Ketika sebuah tim mengalami burnout, kita sering langsung melihat beban pekerjaannya. Target terlalu tinggi, pekerjaan terlalu banyak, jam kerja terlalu panjang, atau terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan. Semua itu memang bisa menjadi penyebab. Tetapi dari beberapa pengamatan di lapangan, saya melihat ada persoalan lain yang tidak kalah penting: cara sebuah tim dipimpin dapat membuat pekerjaan yang sebenarnya masih wajar terasa jauh lebih melelahkan.
Bayangkan dua tim dengan jumlah orang dan beban pekerjaan yang kurang lebih sama. Tim pertama memiliki pemimpin yang jelas menentukan arah, pembagian tugasnya relatif adil, setiap orang memahami tanggung jawabnya, dan ketika ada masalah pemimpin berani mengambil keputusan. Tim kedua menghadapi pemimpin yang sering berubah keputusan, pembagian pekerjaan tidak jelas, dan sebagian anggota terus-menerus menerima tugas tambahan. Secara administratif mungkin keduanya memiliki beban kerja yang sama. Tetapi pengalaman bekerja di dalam kedua tim tersebut bisa sangat berbeda.
Karena itu, burnout tidak selalu dimulai dari terlalu banyak pekerjaan. Kadang ia dimulai dari ketidakjelasan, ketidakpastian, ketidakadilan, dan kepemimpinan yang tidak memberikan rasa aman bagi tim untuk bekerja.
Berikut beberapa kesalahan kepemimpinan yang menurut saya perlu mendapat perhatian.
1. Pemimpin yang Plin-Plan dan Tidak Mampu Mengambil Keputusan
Salah satu hal yang paling melelahkan bagi sebuah tim adalah bekerja di bawah kepemimpinan yang tidak jelas arahnya.
Pemimpin tentu boleh mengubah keputusan ketika ada informasi baru. Bahkan, kemampuan mengoreksi keputusan adalah bagian dari kepemimpinan yang sehat. Masalah muncul ketika perubahan bukan karena adanya pertimbangan baru, melainkan karena pemimpin memang tidak mampu menentukan arah sejak awal.
Tim akhirnya bergerak dalam ketidakpastian. Hari ini diminta mengerjakan A, besok diarahkan ke B, lalu beberapa hari kemudian kembali ke A. Pekerjaan yang sudah selesai mungkin harus diulang, sementara anggota tim mulai belajar bahwa keputusan hari ini belum tentu berlaku besok.
Situasi seperti ini sangat menguras energi. Orang bukan hanya bekerja menyelesaikan tugas, tetapi juga menghabiskan energi untuk mengantisipasi perubahan keputusan pemimpinnya.
Seorang pemimpin tidak harus selalu membuat keputusan yang benar. Tidak ada pemimpin yang memiliki informasi sempurna. Tetapi tim membutuhkan seseorang yang berani mengatakan, “Dengan informasi yang kita miliki sekarang, inilah keputusan yang kita ambil. Kalau nanti ada fakta baru, kita evaluasi kembali.”
Kejelasan sering kali lebih menenangkan daripada kesempurnaan.
2. Terlalu Banyak Mengontrol Pekerjaan Tim
Kesalahan berikutnya adalah micromanagement. Pemimpin terlalu masuk ke detail pekerjaan, mengawasi hampir setiap langkah, dan sulit memberikan ruang kepada anggota tim untuk mengambil keputusan sendiri.
Pada awalnya, perilaku seperti ini mungkin terlihat sebagai bentuk perhatian. Namun jika berlangsung terus-menerus, pesan yang diterima anggota tim sebenarnya adalah bahwa pemimpin tidak percaya kepada mereka.
Akibatnya, anggota tim berhenti menggunakan inisiatif. Mereka lebih sibuk memastikan bahwa setiap langkah sesuai dengan keinginan atasan daripada memikirkan bagaimana pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih baik.
