Bagi saya, public speaking masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Sejak kecil saya bermasalah dengan kepercayaan diri, terutama ketika harus berbicara di hadapan banyak orang. Sampai sekarang pun saya belum benar-benar tahu apa penyebabnya. Yang saya tahu, keadaan sekarang tidak lagi memberi saya pilihan, karena berbicara di depan publik sudah menjadi bagian yang “wajib” dari pekerjaan dan peran yang saya jalani.
Pelan-pelan saya mulai belajar, dan hasilnya mulai terasa, meskipun belum maksimal. Salah satu rujukan yang banyak membantu saya adalah penjelasan Maya Rachma, dosen dan peneliti ilmu komunikasi, di kanal YouTube-nya. Ia menyebut setidaknya ada empat dasar yang perlu diperhatikan dalam public speaking: percaya diri, teknik vokal, ekspresi dan gestur, serta kemampuan berkomunikasi dengan audiens. Tulisan ini adalah catatan saya ketika mencoba memahami keempat hal itu, bukan sebagai orang yang sudah mahir, tetapi sebagai orang yang masih terus berlatih.
Mengapa Berbicara di Depan Orang Banyak Terasa Begitu Berat?
Ada hal aneh yang mungkin juga Anda alami. Kita bisa mengobrol lancar dengan teman di warung kopi, menjelaskan sesuatu dengan baik kepada rekan kerja, bahkan berdebat panjang dengan keluarga. Namun ketika berdiri di depan dua puluh atau lima puluh orang, lidah tiba-tiba terasa kaku dan pikiran mendadak kosong. Materinya sama, orangnya sama, tetapi rasanya sangat berbeda.
Setelah cukup lama mengamati diri sendiri, saya menduga masalahnya bukan pada kemampuan berbicara, melainkan pada arah perhatian. Saat mengobrol, perhatian kita tertuju pada lawan bicara dan pada apa yang ingin kita sampaikan. Saat berdiri di depan publik, perhatian justru berbalik ke diri sendiri: bagaimana penampilan saya, apakah suara saya bergetar, apa yang mereka pikirkan tentang saya. Di titik inilah rasa minder bekerja. Ia membuat kita sibuk mengawasi diri sendiri sampai lupa bahwa tugas kita sebenarnya adalah menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
Percaya Diri Bukan Syarat Awal, Melainkan Hasil
Maya Rachma menempatkan percaya diri sebagai akar public speaking, dan saya setuju. Tanpa rasa percaya diri, teknik apa pun akan sulit dijalankan. Namun saya pernah salah memahami hal ini. Dulu saya mengira harus merasa percaya diri terlebih dahulu sebelum berani tampil, sehingga saya terus menunggu perasaan itu datang. Kenyataannya, perasaan itu tidak pernah datang dengan sendirinya.
Yang saya pelajari kemudian, percaya diri lebih sering lahir dari dua hal yang sederhana: latihan dan jam terbang. Setiap kali kita tampil dan ternyata tidak terjadi bencana, otak kita mencatat bahwa situasi itu tidak seberbahaya yang dibayangkan. Semakin banyak catatan seperti itu, semakin tenang kita di kesempatan berikutnya. Jadi percaya diri bukan tiket masuk, melainkan sesuatu yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit di sepanjang perjalanan.
Saya menemukan penghiburan yang dalam dari kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Ketika diperintahkan menghadapi Firaun, beliau berdoa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku” (QS. Thaha: 25–28). Beliau bahkan mengakui terus terang bahwa saudaranya, Harun, lebih fasih lidahnya, lalu memohon agar Harun diutus bersamanya (QS. Al-Qashash: 34). Seorang nabi pun menyadari keterbatasannya dalam berbicara, tetapi beliau tidak menjadikannya alasan untuk mundur. Beliau berdoa, meminta bantuan, lalu tetap berangkat.
Dari sana saya belajar bahwa rasa yakin tidak berarti menganggap diri sempurna. Yakin berarti menerima bahwa setiap orang diciptakan Allah dengan potensi dan cara yang berbeda, sehingga kita tidak perlu menjadi salinan pembicara lain. Rasa minder sering tumbuh justru karena kita membandingkan diri dengan orang yang gaya bicaranya kita kagumi. Padahal audiens tidak membutuhkan tiruan; mereka membutuhkan pesan yang jelas dari orang yang sungguh-sungguh ingin menyampaikannya.
Suara: Alat yang Paling Sering Kita Abaikan
Dasar kedua adalah teknik vokal. Banyak orang menyiapkan materi dengan serius tetapi lupa bahwa materi itu hanya akan sampai kepada audiens melalui suara. Ada empat hal yang menurut Maya Rachma perlu diperhatikan, yaitu volume, kecepatan, artikulasi, dan intonasi. Keempatnya akan lebih mudah dikendalikan jika kita tetap tenang dan menguasai keadaan di depan.
Volume yang baik adalah volume yang pas di telinga pendengar, tidak terlalu keras sehingga melelahkan dan tidak terlalu pelan sehingga membuat orang harus menebak-nebak. Saat menggunakan mikrofon, jarak dan posisinya terhadap mulut sangat menentukan. Hal kecil seperti ini sering diabaikan, padahal suara yang pecah atau tenggelam bisa merusak materi sebaik apa pun.
Kecepatan berbicara perlu disesuaikan dengan beratnya materi dan kondisi audiens. Materi yang ringan bisa disampaikan sedikit lebih cepat, sedangkan materi yang berat perlu diperlambat agar pendengar sempat mencerna. Karena itu, mengenali audiens sebelum tampil menjadi sangat penting. Menarik bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha menggambarkan cara Rasulullah ﷺ berbicara: beliau tidak berbicara cepat beruntun seperti kebanyakan orang (HR. Bukhari no. 3568 dan Muslim no. 2493), bahkan perkataannya begitu tertata sehingga seandainya ada yang ingin menghitung kata-katanya, ia bisa menghitungnya (HR. Bukhari no. 3567). Kejelasan ternyata lebih penting daripada kecepatan.
Artikulasi dan intonasi melengkapi semuanya. Artikulasi yang jelas membuat setiap kata terdengar utuh, bukan seperti orang yang sedang berkumur. Sementara itu, intonasi membuat pendengar tetap terjaga. Suara yang datar dari awal sampai akhir, sebagus apa pun isinya, perlahan akan terdengar seperti dengung. Penekanan pada bagian penting dan perubahan nada sesuai suasana membantu audiens tahu mana yang perlu mereka ingat.
Tubuh Juga Ikut Berbicara
Dasar ketiga adalah ekspresi dan gestur. Sebelum kita mengucapkan kalimat pertama, audiens sudah membaca banyak hal dari wajah dan sikap tubuh kita. Ada dua ujung yang perlu dihindari: tampil kaku seperti robot, atau sebaliknya terlihat lemas dan tidak bersemangat. Keduanya mengirim pesan yang sama kepada audiens, yaitu bahwa pembicara tidak benar-benar hadir.
Ekspresi bisa dihidupkan melalui mata, raut wajah, dan gerak alis, sedangkan gestur bisa dibantu dengan gerakan kepala dan tangan. Jika ruang dan suasana memungkinkan, sesekali kita bisa bergerak ke kiri atau ke kanan, maju atau mundur. Kuncinya ada pada dua kata: terkontrol dan natural. Gerakan yang berlebihan justru mengalihkan perhatian, sedangkan gerakan yang wajar membuat pesan terasa lebih hidup.
Bagi orang yang mudah gugup seperti saya, ada manfaat tambahan dari memperhatikan gestur. Tubuh yang terbuka dan bergerak wajar ternyata ikut menenangkan pikiran. Ketika tangan tidak lagi mencengkeram podium dan pandangan tidak lagi terpaku ke lantai, rasa tegang perlahan berkurang. Tubuh dan pikiran saling memengaruhi, dan kita bisa memanfaatkan hubungan itu.
Berbicara dengan Audiens, Bukan di Depan Audiens
Dasar keempat adalah kemampuan untuk komunikatif. Inilah yang membedakan pembicara yang sekadar menyampaikan materi dengan pembicara yang benar-benar terhubung dengan pendengarnya. Menyapa audiens, mengucapkan salam, menyebut sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka, atau menyisipkan humor pada saat yang tepat membuat suasana menjadi cair. Perlahan terbangun semacam jembatan perasaan antara pembicara dan audiens.
Semua itu hanya mungkin jika kita sudah mengenali siapa yang akan kita hadapi. Sebagai ilustrasi, materi yang sama tentang pentingnya berbagi tentu perlu disampaikan dengan cara berbeda kepada mahasiswa, kepada pengusaha, dan kepada ibu-ibu majelis taklim. Contoh, bahasa, dan humornya perlu menyesuaikan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (QS. Ibrahim: 4). Menyesuaikan diri dengan audiens bukan berarti kehilangan jati diri, melainkan bentuk kesungguhan agar pesan benar-benar sampai.
Empat Dasar, Satu Inti
Setelah merenungkan keempat dasar ini, saya menyadari bahwa semuanya bermuara pada satu hal yang sama. Volume, kecepatan, artikulasi, intonasi, ekspresi, gestur, sampai sapaan kepada audiens, semuanya adalah cara untuk memastikan pesan kita sampai kepada orang lain. Public speaking pada akhirnya bukan tentang menampilkan diri, tetapi tentang melayani pendengar.
Cara pandang ini membantu saya menghadapi rasa minder dari arah yang berbeda. Jika minder lahir dari perhatian yang terlalu tertuju pada diri sendiri, maka salah satu penawarnya adalah mengalihkan perhatian itu kepada audiens. Pertanyaannya bergeser dari “bagaimana penilaian mereka terhadap saya?” menjadi “apa yang mereka butuhkan dari saya hari ini?” Pertanyaan kedua ini jauh lebih menenangkan, karena jawabannya bisa kita persiapkan.
Saya masih belajar, dan mungkin akan terus belajar. Namun saya tidak lagi menunggu rasa gugup itu hilang sepenuhnya sebelum berani tampil. Barangkali yang perlu kita latih bukan sekadar cara berbicara, melainkan kesediaan untuk berhenti sibuk memikirkan diri sendiri. Lalu, ketika Anda nanti berdiri di depan banyak orang, siapa yang sebenarnya sedang Anda pikirkan: diri Anda, atau mereka yang sedang mendengarkan? [af]







Tinggalkan Balasan