Menjadi Orang Tua Teladan Dimulai dari Cara Kita Memandang Anak

“Anak tidak memilah apa yang patut ditiru. Mereka menyerap apa adanya.”

Bagikan:

menjadi orang tua teladan
Daftar Isi

Hampir semua orang tua ingin menjadi teladan bagi anak-anaknya. Kita ingin mereka jujur, rajin beribadah, santun, dan kelak hidup lebih baik daripada kita. Masalahnya, keinginan itu sering berhenti sebagai harapan. Kita menasihati anak agar tidak terlalu lama memegang gawai, sementara mereka melihat kita menatap layar sejak bangun tidur. Kita meminta mereka sabar, sementara mereka menyaksikan kita mudah marah di jalan raya.

Dari situ muncul pertanyaan yang lebih jujur. Mungkin persoalannya bukan apakah kita sudah menjadi teladan. Bisa jadi kita sudah menjadi teladan sejak hari pertama anak lahir, hanya saja kita tidak sepenuhnya sadar sedang meneladankan apa.

Tulisan ini berangkat dari penjelasan Ustadz Muhammad Ismail Yusanto dalam salah satu podcast-nya tentang bagaimana menjadi orang tua teladan. Saya mencoba merapikan dan merenungkan kembali gagasan beliau, karena menurut saya ada satu hal penting di dalamnya yang jarang dibicarakan: keteladanan yang baik tidak lahir dari niat saja. Ia lahir dari cara pandang yang benar terhadap anak.

Setiap Orang Tua Sudah Menjadi Teladan, Disadari atau Tidak

Keteladanan antara anak dan orang tua pada dasarnya bersifat natural. Anak lahir, tumbuh, dan belajar memahami dunia dari orang-orang yang paling dekat dengannya. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah, memperlakukan pasangan, dan memandang uang perlahan terserap tanpa perlu diajarkan secara khusus. Karena itu tidak mengherankan jika anak seorang politisi sering tertarik pada politik, atau anak seorang pengacara akrab dengan dunia hukum.

Keteladanan natural ini sebenarnya netral. Ia bisa membawa kebaikan, tetapi juga bisa mewariskan kebiasaan yang kita sendiri ingin tinggalkan. Anak tidak memilah mana yang patut ditiru dan mana yang tidak; mereka menyerap apa adanya. Di sinilah letak persoalannya. Jika keteladanan dibiarkan berjalan secara alami, hasil terbaiknya adalah anak yang sama dengan orang tuanya.

Padahal hampir tidak ada orang tua yang ingin anaknya sekadar sama. Kita ingin mereka lebih baik. Dan untuk itu, keteladanan tidak boleh dibiarkan berjalan otomatis. Ia perlu diarahkan oleh cara pandang yang jelas, yaitu cara memandang siapa anak itu, ke mana ia akan dibawa, dan apa yang sedang kita contohkan setiap hari.

Cara Kita Memandang Anak Menentukan Apa yang Kita Wariskan

Cara pandang pertama bersifat filosofis: anak itu sebenarnya apa bagi kita? Tidak sedikit orang tua, tanpa menyadarinya, memandang anak sebagai aset. Anak diharapkan mendatangkan manfaat, entah secara materi, entah sebagai kebanggaan sosial. Pandangan ini terlihat dari pertanyaan yang paling sering diulang: nanti kerja di mana, gajinya berapa, kuliah di kampus mana.

Islam menawarkan sudut pandang yang berbeda. Anak bukan aset, melainkan amanah dari Allah yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya, termasuk seorang laki-laki atas keluarganya dan seorang perempuan atas rumah suaminya serta anak-anaknya (HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Perbedaan antara aset dan amanah ini bukan sekadar istilah. Aset dinilai dari hasilnya bagi pemilik, sedangkan amanah dinilai dari kesungguhan pemegangnya dalam menjaga. Paham materialisme dan sekularisme memandang anak hanya sebatas kehidupan dunia, sementara Islam memandangnya menembus sampai kehidupan setelahnya.

Konsekuensi dari pandangan ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang sangat dikenal. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari no. 1385 dan Muslim no. 2658). Fitrah berarti kecenderungan bawaan kepada tauhid dan kebaikan. Hadits ini menempatkan orang tua sebagai pihak yang paling menentukan arah perkembangan anak, sehingga keteladanan yang kita berikan semestinya menjaga fitrah itu, bukan menjauhkannya.

Yang menarik, hadits ini tidak menyebut anak menjadi baik karena orang tuanya. Kebaikan sudah ada sejak awal. Yang disebut justru bagaimana orang tua bisa menggeser anak dari fitrahnya. Artinya, tugas utama orang tua bukan menanamkan kebaikan dari nol, tetapi tidak merusak kebaikan yang sudah Allah titipkan, sambil terus merawatnya.

Visi: Mau Dibawa ke Mana Anak-Anak Kita?

Cara pandang kedua berkaitan dengan visi. Berbicara tentang keteladanan berarti berbicara tentang arah. Orang tua yang visinya berhenti pada pencapaian dunia akan meneladankan hal-hal yang mengarah ke sana: kerja keras demi karier, kebanggaan pada jabatan, kecemasan pada angka. Tidak ada yang salah dengan semua itu, tetapi bagi seorang Muslim, visi itu terlalu pendek.

Visi pertama yang perlu dimiliki adalah membentuk anak menjadi orang saleh. Ini juga doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika memohon keturunan: Rabbi hab lī minash-shālihīn, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh” (QS. Ash-Shaffat: 100). Kesalehan menjadi fondasi bagi segala hal lain yang kelak dimiliki anak. Jika ia diberi rupa yang menarik, kesalehan akan menjaganya. Jika ia diberi jabatan, kesalehan akan membuatnya amanah. Tanpa fondasi itu, kelebihan apa pun justru bisa menjadi sumber masalah.

Visi ini tidak cukup tertanam di kepala orang tua. Anak-anak akan melewati fase ketika mereka mulai bertanya tentang diri mereka sendiri: ingin menjadi orang seperti apa, dan untuk apa. Pada fase itu, anak yang sejak kecil sudah mengenal visi kesalehan memiliki pegangan, sementara yang tidak pernah mengenalnya akan mencari jawaban dari mana saja.

Visi kedua adalah tidak meninggalkan anak dalam keadaan lemah. Allah berfirman, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya” (QS. An-Nisa: 9). Kebanyakan orang langsung mengaitkan kata lemah dengan ekonomi. Padahal jika direnungkan lebih dalam, kelemahan yang paling berbahaya adalah lemah akidah. Setelah itu lemah ilmu, kemudian lemah amal dan semangat memperjuangkan kebaikan. Baru setelah semua itu kita berbicara tentang kekuatan ekonomi dan fisik.

Urutan ini penting karena sering terbalik dalam praktik. Banyak orang tua sangat cermat menyiapkan tabungan pendidikan, tetapi jarang bertanya apakah anaknya sudah mengenal Rabb-nya dengan benar. Keduanya penting, tetapi yang satu bisa diganti, yang lain tidak.

Misi: Iman, Ilmu, dan Amal yang Terlihat Sehari-hari

Jika visi menjawab ke mana, misi menjawab apa yang sebenarnya kita contohkan setiap hari. Jawabannya sederhana untuk diucapkan, tetapi berat untuk dijalani: iman, ilmu, dan amal. Tiga hal inilah yang menjadi prioritas keteladanan orang tua.

Anak tidak belajar iman dari ceramah tentang iman. Ia belajar dari melihat ayahnya bergegas ketika azan berkumandang, atau ibunya tetap tenang saat rezeki terasa sempit. Ia tidak belajar mencintai ilmu dari perintah untuk belajar, tetapi dari melihat orang tuanya membaca, bertanya, dan mau mengakui ketika tidak tahu. Ia belajar beramal dari melihat orang tuanya memberi, menolong, dan terlibat dalam kebaikan meski tidak ada yang menyaksikan.

Karena itu, misi keteladanan sebenarnya adalah misi untuk memperbaiki diri sendiri. Kita tidak bisa meneladankan iman, ilmu, dan amal yang tidak kita jalani. Anak-anak mungkin belum memahami banyak hal, tetapi mereka sangat peka terhadap jarak antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan.

Dari Keteladanan Alami ke Keteladanan yang Disengaja

Lalu bagaimana mewujudkan semua itu? Hal pertama adalah kesatuan visi antara ayah dan ibu. Anak akan bingung jika ayah menekankan shalat tepat waktu, sementara ibu menganggapnya bisa ditunda, atau sebaliknya. Keduanya perlu berada di frekuensi yang sama. Setelah itu, keduanya saling melengkapi. Ayah dan ibu tidak harus mencontohkan hal yang persis sama, tetapi apa yang dicontohkan masing-masing semestinya saling menguatkan.

Keteladanan juga perlu bertumbuh mengikuti fase anak. Cara mencontohkan kejujuran kepada anak usia lima tahun tentu berbeda dengan cara mencontohkannya kepada remaja yang mulai kritis. Dan keteladanan itu tidak pernah selesai. Anak yang sudah dewasa, menikah, bahkan memiliki anak sendiri tetap memperhatikan bagaimana orang tuanya menjalani hidup, termasuk di masa tua.

Di sinilah perbedaan antara keteladanan natural dan keteladanan yang disengaja. Keteladanan natural terjadi begitu saja. Keteladanan yang disengaja lahir dari kesadaran bahwa kita sedang diteladani, sehingga kita memilih untuk menjaga diri. Pilihan ini menuntut kesabaran, karena hasilnya jarang terlihat cepat. Banyak orang tua berhenti di tengah jalan karena merasa usahanya tidak berpengaruh, padahal anak sedang merekam lebih banyak dari yang kita kira.

Reputasi juga bagian dari keteladanan. Anak tidak hanya melihat orang tuanya di rumah. Mereka mendengar bagaimana orang lain berbicara tentang ayah dan ibunya: apakah dikenal amanah, apakah dipercaya, apakah dihormati. Reputasi itu menjadi pelajaran yang sering lebih membekas daripada nasihat langsung.

Dan pada akhirnya, ada doa. Keteladanan adalah ikhtiar yang bersifat lahiriah, sementara hati anak berada di tangan Allah. Doa melengkapi apa yang tidak bisa kita jangkau, dan menjadi pengingat bahwa kita hanya pemegang amanah, bukan penentu hasil.

Penutup: Teladan Tentang Apa?

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk bertanya bagaimana cara menjadi orang tua teladan, seolah keteladanan adalah sesuatu yang baru akan dimulai. Padahal anak-anak sudah meniru kita sejak lama. Mereka menirukan cara kita berbicara, cara kita marah, cara kita berdoa, dan cara kita memandang dunia.

Jadi pertanyaannya mungkin perlu diubah. Bukan lagi, “Sudahkah saya menjadi teladan?” melainkan, “Jika anak saya kelak menjadi persis seperti saya hari ini, apakah saya akan tenang?” Jawaban jujur atas pertanyaan itu mungkin tidak nyaman. Tetapi justru dari ketidaknyamanan itulah keteladanan yang disengaja bisa dimulai. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *