Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri di tengah kesibukan mengejar target: kalau tim ini gagal mencapai sasaran, apakah itu karena orangnya tidak mampu, atau karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka butuhkan? Banyak pemimpin sibuk memperbaiki strategi, sistem, dan laporan, tetapi jarang duduk untuk memahami manusia yang menjalankan semuanya. Padahal strategi sebagus apa pun tetap berjalan di atas kaki orang-orang, dan kaki itu punya alasan, kelelahan, serta keinginannya masing-masing.
Dua Pemimpin dengan Cara Pandang yang Berbeda
Dalam urusan hubungan, pemimpin biasanya jatuh ke salah satu dari dua kecenderungan. Yang pertama, ia menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk dekat dengan timnya, kadang sampai urusan hasil terasa lebih lambat. Yang kedua, ia sangat terfokus pada hasil, sehingga orang-orang di sekitarnya lebih terasa seperti alat untuk mencapai target ketimbang rekan seperjalanan. Pemimpin tipe kedua sering tidak sadar bahwa ia sedang melangkahi orang, karena dari dalam kepalanya semua itu tampak seperti efisiensi.
John C. Maxwell menyinggung hal ini dalam The 17 Essential Qualities of a Team Player, dengan merujuk pada gagasan George Kienzle dan Edward Dare dalam Climbing the Executive Ladder. Intinya, upaya yang kita keluarkan untuk memahami orang lain hampir selalu memberi hasil jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Hampir tidak ada hal lain yang lebih menambah reputasi seseorang, baik sebagai pemimpin maupun sebagai pribadi, dan hampir tidak ada yang memberi kepuasan sedalam itu. Saya tertarik pada kalimat ini bukan karena kedengarannya bijak, tetapi karena ia menantang asumsi yang sering kita pegang diam-diam: bahwa memahami orang itu mewah, sedangkan hasil adalah kebutuhan.
Mengapa Kita Cenderung Melewati Orang
Masalahnya jarang berupa niat buruk. Sebagian besar pemimpin yang melangkahi orang lain sebenarnya sedang tertekan oleh tenggat, angka, dan harapan atasan. Dalam kondisi seperti itu, otak mencari jalan terpendek, dan memahami manusia hampir selalu terasa seperti jalan terpanjang. Percakapan yang tidak langsung menghasilkan angka mudah digeser ke bawah daftar prioritas.
Ada alasan lain yang lebih halus. Hasil bisa diukur, sedangkan pemahaman tidak. Target penjualan punya angka, sementara “anggota tim saya sedang kehilangan semangat” tidak muncul di dashboard mana pun. Karena yang terlihat selalu menang atas yang tidak terlihat, kita cenderung mengelola yang tampak dan menunda yang sebenarnya menggerakkan semuanya.
Hasil Tidak Pernah Datang Tanpa Orang
Coba bayangkan sebuah ilustrasi sederhana. Seorang pemimpin tim punya anggota yang beberapa bulan terakhir performanya turun. Pemimpin yang hanya melihat angka akan menyimpulkan bahwa orang ini kurang berusaha, lalu memberi peringatan dan menaikkan tekanan. Pemimpin yang meluangkan waktu untuk bertanya mungkin menemukan bahwa anggota itu sedang menghadapi masalah keluarga, atau merasa pekerjaannya tidak pernah dilihat siapa pun.
Kedua pemimpin itu sama-sama mengejar hasil, tetapi yang kedua bekerja dengan informasi yang lebih lengkap. Keputusannya pun hampir pasti lebih tepat, karena ia menangani penyebab dan bukan hanya gejala. Di titik ini, memahami orang tidak lagi tampak sebagai urusan perasaan, melainkan sebagai bagian dari kualitas pengambilan keputusan. Pemimpin yang tidak mengenal timnya sebenarnya sedang memutuskan sesuatu dengan data yang bolong.
Ada juga efek jangka panjang yang sering luput. Orang yang merasa dipahami cenderung mau berkorban lebih banyak ketika keadaan sulit, bukan karena dipaksa, tetapi karena merasa dianggap. Sebaliknya, orang yang merasa hanya dipakai akan bekerja sebatas tuntutan, dan itu cukup untuk hari-hari biasa tetapi tidak cukup ketika tim sedang diuji.
Ajaran yang Sudah Lama Mengingatkan
Islam sebenarnya memberi dasar yang kuat untuk hal ini. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Kata “saling mengenal” di sana menarik, karena ia menunjukkan bahwa perbedaan latar dan karakter bukan gangguan yang harus diseragamkan, melainkan sesuatu yang memang perlu dipelajari. Mengenal orang lain, dengan demikian, adalah bagian dari rancangan hidup bersama dan bukan sekadar keterampilan manajerial.
Pelajaran yang lebih langsung ada dalam Surah Ali Imran ayat 159. Ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ bersikap lemah lembut kepada para sahabat karena rahmat dari Allah, dan bahwa seandainya beliau keras dan berhati kasar, orang-orang akan menjauh dari sekitarnya. Setelah itu, ayat tersebut memerintahkan untuk memaafkan mereka, memohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarah dalam urusan itu. Urutannya patut direnungkan: sebelum musyawarah, ada kelembutan dan kesediaan memahami. Pemimpin yang ingin timnya terbuka memberi masukan perlu lebih dulu menjadi orang yang aman untuk diajak bicara.
Hal senada tampak dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa kelembutan tidak berada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali memperburuknya (HR. Muslim no. 2594). Kelembutan di sini bukan berarti lemah atau tidak tegas. Ia lebih menyerupai cara membuka pintu, sehingga ketegasan yang datang sesudahnya bisa diterima dengan lapang.
Apa yang Bisa Dilakukan
Memahami orang tidak perlu dimulai dengan program besar. Langkah paling awal adalah mengubah porsi pertanyaan kita. Alih-alih hanya bertanya “sudah sampai mana targetnya?”, sesekali tanyakan “apa yang paling menyulitkan minggu ini?” lalu dengarkan sampai selesai tanpa buru-buru memberi solusi. Jawaban yang kita dapat sering lebih berguna daripada laporan mingguan.
Langkah berikutnya adalah mengenali apa yang menggerakkan masing-masing orang. Ada anggota tim yang termotivasi oleh pengakuan, ada yang oleh kepastian, ada yang oleh ruang untuk mengambil keputusan sendiri. Kita tidak akan tahu tanpa memperhatikan, dan memperhatikan butuh waktu yang sengaja disisihkan. Karena itulah kata “sisihkan” penting: pemahaman hampir tidak pernah terjadi di sela-sela kesibukan, ia harus diberi tempat.
Terakhir, pahami bahwa ini bukan pilihan antara hubungan dan hasil. Pemimpin yang hanya mengejar hasil akan kehabisan orang, sedangkan yang hanya menjaga hubungan akan kehabisan arah. Yang dibutuhkan adalah hasil yang dicapai bersama orang-orang yang kita pahami.
Penutup
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan “seberapa cepat tim saya bisa mencapai target?”, melainkan “seberapa banyak yang sebenarnya saya ketahui tentang orang-orang yang sedang saya pimpin?” Jawaban atas pertanyaan kedua sering menentukan jawaban atas yang pertama. Waktu yang kita sisihkan untuk memahami seseorang tidak akan tercatat di laporan mana pun, tetapi dampaknya akan terasa pada hampir semua hal yang tercatat di sana. [af]







Tinggalkan Balasan