Dalam bukunya The 360° Leader, John C. Maxwell menceritakan pengalaman yang cukup sering ia alami di konferensi atau acara penandatanganan buku. Ada saja orang yang mendekat dan mengatakan bahwa mereka juga ingin menulis buku. Lalu mereka bertanya, “Bagaimana cara memulainya?” Maxwell biasanya balik bertanya, “Sudah berapa banyak tulisan yang Anda buat?”
Sebagian orang menyebut artikel atau naskah yang sedang mereka kerjakan, dan Maxwell menyemangati mereka. Namun tidak sedikit yang menjawab dengan malu, “Sebenarnya saya belum menulis apa-apa.” Jawaban Maxwell untuk mereka sederhana: kalau begitu, mulailah menulis. Mulai dari yang kecil, lalu tingkatkan sedikit demi sedikit.
Percakapan itu tampak sepele, tetapi ia menyimpan pola yang jauh lebih luas daripada urusan menulis buku. Banyak dari kita ingin sampai ke hal besar tanpa pernah benar-benar menyelesaikan hal kecil yang ada di depan mata.
Pertanyaan yang Urutannya Terbalik
Orang yang bertanya “bagaimana cara menulis buku” sebenarnya sedang mengajukan pertanyaan yang wajar. Masalahnya ada pada urutan. Ia ingin tahu cara mencapai hasil akhir, padahal ia belum pernah menjalani langkah pertamanya. Pertanyaan yang lebih jujur mungkin justru, “Bagaimana cara saya menulis satu halaman hari ini?”
Pola yang sama mudah ditemukan dalam kepemimpinan. Ada orang yang bertanya bagaimana memimpin organisasi besar, padahal ia belum pernah konsisten memimpin rapat kecil yang berjalan tepat waktu. Ada yang bertanya bagaimana menggerakkan ratusan orang, padahal satu rekan kerja di sebelahnya pun belum percaya pada ucapannya. Bukan karena ia tidak berbakat, tetapi karena ia melompati tangga yang seharusnya dinaiki satu per satu.
Maxwell menarik pelajaran yang sama untuk kepemimpinan. Orang yang belum pernah memimpin perlu belajar memengaruhi satu orang lebih dahulu. Orang yang sudah punya pengaruh perlu belajar membangun tim. Setiap tahap menyiapkan kemampuan yang dibutuhkan di tahap berikutnya.
Mengapa Kita Tergoda Melompat ke Hal Besar
Ada beberapa alasan mengapa hal kecil sering diabaikan. Pertama, hal besar terasa lebih bermakna. Membayangkan diri memimpin perubahan besar jauh lebih menyenangkan daripada memastikan laporan mingguan selesai dengan rapi. Imajinasi tentang hasil memberi rasa puas, sementara kerja kecil yang membosankan tidak memberi tepuk tangan apa pun.
Kedua, hal kecil hampir tidak terlihat. Tidak ada yang memuji seseorang karena ia selalu menepati janji membalas pesan, selalu datang sebelum waktunya, atau selalu menuntaskan tugas sampai detail terakhir. Karena tidak terlihat, ia mudah dianggap tidak penting. Padahal justru di sanalah orang lain diam-diam menilai apakah kita bisa dipercaya.
Ketiga, kita sering memahami kepemimpinan sebagai posisi, bukan sebagai tanggung jawab. Jika kepemimpinan adalah jabatan, maka wajar kita merasa belum perlu memimpin sebelum diangkat. Tetapi jika kepemimpinan adalah tanggung jawab, maka ia sudah dimulai hari ini, dari tempat kita berdiri sekarang.
Kepemimpinan Dimulai dari Posisi Anda Sekarang
Maxwell menulis bahwa semua kepemimpinan berawal dari posisi seperti posisi kita saat ini. Gagasan ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ yang sangat dikenal: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Dalam hadits itu, Rasulullah ﷺ menyebut penguasa, suami, istri, bahkan seorang pembantu yang menjaga harta tuannya.
Yang menarik, hadits ini tidak dimulai dengan syarat jabatan. Tidak ada kalimat “jika kalian sudah menjadi pemimpin besar”. Setiap orang sudah memegang amanah, sekecil apa pun lingkupnya. Artinya, pertanyaan “kapan saya akan memimpin” sebenarnya sudah terjawab. Yang tersisa adalah pertanyaan “bagaimana saya memimpin apa yang sudah dipercayakan kepada saya sekarang”.
Sebagai ilustrasi, bayangkan dua orang staf di sebuah lembaga. Yang pertama selalu berbicara tentang strategi besar yang seharusnya dijalankan organisasi, tetapi data yang menjadi tanggung jawabnya sering tidak diperbarui. Yang kedua jarang berbicara soal visi, tetapi setiap tugasnya selesai tepat waktu dan bisa diandalkan. Ketika suatu hari ada amanah yang lebih besar, hampir pasti orang akan menoleh kepada yang kedua. Bukan karena ia lebih pandai berbicara, tetapi karena ia sudah membuktikan diri di wilayah yang kecil.
Hal Kecil Adalah Tempat Karakter Diuji
Hal kecil sering dianggap sebagai pemanasan sebelum pekerjaan yang sesungguhnya. Padahal, hal kecil adalah ujian yang sesungguhnya. Di hal besar, banyak orang bisa tampil baik karena sedang diperhatikan. Di hal kecil, ketika tidak ada yang menonton, karakter kita yang asli yang bekerja.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dikerjakan, meskipun sedikit” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha). Hadits ini memberi sudut pandang yang sering terlupakan: nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari besarnya, tetapi juga dari kesinambungannya. Sesuatu yang kecil tetapi dijaga terus-menerus membentuk diri seseorang lebih dalam daripada sesuatu yang besar tetapi hanya sekali.
Dalam pekerjaan dan organisasi, prinsip ini sangat terasa. Kepercayaan tim tidak dibangun dari satu pidato yang menggugah. Ia dibangun dari ratusan janji kecil yang ditepati: rapat yang dimulai tepat waktu, tindak lanjut yang benar-benar dilakukan, keputusan yang konsisten dengan ucapan kemarin. Begitu juga dalam dakwah. Orang lebih mudah mendengar nasihat dari seseorang yang kesehariannya sejalan dengan apa yang ia sampaikan.
Menaklukkan Diri Sebelum Menaklukkan Dunia
Dalam bagian yang sama, Maxwell mengutip ucapan yang dinisbatkan kepada Napoleon, bahwa satu-satunya penaklukan yang permanen dan tanpa penyesalan adalah penaklukan atas diri sendiri. Lalu ia menutup dengan kalimat yang menjadi inti seluruh gagasan ini: jangan mencoba menaklukkan dunia sebelum membereskan hal-hal kecil di dalam diri sendiri.
Al-Qur’an sudah lama menegaskan arah yang serupa. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan besar, baik pada sebuah organisasi, komunitas, maupun masyarakat, selalu berakar pada perubahan di dalam diri orang-orangnya. Tidak ada jalan pintas yang melewati wilayah itu.
Di sinilah hal kecil menemukan maknanya yang paling dalam. Tanggung jawab kecil yang kita pegang hari ini bukan sekadar tugas administratif. Ia adalah latihan menaklukkan diri: melawan rasa malas, menunda kepuasan, dan memilih menyelesaikan pekerjaan dengan baik meskipun tidak ada yang memperhatikan. Orang yang gagal menaklukkan dirinya dalam perkara kecil biasanya akan kewalahan ketika amanahnya membesar, karena beban bertambah sementara kebiasaannya tidak berubah.
Lalu, Dari Mana Memulainya?
Langkah pertama adalah berhenti bertanya tentang hal besar sejenak dan melihat apa yang sudah ada di tangan. Pilih satu tanggung jawab yang saat ini Anda pegang, lalu tanyakan dengan jujur: apakah ini sudah saya kerjakan dengan tuntas, atau baru sekadar “cukup”? Sering kali jawabannya membuka banyak hal yang selama ini terlewat.
Langkah berikutnya adalah membuat janji yang lebih kecil, tetapi menepatinya tanpa kecuali. Lebih baik berjanji menyelesaikan satu hal minggu ini dan benar-benar menyelesaikannya, daripada berjanji lima hal dan hanya menuntaskan dua. Kebiasaan menepati janji kecil membangun dua hal sekaligus: kepercayaan orang lain kepada kita, dan kepercayaan kita kepada diri sendiri.
Setelah itu, naikkan bebannya secara bertahap. Ini persis nasihat Maxwell kepada calon penulis: mulai kecil, lalu tingkatkan sedikit demi sedikit. Setiap kali satu tanggung jawab sudah bisa dijalankan dengan stabil, tambahkan tantangan baru. Pertumbuhan seperti ini memang terasa lambat, tetapi ia jauh lebih kokoh daripada lompatan yang tidak memiliki pijakan.
Pertanyaan yang Lebih Penting
Kita sering bertanya, “Apa yang akan saya lakukan jika suatu hari diberi amanah besar?” Pertanyaan itu tidak salah, tetapi ia sering menjadi tempat bersembunyi. Ia membuat kita merasa sedang memikirkan kepemimpinan, padahal yang sebenarnya kita pikirkan adalah masa depan yang belum tentu datang.
Pertanyaan yang lebih penting mungkin adalah ini: apa yang sedang saya lakukan dengan amanah kecil yang sudah ada di tangan saya hari ini? Sebab cara kita memperlakukan hal kecil adalah gambaran paling jujur tentang bagaimana kita akan memperlakukan hal besar. Dan sering kali, pintu menuju hal besar baru terbuka setelah hal kecil di belakang kita selesai dibereskan. [af]







Tinggalkan Balasan