Mudah Memaafkan: Bukan Soal Lemah, tetapi Soal Siapa yang Mengendalikan Hidup Kita

“Selama kita belum memaafkan, orang yang menyakiti kita masih memegang sebagian kendali atas hidup kita.”

Bagikan:

mudah memaafkan
Daftar Isi

Hampir setiap orang pernah mengucapkan “sudah, saya maafkan,” tetapi beberapa minggu kemudian masih merasakan panas di dada setiap kali nama orang itu disebut. Kita merasa sudah memaafkan, padahal yang terjadi sebenarnya hanya menunda kemarahan. Di sinilah persoalannya. Masalah kita jarang terletak pada apakah kita mau memaafkan, melainkan pada berapa lama kita membiarkan kesalahan orang lain tinggal di kepala kita.

Karena itu, tulisan ini tidak sekadar mengajak untuk memaafkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa memaafkan terasa begitu berat, dan apa yang sebenarnya hilang dari diri kita ketika kita sulit melakukannya?

Gesekan adalah Ongkos Hidup Bersama

Sejak lebih dari dua ribu tahun lalu, Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon, makhluk yang hidup dan berkembang dalam komunitas. Kita tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sendirian. Kebutuhan jasmani, naluri, dan akal yang Allah anugerahkan kepada setiap manusia mendorong kita untuk terus berinteraksi: bekerja sama, berdagang, berkeluarga, berorganisasi, dan berdakwah.

Namun ada konsekuensi yang sering luput kita sadari. Semakin banyak kita berinteraksi, semakin besar pula peluang bergesekan. Setiap orang membawa kepentingan, cara berpikir, dan kebiasaan yang berbeda, sehingga kesalahpahaman bukanlah kecelakaan, melainkan bagian yang pasti dari hidup bersama. Dalam kadar tertentu, gesekan bahkan bisa berujung pada upaya saling menjatuhkan.

Jika gesekan itu pasti terjadi, maka kemampuan memaafkan bukan lagi sekadar sifat baik yang “bagus kalau ada”. Ia adalah keterampilan dasar untuk bertahan dalam kehidupan sosial. Orang yang tidak terampil memaafkan akan menjalani hidup dengan tumpukan luka yang terus bertambah, karena sumber lukanya, yaitu interaksi dengan manusia, tidak akan pernah berhenti.

Satu Ayat, Tiga Sikap yang Saling Menjaga

Bagi seorang Muslim, panduan tentang cara berinteraksi sebenarnya sudah sangat jelas. Salah satu ayat yang paling ringkas tetapi paling padat dalam hal ini adalah firman Allah:

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Banyak ulama tafsir memandang ayat ini sebagai rangkuman akhlak mulia dalam pergaulan. Yang menarik, ayat ini tidak berhenti pada perintah memaafkan. Ia menyusun tiga sikap yang saling melengkapi, dan justru di situlah kecerdasannya.

Sikap pertama, memaafkan (khudzil ‘afwa). Ini mencakup memaafkan orang yang bersalah, menyambung hubungan yang diputus, dan bersabar terhadap kekurangan orang lain. Sikap kedua, menyeru kepada yang makruf (wa’mur bil ‘urfi), yaitu tetap mengajak kepada kebaikan, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Sikap ketiga, berpaling dari orang jahil (wa a’ridh ‘anil jahilin), yaitu tidak melayani perdebatan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan diri.

Perhatikan susunannya. Memaafkan diletakkan berdampingan dengan menyeru kepada kebaikan. Artinya, memaafkan tidak sama dengan membiarkan kesalahan berlalu tanpa koreksi. Kita bisa memaafkan seseorang dan tetap mengatakan bahwa perbuatannya keliru. Lalu perintah berpaling dari orang jahil menunjukkan bahwa memaafkan juga tidak berarti kita wajib terus membuka diri terhadap orang yang sengaja mengganggu. Islam tidak mengajarkan pemaaf yang naif, melainkan pemaaf yang tetap punya prinsip dan batas.

Ada kisah menarik tentang ayat ini dalam Shahih al-Bukhari (no. 4642). Suatu ketika, Uyainah bin Hishn menemui Khalifah Umar bin Khattab dan berbicara dengan kasar, menuduh Umar tidak adil. Umar marah dan hampir menghukumnya. Lalu Al-Hurr bin Qais, salah seorang penasihat Umar, membacakan ayat ini. Seketika Umar berhenti. Perawi kisah ini menggambarkan Umar sebagai orang yang selalu berhenti di hadapan Kitab Allah. Seorang pemimpin dengan kekuasaan penuh memilih menahan diri bukan karena tidak mampu membalas, tetapi karena ia tahu ada nilai yang lebih tinggi dari sekadar memuaskan amarah.

Mengapa Memaafkan Terasa Seperti Kekalahan

Jika memaafkan begitu mulia, mengapa banyak orang sulit melakukannya? Salah satu sebabnya adalah karena kita diam-diam menganggap memaafkan sebagai kekalahan. Ada perasaan bahwa jika kita memaafkan, orang yang bersalah “menang” dan kita “kalah”. Ada pula kekhawatiran bahwa sikap pemaaf akan membuat kita diremehkan.

Rasulullah ﷺ justru membalik cara pandang itu. Beliau bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sikap pemaafnya melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim, no. 2588)

Hadits ini menarik karena menyandingkan memaafkan dengan sedekah. Keduanya terasa seperti “kehilangan” di permukaan: sedekah tampak mengurangi harta, memaafkan tampak mengurangi harga diri. Namun hitungan Allah berbeda dengan hitungan ego kita. Yang terasa sebagai kehilangan justru menjadi sumber kemuliaan.

Ada juga sudut pandang yang lebih praktis. Selama kita belum memaafkan, orang yang menyakiti kita masih memegang sebagian kendali atas hidup kita. Ia menentukan suasana hati kita, menyita pikiran kita sebelum tidur, bahkan memengaruhi cara kita memperlakukan orang lain yang tidak bersalah. Memaafkan, dalam pengertian ini, adalah cara mengambil kembali kendali tersebut. Kita tidak sedang membebaskan orang itu, kita sedang membebaskan diri sendiri.

Ujian Sebenarnya Ada di Lingkungan Terdekat

Memaafkan orang asing yang menyerobot antrean relatif mudah, karena kita tidak akan bertemu lagi dengannya. Ujian sebenarnya justru datang dari orang-orang yang dekat: rekan kerja, anggota tim, saudara, sahabat seperjuangan. Kedekatan membuat luka terasa lebih dalam, karena kita berharap lebih banyak dari mereka.

Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah tim kerja di mana seorang anggota pernah membuat kesalahan yang merugikan target bersama. Ia sudah meminta maaf, dan pemimpinnya mengatakan sudah memaafkan. Namun setelah itu, anggota tersebut tidak pernah lagi diberi tanggung jawab penting, setiap rapat ia disinggung secara halus, dan kesalahan lamanya terus menjadi bahan pembicaraan. Secara lisan ia dimaafkan, tetapi secara sikap ia terus dihukum. Dalam jangka panjang, yang rusak bukan hanya satu orang, tetapi budaya tim secara keseluruhan: orang menjadi takut mencoba, takut mengakui kesalahan, dan memilih menyembunyikan masalah.

Al-Qur’an memberi contoh yang sangat menyentuh tentang hal ini. Abu Bakar ash-Shiddiq biasa menafkahi Misthah bin Utsatsah, kerabatnya yang miskin. Ketika Misthah ikut menyebarkan fitnah keji terhadap Aisyah, putri Abu Bakar sendiri, Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi membantunya. Lalu turunlah ayat:

“…Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu?…” (QS. An-Nur: 22)

Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 4750), Abu Bakar menjawab, “Tentu, demi Allah, aku ingin Allah mengampuniku,” lalu ia kembali memberikan nafkah kepada Misthah. Yang menyakitinya adalah kerabat sendiri, dan lukanya menyentuh kehormatan keluarga. Namun Abu Bakar memilih memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia menimbang sesuatu yang jauh lebih besar: ampunan Allah untuk dirinya sendiri.

Melatih Diri agar Lebih Mudah Memaafkan

Kata kuncinya adalah mudah. Hampir semua orang akhirnya bisa memaafkan setelah waktu yang cukup lama. Yang membedakan adalah jarak antara saat kita disakiti dan saat kita melepaskannya. Jarak itu bisa diperpendek dengan latihan.

Pertama, bedakan antara memaafkan dan menyetujui. Banyak orang menolak memaafkan karena takut dianggap membenarkan kesalahan. Padahal seperti yang ditunjukkan QS. Al-A’raf: 199, kita bisa memaafkan sekaligus tetap menegakkan yang makruf. Dalam organisasi, misalnya, seorang pemimpin bisa memaafkan anggota timnya dan tetap memperbaiki sistem agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Kedua, bedakan antara memaafkan dan membuka diri tanpa batas. Memaafkan adalah urusan hati, sedangkan menentukan seberapa dekat kita dengan seseorang adalah urusan kebijaksanaan. Kita boleh memaafkan orang yang berkali-kali menipu, sambil tetap berhati-hati dalam bermuamalah dengannya. Itulah makna berpaling dari orang jahil.

Ketiga, tahan diri pada detik-detik pertama. Kemarahan paling berbahaya justru pada saat awal, ketika kita merasa paling benar. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah (HR. al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609). Tidak membalas pesan yang menyakitkan secara langsung, tidak menanggapi komentar provokatif di forum, atau menunda keputusan penting sampai emosi reda adalah bentuk-bentuk sederhana dari kekuatan ini.

Keempat, pilih diam ketika bicara tidak lagi berguna. Ada bait syair yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i dalam Diwan-nya, yang maknanya kurang lebih: jika orang bodoh berbicara, jangan engkau jawab, karena diam lebih baik daripada menjawabnya. Diam di sini bukan tanda tidak mampu, tetapi tanda bahwa kita tahu mana pertempuran yang layak dimenangkan dan mana yang hanya menguras tenaga.

Kesalahan Orang Lain Tidak Harus Menjadi Beban Kita

Pada akhirnya, memaafkan adalah pertanyaan tentang ke mana kita ingin mengarahkan energi hidup. Waktu dan pikiran kita terbatas. Setiap jam yang kita habiskan untuk mengulang-ulang rasa sakit adalah jam yang tidak kita gunakan untuk membangun, berkarya, dan memperbaiki diri.

Orang yang mudah memaafkan bukan orang yang tidak pernah terluka. Ia hanya menolak menjadikan lukanya sebagai pusat hidupnya. Ia tetap punya prinsip, tetap berani menegur, dan tetap tahu kapan harus menjaga jarak. Tetapi ia tidak membiarkan kesalahan orang lain menentukan siapa dirinya.

Mungkin pertanyaan yang layak kita renungkan hari ini bukan “apakah orang itu pantas dimaafkan?”, melainkan: berapa lama lagi saya mau membiarkan kesalahannya tinggal di dalam diri saya?

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lapang dada, dan menghiasi diri kita dengan akhlak sebagaimana akhlak Rasulullah ﷺ. [af]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *