3 Sikap Kepemimpinan di Tempat Kerja Baru yang Penting Dimiliki

“Jabatan memberikan kewenangan, tetapi tidak otomatis memberikan kepercayaan.”

Bagikan:

3 sikap kepemimpinan di tempat kerja baru
Daftar Isi

Memasuki tempat kerja baru bukan hanya soal mengenal ruangan, sistem kerja, atau orang-orang yang akan menjadi rekan kita. Bagi seorang pemimpin, tempat baru juga berarti memasuki lingkungan dengan kebiasaan, karakter, budaya, dan cara pandang yang mungkin berbeda dari apa yang selama ini kita kenal.

Dale Carnegie dalam Leadership Mastery membahas beberapa sikap yang penting dimiliki seseorang ketika berada di lingkungan kerja yang baru. Dari beberapa hal yang dibahas, ada tiga sikap yang menurut saya menarik untuk direnungkan: menghormati keragaman, membangun empati, dan mengendalikan ego.

1. Menghormati Keragaman

Salah satu hal pertama yang akan kita temui ketika memasuki lingkungan baru adalah perbedaan. Kita mungkin bertemu orang dengan latar belakang suku, agama, generasi, pendidikan, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan seperti ini sebenarnya bukan masalah. Yang sering menjadi masalah adalah cara kita memandang perbedaan tersebut.

Seorang pemimpin tidak harus menjadi sahabat semua orang. Tetapi ia harus mampu bekerja dan bergaul dengan siapa pun tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menjaga jarak. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan untuk melihat manusia lebih jauh daripada sekadar identitas yang melekat pada dirinya.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa keberagaman merupakan bagian dari ketetapan Allah. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (lita’arafu).

Ayat ini menarik jika kita hubungkan dengan kehidupan di tempat kerja. Perbedaan tidak diciptakan agar kita sibuk menentukan siapa yang lebih baik, tetapi agar kita saling mengenal. Orang yang berbeda dari kita mungkin memiliki pengalaman yang tidak pernah kita alami, pengetahuan yang belum kita miliki, atau cara melihat persoalan yang belum pernah terpikirkan oleh kita.

Sering kali kita justru melakukan hal sebaliknya. Ketika bertemu dengan sesuatu yang berbeda, kita cepat membandingkan. Kita merasa cara kita lebih baik karena itulah yang sudah kita kenal sejak lama. Padahal, sesuatu yang berbeda belum tentu lebih buruk. Bisa jadi kita hanya belum cukup mengenalnya.

Karena itu, ketika memasuki tempat kerja baru, saya kira penting untuk membawa rasa ingin tahu, bukan prasangka. Kita bisa berkata dalam hati, “Mungkin ada sesuatu dari orang ini yang bisa saya pelajari.” Sikap seperti itu membuat kita lebih terbuka dan sekaligus lebih mudah diterima oleh lingkungan baru.

2. Berempati

Menghormati perbedaan akan menjadi lebih mudah jika kita belajar berempati. Empati adalah kemampuan untuk mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, bukan hanya dari sudut pandang kita sendiri.

Pada dasarnya, meskipun latar belakang kita berbeda, sebagai manusia kita memiliki banyak kesamaan. Kita sama-sama menghadapi tekanan dalam kehidupan. Kita sama-sama ingin dihargai, ingin dipercaya, ingin berhasil, dan ingin diperlakukan dengan baik.

Karena itu, seorang pemimpin perlu belajar mengenali manusia di balik jabatan dan pekerjaannya. Mengucapkan “selamat pagi” atau “terima kasih” memang penting, tetapi empati tidak berhenti pada sopan santun. Empati membuat kita berusaha memahami mengapa seseorang berpikir, bersikap, atau berkomunikasi dengan cara tertentu.

Perbedaan budaya sering kali membuat persoalan sederhana menjadi rumit. Ada orang yang terbiasa berbicara langsung dan tanpa banyak basa-basi. Bagi mereka, cara tersebut adalah bentuk efisiensi. Namun bagi orang lain, gaya komunikasi seperti itu mungkin terasa dingin.

Sebaliknya, ada budaya yang menganggap salam, percakapan ringan, dan sedikit basa-basi sebagai bagian penting dalam membangun hubungan. Jika kita tidak memahami konteksnya, kita mungkin menganggap orang tersebut terlalu banyak bicara. Mereka pun bisa menganggap kita tidak ramah.

Di sinilah empati menjadi penting. Kita tidak harus mengikuti semua kebiasaan orang lain, tetapi kita perlu memahami perbedaan tersebut agar tidak terburu-buru memberikan penilaian.

Nilai tentang mendahulukan orang lain juga sangat kuat dalam Islam. Allah memuji kaum Anshar dalam QS. Al-Hasyr ayat 9 karena mereka memberikan apa yang mereka miliki kepada kaum Muhajirin dan mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memiliki kebutuhan.

Tentu saja konteks ayat tersebut jauh lebih luas daripada sekadar hubungan di tempat kerja. Namun ada pelajaran yang bisa kita ambil: hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk melihat kebutuhan orang lain, bukan hanya kepentingan diri sendiri.

Dalam kepemimpinan, empati berarti kita tidak hanya bertanya, “Apa yang harus dia lakukan?” tetapi juga sesekali bertanya, “Apa yang sedang dia hadapi?” Pertanyaan kedua sering kali membuat kita mengambil keputusan yang berbeda.

3. Mengontrol Ego

Sikap ketiga yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengendalikan ego. Ini mungkin salah satu tantangan terbesar bagi seseorang yang sudah memiliki pengalaman dan pencapaian sebelumnya.

Ketika memasuki tempat baru, kita mungkin membawa jabatan, pengalaman, prestasi, dan reputasi dari tempat sebelumnya. Semua itu tentu berharga. Tetapi pengalaman masa lalu tidak otomatis membuat kita memahami persoalan di tempat yang baru.

Di sinilah seseorang perlu belajar melepaskan sebagian egonya.

Kita perlu kembali menjadi orang yang mau mendengar. Kita perlu bertanya. Kita perlu mengamati bagaimana organisasi bekerja dan memahami karakter orang-orang yang ada di dalamnya. Tidak semua hal harus segera diubah hanya karena berbeda dengan cara yang biasa kita lakukan sebelumnya.

Jabatan memang memberikan kewenangan, tetapi tidak otomatis memberikan kepercayaan. Kekuasaan bisa membuat seseorang ditaati, tetapi kepercayaanlah yang membuat orang bersedia berjalan bersama.

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat sederhana tentang sikap rendah hati. Dalam QS. Al-Furqan ayat 63, Allah menyebutkan bahwa hamba-hamba Ar-Rahman adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati. Rendah hati bukan berarti tidak percaya diri atau kehilangan wibawa. Rendah hati berarti kita tidak menjadikan kelebihan yang kita miliki sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Ada sebuah ilustrasi menarik tentang seorang eksekutif yang pernah menduduki posisi tinggi di sebuah perusahaan. Ia mengatakan bahwa ketika masih muda dan sudah menjadi presiden perusahaan, ia merasa jabatan tersebut membuat dirinya sangat penting. Namun ketika pulang ke rumah, bayinya mengompol dan ia harus mengganti popoknya sendiri.

Pengalaman sederhana itu mengembalikannya kepada kenyataan. Di kantor ia mungkin seorang presiden perusahaan, tetapi di rumah ia tetap seorang ayah. Jabatan yang tinggi ternyata tidak mengubah kenyataan bahwa ia tetap manusia biasa.

Saya kira kita semua membutuhkan sesuatu yang sesekali mengingatkan kita untuk tetap berpijak. Sesuatu yang membuat kita ingat bahwa jabatan, gelar, kekuasaan, dan pencapaian hanyalah bagian dari diri kita, bukan keseluruhan diri kita.

Sebab ketika berada di posisi tinggi, sangat mudah bagi seseorang untuk merasa dirinya penting. Karena itu, kehidupan di luar kantor sering kali menjadi penyeimbang. Keluarga, teman, atau bahkan pekerjaan-pekerjaan sederhana yang kita lakukan sehari-hari dapat mengingatkan bahwa kita tetap manusia biasa, apa pun jabatan yang sedang kita sandang.

Memimpin di Tempat Baru Berarti Bersedia Belajar Lagi

Ketika memasuki tempat kerja baru, mungkin godaan terbesar seorang pemimpin adalah ingin segera menunjukkan bahwa dirinya mampu. Kita ingin terlihat kompeten, ingin menunjukkan pengalaman, dan ingin membuktikan bahwa keputusan untuk menempatkan kita di sana memang tepat.

Namun terkadang, kepemimpinan justru dimulai dari kesediaan untuk tidak buru-buru menunjukkan semuanya.

Kita perlu mengenal orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita perlu memahami budaya yang sudah terbentuk. Kita perlu menghargai perbedaan, belajar berempati, dan menjaga agar ego tidak membuat kita merasa lebih penting daripada lingkungan yang sedang kita masuki.

Kita mungkin datang dengan pengalaman bertahun-tahun, tetapi orang-orang yang sudah lebih dahulu berada di sana memiliki pengetahuan yang tidak selalu tertulis di dalam buku. Mereka mengetahui sejarah organisasi, memahami karakter orang-orang di dalamnya, dan mungkin tahu mengapa beberapa hal berjalan seperti sekarang.

Pemimpin yang baik tidak kehilangan wibawanya ketika berkata, “Saya belum tahu. Tolong jelaskan kepada saya.” Justru dari kalimat seperti itu, kepercayaan sering kali mulai tumbuh.

Maka, ketika memasuki lingkungan kerja yang baru, mungkin pertanyaan pertama yang perlu kita ajukan bukanlah, “Apa yang bisa saya ubah?” tetapi, “Apa yang perlu saya pahami terlebih dahulu?”

Bisa jadi, justru dengan lebih banyak memahami daripada menghakimi, lebih banyak mendengar daripada berbicara, dan lebih banyak belajar daripada menunjukkan diri, kita sedang memulai kepemimpinan dengan cara yang paling sehat.

Sebab pada akhirnya, pemimpin tidak hanya dinilai dari apa yang mampu ia perintahkan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia yang berjalan bersamanya. [af]

One response to “3 Sikap Kepemimpinan di Tempat Kerja Baru yang Penting Dimiliki”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *