Ada dua jenis kelelahan dalam bekerja. Yang pertama datang dari kerja keras itu sendiri, dan biasanya melegakan karena ada hasil yang bisa ditunjuk. Yang kedua datang dari memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita ubah, dan kelelahan jenis ini hampir tidak meninggalkan apa-apa selain rasa gelisah. Kita pulang dengan kepala penuh, padahal hari itu tidak ada satu pun yang berubah karena kegelisahan kita.
Pertanyaan yang layak diajukan: mengapa kita begitu mudah menghabiskan tenaga di wilayah yang tidak bisa kita sentuh?
Pelatih yang Tidak Memikirkan Piala
John C. Maxwell, dalam Your Road Map for Success, menceritakan John Wooden, pelatih basket legendaris UCLA. Wooden dikenal jarang membicarakan kemenangan dengan pemainnya. Ia lebih sering membicarakan persiapan, kedisiplinan, dan mutu usaha dalam setiap latihan. Di bawah tangannya, UCLA memenangi sepuluh kejuaraan nasional dan pernah menang beruntun 88 pertandingan.
Yang menarik, Wooden tidak mengejar rekor itu. Skor akhir sebuah pertandingan bergantung pada banyak hal di luar dirinya: kondisi lawan, keputusan wasit, cedera mendadak, bahkan keberuntungan. Persiapan tim sepenuhnya ada di tangannya. Ia memilih menaruh seluruh perhatian di wilayah yang bisa ia garap, dan membiarkan hasil menjadi akibat, bukan sasaran.
Sekilas ini terdengar seperti cara halus untuk tidak peduli pada hasil. Sebenarnya sebaliknya. Orang yang paling serius memikirkan hasil justru perlu paling jernih memisahkan mana yang bisa ia tekan dan mana yang hanya bisa ia hadapi.
Mengapa Kita Terus Tergoda Mengurus yang Bukan Wilayah Kita
Salah satu penyebabnya sederhana: hal-hal di luar kendali sering terasa lebih mendesak. Sikap orang lain, kebijakan dari atas, perubahan pasar, dan komentar yang tidak enak terasa besar karena langsung menyentuh perasaan kita. Sementara itu, hal-hal yang ada di tangan kita, seperti jadwal latihan, kualitas persiapan, dan cara kita menjawab pesan, terasa membosankan karena tidak menjanjikan drama.
Penyebab lain lebih halus. Mengkhawatirkan sesuatu memberi kita ilusi sedang berbuat sesuatu. Selama kita memikirkan apakah atasan akan menyetujui proposal, kita merasa sedang mengurusnya, padahal proposal itu sudah selesai ditulis dan tidak ada lagi yang bisa kita ubah. Kekhawatiran menjadi pengganti tindakan yang terasa produktif, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Maxwell mengingatkan bahwa kebanyakan ketakutan dan stres orang berkaitan dengan hal yang tidak bisa mereka kendalikan. Saya kira ini bukan soal lemahnya mental, melainkan soal salah alamat. Energi emosional kita terbatas, dan sebagian besar bocor ke tempat yang tidak bisa ditutup.
Dua Wilayah yang Perlu Dipisahkan
Cara paling praktis untuk melihat masalah ini adalah membayangkan dua wilayah. Wilayah pertama adalah apa yang terjadi pada kita: sikap orang lain, keputusan pihak lain, cuaca, ekonomi, hasil akhir. Wilayah kedua adalah apa yang terjadi di dalam kita: cara kita menanggapi, sikap saat menghadapi kesulitan, kualitas persiapan, dan keputusan tentang bagaimana menggunakan waktu.
Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang pemimpin tim lapangan yang target bulanannya meleset karena donatur besar menunda keputusan. Ia tidak bisa memaksa donatur itu. Tetapi ia bisa menilai ulang daftar prospek, memperbaiki cara menindaklanjuti, menyiapkan timnya menghadapi bulan berikutnya, dan menjaga suasana tim agar tidak ikut murung. Dua orang dengan target meleset yang sama bisa berakhir di dua tempat yang sangat berbeda, tergantung wilayah mana yang mereka garap.
Satu catatan penting: wilayah kendali tidak berarti wilayah hasil. Kita bisa mengendalikan kualitas usaha, tetapi tidak menjamin hasilnya. Orang yang menyamakan keduanya akan jatuh ke dua kesalahan, yaitu sombong ketika berhasil dan hancur ketika gagal. Padahal, kadang usaha yang paling baik pun berujung kekecewaan, dan itu bukan bukti bahwa usahanya sia-sia.
Apa yang Diajarkan Islam tentang Hal Ini
Pemisahan semacam ini ternyata sudah lama menjadi bagian dari cara pandang Islam. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim (no. 2664), Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang mukmin bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat baginya, memohon pertolongan Allah, dan tidak bersikap lemah. Beliau lalu menambahkan, ketika sesuatu menimpa kita, jangan berkata “seandainya dulu aku begini, pasti hasilnya begitu”, karena kata “seandainya” membuka pintu bagi bisikan setan. Katakanlah: qadarullah wa ma sya’a fa’al, Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.
Hadits ini menarik karena memuat kedua wilayah tadi dalam satu napas. Bagian pertama mengajak kita bekerja habis-habisan di wilayah ikhtiar. Bagian kedua mengajak kita berdamai dengan wilayah yang bukan milik kita. Penyesalan berkepanjangan lewat kata “seandainya” pada dasarnya adalah usaha mengubah masa lalu, dan itu persis hal yang tidak bisa dikendalikan siapa pun.
Pesan serupa ada di dalam Al-Qur’an. Dalam QS. Al-Hadid ayat 22–23, Allah menjelaskan bahwa setiap musibah sudah tercatat sebelum terjadi, agar manusia tidak terlalu berduka atas apa yang luput darinya dan tidak terlalu bangga atas apa yang diberikan kepadanya. Ayat ini bukan perintah untuk tidak merasa, melainkan penataan ulang: kesedihan dan kegembiraan kita tidak perlu digantungkan sepenuhnya pada hal yang bukan kita penentunya. Lalu dalam QS. Ali Imran ayat 159, urutannya jelas: setelah engkau membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Tekad adalah bagian kita, tawakal adalah cara kita menyerahkan sisanya.
Cara Menerapkannya Tanpa Menjadi Pasrah Kosong
Ada kekhawatiran yang wajar di sini: bukankah fokus pada yang bisa dikendalikan akan membuat orang cepat menyerah pada keadaan? Jawabannya tergantung seberapa jujur kita memetakan. Banyak hal yang awalnya kita kira di luar kendali ternyata punya celah. Pengaruh kita atas orang lain memang terbatas, tetapi tidak nol. Kita tidak bisa menentukan apakah seseorang akan setuju, tetapi kita bisa menentukan seberapa jelas kita menjelaskan, seberapa baik kita mendengarkan, dan kapan waktu yang tepat untuk bicara.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna daripada “ini bisa dikendalikan atau tidak?” adalah “bagian mana dari masalah ini yang bisa saya sentuh?” Hampir setiap masalah punya satu bagian seperti itu, sekecil apa pun. Dari situ kita bisa mulai, lalu sisanya kita lepaskan dengan sadar, bukan dengan putus asa.
Kebiasaan kecil yang membantu adalah membagi catatan masalah menjadi dua kolom sebelum tidur atau sebelum memulai hari: yang bisa saya lakukan, dan yang hanya bisa saya hadapi. Kolom kedua tidak perlu diisi rencana, cukup diakui. Mengakui bahwa sesuatu bukan wilayah kita sering kali sudah cukup untuk menurunkan separuh beban di kepala.
Yang Tersisa Setelah Kita Berhenti Menggenggam Terlalu Erat
Wooden tidak menjadi legenda karena ia kebal terhadap hasil. Ia menjadi legenda karena ia tahu persis di mana menaruh perhatiannya. Kemenangan yang datang adalah buah dari ribuan hal kecil yang ia kerjakan dengan benar, bukan dari kegelisahan memikirkan skor.
Mungkin ketenangan yang kita cari bukan hasil dari semakin kuatnya kita mengendalikan keadaan, melainkan dari semakin jelasnya kita tahu apa yang bukan urusan kita. Hari ini, apa yang sedang Anda genggam terlalu erat, padahal sejak awal bukan wilayah tangan Anda? [af]







Tinggalkan Balasan