Pemimpin tetap perlu mengawasi. Tetapi pengawasan yang sehat seharusnya lebih banyak berbicara tentang arah, target, kualitas hasil, dan persoalan penting yang membutuhkan intervensi. Tidak semua hal harus dikendalikan dari atas.
3. Job Description yang Tidak Jelas
Saya melihat persoalan ini cukup sering menjadi sumber kelelahan dalam sebuah tim. Ketika seseorang tidak jelas apa tanggung jawab utamanya, batas pekerjaannya menjadi kabur dan hampir setiap persoalan bisa berakhir dengan pertanyaan, “Ini sebenarnya tugas siapa?”
Ketidakjelasan seperti ini membuat orang menghabiskan energi bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk memahami wilayah tanggung jawabnya sendiri. Lebih buruk lagi jika ada pekerjaan yang terus berpindah dari satu orang ke orang lain karena tidak ada yang merasa benar-benar bertanggung jawab.
Tentu dalam sebuah tim kita tidak bisa bekerja terlalu kaku berdasarkan job description. Ada saatnya seseorang harus membantu pekerjaan rekannya. Namun kolaborasi berbeda dengan struktur kerja yang memang tidak jelas.
Setiap anggota tim setidaknya perlu memahami apa tanggung jawab utamanya, hasil apa yang diharapkan, dan di mana batas tanggung jawabnya terhadap pekerjaan orang lain. Kejelasan seperti ini sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap kesehatan sebuah tim.
4. Membagi Beban Tugas Secara Tidak Proporsional
Beban kerja yang tidak proporsional juga dapat menjadi sumber burnout.
Ada kecenderungan yang cukup manusiawi dalam organisasi: orang yang dianggap mampu biasanya mendapatkan lebih banyak pekerjaan. Karena ia dapat diandalkan, tugas baru kembali diberikan kepadanya. Karena ia jarang mengeluh, pemimpin menganggap semuanya masih baik-baik saja.
Masalahnya, kemampuan menyelesaikan banyak pekerjaan tidak berarti seseorang memiliki kapasitas yang tidak terbatas.
Jika satu orang terus menerima tugas tambahan sementara anggota lain memiliki beban yang jauh lebih ringan, cepat atau lambat akan muncul kelelahan, rasa tidak adil, bahkan kekecewaan terhadap organisasi. Yang lebih berbahaya, orang yang selama ini paling dapat diandalkan justru bisa menjadi orang yang paling dahulu kehilangan energinya.
Pembagian yang adil juga tidak berarti setiap orang harus mendapatkan jumlah pekerjaan yang sama. Beban perlu dilihat berdasarkan kapasitas, tingkat kesulitan, tanggung jawab, pengalaman, dan waktu yang tersedia.
Pemimpin perlu bertanya bukan hanya, “Siapa yang bisa mengerjakan ini?” tetapi juga, “Siapa yang saat ini masih memiliki kapasitas untuk mengerjakannya?”
5. Membuat Semua Hal Terlihat Mendesak
Ada organisasi yang seolah-olah hidup dalam keadaan darurat setiap hari. Semua pekerjaan harus selesai sekarang, semua masalah harus segera ditangani, dan setiap permintaan baru langsung menjadi prioritas.
Masalahnya, jika semuanya dianggap mendesak, pada akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar menjadi prioritas.
Tim yang terus bekerja dalam suasana seperti ini akan kesulitan mengatur energi. Mereka berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya tanpa cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan secara mendalam. Dalam jangka pendek mungkin terlihat sangat sibuk. Dalam jangka panjang, kualitas kerja dan daya tahan tim justru menurun.
Pemimpin perlu memiliki keberanian untuk menentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa menunggu. Salah satu tugas pemimpin sebenarnya bukan menambah pekerjaan tim, melainkan membantu tim mengurangi pekerjaan yang tidak perlu.
6. Komunikasi yang Tidak Jelas
Banyak masalah dalam tim sebenarnya bukan disebabkan oleh orang yang tidak mau bekerja, tetapi oleh orang yang tidak memahami apa yang harus dikerjakan.
Arahan yang tidak jelas, perubahan informasi yang tidak disampaikan dengan baik, target yang tidak terukur, atau keputusan yang tidak dijelaskan konteksnya membuat anggota tim harus menebak-nebak apa yang sebenarnya diinginkan.
Akibatnya, pekerjaan yang sederhana menjadi rumit. Kesalahan muncul, pekerjaan harus diulang, dan energi yang seharusnya digunakan untuk menghasilkan sesuatu justru habis untuk memperbaiki miskomunikasi.
Komunikasi yang baik bukan berarti pemimpin harus terus berbicara. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa orang memahami arah, prioritas, tanggung jawab, dan alasan di balik sebuah keputusan.
Kadang-kadang lima menit komunikasi yang jelas di awal dapat menghemat berjam-jam pekerjaan yang salah arah.
7. Menuntut Hasil Tanpa Memberikan Dukungan
Target yang tinggi tidak selalu menjadi masalah. Tim yang sehat bahkan bisa tumbuh melalui target yang menantang. Yang menjadi masalah adalah ketika pemimpin menuntut hasil tanpa memastikan bahwa tim memiliki sumber daya dan dukungan yang diperlukan.
Orang diminta mencapai target, tetapi tidak diberi informasi yang cukup. Diminta memperbaiki kinerja, tetapi tidak mendapatkan pelatihan. Diminta menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi proses kerjanya tidak diperbaiki.
Dalam kondisi seperti ini, pemimpin mudah menyimpulkan bahwa tim kurang bekerja keras. Padahal bisa jadi masalah utamanya bukan kurangnya usaha, melainkan sistem pendukung yang tidak memadai.
Pemimpin tidak hanya bertugas menentukan apa yang harus dicapai. Ia juga bertanggung jawab membantu tim menemukan cara yang realistis untuk mencapainya.
8. Tidak Menghargai Kontribusi Tim
Tidak semua kontribusi terlihat dalam angka.
Ada orang yang pekerjaannya tidak terlalu mencolok tetapi membuat sistem berjalan. Ada yang selalu membantu menyelesaikan persoalan kecil sebelum persoalan itu menjadi besar. Ada pula yang bekerja konsisten tanpa banyak bicara.
Jika semua itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak pernah mendapatkan apresiasi, anggota tim dapat mulai merasa bahwa usaha mereka tidak berarti.
Penghargaan tidak selalu harus berbentuk bonus atau penghargaan formal. Kadang ucapan terima kasih, pengakuan terhadap kontribusi seseorang, atau sekadar mengatakan bahwa pekerjaan mereka membantu tim sudah cukup memberikan makna.
Orang tidak selalu membutuhkan pujian. Tetapi mereka perlu tahu bahwa kontribusinya dilihat.
9. Tidak Mau Mendengar Masukan
Pemimpin yang tidak mau mendengar masukan mungkin merasa sedang menjaga wibawa. Padahal dalam jangka panjang, ia justru dapat kehilangan salah satu sumber informasi terbaik yang dimilikinya: orang-orang yang bekerja langsung di lapangan.
Anggota tim sering kali mengetahui persoalan yang tidak terlihat dari ruang pimpinan. Mereka tahu proses mana yang tidak berjalan, pelanggan mana yang mulai bermasalah, dan keputusan mana yang sulit diterapkan di lapangan.
Jika setiap masukan dianggap sebagai kritik terhadap pemimpin, lama-kelamaan orang akan memilih diam. Dari luar tim terlihat tenang. Tetapi sebenarnya organisasi sedang kehilangan kemampuan untuk mendeteksi masalah lebih awal.
Pemimpin tidak harus menerima semua masukan. Mendengarkan juga bukan berarti selalu menyetujui. Tetapi orang perlu merasa bahwa pendapat mereka boleh disampaikan dan akan dipertimbangkan secara serius.
10. Membiarkan Perilaku Toxic dalam Tim
Satu orang dengan perilaku buruk dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Orang yang suka merendahkan rekan kerja, menyebarkan konflik, tidak bertanggung jawab, memanipulasi informasi, atau terus menciptakan masalah dapat merusak suasana kerja seluruh tim. Yang lebih berbahaya, jika perilaku tersebut dibiarkan, anggota tim lain akan melihat bahwa organisasi ternyata mentoleransi perilaku seperti itu.
Pada akhirnya orang-orang yang bekerja dengan baik bisa bertanya dalam hati, “Mengapa saya harus menjaga sikap dan bekerja dengan baik kalau perilaku seperti itu tidak mendapatkan konsekuensi?”
Karena itu, pemimpin perlu berani menangani perilaku yang merusak. Tidak selalu harus dengan hukuman. Bisa dimulai dari percakapan langsung, pemberian umpan balik, penetapan batas yang jelas, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Namun jika perilaku tersebut terus berulang, pemimpin harus berani mengambil keputusan.
Melindungi kesehatan sebuah tim terkadang berarti berani menghadapi satu masalah yang selama ini dibiarkan.
Burnout Bukan Selalu Karena Pekerjaan Terlalu Banyak
Dari berbagai persoalan di atas, ada satu hal yang menurut saya menarik untuk direnungkan.

Kita sering menganggap burnout sebagai akibat dari terlalu banyak pekerjaan. Padahal, pekerjaan yang banyak belum tentu membuat seseorang burnout jika arah kerja jelas, pembagian tugas masuk akal, pemimpinnya dapat dipercaya, dan anggota tim memiliki ruang untuk mengatur pekerjaannya.
Sebaliknya, pekerjaan yang sebenarnya masih dalam batas wajar dapat terasa sangat melelahkan ketika seseorang harus terus menghadapi ketidakjelasan. Ia tidak tahu keputusan pemimpinnya akan berubah atau tidak. Ia tidak yakin pekerjaan mana yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya. Ia melihat beban kerja tidak terbagi dengan baik. Ia juga mungkin merasa bahwa apa pun yang dikerjakannya tidak pernah cukup.
Dalam kondisi seperti itu, yang menguras energi bukan hanya pekerjaan. Ketidakpastianlah yang ikut menguras energi.
Karena itu, membangun tim yang sehat bukan hanya soal mengurangi pekerjaan. Pemimpin perlu membangun kejelasan: kejelasan arah, kejelasan tanggung jawab, kejelasan prioritas, dan kejelasan mengenai siapa melakukan apa.
Islam sendiri memberikan perspektif yang menarik tentang kepemimpinan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Hadits tersebut membuat kepemimpinan terlihat bukan sekadar sebagai posisi atau kewenangan untuk memberi perintah. Ada amanah di dalamnya. Orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan kita bukan sekadar sumber daya untuk mencapai target, tetapi manusia yang juga memiliki kemampuan, keterbatasan, kebutuhan, dan kehidupan di luar pekerjaan.
Mungkin karena itu, pertanyaan seorang pemimpin tidak cukup hanya, “Apakah target kita tercapai?”
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: “Bagaimana kondisi orang-orang yang mencapai target tersebut bersama kita?”
Sebab kepemimpinan yang baik bukan hanya menghasilkan angka yang bagus hari ini. Ia juga membangun tim yang masih memiliki energi, kepercayaan, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukan hanya seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh timnya. Kita juga perlu melihat apakah setelah bekerja bersamanya, orang-orang menjadi semakin mampu, semakin mandiri, dan semakin kuat.
Target memang penting. Tetapi cara kita membawa manusia menuju target tersebut juga merupakan bagian dari kepemimpinan. []







Tinggalkan Balasan