Jabatan Memberi Wewenang, Karakter Memberi Pengikut

“Orang akan menimbang siapa kita terlebih dahulu, baru kemudian menimbang apa yang kita katakan.”

Bagikan:

karakter pemimpin
Daftar Isi

Ada pemandangan yang hampir pasti pernah kita lihat di organisasi mana pun. Dua orang memegang jabatan yang sama, dengan wewenang yang sama dan target yang sama. Tetapi yang satu cukup mengirim pesan singkat dan timnya langsung bergerak, sementara yang lain harus mengulang instruksi berkali-kali, mengancam, atau menunggu atasannya turun tangan. Struktur organisasinya tidak berbeda. Yang berbeda adalah sesuatu yang tidak tertulis di SK pengangkatan mana pun.

John C. Maxwell, dalam The 21 Indispensable Qualities of a Leader, mengajukan pertanyaan yang sama: mengapa sebagian orang enggan mematuhi seorang pemimpin, tetapi rela mengikuti pemimpin lain dengan penuh semangat? Apa yang membedakan orang yang paham teori kepemimpinan dengan pemimpin yang benar-benar efektif di lapangan? Jawabannya, menurut Maxwell, terletak pada karakter. Kalimatnya sederhana, tetapi jika kita renungkan lebih dalam, kalimat itu menggeser cara kita memandang kepemimpinan secara keseluruhan.

Jabatan Memberi Wewenang, Karakter Memberi Pengikut

Kita sering mengira kepemimpinan dimulai ketika seseorang diangkat. Padahal yang dimulai saat itu hanyalah wewenang. Wewenang membuat orang harus mendengarkan, tetapi tidak membuat mereka mau mengikuti. Perbedaan antara “harus” dan “mau” inilah yang menentukan apakah sebuah tim hanya bekerja sesuai jam kantor, atau bekerja dengan sepenuh hati bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.

Masalahnya, banyak orang menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin dengan cara yang keliru. Mereka mempelajari teknik komunikasi, strategi, manajemen kinerja, dan cara membuat presentasi yang meyakinkan. Semua itu berguna. Tetapi semuanya berada di permukaan, sementara keputusan orang untuk mengikuti atau tidak justru dibuat di tempat yang lebih dalam.

Orang tidak mengikuti strategi. Orang mengikuti manusia yang membawa strategi itu. Jika mereka tidak percaya pada manusianya, strategi sebaik apa pun akan dijalankan setengah hati.

Mengapa Karakter Begitu Menentukan?

Untuk memahami mengapa karakter begitu menentukan, kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang memutuskan untuk mengikuti pemimpinnya. Mengikuti seseorang berarti mempertaruhkan sesuatu: waktu, tenaga, reputasi, kadang masa depan. Pengikut sedang bertaruh bahwa orang ini akan tetap jujur ketika ada godaan, tetap adil ketika ada pilihan untuk berpihak, dan tetap bertanggung jawab ketika keadaan memburuk.

Dengan kata lain, kepercayaan adalah taruhan tentang perilaku seseorang di masa depan. Dan satu-satunya dasar yang masuk akal untuk taruhan itu adalah karakter, yaitu pola perilaku yang konsisten, terutama ketika tidak ada yang melihat. Kompetensi menjawab pertanyaan “apakah dia bisa?”, sedangkan karakter menjawab pertanyaan yang lebih penting bagi pengikut: “apakah dia bisa dipegang?”

Itulah sebabnya pemimpin yang cerdas tetapi tidak dapat diprediksi secara moral sering kali justru membuat timnya lelah. Orang menghabiskan energi untuk menjaga diri, menebak-nebak, dan berhati-hati, bukan untuk bekerja. Sebaliknya, pemimpin yang karakternya jelas memberi timnya rasa aman, dan rasa aman itulah yang membebaskan orang untuk berani mengambil inisiatif.

Kepercayaan Datang Sebelum Pesan

Sejarah Islam memberi gambaran yang sangat jelas tentang urutan ini. Ketika Rasulullah ﷺ pertama kali menyampaikan dakwah secara terbuka, beliau naik ke Bukit Shafa dan memanggil kaum Quraisy. Beliau bertanya, jika beliau mengabarkan bahwa ada pasukan berkuda di balik lembah yang siap menyerang, apakah mereka akan percaya? Mereka menjawab bahwa mereka belum pernah sekali pun mendapati beliau berdusta (HR. Bukhari no. 4770 dan Muslim no. 208).

Yang menarik, pengakuan itu datang dari orang-orang yang kemudian menolak risalahnya. Mereka menolak pesannya, tetapi tidak bisa membantah karakternya. Gelar Al-Amin sudah melekat jauh sebelum wahyu turun. Empat puluh tahun kejujuran menjadi fondasi yang membuat pesan sebesar itu layak didengar, bahkan oleh mereka yang tidak menerimanya.

Pelajarannya relevan untuk siapa saja yang memimpin, baik di organisasi, di lembaga dakwah, maupun di keluarga. Orang akan menimbang siapa kita terlebih dahulu, baru kemudian menimbang apa yang kita katakan. Jika urutan ini terbalik, kita akan mendapati diri kita terus berusaha meyakinkan orang dengan kata-kata, padahal yang sebenarnya mereka butuhkan adalah bukti dari perilaku.

Karakter Terlihat di Momen-Momen Kecil

Kita sering membayangkan karakter diuji dalam peristiwa besar: skandal, krisis, atau keputusan yang menentukan nasib banyak orang. Padahal tim membaca karakter pemimpinnya jauh lebih sering, dalam momen-momen kecil yang mungkin tidak disadari oleh pemimpin itu sendiri.

Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah tim lapangan yang berhasil melampaui target bulanan. Dalam rapat dengan pimpinan yang lebih tinggi, koordinator tim menyebut keberhasilan itu sebagai hasil “strategi saya”. Bulan berikutnya, target meleset, dan ia menjelaskan bahwa “anggota tim kurang disiplin”. Tidak ada aturan yang dilanggar, tidak ada uang yang diselewengkan. Tetapi tim itu baru saja belajar sesuatu yang sangat penting tentang pemimpinnya, dan pelajaran itu tidak akan hilang hanya karena sang koordinator berpidato tentang kebersamaan di rapat berikutnya.

Momen kecil seperti ini terjadi setiap hari: bagaimana seorang pemimpin membagi pujian dan menanggung kesalahan, bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan apa-apa, bagaimana ia mengelola amanah yang kecil, dan apakah ia menepati janji yang sepele. Satu per satu, momen itu tampak remeh. Bersama-sama, momen itulah yang membentuk keputusan tim untuk sekadar patuh atau benar-benar mengikuti.

Kuat dan Amanah: Karakter Bukan Pengganti Kompetensi

Di titik ini, perlu ada satu catatan agar gagasan “karakter adalah segalanya” tidak disalahpahami. Karakter bukan alasan untuk mengabaikan kemampuan. Orang baik yang tidak cakap memimpin tetap bisa membawa timnya pada kegagalan, hanya saja dengan niat yang tulus.

Al-Qur’an merangkum kriteria ini dengan sangat padat. Ketika putri Nabi Syu’aib mengusulkan agar Musa dipekerjakan, ia menyebut alasannya: orang yang paling baik untuk diberi pekerjaan adalah yang kuat dan dapat dipercaya, al-qawiyy al-amin (QS. Al-Qashash: 26). Kekuatan adalah kapasitas, sedangkan amanah adalah karakter. Keduanya disebut bersama, bukan dipilih salah satu.

Bahkan Rasulullah ﷺ pernah menolak permintaan Abu Dzar al-Ghifari, sahabat yang dikenal sangat jujur dan zuhud, untuk diangkat sebagai pemimpin. Beliau bersabda bahwa Abu Dzar lemah, bahwa jabatan itu adalah amanah, dan bahwa pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajibannya (HR. Muslim no. 1825). Kesalehan pribadi Abu Dzar tidak diragukan, tetapi kepemimpinan menuntut kesiapan yang lain.

Jadi, dalam arti apa karakter adalah “segalanya”? Karakter adalah fondasi yang menentukan apakah kompetensi seseorang akan dipercaya dan digunakan untuk kebaikan. Tanpa karakter, kemampuan justru menjadi berbahaya, karena semakin cakap seseorang, semakin besar pula kerusakan yang bisa ia timbulkan. Kompetensi bisa dipelajari dalam hitungan bulan, sedangkan karakter dibangun dalam hitungan tahun dan bisa runtuh dalam satu keputusan.

Melihat ke Dalam Diri dengan Jujur

Maxwell mengakhiri pembahasannya dengan ajakan yang tidak nyaman: berhentilah sejenak dan lihat jauh ke dalam diri sendiri. Apakah di sana ada sifat-sifat yang diperlukan untuk mewujudkan cita-cita terbesar kita, termasuk cita-cita yang mungkin terlalu besar untuk kita ceritakan kepada orang lain? Pertanyaan ini penting, karena kita sering sibuk mengukur kesiapan diri dari keterampilan dan pengalaman, tetapi jarang mengukurnya dari karakter.

Cara paling jujur untuk menjawabnya bukan dengan merenungkan niat, karena niat kita hampir selalu terasa baik di kepala sendiri. Yang lebih jujur adalah memeriksa jejak perilaku. Kapan terakhir kali kita mengakui kesalahan di depan tim tanpa mencari kambing hitam? Apakah kita bersikap sama kepada atasan dan kepada orang yang paling junior? Janji kecil apa yang kita lupakan minggu ini, dan apakah ada yang menyadarinya?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi diri. Tujuannya adalah melihat jarak antara pemimpin yang ingin kita jadi dan orang yang benar-benar kita tampilkan setiap hari. Jarak itu yang perlu dipersempit, sedikit demi sedikit, melalui pilihan-pilihan kecil yang konsisten.

Yang Diikuti Bukan Kata-kata

Pada akhirnya, setiap pemimpin sedang diamati jauh lebih teliti daripada yang ia sadari. Tim mungkin tidak mengingat isi rapat atau slide presentasi, tetapi mereka mengingat bagaimana pemimpinnya bersikap ketika target meleset, ketika ada godaan, dan ketika tidak ada yang mengawasi. Dari situlah mereka memutuskan, sering kali tanpa kata, apakah orang ini layak diikuti.

Mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukanlah “bagaimana agar orang mau mengikuti saya?”, melainkan “jika orang benar-benar mengenal saya, apakah mereka akan tetap mau mengikuti?” Jawaban jujur atas pertanyaan kedua itu menentukan seberapa jauh kepemimpinan kita akan berjalan. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *