Ada satu bab pendek dalam buku REWORK karya Jason Fried dan David Heinemeier Hansson yang terus saya pikirkan. Dalam edisi Indonesianya, bab itu berjudul “Tinggalkan Jejak di Alam Semesta”. Isinya tidak panjang, tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya cukup berat: kalau suatu hari kita berhenti bekerja, atau berhenti hidup, apa yang sebenarnya tersisa dari kita?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jarang kita ajukan dengan serius. Kita lebih sering sibuk menyelesaikan pekerjaan hari ini, mengejar target bulan ini, dan memikirkan rencana tahun depan. Jarang sekali kita berhenti sejenak dan bertanya: semua kesibukan ini, pada akhirnya, meninggalkan bekas seperti apa?
Pelajaran dari REWORK: Bekerja untuk Membuat Perbedaan
Gagasan Fried dan Hansson dalam bab ini cukup lugas. Menurut mereka, pekerjaan yang hebat lahir dari perasaan bahwa kita sedang membuat perbedaan. Kita harus merasa sedang menciptakan sesuatu yang baru, atau setidaknya menjadi bagian dari sesuatu yang penting. Dari situlah jejak yang bermakna bisa ditinggalkan.
Mereka juga menambahkan satu hal yang menurut saya justru paling penting: rasa mendesak. Waktu kita di dunia tidak banyak. Kalau kita tidak pernah merasakan desakan itu, kita akan terus menunda karya terbaik kita dengan alasan masih ada hari esok.
Tentu saja, konteks buku ini adalah dunia bisnis. Penulisnya ingin mendorong pembaca membuat produk yang benar-benar berguna bagi banyak orang, bukan sekadar produk yang laku. Namun semakin saya renungkan, semakin terasa bahwa gagasan ini terlalu besar untuk dikurung dalam urusan bisnis saja. Ia sebenarnya adalah pertanyaan tentang hidup.
Mengapa Jejak Tidak Harus Selalu Sesuatu yang Baru
Di sinilah saya mulai sedikit berbeda pandangan dengan buku tersebut. Jika jejak diukur dari kebaruan, maka hanya segelintir orang yang bisa meninggalkannya: para penemu, pendiri perusahaan besar, atau tokoh yang namanya tercatat dalam sejarah. Sementara sebagian besar dari kita menjalani hidup yang terlihat biasa saja, dengan pekerjaan yang mungkin juga dikerjakan ribuan orang lain.
Padahal, kalau kita perhatikan orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidup kita, sering kali mereka bukan orang yang menciptakan hal baru. Mereka adalah guru yang sabar menjelaskan ulang pelajaran yang sama setiap tahun, orang tua yang konsisten, atau rekan kerja yang selalu bisa diandalkan. Apa yang mereka lakukan tidak baru, tetapi bekasnya tinggal lama dalam diri kita.
Maka mungkin ukurannya perlu digeser. Jejak tidak ditentukan oleh seberapa baru sesuatu yang kita buat, tetapi oleh seberapa lama manfaatnya terus dirasakan orang lain. Sesuatu yang biasa saja, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan memberi manfaat nyata, bisa meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada inovasi yang cepat dilupakan.
Kita Selalu Meninggalkan Jejak, Sadar atau Tidak
Ada satu hal yang membuat persoalan ini semakin serius. Pertanyaannya sebenarnya bukan apakah kita akan meninggalkan jejak, karena setiap orang pasti meninggalkannya. Pertanyaannya adalah jejak seperti apa.
Al-Qur’an menyebut hal ini dengan jelas:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12)
Kata atsar dalam ayat itu berarti bekas atau jejak. Sebagian ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa yang dicatat bukan hanya amal yang dikerjakan semasa hidup, tetapi juga dampak yang terus berlanjut sesudahnya, baik maupun buruk. Kebiasaan yang kita wariskan, cara kita memimpin, bahkan cara kita memperlakukan orang lain, semuanya meninggalkan bekas yang terus bergerak meski kita sudah tidak ada.
Kesadaran ini mengubah cara saya melihat pekerjaan sehari-hari. Seorang pemimpin yang kasar meninggalkan jejak berupa tim yang takut mengambil inisiatif. Seorang pemimpin yang membimbing meninggalkan jejak berupa orang-orang yang kelak mampu memimpin. Keduanya sama-sama meninggalkan jejak; yang berbeda hanyalah arahnya.
Ukuran Jejak Adalah Manfaat
Karena itu, saya memegang satu prinsip yang saya ambil dari sabda Rasulullah ﷺ:
عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «المؤمن يألف ويؤلف، ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس»
Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang beriman itu mudah bersahabat dan mudah diakrabi. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mudah bersahabat dan tidak mudah diakrabi. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath dan Ad-Daruquthni; dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 426)
Kalimat terakhirnya sudah sangat populer, tetapi ada hal menarik yang sering terlewat. Sebelum berbicara tentang manfaat, hadits ini lebih dulu berbicara tentang keakraban: orang beriman itu mudah bersahabat dan mudah didekati. Urutan ini, menurut saya, tidak kebetulan.
Manfaat hampir selalu mengalir melalui hubungan. Ilmu yang kita miliki tidak akan berguna jika orang segan bertanya kepada kita. Kemampuan memimpin tidak akan berbekas jika orang tidak merasa aman berada di dekat kita. Banyak orang ingin bermanfaat, tetapi lupa bahwa manfaat membutuhkan pintu, dan pintunya adalah kesediaan untuk dekat dengan manusia.
Dalam kerja-kerja organisasi dan dakwah, hal ini terasa sangat nyata. Program yang bagus di atas kertas sering tidak berjalan karena orang yang menjalankannya sulit didekati. Sebaliknya, program sederhana bisa menyentuh banyak orang karena dijalankan oleh orang yang hangat dan mudah dipercaya. Jejak yang baik ternyata tidak hanya soal apa yang kita kerjakan, tetapi juga bagaimana kita hadir di tengah orang lain.
Jejak yang Tetap Berjalan Setelah Kita Berhenti
Lalu kembali pada rasa mendesak yang disebut dalam REWORK. Waktu memang tidak banyak, tetapi Islam menawarkan sudut pandang yang lebih luas tentang waktu itu. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Hadits ini menjelaskan bahwa ada jenis amal yang tidak berhenti ketika hidup kita berhenti. Sedekah yang terus dipakai orang, ilmu yang terus diamalkan, dan anak yang terus mendoakan adalah jejak yang tetap berjalan sendiri. Inilah bentuk paling nyata dari “meninggalkan jejak di alam semesta” dalam bahasa iman.
Rasa mendesak yang lahir dari kesadaran ini berbeda dengan sekadar terburu-buru. Kita tidak sedang mengejar waktu demi pencapaian pribadi, tetapi sedang menanam sesuatu yang semoga terus tumbuh setelah kita tidak lagi bisa merawatnya. Pertanyaannya bergeser dari “apa yang bisa saya capai sebelum waktu habis?” menjadi “apa yang masih akan bermanfaat ketika waktu saya sudah habis?”
Menanam Jejak dalam Keseharian
Kesadaran seperti ini tidak harus diwujudkan dengan proyek besar. Ia bisa dimulai dari kebiasaan kecil dalam pekerjaan. Misalnya, saat menyelesaikan sebuah tugas, kita bisa bertanya: apakah cara saya mengerjakannya bisa dipelajari orang lain? Apakah ada yang bisa saya tuliskan, ajarkan, atau wariskan agar pekerjaan ini tidak berhenti pada saya?
Seorang atasan yang meluangkan waktu untuk membimbing satu orang anggota tim sedang menanam jejak. Seseorang yang menuliskan pengalamannya agar bisa dibaca orang lain sedang menanam jejak. Orang tua yang mendidik anaknya dengan sabar juga sedang menanam jejak yang mungkin baru terlihat puluhan tahun kemudian. Semua ini tampak kecil hari ini, tetapi justru hal-hal seperti inilah yang paling lama bertahan.
Bagi saya pribadi, prinsip khairun nas anfa’uhum lin nas menjadi semacam kompas. Saya ingin meninggalkan jejak di dunia ini berupa jejak-jejak kebaikan, yang semoga bermanfaat bagi banyak orang. Dan semoga jejak-jejak itu pula yang kelak menjadi saksi yang meringankan di hadapan Allah pada hari perhitungan.
Jejak Seperti Apa yang Sedang Kita Buat?
REWORK mengajak pembacanya membuat perbedaan di dunia. Ajakan itu baik, tetapi Al-Qur’an dan sunnah mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar: kita semua sudah sedang meninggalkan jejak, setiap hari, entah kita sadari atau tidak. Setiap keputusan, setiap cara kita memperlakukan orang, dan setiap pekerjaan yang kita selesaikan sedang dicatat sebagai bekas yang kita tinggalkan.
Maka mungkin pertanyaan yang paling jujur untuk diajukan bukan “bagaimana caranya agar saya dikenang?” melainkan “jika semua yang saya lakukan hari ini terus berjalan tanpa saya, apakah dunia akan menjadi sedikit lebih baik karenanya?” [af]







Tinggalkan Balasan