenyataan tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita.

Di titik itulah kita perlu berhenti.

Bukan berhenti berusaha, tetapi berhenti hidup dalam sesuatu yang sudah selesai.

Arahkan hati kepada Allah

Ketika pikiran mulai dipenuhi penyesalan dan berbagai kemungkinan yang tidak pernah terjadi, mungkin yang kita perlukan bukan jawaban atas semua pertanyaan itu. Bisa jadi, yang kita perlukan adalah kembali mendekat kepada Allah.

Berdoalah kepada Dzat yang menggenggam hati kita, yang mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang kita jalani, dan apa yang belum kita ketahui tentang masa depan.

Kita tidak perlu memahami seluruh jalan di hadapan kita untuk terus melangkah. Cukup percaya bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.

Mungkin ada sesuatu yang dahulu kita anggap sebagai kehilangan, tetapi ternyata Allah sedang mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih baik. Mungkin ada kegagalan yang dahulu begitu menyakitkan, tetapi dari sanalah kita belajar menjadi lebih matang. Mungkin ada pintu yang tertutup bukan karena Allah ingin menyulitkan kita, tetapi karena pintu itu memang bukan jalan yang harus kita tempuh.

Karena itu, jangan terlalu lama melihat ke belakang.

Lihatlah masa lalu secukupnya untuk mengambil pelajaran. Setelah itu, tataplah ke depan dengan hati yang lebih tenang. Apa yang sudah terjadi, biarlah menjadi bagian dari perjalanan. Apa yang belum terjadi, biarlah menjadi ruang untuk ikhtiar dan doa.

Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan di depan. Tetapi kita tahu kepada siapa kita menggantungkan harapan.

Masa lalu cukup menjadi guru. Jangan biarkan ia menjadi tempat tinggal. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *