Kepemimpinan Adalah Pengaruh: Mengapa Jabatan Tidak Cukup

“Bukti kepemimpinan tidak tersimpan di meja pemimpin, tetapi dalam diri orang-orang yang memilih mengikutinya.”

Bagikan:

kemampuan persuasi
Daftar Isi

Ada satu peribahasa kepemimpinan yang dikutip John C. Maxwell dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership, dan sulit dilupakan begitu pertama kali mendengarnya: orang yang mengira dirinya sedang memimpin, tetapi tidak punya pengikut, sebenarnya hanya sedang berjalan-jalan. Kalimat itu terdengar lucu, tetapi ada sesuatu yang menohok di dalamnya. Banyak di antara kita yang pernah, atau sedang, berada di posisi itu: punya jabatan, punya struktur, punya surat keputusan, tetapi ketika menoleh ke belakang, tidak banyak orang yang benar-benar berjalan bersama kita.

Maxwell merumuskannya dengan tegas. Ukuran sejati kepemimpinan adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang. Pernyataan ini sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Jika benar, maka sebagian besar hal yang selama ini kita anggap sebagai tanda kepemimpinan, seperti jabatan, gelar, ruangan, dan wewenang tanda tangan, sebenarnya bukan kepemimpinan itu sendiri.

Jabatan Memberi Wewenang, Bukan Pengikut

Masalahnya berawal dari kebiasaan kita mencampuradukkan dua hal yang berbeda: wewenang dan pengaruh. Wewenang bisa diberikan oleh organisasi. Seseorang bisa ditunjuk menjadi kepala cabang, koordinator, atau ketua panitia dalam satu rapat. Tetapi pengaruh tidak ikut terkirim bersama surat penunjukan itu.

Perbedaannya paling terasa ketika pemimpin tidak sedang hadir. Orang yang hanya punya wewenang biasanya mendapatkan kepatuhan: tim bekerja selama diawasi, mengikuti instruksi selama ada konsekuensinya. Orang yang punya pengaruh mendapatkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu komitmen. Tim tetap bergerak ke arah yang sama meskipun ia sedang tidak ada di ruangan, karena mereka sudah memahami dan meyakini arah itu, bukan sekadar menjalankannya.

Kita semua pernah melihat dua tipe ini. Ada atasan yang perintahnya dijalankan, tetapi setengah hati. Ada pula orang tanpa jabatan apa pun di sebuah tim, yang pendapatnya selalu ditunggu sebelum keputusan diambil. Secara struktur, yang pertama adalah pemimpin. Secara kenyataan, yang kedua.

Mengapa Pengaruh Tidak Bisa Diperintahkan

Pengaruh tidak bisa diputuskan dalam rapat karena ia tidak berada di tangan pemimpin. Ia berada di hati orang yang dipimpin. Ketika seseorang memutuskan untuk sungguh-sungguh mengikuti kita, itu adalah keputusan yang ia ambil sendiri, berdasarkan penilaiannya terhadap diri kita. Kita bisa memaksa orang hadir, tetapi kita tidak bisa memaksa orang percaya.

Di sinilah kata persuasi perlu dipahami dengan benar. Persuasi yang dimaksud bukan kepandaian bicara, apalagi manipulasi. Manipulasi membuat orang melakukan sesuatu tanpa benar-benar memahami atau menyetujuinya, dan biasanya runtuh begitu orang menyadarinya. Persuasi yang sehat justru sebaliknya: membuat orang yakin dengan sukarela, dengan mata terbuka, karena mereka melihat alasan yang masuk akal dan pribadi yang bisa dipercaya.

Karena itu pula pengaruh harus diupayakan. Ia tidak diwariskan dari pendahulu dan tidak otomatis datang bersama masa kerja. Ia dibangun pelan-pelan, melalui hal-hal yang sering tidak terlihat dari luar.

Tujuh Sumber Pengaruh, dan Pola di Baliknya

Lalu mengapa sebagian orang tampil sebagai pemimpin, sementara yang lain tidak mampu meyakinkan siapa pun sekeras apa pun mereka berusaha? Maxwell menyebut tujuh faktor: karakter (siapa mereka), hubungan (siapa yang mereka kenal), pengetahuan (apa yang mereka ketahui), intuisi (apa yang mereka rasakan), pengalaman (di mana saja mereka pernah berada), keberhasilan masa lalu (apa yang telah mereka lakukan), dan kemampuan (apa yang dapat mereka lakukan).

Daftar ini menarik bukan karena jumlahnya, tetapi karena pola yang tersembunyi di dalamnya. Hampir semua faktor itu dibangun sebelum seseorang membutuhkannya. Karakter terbentuk bertahun-tahun sebelum ada orang yang menilainya. Hubungan dirajut jauh sebelum kita perlu meminta bantuan. Pengalaman dan rekam jejak dikumpulkan dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang dulu mungkin tidak dianggap penting oleh siapa pun.

Artinya, pengaruh lebih mirip tabungan daripada alat. Orang sering baru memikirkan pengaruh ketika sedang membutuhkannya, misalnya saat harus memimpin perubahan, meminta tim bekerja lebih keras, atau meyakinkan orang tentang sesuatu yang sulit. Padahal pada saat itulah tabungan itu dicairkan, bukan diisi. Pemimpin yang tiba-tiba ingin didengar, tanpa pernah menabung kepercayaan, akan mendapati bahwa kata-katanya ringan sekali.

Dari ketujuh faktor itu, karakter layak diletakkan paling depan. Pengetahuan bisa dipelajari, kemampuan bisa dilatih, hubungan bisa dibangun. Tetapi tanpa karakter, semua itu justru membuat orang lebih waspada. Orang pintar yang tidak bisa dipercaya bukan sosok yang diikuti, melainkan sosok yang diawasi.

Pelajaran dari Bukit Shafa

Sejarah dakwah Rasulullah ﷺ memberi gambaran yang sangat jelas tentang tabungan kepercayaan ini. Ketika turun perintah untuk memberi peringatan kepada keluarga terdekat, beliau naik ke Bukit Shafa dan memanggil kabilah-kabilah Quraisy. Sebelum menyampaikan risalah, beliau bertanya lebih dulu: bagaimana jika aku kabarkan ada pasukan berkuda di balik lembah yang siap menyerang kalian, apakah kalian akan memercayaiku? Mereka menjawab bahwa mereka tidak pernah mendapati beliau berdusta (HR. Bukhari no. 4770, Muslim no. 208).

Perhatikan urutannya. Pesan terbesar dalam hidup beliau disampaikan dengan bersandar pada kepercayaan yang sudah dibangun selama empat puluh tahun. Gelar al-Amin tidak diberikan lewat pengangkatan, tetapi lahir dari pengamatan masyarakat terhadap kejujurannya dalam berdagang, bertetangga, dan menyelesaikan perselisihan. Karakter datang lebih dulu, baru kemudian pesan.

Namun kisah yang sama juga menyimpan pelajaran yang jujur. Meskipun mengakui kejujuran beliau, sebagian dari mereka, termasuk Abu Lahab, tetap menolak. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Qashash: 56). Pengaruh membuka pintu, tetapi tidak menjamin setiap orang akan masuk. Tugas seorang pemimpin, dan seorang dai, adalah menjadi pribadi yang layak diikuti. Hasil akhirnya bukan sepenuhnya milik kita.

Yang Sering Membuat Orang Menjauh

Jika karakter dan kepercayaan adalah yang mendekatkan, apa yang paling cepat menjauhkan? Al-Qur’an menjawabnya dalam konteks kepemimpinan Rasulullah ﷺ sendiri: “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika sebagian sahabat melakukan kesalahan yang berakibat fatal. Secara manusiawi, itu adalah saat yang paling wajar untuk marah. Justru di situ Allah menegaskan bahwa kelembutanlah yang membuat orang tetap berada di sekitar pemimpinnya, lalu melanjutkan perintah untuk memaafkan, memohonkan ampun, dan bermusyawarah dengan mereka.

Dalam organisasi mana pun, polanya serupa. Sebagai ilustrasi, bayangkan dua koordinator lapangan yang sama-sama menghadapi tim dengan capaian buruk bulan ini. Yang pertama datang dengan nada keras dan daftar kesalahan. Timnya diam, mengangguk, lalu bulan berikutnya mulai menyembunyikan masalah supaya tidak dimarahi lagi. Yang kedua tetap tegas soal target, tetapi lebih dulu bertanya apa yang terjadi di lapangan dan apa yang bisa ia bantu. Timnya terbuka, dan masalah bisa diselesaikan sejak dini. Keduanya punya wewenang yang sama, tetapi hanya satu yang punya pengaruh.

Mengukur Kepemimpinan Kita dengan Jujur

Jika ukuran kepemimpinan adalah pengaruh, maka cara menilainya juga harus berubah. Pertanyaannya bukan lagi “seberapa tinggi posisi saya”, melainkan beberapa pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman. Ketika saya tidak hadir, apakah tim tetap bergerak ke arah yang sama? Ketika ada masalah, apakah orang datang kepada saya, atau justru menghindari saya? Ketika saya mengusulkan sesuatu yang sulit, apakah orang mengikuti karena yakin, atau karena tidak punya pilihan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab untuk menghakimi diri sendiri. Gunanya adalah melihat di mana tabungan kepercayaan kita masih tipis. Mungkin pengetahuan sudah cukup, tetapi hubungan belum dibangun. Mungkin kemampuan teknis sudah kuat, tetapi orang belum melihat konsistensi antara ucapan dan tindakan kita. Setiap celah itu bisa diisi, tetapi hanya jika kita mau mengakuinya lebih dulu.

Bukti kepemimpinan, pada akhirnya, tidak tersimpan di meja pemimpin. Ia tersimpan dalam diri para pengikutnya: dalam cara mereka bekerja ketika tidak diawasi, dalam keberanian mereka menyampaikan masalah, dan dalam kesediaan mereka berjalan bersama ketika jalannya sedang berat.

Menoleh ke Belakang

Mungkin inilah alasan peribahasa tentang orang yang “hanya sedang berjalan-jalan” itu terasa begitu tepat. Berjalan di depan itu mudah; siapa pun bisa melakukannya. Yang sulit adalah memastikan bahwa ketika kita menoleh, ada orang di belakang kita, dan mereka ada di sana karena memilihnya.

Jadi, sebelum bertanya bagaimana caranya agar orang mau mengikuti kita, barangkali ada pertanyaan yang lebih jujur untuk diajukan lebih dulu: selama ini, apa yang sudah kita tabung sehingga orang punya alasan untuk percaya? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *