Hampir semua orang setuju bahwa hidup adalah pilihan. Kalimat ini sudah begitu sering kita dengar sampai terasa seperti kebenaran yang tidak perlu dipikirkan lagi. Padahal ada pertanyaan yang lebih jujur: kalau kita memang sepakat, mengapa begitu banyak orang merasa hidupnya tidak sampai ke tempat yang diinginkan? Jawabannya mungkin bukan karena kita tidak percaya pada pilihan, tetapi karena kita keliru melihat di mana pilihan itu sebenarnya terjadi.
Pilihan Jarang Terlihat Seperti Pilihan
Ketika membayangkan pilihan hidup, kita biasanya membayangkan momen besar: memilih jurusan, pekerjaan, atau pasangan. Padahal sebagian besar arah hidup ditentukan oleh keputusan kecil yang terasa tidak penting. Apa yang kita lakukan di jam kosong, siapa yang kita temui, kebiasaan apa yang kita biarkan, dan pekerjaan mana yang kita tunda sampai besok.
Karena itu, keadaan kita hari ini sebenarnya adalah hasil dari pilihan kemarin, dan keadaan kita besok akan lahir dari pilihan hari ini. Hubungan ini jarang terasa karena jeda antara pilihan dan akibatnya bisa sangat panjang. Orang yang melewatkan satu kali latihan tidak langsung menjadi lemah, dan orang yang menunda satu kali tanggung jawab tidak langsung gagal. Akibatnya baru terlihat ketika sudah menumpuk, dan saat itu kita sering merasa semuanya terjadi tiba-tiba.
Ada satu hal lagi yang perlu disadari: tidak memilih pun adalah pilihan. Menunda keputusan, membiarkan keadaan berjalan sendiri, atau menunggu waktu yang lebih nyaman semuanya tetap memilih, hanya saja tanpa kita sadari. Orang yang merasa tidak pernah memilih biasanya sedang memilih untuk dibawa arus.
Menginginkan Puncak, Menghindari Pendakian
Banyak orang menginginkan tempat yang tinggi, tetapi tidak banyak yang mau mendaki. Ini bukan soal malas semata. Kita cenderung memilih hasil dan lupa bahwa hasil selalu datang satu paket dengan harga yang harus dibayar di sepanjang jalan.
Bayangkan seseorang yang ingin dikenal ahli di bidangnya. Ia mengagumi orang-orang yang sudah sampai di sana, tetapi setiap sore ia memilih hal yang lebih ringan daripada membaca, menulis, atau belajar dari kesalahan. Tidak ada satu pun pilihannya yang tampak salah, dan itulah masalahnya. Ia memilih puncaknya, tetapi tidak memilih pendakiannya, padahal yang bisa kita pilih sesungguhnya hanya langkah hari ini, bukan hasil di ujungnya.
Al-Qur’an menggambarkan hal ini dengan sangat dekat. Dalam Surah Al-Balad ayat 10–11, Allah menyebut bahwa Dia telah menunjukkan kepada manusia dua jalan, tetapi manusia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Ayat ini tidak menyebut manusia tidak tahu mana yang benar. Ia menyebut manusia tahu, tetapi enggan menempuh jalan yang berat. Persoalannya ternyata lebih sering terletak pada kemauan menanggung beratnya daripada pada pengetahuan.
Berjalan di Pinggir Jurang
Sisi sebaliknya sama menariknya. Banyak orang tidak ingin terjatuh, tetapi terbiasa berjalan di pinggir jurang. Mereka tidak berniat melakukan kesalahan besar, hanya mengambil sedikit kelonggaran di sana-sini, lalu terus mendekat pada batas yang sebenarnya sudah mereka kenali.
Dalam kerja dan organisasi, ini mudah terlihat. Target yang tidak tercapai biasanya bukan hasil satu keputusan buruk, melainkan banyak keputusan kecil yang dibiarkan: tindak lanjut yang ditunda, laporan yang dikerjakan seadanya, atau masalah yang dianggap bisa menunggu. Tidak ada satu momen pun yang terasa seperti kegagalan, sampai suatu hari jurangnya sudah ada di bawah kaki.
Hadits riwayat Muslim menyebutkan bahwa neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan hawa nafsu, sedangkan surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (HR. Muslim no. 2822). Gambaran ini menjelaskan mengapa pilihan yang benar sering terasa tidak nyaman, dan pilihan yang salah sering terasa ringan. Pinggir jurang itu menarik justru karena pemandangannya indah dan jalannya terasa mudah.
Menguji Pilihan Hari Ini
Menyadari bahwa hidup adalah pilihan memang penting, tetapi belum cukup bila tidak mengubah apa yang kita lakukan besok pagi. Ada tiga pertanyaan sederhana yang bisa membantu menguji pilihan kita. Pertama, hasil apa yang sebenarnya saya inginkan dalam satu atau lima tahun ke depan, tuliskan dengan jelas. Kedua, kalau saya jujur melihat kebiasaan seminggu terakhir, ke arah mana kebiasaan itu membawa saya.
Pertanyaan ketiga paling sulit: apakah yang saya lakukan sekarang berkorelasi dengan tujuan yang saya sebut? Jarak antara jawaban kedua dan ketiga biasanya paling jujur menjelaskan mengapa kita belum sampai. Dari sana, kita tidak perlu mengubah seluruh hidup sekaligus. Cukup ganti satu pilihan kecil yang paling berpengaruh, lalu ulangi sampai ia menjadi kebiasaan.
Pendekatan ini juga lebih adil terhadap diri sendiri. Kita berhenti menyalahkan keadaan secara berlebihan, tetapi juga tidak menghukum diri atas masa lalu yang tidak bisa diubah. Yang bisa dikerjakan hanyalah pilihan berikutnya.
Setiap Pilihan Ada Pertanggungjawabannya
Bagi seorang Muslim, pilihan tidak hanya soal ke mana hidup akan membawa kita, tetapi juga soal apa yang akan kita pertanggungjawabkan. Dunia hanyalah satu bagian dari perhitungan itu. Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 agar orang-orang beriman bertakwa dan setiap diri memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk hari esok.
Ayat ini menarik karena kata “esok” di sana tidak hanya berarti besok pagi. Ia mengajak kita melihat hidup sebagai rangkaian persiapan, dan setiap pilihan sebagai bekal atau beban. Dengan cara pandang ini, pertanyaan “apakah ini menguntungkan saya?” perlu ditemani pertanyaan lain: apakah ini diridhai Allah, dan apakah saya sanggup mempertanggungjawabkannya?
Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk membuat kita takut memilih. Ia justru memberi ukuran yang jelas di tengah banyak pilihan yang sama-sama tampak masuk akal. Ketika ukuran sudah jelas, memilih menjadi lebih ringan, meskipun jalannya tetap mendaki.
Penutup
Mungkin kita tidak kekurangan kesadaran bahwa hidup adalah pilihan. Yang sering kurang adalah kejujuran untuk melihat pilihan mana yang sedang kita hindari, dan harga mana yang belum mau kita bayar. Hari ini kita mungkin tidak bisa memilih hasil, tetapi kita selalu bisa memilih langkah.
Maka pertanyaannya bukan lagi “mau jadi apa kita nanti?”, tetapi “pilihan apa yang akan saya ambil sebelum hari ini selesai, dan ke mana ia akan membawa saya?” [af]







Tinggalkan Balasan