Terkesan, Bukan Mengesankan: Rahasia Pengaruh Pemimpin

“Kekaguman orang kepada kita sering lahir dari kesediaan kita mengagumi mereka lebih dulu.”

Bagikan:

jadilah terkesan
Daftar Isi

Hampir semua orang ingin punya pengaruh. Karena itu kita sering diam-diam berusaha tampil meyakinkan: menunjukkan pencapaian, memperlihatkan pengalaman, dan menjaga agar tidak terlihat lemah di depan orang lain. Kita mengira orang akan mengikuti mereka yang paling mengesankan. Anggapan ini masuk akal, tetapi kalau diperhatikan lebih lama, hasilnya sering sebaliknya.

Gagasan ini saya pelajari dari tulisan John C. Maxwell dalam The 360° Leader, lalu saya olah dengan cara saya sendiri: kalau ingin memengaruhi orang, berusahalah terkesan pada mereka, bukan membuat mereka terkesan pada kita.

Mengapa Kita Tergoda Ingin Mengesankan

Keinginan untuk tampil hebat itu manusiawi. Sejak sekolah kita diajari bahwa nilai bagus, jabatan, dan prestasi adalah tiket untuk dihargai. Dalam organisasi, orang yang terlihat paling tahu dan paling mampu biasanya lebih cepat dipercaya. Maka tanpa sadar kita menyimpulkan bahwa pengaruh lahir dari kesan.

Masalahnya, orang jarang menilai kita dari apa yang kita tampilkan. Mereka menilai dari apa yang mereka alami saat berinteraksi dengan kita. Kita memang bisa menampilkan versi terbaik diri kita selama beberapa menit. Tetapi dalam kerja bersama yang berlangsung berbulan-bulan, jarak antara citra dan kenyataan akhirnya terlihat juga. Orang sering sudah tahu, hanya saja tidak mengatakannya.

Di titik itu, usaha mengesankan berbalik arah. Orang yang tadinya diharapkan kagum justru merasa sedang “ditampilkan sesuatu”, dan perasaan itu membuat mereka menjaga jarak. Kita sibuk membangun pengaruh, padahal sedang membangun tembok.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Kesan

Kalau dilihat lebih dalam, keinginan mengesankan orang adalah bentuk halus dari memusatkan perhatian pada diri sendiri. Saat kita berusaha tampak hebat, pikiran kita sibuk dengan pertanyaan seperti: “Bagaimana penilaian mereka terhadap saya? Apakah jawaban saya tadi cukup bagus?” Padahal pada saat yang sama, ada orang di depan kita yang punya cerita, kegelisahan, dan kebutuhan sendiri. Perhatian kita tidak sampai kepadanya.

Ada satu hal lagi yang jarang kita sadari. Kepura-puraan itu melelahkan, dan lebih dari itu, ia menutup pintu. Orang yang selalu tampak sempurna sulit didekati. Tidak ada yang berani menyampaikan kesalahan, bertanya hal yang dianggap bodoh, atau mengaku sedang kesulitan di hadapan orang yang tidak pernah terlihat salah.

Orang yang berpengaruh biasanya bukan yang paling pandai membuat kesan. Mereka yang membuat orang lain merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Dari situlah kepercayaan tumbuh, dan kepercayaan adalah bahan dasar pengaruh.

Membalik Arah Perhatian

Karena itu, solusinya bukan memperbaiki cara tampil. Yang perlu diubah adalah ke mana perhatian diarahkan. Alih-alih bertanya “bagaimana supaya mereka kagum pada saya?”, kita belajar bertanya “apa yang bisa saya kagumi dari orang ini?”

Bayangkan sebuah ilustrasi sederhana. Seorang pemimpin cabang datang ke pertemuan dengan tim lapangan. Di versi pertama, ia membuka dengan panjang lebar tentang pengalamannya, target yang pernah ia capai, dan strategi yang menurutnya paling tepat. Timnya mengangguk, tetapi tidak ada yang berani menyampaikan kendala sebenarnya di lapangan.

Di versi kedua, pemimpin yang sama membuka dengan pertanyaan: “Apa yang paling sulit kalian temui minggu ini, dan apa yang menurut kalian berhasil?” Ia mendengarkan, mencatat, dan sesekali bertanya lebih dalam. Salah satu anggota tim ternyata menemukan cara menjelaskan program yang jauh lebih mudah diterima orang. Pemimpin ini terkesan, dan ia mengatakannya dengan jujur. Anggota tim itu pulang dengan semangat baru, dan lain kali ia tidak ragu membawa gagasan berikutnya.

Perhatikan bahwa di versi kedua, pemimpin itu tidak terlihat kurang hebat. Justru karena ia mau terkesan, timnya menjadi lebih percaya kepadanya. Kekaguman orang kepada kita sering muncul sebagai hasil sampingan dari kesediaan kita mengagumi mereka lebih dulu.

Yang Diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Hikmah ini ternyata sangat dekat dengan ajaran Islam tentang kerendahan hati dan cara memimpin. Dalam surah Ali Imran ayat 159, Allah menjelaskan kepada Nabi ﷺ bahwa karena rahmat-Nya beliau bersikap lemah lembut kepada para sahabat. Kalau beliau bersikap keras dan berhati kasar, mereka akan menjauh dari sekelilingnya. Pengaruh seorang pemimpin, bahkan sebesar Rasulullah ﷺ, tidak berasal dari kesan kekuatan, tetapi dari kelembutan yang membuat orang betah berada di dekatnya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadits riwayat Muslim nomor 2865 bahwa Allah mewahyukan agar manusia bersikap rendah hati, sehingga tidak ada yang berbangga diri atas yang lain dan tidak ada yang berlaku zalim kepada yang lain. Hadits ini memperlihatkan bahwa kebanggaan terhadap diri sendiri bukan sekadar masalah etika pribadi, melainkan merusak hubungan antarmanusia. Orang yang senang membesarkan dirinya cenderung, sadar atau tidak, merendahkan orang di sekitarnya.

Pesan serupa ada dalam nasihat Luqman kepada anaknya di surah Luqman ayat 18, agar tidak memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan tidak berjalan di bumi dengan angkuh. Kata “memalingkan wajah” di sini menarik: sikap sombong digambarkan sebagai tindakan berpaling dari orang lain. Sebaliknya, mau terkesan berarti menghadapkan wajah dan perhatian kepada mereka.

Cara Melatihnya dalam Keseharian

Mengubah arah perhatian terdengar sederhana, tetapi membutuhkan latihan karena bertentangan dengan kebiasaan lama. Ada tiga hal kecil yang bisa dicoba. Pertama, dalam setiap percakapan penting, siapkan satu pertanyaan tulus tentang orang yang kita temui, lalu dengarkan jawabannya tanpa sibuk menyusun tanggapan. Kedua, biasakan mengatakan “saya baru tahu itu” atau “itu cara yang bagus” saat memang demikian. Kalimat sesederhana ini menunjukkan bahwa kita masih belajar.

Ketiga, jangan terlalu cepat menutupi kekurangan. Ketika kita keliru, mengakuinya tanpa drama sering membuat orang lebih menghormati kita daripada pembelaan yang panjang. Ini bukan berarti membuka semua kelemahan kepada siapa saja, tetapi berhenti berpura-pura sempurna. Kepemimpinan yang bertahan lama biasanya dibangun dari kejujuran seperti ini, bukan dari citra yang selalu dijaga.

Siapa yang Sebenarnya Kita Layani?

Saat ingin mengesankan orang lain, kita sebenarnya sedang melayani diri sendiri, yaitu kebutuhan untuk diakui. Saat mau terkesan, kita mulai melayani orang lain dengan memberi mereka ruang untuk didengar dan dihargai. Perbedaannya halus, tetapi hasilnya jauh berbeda dalam jangka panjang.

Mungkin pertanyaan yang layak kita bawa pulang adalah ini: dalam percakapan terakhir yang penting bagi kita, berapa banyak waktu yang kita pakai untuk memikirkan kesan diri, dan berapa banyak untuk benar-benar memperhatikan orang di depan kita? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *