Pemimpin yang Baik Membuat Timnya Tahu bahwa Mereka Berguna

“Mengakui bahwa kita butuh orang lain bukan tanda lemah. Itu tanda kita cukup tenang dengan diri sendiri.”

Bagikan:

orang perlu tahu bahwa mereka berguna
Daftar Isi

Sebagian besar pemimpin merasa sudah menghargai timnya. Mereka tahu siapa yang bekerja keras, siapa yang bisa diandalkan, dan siapa yang diam-diam menyelamatkan banyak hal. Pertanyaannya, apakah orang-orang itu juga tahu bahwa kita tahu? Di antara “menghargai dalam hati” dan “membuat orang yakin dirinya dihargai” ada jarak yang lebih lebar dari perkiraan kita. Di jarak itulah banyak tim kehilangan energinya tanpa ada yang menyadari.

Penghargaan yang Tidak Pernah Sampai

Penghargaan yang tidak diucapkan tidak banyak berguna bagi orang yang seharusnya menerimanya. Kita sering mengira kontribusi seseorang sudah jelas bagi semua orang, termasuk bagi dirinya sendiri. Padahal orang jarang bisa menilai sendiri seberapa penting perannya. Ia hanya melihat tugasnya, sementara kita melihat gambaran besarnya.

Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang staf administrasi yang setiap hari merapikan data dan memastikan laporan tim lapangan masuk tepat waktu. Pekerjaannya nyaris tak terlihat, karena baru ketahuan kalau ada yang salah. Setelah berbulan-bulan tanpa umpan balik, ia bisa mulai menyimpulkan bahwa pekerjaannya hanya pelengkap, padahal seluruh keputusan tim bergantung pada data yang ia jaga. Tidak ada yang bermaksud mengabaikannya. Semua orang hanya mengira ia sudah tahu betapa pentingnya dirinya.

Mengapa Pemimpin Sulit Mengucapkannya

Ada beberapa alasan mengapa hal sesederhana ini jarang dilakukan. Sebagian pemimpin menganggap pujian itu basa-basi, dan sebagian lain takut orang menjadi manja kalau terlalu sering dihargai. Ada juga yang diam-diam merasa bahwa mengakui ketergantungan pada orang lain berarti mengakui kelemahan sendiri.

John C. Maxwell menulis dengan tegas bahwa memberi tahu orang lain bahwa kita menghargai mereka bukanlah kelemahan, melainkan tanda rasa aman dan kekuatan. Argumen ini masuk akal. Orang yang percaya diri tidak terancam oleh kehebatan orang lain, sedangkan orang yang merasa rapuh cenderung menyimpan penghargaan karena takut posisinya tergeser. Jadi cara seorang pemimpin memuji sering mencerminkan seberapa tenang ia dengan dirinya sendiri.

Menempatkan Orang di Inti, Bukan di Pinggir

Warren Bennis, pakar kepemimpinan yang dikutip Maxwell, menggambarkan pemimpin yang baik sebagai orang yang membuat anggotanya merasa berada di inti dari sesuatu, bukan di bagian yang kurang penting. Setiap orang merasa dirinya berarti bagi keberhasilan organisasi, dan perasaan itulah yang memberi makna pada pekerjaan mereka. Maknanya sering lebih menggerakkan daripada gaji atau jabatan.

Contoh terbaik yang saya temukan justru datang dari masjid Nabawi di Madinah. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, ada seorang perempuan berkulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid (dalam sebagian riwayat ia disebut Ummu Mahjan). Suatu hari Rasulullah ﷺ tidak melihatnya dan menanyakan keberadaannya. Para sahabat menjawab bahwa ia sudah wafat, dan mereka menganggap urusannya terlalu kecil untuk disampaikan. Beliau menegur, “Mengapa kalian tidak memberitahuku?” lalu meminta ditunjukkan kuburnya dan menshalatkannya (HR. al-Bukhari no. 458 dan Muslim no. 956).

Ada dua hal yang menarik di sini. Pertama, Nabi menyadari ketidakhadiran orang yang peran sehari-harinya paling sunyi di komunitas itu. Kedua, para sahabat yang baik sekalipun menganggap kepergiannya tak cukup penting untuk dilaporkan, dan Nabi meluruskan penilaian itu. Pemimpin tidak cukup menghargai dalam hati. Ia juga perlu membentuk budaya di sekitarnya, supaya orang-orang yang “kecil” tidak dianggap kecil oleh siapa pun.

Dari Mengucapkan Terima Kasih ke Mengatakan Hal yang Spesifik

Ucapan “terima kasih, kerja bagus” tentu lebih baik daripada diam. Tetapi ucapan yang terlalu umum mudah terdengar seperti rutinitas dan cepat dilupakan. Yang membekas adalah penghargaan yang spesifik, misalnya: “Karena kamu menyiapkan datanya sejak awal, kita bisa mengambil keputusan tadi pagi tanpa rapat tambahan.”

Kalimat seperti itu melakukan dua hal. Ia menunjukkan bahwa kita sungguh memperhatikan pekerjaan orang tersebut, dan ia menghubungkan pekerjaan kecilnya dengan hasil yang lebih besar. Orang yang mendengarnya jadi tahu persis apa yang dihargai, sehingga ia bisa mengulanginya dengan sadar. Penghargaan yang spesifik juga lebih sulit dicurigai sebagai basa-basi, karena tidak mungkin diucapkan oleh orang yang tidak memperhatikan.

Berterima Kasih sebagai Bagian dari Syukur

Islam menempatkan hal ini lebih dalam daripada etika kerja. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Abu Dawud no. 4811 dan at-Tirmidzi no. 1954, dinilai sahih). Berterima kasih kepada orang lain ternyata berkaitan dengan kualitas syukur kita secara keseluruhan, karena orang yang sulit mengakui kebaikan sesama akan sulit pula mengakui nikmat dari Tuhannya.

Gambaran tentang tim juga ada dalam hadits lain: “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang sebagian menguatkan sebagian yang lain” (HR. al-Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585). Dalam sebuah bangunan tidak ada batu yang sia-sia, karena yang tampak kecil pun ikut menahan beban. Kekokohan organisasi bergantung pada setiap bagian yang merasa dirinya memang menopang sesuatu.

Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Besok

Langkah pertamanya sederhana: perhatikan satu orang dalam tim yang kontribusinya jarang disebut, lalu sampaikan padanya secara spesifik. Tidak perlu di forum besar atau dengan kata-kata istimewa. Cukup sebutkan apa yang ia lakukan dan apa dampaknya bagi orang lain. Bila perlu, sampaikan juga kepada atasannya atau rekan-rekannya, karena penghargaan yang diucapkan di depan orang lain biasanya terasa lebih bermakna.

Berikutnya, libatkan orang-orang itu sejak awal ketika kita menyusun sesuatu yang lebih besar. Tim yang hanya diberi tugas akan bekerja sebagai pelaksana, sedangkan tim yang dilibatkan sejak perencanaan akan bekerja sebagai pemilik. Selain itu, jujurlah ketika kita memang membutuhkan bantuan. Mengatakan “saya tidak bisa menyelesaikan ini tanpa kalian” bukan merendahkan diri, melainkan menyatakan fakta yang sering disembunyikan oleh gengsi.

Penutup

Pemimpin sering sibuk bertanya bagaimana membuat timnya bekerja lebih keras. Mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah apakah orang-orang di sekitar kita sungguh tahu bahwa kehadiran mereka berarti. Banyak orang bertahan bukan karena target atau insentif, tetapi karena merasa dibutuhkan dan dipercaya. Maka sebelum hari ini selesai, siapa yang sebenarnya sudah lama pantas mendengar bahwa ia berguna, tetapi belum pernah kita beri tahu? [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *