Hampir semua pemimpin pernah mengalami hari yang terasa sangat penuh. Telepon tidak berhenti, rapat berurutan, pesan masuk terus, dan menjelang malam kita merasa sudah bekerja keras. Tetapi ketika ditanya apa yang benar-benar maju hari itu, jawabannya sering mengambang. Kita lelah, padahal belum tentu kita bergerak.
John C. Maxwell menyebut gejala ini dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership sebagai pelanggaran terhadap Hukum Prioritas. Intinya sederhana tetapi menusuk: kesibukan tidak sama dengan produktivitas, dan kegiatan tidak sama dengan pencapaian. Artikel ini mencoba melihat lebih dalam mengapa kita mudah tertipu oleh rasa sibuk, dan apa yang bisa dilakukan seorang pemimpin untuk keluar dari jebakan itu.
Mengapa Kesibukan Begitu Menipu
Kesibukan itu nyaman dengan cara yang jarang kita sadari. Ia memberi bukti langsung bahwa kita bekerja: agenda penuh, notifikasi menumpuk, orang mencari kita. Sebaliknya, pekerjaan yang paling penting biasanya tidak memberi bukti seperti itu. Menyusun strategi, membina orang, atau memikirkan arah organisasi tidak menghasilkan tepuk tangan hari ini, sehingga mudah tergeser oleh hal-hal yang berteriak lebih keras.
Akibatnya, yang mendesak mengalahkan yang penting tanpa kita sadari. Kita tidak sedang malas, kita justru rajin, tetapi rajin pada hal yang keliru. Ini yang membuat masalah prioritas sulit dikenali, karena dari luar dan dari dalam, orang yang salah arah dan orang yang tepat arah sama-sama terlihat sibuk.
Maxwell menyiratkan bahwa prioritas bukan soal mengatur jadwal, tetapi soal cara berpikir. Pemimpin perlu terus melihat ke depan, tahu apa yang penting, tahu apa langkah berikutnya, dan paham bagaimana setiap pekerjaan terhubung dengan visi besar. Tanpa gambaran besar itu, semua tugas tampak sama pentingnya, dan kita akhirnya mengerjakan apa pun yang paling dekat di depan mata.
Tiga Pertanyaan untuk Menyaring Pekerjaan
Untuk membantu menyaring, Maxwell menawarkan tiga pertanyaan. Yang menarik, ketiganya tidak sekadar menanyakan “mana yang paling penting”, tetapi melihat pekerjaan dari tiga sisi yang berbeda: apa yang dituntut dari kita, apa yang paling menghasilkan, dan apa yang paling menghidupkan.
Pertama, apa yang memang diperlukan? Pertanyaannya bukan “apa yang bisa saya kerjakan”, melainkan apa yang hanya bisa saya kerjakan dan tidak bisa dikerjakan orang lain. Di sinilah banyak pemimpin tersandung. Kita terbiasa mengerjakan sesuatu karena kita mampu, padahal kemampuan itu bukan alasan yang cukup untuk memegangnya.
Kedua, apa yang memberi imbal hasil terbesar? Maxwell mengajak kita bekerja di wilayah kekuatan terbesar kita, lalu menguji dengan satu pertanyaan jujur: berapa persen dari pekerjaan saya yang sebenarnya bisa dikerjakan orang lain? Jika ada, bagian itu layak didelegasikan. Ini bukan soal lepas tangan, tetapi soal memberi ruang agar kita mengerjakan hal yang dampaknya paling besar.
Ketiga, apa yang mendatangkan penghargaan terbesar? Pertanyaan ini sering dianggap kurang serius, padahal ia menyangkut keberlanjutan. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan hanya dengan hal-hal yang menguras tenaga tanpa pernah memberi gairah. Pekerjaan yang menghidupkan semangat kita bukan sekadar bonus, melainkan bahan bakar agar kita tetap bertahan dalam jangka panjang.
Satu Hari, Dua Cara Menjalaninya
Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang pemimpin cabang di sebuah lembaga yang bergerak di bidang sosial. Pagi hari ia membuka laporan, membalas belasan pesan, memeriksa data yang sebenarnya bisa disiapkan stafnya, lalu menghadiri dua pertemuan yang kehadirannya tidak terlalu menentukan. Sore hari ia baru sadar bahwa pembicaraan penting dengan tim lapangan, yang sebenarnya hanya bisa ia lakukan sebagai pemimpin, belum sempat dijalankan.
Bayangkan hari yang sama dengan pendekatan berbeda. Sebelum membuka pesan apa pun, ia bertanya apa satu hal yang hanya bisa dilakukan olehnya hari ini, dan memberi waktu terbaiknya untuk hal itu. Laporan ia serahkan kepada orang yang memang cocok menanganinya, dan pertemuan yang tidak memerlukan kehadirannya ia wakilkan. Jumlah jam kerjanya mungkin sama, tetapi arah energinya sangat berbeda.
Contoh ini sederhana, tetapi menunjukkan bahwa perbedaan antara pemimpin yang efektif dan yang sekadar sibuk sering bukan terletak pada seberapa keras mereka bekerja. Perbedaannya ada pada seberapa jujur mereka memilah apa yang harus dipegang dan apa yang harus dilepas.
Hikmah dari Al-Qur’an dan Hadits
Gagasan tentang prioritas sebenarnya akrab dalam ajaran Islam, terutama dalam cara kita memandang waktu. Allah bersumpah dengan masa dalam Surah Al-‘Ashr (QS. 103:1–3) bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini mengingatkan bahwa kerugian tidak selalu datang dari waktu yang kosong, tetapi juga dari waktu yang terisi oleh hal yang tidak membawa manfaat. Yang menyelamatkan bukan banyaknya aktivitas, melainkan amal yang bernilai.
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya (HR. At-Tirmidzi no. 2317, dinilai hasan; juga dimuat dalam Arba’in An-Nawawiyyah no. 12). Hadits ini hampir terdengar seperti pertanyaan pertama dan kedua Maxwell dalam bahasa yang lebih tua. Kemampuan menyaring, termasuk berani meninggalkan sesuatu yang tidak perlu, dipandang sebagai tanda kematangan.
Adapun soal delegasi, kita bisa melihat doa Nabi Musa ‘alaihissalam dalam Surah Thaha ayat 29–32. Ketika menghadapi tugas besar menghadapi Fir’aun, beliau memohon agar saudaranya, Harun, dijadikan pembantunya dan dilibatkan dalam urusannya. Seorang nabi yang dipilih Allah pun tidak memikul semuanya sendirian. Mendelegasikan bukan tanda lemah, tetapi bagian dari cara menjalankan amanah yang besar.
Prioritas Berubah Seiring Waktu
Satu hal yang sering terlewat: prioritas bukan keputusan satu kali. Pekerjaan yang hari ini hanya bisa kita kerjakan sendiri mungkin tiga tahun lagi sudah bisa dikerjakan orang lain yang kita bina. Sebaliknya, ada pekerjaan yang dulu tidak terlihat penting tetapi kini menentukan arah organisasi.
Karena itu, pertanyaan tiga lapis tadi perlu diajukan ulang secara berkala, bukan hanya ketika kita merasa kewalahan. Pemimpin yang berhenti bertanya biasanya tidak sedang yakin, melainkan sedang berjalan dengan peta lama. Dan peta lama, betapapun dulu akurat, bisa membawa kita sangat sibuk menuju tempat yang sudah tidak kita tuju.
Bukan Soal Berapa yang Kita Kerjakan
Hukum Prioritas pada akhirnya mengajak kita mengganti ukuran. Kita terbiasa menilai hari dari seberapa banyak yang selesai, padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah seberapa banyak dari yang selesai itu benar-benar penting. Daftar pekerjaan yang panjang bisa saja menjadi cara halus untuk menghindari satu pekerjaan sulit yang sebenarnya kita tahu harus dihadapi.
Mungkin ada baiknya malam ini kita menengok hari yang baru lewat dan bertanya: pekerjaan mana yang hanya bisa dikerjakan oleh saya, dan sudahkah ia mendapat waktu terbaik saya? [af]







Tinggalkan Balasan